Laman

Rabu, 05 Oktober 2016

TT1 D 5A “TUGAS JIN DAN MANUSIA” (QS. ADZ-DZARIYAT:56)

TUJUAN PENDIDIKAN "UMUM"
“TUGAS JIN DAN MANUSIA” (QS. ADZ-DZARIYAT: 56)

Qoniatul Badi’ah      (2021115118)
 Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr Wb
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia dan ridho-Nya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar, sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Tafsir Tarbawi I.
Terwujudnya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Atas segala dorongan dan do’a dari keluarga tercinta terutama kedua orang tua dalam memotivasi dan penyemangat, penulis ucapkan syukur Alhamdulillah yang tidak terhingga.
Dengan terselesainya makalah yang bertema: “Tugas Jin dan Manusia”, dengan tulus ikhlas penulis menyampaikan banyak terima kasih atas segala bantuan dari berbagai pihak, khususnya kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu Tafsir Tarbawi I dan teman-temanku semuanya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna, sehingga penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran serta koreksi dari pembaca, demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pekalongan, 3 Oktober 2016
Penulis

Qoni’atul Badi’ah
(2021115118)
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Allah SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Matahari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Allah juga menciptakan jin dan manusia, Allah menciptakan jin dan manusia bukan untuk menyekutukan-Nya tetapi semata-mata untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah.
B.    Nash dan Arti
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS Adz-Dzariyat:56)
C.    Arti penting dikaji
Dalam QS Adz-Dzariyat ini dimulai dengan memperkatakan angin yang berhembus, lalu kemudian disambut dengan peringatan untuk membangkitkan kesadaran bahwa akhir dari kehidupan didunia adalah kiamat, atau kehancuran dunia yang sekarang sebagai akhir konsekuen dari kehidupan ini yakni sesudah manusia menempuh hidup didunia yang penuh dengan serba-serbi kehidupan dan perjuangan dalam menegakkan kemurnian hidup dalam mencari ketenangan dalam jiwa ditengah-tengah kerasnya gelombang Al-Hayat yang memilih satu jalan saja yakni jalan yang diridhoi Allah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
1.     Pengertian Jin dan Manusia
a.      Pengertian Jin
Jin dalam bahasa arab yakni al-Jinnu (الجن) makna asalnya yakni terhalangnya sesuatu dari panca indera. Dinamai jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Syaikh Ibrahim Abd Al-Alim menjelaskan bahwa kata jin berasal dari kata janna (جن) yang artinya menutupi sesuatu atau segala sesuatu yang tak terlihat olehmu. Arti lainnya adalah menyelimuti malam (menjadi gelap gulita). Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allâh dari api yang sangat panas seperti yang telah dijelaskan dalam al-qur’an yang artinya: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. al-Hijr [15]:27).[1]
b.     Pengertian Manusia
Menurut pandangan ahli filsafat manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “nasiya” yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya.[2]


2.     Terciptanya Jin dan Manusia
a.      Terciptanya Jin
Telah diterangkan dalam QS Ar-Rahman:15  bahwa jin itu terjadi daripada nyala api
t,n=yzur ¨b!$yfø9$# `ÏB 8lÍ$¨B `ÏiB 9$¯R ÇÊÎÈ  
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS Ar-Rahman:15)
Dan dijelaskan pula dalam QS Al-Kahfi bahwa iblis yang kerap disebutkan sebagai bembangkang kepada Nabi Adam itu adalah dari keturunan jin juga, dan iblis pun mengakui ketika dia menyombongkan bahwa dia lebih mulia dari manusia, karena dia terjadi dari api sedang manusia terjadi dari tanah.[3]
b.     Terciptanya Manusia
Dalam QS Al-Mu’minun:12-14 memberikan teori tentang proses terjadinya manusia dalam kandungan ibu secara rinci yang dibuktikan dengan ilmu kedokteran dan kandungan yang sama persis memerinci proses embriologi (kehamilan).[4]
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ   §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ  ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ  
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al-Mu’minun:12-14).

B.    Tafsir QS Adz-Dzariyat:56
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat:56)
a.      Tafsir Al-Azhar
Inilah peringatan lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu supaya Rasulullah SAW meneruskan memberi peringatan. Sebab peringatan akan besar manfaatnya bagi orang yang beriman. Maka datanglah tambahan ayat ke-56 ini bahwasannya Allah menciptakan jin dan manusia tidak ada guna yang lain melainkan untuk mengabdikan dirinya kepada Allah.
Menurut riwayat dari Ali bin Abi Thalhah yang diterimanya dari Ibnu Abbas, arti untuk beribadah ialah mengakui diri adalah budak atau hamba dari Allah, tunduk dan menurut kemauan Allah baik secara sukarela atau secara terpaksa, namun kehendak Allah berlaku juga (karhan). Mau tidak mau diri pun hidup. Mau tidak mau kalau umur panjang pasti mati,. Mau tidak mau jika dating ajal pasti mati. Ada manusia yang hendak melakukan didalam hidup ini menurut kemauannya, namun yang berlaku ialah kemauan Allah juga.
Ibadah itu diawali atau dimulai dengan iman yaitu percaya bahwa ada Tuhan yang menjamin kita. Percaya akan adanya Allah ini saja sudah menjadi dasar pertama dari hidup itu sendiri. Maka iman yang telah tumbuh itu wajib dibuktikan dengan amal yang shaleh yakni perbuatan yang baik. Iman dan amal shaleh inilah pokok ibadah. Bila kita telah mengaku beriman kepada Allah, niscaya kitapun percaya kepada Rasul-Nya.[5]
b.     Tafsir Al-Mishbah
Ayat diatas menggunakan bentuk pesona pertama (Aku) setelah sebelumnya menggunakan pesona ketiga (Dia/Allah). Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang dikandungnya tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah melibatkan malaikat atau sebab-sebab lainnya. Penciptaan, pengutusan Rasul, turunnya siksa, rezeki yang dibagikan-Nya melibatkan malaikat dan sebab-sebab lainnya, sedang disini penekanannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju kepada-Nya semata-mata tanpa memberi kesan adanya keterlibatan selain Allah SWT.
Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan seks pun dapat menjadi ibadah, jika itu dilakukan sesuai ketentuan agama. Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukannya karena Allah yakni sesuai dan sejalan dengan tuntutan petunjuk-Nya.[6]

C.    Aplikasi dalam Kehidupan
Dari QS Adz-Dzariyat:56 yang artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. banyak pelajaran yang dapat diambil untuk diterapkan dalam kehidupan yakni kita harus selalu mengabdi kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya (seperti: sholat, puasa, zakat, saling membantu, dll) dan menjauhi larangan-larangan-Nya (seperti: zina, mencuri/merampok, judi, memakai narkoba, minum-minuman keras, dll).

D.    Aspek Tarbawi
Nilai yang terkandung dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 adalah sebagai berikut:
1.      Kita sebagai manusia ciptaan Allah, maka seharusnya kita beriman kepada Allah dan patuh atas segala perintah-Nya.
2.     Kita hendaknya taat dan tunduk terhadap perintah Allah.
3.     Jika kita murka kepada Allah, maka Allah akan memberi azab yang pedih kepada kita dan tidak ada seorangpun yang mampu menolak azab tersebut, dan juga tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita untuk menghindari azab tersebut.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Allah meciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan berbagai bentuk dan begitu sempurna, tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya. Termasuk Allah juga menciptakan jin dan manusia. Allah menciptakan jin dan manusia bukan untuk sebagai hiasan duniawi saja dan bukan untuk menyekutukan Allah tetapi semata-mata untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah dengan cara beriman kepada-Nya. Jin dan manusia yang beriman kepada Allah adalah mereka yang selalu melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena mereka takut akan siksa yang telah dijanjikan oleh Allah.












DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Musfirotun, 2015, Manusia & Kebudayaan Perspektif Islam, Pekalongan:
CV. Duta Media Utama.
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXIX, Jakarta: Pustaka Panjimas.
Ahmad Ta’rifin, Ilmu Alamiah Dasar, Pekalongan: Duta Media Utama.
Hamka, 1981, Tafsir Al-Ahzar Juzu’ XXVII, Surabaya: Yayasan Latimojong.
Shihab, Muhammad Quraish, 2005, Tafsir Al-Mishbah, Tanggerang: Lentera Hati.







PROFIL

Nama                                      : Qoni’atul Badi’ah
Tempat, tanggal lahir             : Pekalongan, 28 Oktober 1996
Alamat                                                : Ds.Galangpengampon 03/01 Wonopringgo
Riwayat pendidikan                : MII Galangpengampon Wonopringgo (2009)
                                                  MTs Walisongo Kedungwuni (2012)
                                                  SMK Gondang Wonopringgo (2015)
                                                  IAIN Pekalongan (masih dalam proses)



[2] Musfirotun Yusuf, Manusia & Kebudayaan Perspektif Islam, (Pekalongan: CV. Duta Media Utama, 2015), hlm 1
[3] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXIX, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm 150
[4] Ahmad Ta’rifin, Ilmu Alamiah Dasar, (Pekalongan: Duta Media Utama), hlm 5-6
[5] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Ahzar Juzu’ XXVII, (Surabaya: Yayasan Latimojong, 1981), hlm 49-50
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Tanggerang: Lentera Hati, 2005), cet III, hlm 355-356.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar