Laman

Selasa, 13 September 2016

TT1 D 2b SIFAT AHLI ILMU QS. Fathir ayat 28

KARAKTERISTIK AHLI ILMU
SIFAT AHLI ILMU
QS. Fathir ayat 28

Khoirunnisa` (2021115018)
Kelas D

 JURUSAN TARBIYAH/PAI
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi I tentang Sifat Orang Alim. dalam Qur’an Surah Fathir ayat 28 ini dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang Ahli Sifat Orang Alim. dalam Qur’an Surah fathir ayat 28. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan .


Pekalongan, 12 September 2016



Penulis



Khoirunnisa`
2021116018






BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Karena manusia mempunyai akal dan pikiran. Itulah yang membedakan kita sebagai manusia berbeda dengan makhluk penghuni bumi yang lain. Akan tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang hanya memanfaatkan pikirannya saja, tanpa memanfaatkan akalnya. Sehingga banyak orang yang berilmu pengetahuan namun tidak menyadarinya bahwa ilmu yang dimiliki itu adalah atas karunia yang telah Allah SWT berikan.
Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan mencoba mengkaji ayat-ayat tentang sifat orang alim yang terdapat dalam Quran Surat Fathir ayat 28. Dan diharapkan setelah mengkajinya dapat bertambah pengetahuan, menambah iman serta ketaatan kita terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
B.     Judul
KARAKTERISTIK AHLI ILMU “Sifat Orang Alim”
C.     Nash
FATHIR AYAT 28
 šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºxx. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# îƒÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ  

D. Terjemahan
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.






BAB II
ISI
A.    TEORI
Sifat berarti ciri-iri tingkah laku yang tetap (hampir tetap). Secara sederhana sifat adalah cirri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh, dan cenderung bersifat tetap atau stabil
Ulama bentuk dari kata alim yang berarti orang yang ahli dalam pengetahuan agama islam. Kata alim adalah kata benda dari kata kerja alima yang artinya “mengerti atau mengetahui”. Di Indonesia, kata ulama yang menjadi kata jama` alim, umumnya diartikan sebagai “orang yang berilmu”. Kata ulama ini bila dihubungkan dengan perkataan lain, seperti ulama hadist, ulama tafsir dan sebagainya, mengandung arti yang luas, yakni meliputi semua orang yang berilmu. Apa saja ilmunya, baik ilmu agama islam maupun ilmu lain. Menurut pemahaman yang berlaku sampai sekarang. Ulama adalah mereka yang yang ahli atau mempunyai kelebihan dalam bidang ilmu dalam agama islam, seperti ahli dalam tafsir, ilmu hadist, ilmu klaam, bahasa arab dan paramasastranya seperti saraf, nahwu, balaghoh dan sebagainya.[1]
Peran ulama merupakan pewaris para nabi. Sumber peta bagi manusia . barang siapa mengikuti petunjuk mereka, maka ia termasuk orang yang selamat. Barang siapa yang dengan kesombongan dan kebodohan menentang mereka, ia termasuk orang yang sesat.[2]
Al-Ghozali melukiskan sifat karakteristik ulama atau orang alim:
1.     Orientasi keilmuwannya selalu diperhitungkan dengan peetanggungjawaban dia akhirat.
2.     Sikap perbuatannya konsisiten dengan ucapannya.
3.     Penuh semangat untuk senantiasa mengembang ilmunya
4.     Sederhana dalam hidup sehari-hari
5.     Tidak terambisiuntuk memperoleh posisi formal.
6.     Cermat dan waspada dalam memberikan fatwa
7.     Orientasi aktifitasnya untuk pembangunan kedekatan diri kepada Allah
8.     Selalu meningkatkan komitmensi keagamaan

B.    TAFSIR
1.     Tafsir maraghiy
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهُ كَذَلِكَ
Dan demikian pula manusia, binatang melata dan binatang ternak bermacam-macam warnya, sekalipun satu jenis. Bahkan satu jenis binatang kadang-kadang  mempunyai bermacam-macam warna. Maha suci Allah lah Allah Pencipta yang terbaik.
Semakna dengan ayat ini ialah firman allah ta`ala:
وَمِنْ ا‘يَا تِهِ خَلْقُ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْ
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.( ar-rum, 30:22)
Dan setelah Allah menyebutkan satu persatu tanda-tanda kebesaran, bukti-bukti kekuasaan dan bekas-bekas penciptaan-Nya, maka Dia terangkan pula bahwa semua iu takkan diketahui sebaik-baiknya  kecuali oleh orang-orang yang berilmu tentang rahasia-rahasia alam semesta, yaitu orang-orang yng mengetahui tentang rincian-rincian ciptaan Allah SWT. Mereka itulah yang faham akan hal itu sebaik-baiknya dan mengetahui betapa keras hantaman Allah dan betapa besar tekanan-Nya. Maka firman Allah:
اِنَّمَا يَخْشَى اللَهَ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمَاءُ
 Sesungguhnya yang takut kepada Allah lalu bertakwa kepada terhadap hukuman-Nya dengan cara patuh hanyalah orang-orang yang mengetahui tentang kebesaran kekuasaan Allah atas hal-hal apa saja yang Dia kehendaki, bahwa Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena orang yang mengetahui hal itu, dia yakin tentang hukuman Allah atas siapapun yang bermaksiat dengan-Nya. Maka dia merasa takut dan ngeri kepada Allah karena khawatir mendapat hukuman-Nya.
Ada sebuah atsar yang diriwayatkan dari ibnu abbas bahwa dia berkata:
Orang yang berilmu tentang Allah yang maha pengasih diantara hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun, menghalalkan apa yang dhalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, memelihara wasiatNya dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya dan memperhitungkan amalanya.
اِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Sesungguhnya Allah Maha perkasa dalam member hukuman terhadap yang kafir kepada-Nya dan maha pengampun akan dosa-dosa dari orang yang beriman dan taat kepada-Nya. Jadi Allah maha kuasa untuk menghukum orang-orang yang bermaksiat dan menekan mereka ,dan maha kuasa pula untuk member pahala kepada orang yang taat member maaf pada mereka. Dan adalah hak dari Allah yang memberri hukuman an pahala untuk ditakuti.[3]

2.     Tafsir Al-lubab
Pada surat fatir ayat 28 menjelaskan bahwa di antara manusia, bintang melata, dan binatang ternak, bermacam-macam juga bentuk,  ukuran, jenis, dan warnanya. Sebagian dari penyebab perbedaan itu dapat ditangkap maknanya oleh ilmuwan dan karena itu sesungguhnya yang takut lagi kagum kepada Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama/para ilmuwan. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.[4]

3.     Tafsir Al-Ashar
Dan dari antara manusia dan binatang-binatang melata dan binatang ternak beraneka warnanya pula.’pangkal ayat 28). Di Ayat ini disebut tiga kelompok besar makhluk bernyawa pengisi bumi. Pertama ialah manusia dengan berbagai warna dan bangsa dan bahasa. Yang kedua, diminta perhatian kita kepada binatang-binatang yang melata di muka bumi ini. Ketiga, tentang binatang-binatang ternak, sejak dari untanya, kerbau, sapi, kambing, dan domba.tiga kali disebut aneka warna macamnya, atau warna jenisnya.
Demi setelah menyuruh kita melihat dan memperhatikan itu semuanya, yang dapat menimbulkan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman, bersabdalah Tuhan:”sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba –hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
Dengan jelas pada kalimat ini dijelaskan bahwasanya orang yang bisa merasakan takut kepada Allah, ialah orang-orang yang berilmu.
Di pangkal kata ini Tuhan memakai kata “innamaa”, yang berarti “lain tidak hanya”. Ahli-ahli ilmu nahwu mengatakan bahwa huruf innamaaitu adalah adaatu hashr, yang artinya “alat untuk pembalas”. Sebab itu artinya yang tepat dan jitu ialah : “lain tidak hanyalah orang-orang yang berilmu jua akan merasa takut kepada takut kepada Allah.” Kalau ilmu tidak ada , tidaklah orang akan merasa takut kepada Allah. Karena timbulnya suatu ilmu ialah setelah diselidiki. Maka jelaslah di pangkal ayat tadi bahwa Allah telah bersabda : “tidakkah engkau lihat!” maka kalau tidak dilihat tidaklah akan tahu. Kalau sudah dilihat dan diketahui, dengan sendirinya akan mengertilah bagaimana kebesaran Allah, kekuatanNya, da keagunganNya. Terasa kecil diri di hadapan kekuasaan Maha Besar itu: maka timbullah takut. Kalau takut telah timbul niscaya timbullah ketundukan, lalu segala perintah dilaksanakan dan segala larangan dihentikan.
Dalam ayat ini bertemu kalimat ulama, yang berarti orang-orang yang berilmu. Dan jelas pula bahwa ilmu itu adalah luas sekali. Alam dikeliling kita, sejak dari air hujan yang turun dari langit menghidupkan bumiyang telah mati, sampai kepada gunung-gunung menjulang langit, warna-warni pada gunung, sampai yang lain-lain yang disebutkan manusia, binatang melata, binatang ternak, dan berbagai warna, sungguh menakjubkan dan menyakinkan tentang kekuasaan Allah. Di ujung ayat dijelaskan :”sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.” (ujung ayat 28).
Maka nampaklah bahwa memang Allah itu maha perkasa. Sebesar itu alam keliling, hanya patuh menuruti kodrat irodatnya. Namun kita manusia kerap kali akan kebesaran ilahi itu, sehingga kerap kali terlanggar perintah terbuat dosa. Namun apabila telah insaf dan mohon ampun, Dia tetap akan mengampuni.
Tentang ulama, atau orang-orang yang berpengetahuan, ibnu katsir telah menafsirkan: “tidak lain orang yang akan merasa takut kepada Allah itu hanyalah ulama yang telah mencapai ma`rifat, yaitu mengenal Tuhan menilik hasil kekuasaan dan kebesaranNya. Maha besar, maha kuasa, yang maha mengetahui, yang mempunyai sekalian sifat kesempurnaan dn yang empunya”asmaul khusna (nama-nama yang indah)”. Apabila ma`rifat bertambah sempurna dan ilmu terhadapNya bertambah matang, ketakutan kepadaNyapun bertambah besar dan bertambah banyak.
Ibnu Abbas mengatakan: “Alim sejati di antara hamba arrahman ialah yang tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan yang halal tetap halal dan yang haram tetap haram, serta memelihara perintahNya dan yakin bahwa dia akan bertemudengan Dia, lalu selalu menilik dan menghitung amalnya sendiri.”
Abdullah bin Mas`ud berkata: “Bukanlah seorang dikatakan alim karena dia banyak hafal hadis. Alim sejati adalah yang paling banyak khasyyah atau takutnya kepada Tuhan”.
Imam Malik berkata: “ilmu bukanlah karena banyak menghapal riwayat hadis, bahkan ilmu adalah NUR yang dinyalakan Tuhan dalam hati.”
Suatu riwayat yang dibawakan dari Sufyan Tsauri: “ulama itu tiga macam, (1) alim yang mengenal Allah dan mengenal perintah Allah, (2) alim yang mengenal Allah tetapi tidak mengenal perintah Allah dan (3) alim yang mengenal perintah tetapi tidak mengenal Allah.”
Apabila direnungkan ayat 28 ini, jelaslah bahwa jangkauan ulama itu amatlah luas. Nampaklah bahwa guru bukanlah semata-mata kitab saja. Alam itu sendiri adalah kitab yang terbuka luas. Ada juga pepatah: “alam terbentang jadikan guru!’
Setelah berguru kepada Alam terbukalah hijab dan jelaslah Tuhan dengan serba serbi kebesaran dan keagunganNya, lalu timbullah rasa takut kalau-kalau umur telah berbuang percuma saja.
Dengan demikian jelas pula bahwa ulama bukanlah sempit hanya sekedar orang yang tahu hukum-hukum agama secara terbatas, dan bukan orang yang hanya mengaji kitab fiqh, dan bukan pula ditentukan oleh jubah serban besar. Malahan kadang-kadang dalam perjalanan sejarah telah kerapkali agama terancam bahaya karena olah serban besar.[5]

C.    APLIKASI DALAM KEHIDUPAN
Aplikasi dalam kehidupan yang terdapat dalam QS.Fathir ayat 28 adalah bahwa Allah SWT menunjukkan kekuasan-Nya yaitu dengan menciptakan manusia, binatang, dan tumbuhan dengan berbagai macam bentuk, jenis dan warnanya. Manusia pada dasarnya diciptakan sama yaitu dari sperma. Yang membedakan manusia yang satu dengan yang  lain adalah sifatnya. Orang yang alim, sifatnya akan senantiasa melakukan perintah-perintah Allah SWT dan senantiasa akan menjauhi dan meninggalkan larangan-larangan Allah SWT karena orang alim takut atas azab Allah yang akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa. Maka kita sebagai seseorang yang alim menyadari bahwa nikmat hidup yang ada didunia ini bersifat sementara dan nikmat hidup yang abadi itu hanyalah di akhirat maka mereka akan berbuat dengan hati-hati.

D.    ASPEK TARBAWI
1.     Manusia, binatang-binatang diciptakan Allah bermacam-macam warna jenisnya sebagai tanda kekuasaaNya.
2.     Yang benar-benar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan menaatinya hanyalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam kebesaran Allah. Dia Maha Perkasa menindak orang-orang kafir, Maha pengampun kepada hamba-hambanya yang beriman dan taat.
3.     Ayat ini menisyaratkan bahwa ulama adalah orang yang mempunyai kompetensi dalam bidang kealaman
4.     Hakikat ulama adalah orang yang mempunyai ilmu keagamaan dan keislaman yang dengan ilmunyalah menjadi takut kepada Allah.

   



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam kandungan QS Fathir ayat 28 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia, binatang-binatang melata, binatang-binatang ternak yang bermacam-macam warna dan jenisnya itu semua adalah bukti adanya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan diantara tanda-tanda-Nya hanyalah ulama yang takut kepada Allah SWT.
Ulama atau orang alim yaitu orang yang mengenal  Allah SWT dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hatinya menjadi tenang serta kegelisahan menjadi sirna, dan Nampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan mereka.














Daftar Pustaka
Hamka. 1982. Tafsir Al-Ashar juz XXII. Jakarta : Pustaka Panjiman
Al-Maraghhiy Ahmad Mushthafa. 1974. Tafsir Al-Maraghiy(Edisi Basaha Arab). Semarang : CV Tohaputra Semarang
Muhtarom. 2005. Reproduksi Ulama di Era Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Adnan Hasan Shahih Bajharits. 2008. Mendidik Anak laki-laki, terj mas`uruliyatul abilmuslimi Fi tarbyatil waladi marhalati ahthufurulah, cet 2. Jakarta : Gema Insane.
Hsukby Baharuddin. 1995. Dilemma  Ulama dalam Perubahan Zaman. Jakarta :  Gema Insane press.
























PROFIL PENULIS





Khoirunnisa` Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 10 Desember 1996. Anak ke-4 dari 5 bersaudara. Mahasiswi S.1 Tarbiah IAIN Pekalongan. Alamat : Ds. Kertijayan Gang. 5 Rt.14 Rw.05 No.44, Kec. Buaran Kabupaten Pekalongan.
Pendidikan MIS Kertijayan, 2003-2009. Madrasah Hidayatul Athfal Banyuri Alit, 2009-2012.Madrasah Aliyah Salafiyah Hidayatul Athfal Banyrip Alit, 2012-2015. S.1 IAIN Pekalongan, 2015-sekarang.




[1] Muhtarom, reproduksi ulama di era globalisasi (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2005), hlm. 12
[2] Adnan Hasan Shahih Bajharits, mendidik anak laki-laki, terj mas`uruliyatul abilmuslimi Fi tarbyatil waladi marhalati ahthufurulah, cet 2(Jakarta:Gema Insane,2008), hlm.159
[3] Ahmad mushthhafa al-maraghiy juz XXII, Tafsior al-maraghiy(semarang: cv tohaputra Semarang,1974),hlm.212-215
[4] M.quraish shihab, Al-Lubab:makna,tujuan dan pelajaran surah-surah al-qur`an(tangerang:lentera hati,2012), hlm.298
[5] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Ashar juz XXII, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982),hlm.243-246

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar