Laman

Jumat, 28 Oktober 2016

tt1 B 8b (Nabi Rahmatan Lil Alamin) QS. Al-Anbiyaa 21: 107

SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI”
(Nabi Rahmatan Lil Alamin) 
QS. Al-Anbiyaa 21: 107 

Heri Purnomo (2021115262)
Kelas B

JURUSAN TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR          

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga dalam beberapa hari ini saya bisa menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “NABI SEBAGAI RAHMATAN LIL ALAMIN”  ini dengan baik. Sholawat serta salam telah tercurahkan pula kepada junjungan kita nabi Muhammad saw yang telah kita nantikan syafaatnya di yaumul qiyamah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini mungkin tidak bisa sempurna seperti yang telah di inginkan oleh dosen karena kesempurnaan itu hanya milik Allah swt. Untuk itu penulis mengharap kepada dosen untuk  memberi kritik dan saran untuk bisa memperbaiki makalah yang telah dibuat penulis agar pembaca dapat memahami dan mempelajari isi dari makalah tersebut.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat dan memberikan wawasan yang luas sebagai ilmu tambahan pengetahuan bagi pembaca pada umumnya. Sekian dari penulis apabila terdapat kesalahan dalan makalah ini mohon untuk bisa di kritik agar bisa menjadikan motivasi dimasa yang akan datang terima kasih.

Pekalongan, Oktober 2016
Penulis
Heri purnomo












BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Nabi Muhammad saw adalah pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan pembawa berita gembira sekaligus untuk kemajuan masyarakat. Islam adalah agama yang sangat menganjurkan agar hidup penuh dengan kedamaian, oleh karena itu Islam memberi ketentuan yang jelas sekiranya terjadi pertentangan antara individu, masyarakat atau dunia secara keseluruhan. Dalam menghadapi pertentangan, Islam memberi alternatif yang tepat dan berkesan, ialah dengan cara berdamai.
Rahmatan lil’alamin adalah rasa kasih sayang Allah SWT, karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya diseluruh alam semesta. Maksudnya yaitu islam mewujudkan sebuah kenikmatan yang berupa rasa kedamaian dan ketentraman bagi manusia dan juga meliputi dimensi kehidupan manusia.
Jalan untuk kebaikan, rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan / cara mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya saja manusia memiliki beban yang berat dalam memandang
Nabi muhammad saw sebagai rahmatan lil alamin artinya beliau di utus oleh Allah SWT  untuk menyebarkan rahmat-Nya dengan cara memperbaiki akhlak . pada saat itu masyarakat rusak moralnya hingga norma-norma kesusilaannya bahkan jauh menyimpang dari ajaran Allah. Semuanya di berantas dan di perbaiki, kemudian di ganti dengan akhlakul karimah yang sesuai dengan wahyu Allah SWT. Dengan demikian masyarakat menjadi damai, rukun, bahagia, sejahtera, dan mendapat ridho Allah SWT, dalam firman Allah SWT : “ dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Surat Al-Anbiya : 107)

B.    JUDUL MAKALAH
Makalah ini berjudul “NABI RAHMATAN LIL ALAMIN” sesuai dengan tugas yang telah di dapat penulis

C.    Nash dan arti Q.S  AL ANBIYA

                                                                                               وَ مَا أَرْسلْنَك إِلا رَحْمَةً لِّلْعَلَمِينَ‏

             Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat               bagi seluruh alam. “(Surat Al-Anbiya : 107).





D.    Arti penting pengkajian materi
Dalam surat al anbiya ayat 107 ini nabi muhammad saw terpilih untuk menjadi nabi rahmatan lil alamin yang mempunyai sistem ajaran yang membawa kebahagiaan bagi manusia dan juga mendapatkan rahmat yang lebih penting yaitu adanya kemerdekaan untuk berpikir yang bisa menjadikan akalyang di milikinya tidak takut untuk maju dalam menentukan suatu kebenaran  menjadikan suatu keseimbangan di antara kesuburan jasmani dan rohani Dan juga nabi muhammad membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat .
Di dalam surat al anbiya ini juga mengkaji kisah dan keistimewaan enam belas orang diakhiri dengan keistimewaan nabi isa as dan ibu beliau, maka sangat wajar pula bila kistimewaan nabi terakhir – nabi Muhammad saw merupakan keisitimewaan yang mempunyai  kepribadian yang menerapkan tantang  ajaran-ajaran dari nabi muhammad saw yang berbeda dari keistimewaan nabi-nabi yang lain  



























BAB II
          PEMBAHASAN
A.    Teori
Pengertian rahmatan lil alamin
Menurut arti bahasa, bahwa rahmat itu berasal dan kata rahima yang berarti kasih sayang. Adapun yang dimaksud dengan istilah syar’iyyah ialah: kasih sayang (karunia) Allah yang dilimpahkan-Nya kepada semua makhluk-Nya.
Muhammad Syaltut (Prof) seorang mantan Rektor Universitas Al Azhar, memberikan rumusan pengertian tentang rahmatan ini sebagai berikut: “Tiap sesuatu nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah swt. kepada hamba-Nya, baik yang bersifat umum ataupun yang bersifat khusus, semua itu adalah buah dari rahmat Allah swt. Apakah itu berupa kesehatan, harta benda, istri yang cantik, anak-anak yang sholeh/sholihah, ilmu yang bermanfaat dan sebagainya”.
Nabi Muhammad saw. pembawa rahmat untuk semesta alam, bukan untuk orang Arab saja dan tidak pula untuk kaum muslimin saja, akan tetapi untuk segenap makhluk di persada bumi ini.
            Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah Muhammad SAW telah mencerminkan sikap kasih sayang (rahmat)nya terhadap anak-anak, rakyat bawahan; terhadap orang-orang tua, dengan mencintai dan menyantuni mereka. Terhadap orang-orang yang lemah ekonominya atau lemah keadaan sosialnya, beliau menunjukkan kasih sayangnya dengan membela nasib mereka dari tindakan kesewenang-wenangan serta penghisapan dengan memberikan hak-hak mereka, menegakkan dasar-dasar keadilan dan lain sebagainya.
Para Rasul sebelum Nabi Muhammad hanyalah diutus oleh Allah untuk satu kaum atau daerah (negeri) yang tertentu saja lagi pula khusus untuk memenuhi kepentingan kaum dan penduduk yang bersangkutan saja. Akan tetapi tugas dan misi yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagai nabi akhir zaman yang tidak ada nabi sesudah beliau, ialah menciptakan suatu kesatuan umat/bangsa-bangsa dengan tujuan menggalang persatuan umat sejagat, yang sekaligus merupakan Rahmatan Lil ‘Aalamiin (rahmat bagi semesta alam).[1]


B.    Tafsir

وَ مَا أَرْسلْنَك إِلا رَحْمَةً لِّلْعَلَمِينَ‏

             Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat             bagi seluruh alam. “(Surat Al-Anbiya : 107).



1.     Tafsir al azhar
Sistem ajaran yang dibawah oleh nabi muhammad adalah sistem yang membawa bahagia bagi manusia seluruhnya. Dan memimpinnya kepada kesempurnaan yang telah di jangkakan baginya dalam hidup ini.
Risalah muhammad datang pada kemanusiaan setelah dia sampai ke zaman kedewasaan akal. Dia datang sebagai sebuah kitab yang selalu terbuka untuk segala turunan demi turunan, generasi demi generasi. Dia mengandung pokok-pokok ajaran manusia yang tidak berubah-ubah. Bersedia menerima keperluan hidup yang selalu baru, yang di ketahui oleh pencipta manusia sendiri karena dia itu sangat luas.
Kitab yang di bawa Muhammad ini telah meletakkan dasar yang tetap bagi hidup kemanusiaan yang selalu berubah. Diberi kesempatan bagi manusia mempergunakan ijtihad menyesuaikan pertumbuhan dan perkembangan dengan hukum yang tetap itu.atau mengemmbalikan yang cabang kepada yang pokok, dengan tidak usah ada pembenturan. Kedatangan Muhammad membawa syariat yang berisi rahmat itu, ialah sebab syariat itu tidak membeku; hukum tumbuh karena menilik ilat [sebab], ada ilat ada hukum
Rahmat nya yang lebih penting lagi adalah dengan adanya kemerdekaan berfikir, sehingga akal tidak takut akan maju. Diakui pula bahwa hasil pemikiran tidaklah selalu mesti tepat ,asal niat sejak dari permulaan berfikir tetap benar, yaitu mendekati kebenaran. Apabila pemikira itu benar, dapatlah dua pahala; yakni pahala berfikir dan pahala mendapat kebenaran. Tetapi kalau hasilnya tidak tepat,pahala satu tetap adayaitu pahala kepayahan berfikir atau kepayahan mengadakan penyelidikan
Pokok ajaran islamnya ialah bahwa martabat manusia adalah kemuliaan yang hendak di cari hanya satu,yaitu kemuliaan di sisi allah,karena iman dan amal shalih.perbedaan martabat,perbedaan warna kulit tidak ada.di zaman dahulu ajaran ini amat ganjil,payah orang menerimanya.untuk maju selangkah demi selangkah cara beringsut untuk membongkar fikiran kolot perbedaan kuit dan perbedaan bangsa itu,orang kadang kadang mesti perang besar dulu.kadang kadang terjadi perang,atau suatu revolusi.ketik perang atau revolusi itu mengharap kemenangan atau berhasil,keluarlahsemboyan yang bagus tentang kemerdekaan,persamaan,dan persaudaraan seperti revolusi perancis.tetapi kemudian ternyata bahwa semboyan revolusi”kemerdekaan.persamaan,persaudaraan”hanya semata mata buat bangsa perancis.adapun bangsa bangsa yang mereka jajah tidaklah masuk dalam lingkungan ketiga kalimat itu.mereka akan tetap jadi budak,bukan merdeka sebagai bangsa perancis;tetapi di pandang bangsa rendah ,tidak ada persamaan dengan bangsa perancis meeka akan tetap dianggap bangsa jongos jongos,tidak ada persaudaraan dengan bangsa perancis,kecuali kalau sudi masuk agama orang perancis atau gelijksteld,meninggalkan kebangsaan dan bahasa sendiri dan hidup cara perancis.
Di amerika sendiri , negri yang membanggakan diri sebagai jago demokrasi, dalam kenyataanya pun tidak membanggakan diri karena jago pula dalam diskriminasi ,yaitu rasa benci yang berkulit putih kepada yang berkulit hitam, wa;laupun sama sama warga negara.persamaan derajat manusia dengan tidak mementigkan perbedaan warna kulit dan bangsa itu, dapat di saksikan sendiri ketika orang pergi naik haji. Ajaran islam jadi rahmat bagi kemanusiaan, karena islam mempersamakan undang undang yang berlaku adalah apa yang di perintakan oleh “ tuan tanah “ di atas tanahnya atau kemauan “tuan besar kebun “ terhadap kulinya , atau pangeran pangeran feodal terhadap penggarap tanahnya.
Di riwayatkan oleh asy-syu’bi bah ali bin abu thalib kehilangan perisai lalu kelihatan oleh beliau perisai tersebut di tangan seorang nasrani maka beliau bawalah orang nasrani itu menghadap kadhi syurai, untuk menuntut perisainya yang hilang itu.
Di hadapin kadhi sayyidina ali berkata :perisai itu terang aku yang punya. Tak pernah dia aku jual dan tak pernah aku hadiahkan .”
Kadhi syuraih berkata kepada nasrani itu: apa jawabmu tentang keterangan amirul mu’ minin itu?”
Nasrani itu menjawab : perisai ini aku yang punya.namun aku tidaklah menuduh amirul mu’minin memberikan keterangan yang tidak benar.”
Maka menolehkan kadhi syuraih kepada beliau dan berkata ; ya. Amirul mu’minin ! adakah tuan memgemukakan bukti bukti?
Dengan senyum sayidina ali menjawab: benarlah syuraih! Saya tidak dapat mengemukakan bukti bukti.”
      Kadhi syuraih mengeluarkan keputusan bahwa perisai itu tetap di searahkan kepda orang nasrani itu, sebab Amiril mu’minin tidak dapat mengemukakan bukti bahwa bahwa perisai itu beliau punya. Setelah perisai itu di terimanya , diapunhendak pergi meninggalkan majlis. Akan tetapi setelah melangkah beberapa langkah diaun kembali dan berkata; Aku naik saksi bahwa hukum yang di jatuhkan ini benar benar hukum nabi nabi.amiril mu’minin mengadukan saya kepada kadhinya. Dan kadhi menjatuhkan hukum menurut pertimbangan yang benar ,dakwa  Amiril mu’minin di tolak karena bukti bukti tidak cukup. Sekarang aku naik saksi, tidak ada tuhan selain allah ,dan muhammad adalah hambanya an utusanya . demi allah, perisai ini memang engkau yang empunya, ya Amiril Mu’minin. Terjatuh dari kendaraan paduka ketika berangkat ke shiffin.”[2]

2.      Tafsir Al-maraghi.
Tidaklah kami menguutusmu dengan membawa pelajaran ini dan yang serupa dengannya berupa syariat dan hukum yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, kecuali agar kamu menjadi rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam urusan dunia dan akhirat mereka.
            Hal ini dapat dijelaskan bahwa rasulullah saw di utus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan  di dunia dan di akhirat hanya saja, orang kafir tidak mau memanfaatkannya dan berpaling drinya akibat kesiapan dan tabiatnya yang telah rusak, tidak menerima rahmat ini dan tidak mensyukuri nikmat ini sehingga dia tidak merasakan kebahagiaan dalam urusan agama maupun dalam urusan dunia. [3]
3.     tafsir al-mishbah
Ayat yang lalu menegaskan bahwa al-Quran merupakan peringatan, atau bekal menuju kebahagiaan abadi serta kecukupan bagi siapa yang siap untuk menjadi pengabdi yang tulus kepada allah SWT. Al-quran urun kepada nabi Muhammad saw. Untuk beliau sampaikan kepada umat manusia. Atas dasar itulah agaknya maka allah menegaskan di ini bahwa: dan tidaklah kami mengutusmu wahai nabi Muhammad, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.
Dapat juga dikatakan karena tema utama surah ini  tentang kenabian dan namanyapun adalah al anbiya yang menguraikan kisah dan keistimewaan enam belas orang di antara mereka, diakhiri dengan keistimwaan nabi isa as dan ibu beliau, maka sangat wajar pula bila kistimewaan nabi terakhir – nabi Muhammad saw. Di kemukakan pula disini. Keistimewaan tersebut adalah kepribadian beliau, yang merupakan rahmat di samping ajaran-ajaran yang beliau sampaikan dan terapkan.
Sebagaimana sabda beliau: “ aku dididik oleh tuhanku maka sungguh baik hasil pendidikannya “ kepribadian beliau di bentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang allah limpahkan kepada beliau melalui ayat-ayat al-quran, tetapi juga kalbu beliau di sinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan  rahmat bagi seluruh alam dengan beliau merupakan (رحمة مهدب) rahmtun muhdab  sebagaimana pengakuan beliau yang di riwayatkn oleh Muhammad ibn thahir al-maqdasi melalui abu hurairah yakni beliau adalah rahmat yang di hadiakan oleh allah kepada seluruh alam.
Pembentukan kepribadian nabi Muhammad saw. Sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rahmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran yang beliau sampaikan , karena ajaran beliaupun adalah rahmat menyeluruh dan dengan demikian, menyatu ajaran dan penyampaian ajaran, menyatu risalah dan rasul, dank arena itu pada rasul saw adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-quran sebagaimana dilukiskan oleh aisyah ra. (HR. ahmad ibn hambal).[4]

4.     TAFSIR IBNU KATSIR
Firman Allah Ta’ala “ Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semasta alam.“Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan Muhammad SAW. Sebagai rahmat bagi semesta alam. Maksudnya, dia mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semua. Barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, maka berbahagialah dia di dunia dan di akhorat.  Barang siapa yang mengingkari rahmat itu maka merugilah dia di dunia dan di akhirat. Hal ini sebagaimana firman allah ta’ala, “ tidakkah kamu memperhatikan orag orang yang tekah menukar nikmat allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan , yaitu neraka jahanam mereka masuk ke dalamnya. Iulah seburuk-buruk tempat kediaman. “ (ibrahim ayat 28-29)”
Rahmat macam apakah yang dapat diperoleh yang kafir kepadanya jawabnya ialah keterangan yang diriwayatkan oleh abu ja’far bin jarir ibnu abbas, sehubungan dengan firman allah, “ dan tidaklah kami mengutusmumelainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”, yaiu barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka di tetapkanlah baginya rahmat di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia di hindarkan dari musibah yang menimpa umat terdahulu berupa penenggelaman dalam bumi dan hujan batu.[5]


C.    Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
Rahmatan lil alamin adalah rahmat yang di berikan untuk semua makhluk yang berada di alam sekitar  sehingga manusia sebagai makhluk harus saling menghargai satu sama lain untuk bisa mewujudkan kesejahteraan dalam hidup khususnya bagi makhluk itu sendiri dan alam semesta.meskipun makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, dan lain-lain tidak bisa berbicara kita tidak boleh bersikap sewenang-wenang kepada makhluk tersebut karena mereka tidak memiliki akal dan pikiran seperti yang dimiliki oleh manusia. Manusia yang telah di berikan akal dan pikiran harus bisa memikirkan kelangsungan hidup dari makhluk lainnya, jika manusia tidak bisa menjaga kesejahteraan dalam hidupnya maka akan menimbulkan dampak yang buruk baginya.
Agar manusia bisa menyesuaikan dengan karakter rahmatan lil alamin maka kita sebagai umat manusia setidaknya bisa mengetahui dan memahami apa yang telah di perintahkan rasul kepada umatnya dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam kehidupan umat manusia. Nabi rahmatan lil alamin menjadikan suri tauladan yang patut di contoh oleh manusia agar menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupannya supaya manusia dapat mengikutui apa yang telah di lakukan oleh nabi muhammad yang di juluki sebagai nabi rahmatan lil alamin.

D.    Aspek tarbawi
1.     Nabi muhammad membawa sistem ajaan yang bisa membahagiakan seluruh manusia
2.     Rahmat dari risalat nabi muhammad adalah keseimbangan diantara kesuburan jasmani dan rohani
3.     Pokok dari ajaran islam bahwa martabat manusia adalah kemuliaan yang hendak di cari hanya satu, yaitu kemuliaan disisi allah, karena iman dan amal shalih
4.     Rasulullah  saw di utus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan  di dunia dan di akhirat



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Rahmatan lil alamin merupakan sifat yang telah di cerminkan oleh nabi muhammad saw terhadap anak-anaknya dan beliau sebagai nabi terakhir yang menciptakan suatu kesatuan umat/bangsa-bangsa dengan tujuan menggalang persatuan umat sejagat, yang sekaligus merupakan Rahmatan Lil ‘Aalamiin rahmat bagi semesta alam.
Nabi muhammad membawakan rahmat yang lebih penting yaitu dengan adanya kemerdekaan berfikir sehingga akal tidak takut akan maju demi mendapatkan suatu kebenaran dan membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan  di dunia dan di akhirat hanya saja, orang kafir tidak mau memanfaatkannya dan berpaling drinya akibat kesiapan dan tabiatnya yang telah rusak.
Untuk menjadi nabi sebagai rahmatan lil alamin beliau membentuk suatu  bentuk kepribadian Sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rahmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran yang beliau sampaikan , karena ajaran beliaupun adalah rahmat menyeluruh dan dengan demikian, menyatu ajaran dan penyampaian ajaran, menyatu risalah dan rasul, dank arena itu pada rasul saw adalah penjelmaan konkret dari akhlak al-quran.



Daftar pustaka
Hamka. 1988 Tafsir Al Azhar  Juz XVII . Jakarta: Pustaka Panjimas
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Semarang: PT. Karya Toha Putra
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1989. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press



BIODATA DIRI
Nama                           :  HERI PURNOMO
TTL                             :  PEKALONGAN, 30 MARET 1996
ALAMAT                    :  Desa pecakaran kec. Wonokerto kab. Pekalongan
Riwayat pendidikan   :
a.      SD PECAKARAN 02
b.     SMP 1 WONOKERTO
c.      MAS SIMBANG KULON




[1] http://teguhsupriyadi.blogspot.co.id/2011/02/nabi-muhammad-saw-pembawa-rahmatan-lil.html
[2] Prof. Dr. Hamka, tafsir al azhar, (jakarta: pustaka panjimas) hlm.122-124
[3] Ahmad mustafa al-maragi, terjemah tafsir al maragi,(semarang:toha putra 1993) hlm.131
[4] M. Quraish shihab, tafsir al-misbah,(jakarta:lentera hati 2002) hlm 518 -521
[5] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i,Tafsir Ibnu Katsir,(Jakarta:Gema Insani press 1999)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar