Laman

Selasa, 22 November 2016

TT1 A 12d “METODE DIALOGIS” QS. ASH-SHAFFAT AYAT 102



METODE PENDIDIKAN SECARA “KHUSUS”
“METODE DIALOGIS”
QS. ASH-SHAFFAT AYAT 102


Tika Lulu Fauzi (2021115365)
Kelas A

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWTatas rahmat dan hidayah-Nya serta segala kemudahan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tafsir tarbawi yang bertemakan “Metode Pendidikan Secara Khusus” dengan sub tema “Metode Dialogis” (QS. Ash-Shaffat ayat 102).
. Tak lupa shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW,yang kita nantikan syafa’atnya di Yaumul Qiyamah.
Ucapan terimakasih pula penulis sampaikan kepada :
1.      Ayah dan Ibu yang senantiasa mendo’akan serta memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis.
2.      Bapak Muhammad Ghufron Dimyati M.S.I, selaku dosen matakuliah Tafsir Tarbawi I, yang telah memberikan amanah untuk menyelesaikan tugas ini
3.      Teman-teman yang senantiasa memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini.
4.   Serta semua pihak yang telah berkonstribusi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari, bahwa  makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Baik dari segi penyusunan dan pemilihan kata. Oleh karena itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun dari pembaca,sebagai bahan evaluasi agar dalam tahap penyusunan selanjutnya bisa lebih baik lagi.
Semoga makalah tentang “Metode Pendidikan Secara Khusus” dengan sub tema “Metode Dialogis (QS. Ash-Shafaat ayat 102)” ini bisa bermanfaat bagi masyarakat luas pada umumnya, dan bagi para mahasiswa khususnya.


                                                                          Pekalongan, 22 November 2016

                                                                                                Tika Luluk Fauzi




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satutugas guru adalahmengajar.Hal inimenyebabkanadanyatuntutankepadasetiap guru untukdapatmenjawabpertanyaantentangbagaimanaseharusnyamengajar.Dengan kata lain, setiap guru dituntutuntukmemilikikompetensimengajar. Guru akanmemilikikompetensimengajarjika, guru paling tidakmemilikipemahamandanpenerapansecarataktisberbagai model danmetodebelajarmengajarsertahubungannyadenganbelajardisampingkemampuan-kemampuan lain yang menunjang.
Metode adalah cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. semakin baik metode itu, semakin efektif pula pencapaian tujuan. Dengan demikian tujuan merupakan faktor utama dalam menetapkan baik tidaknya penggunaan suatu metode.
Metode dialogis merupakan salah satu metode pembelajaran dari sekian banyak metode. Terjadinya interaksi antara guru dan murid seperti tanya jawab akan menciptakan suasana yang harmonis, sehingga murid akan menikmati proses pembelajaran dengan rasa senang dan nyaman tanpa ada paksaan dan ia akan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru dengan melalui dialog berupa tanya jawab.
B.     Judul
Judul garis besar makalah ini adalah “Metode Pendidikan Secara Khusus” dengan sub tema “Metode Dialogis (QS. Ash-Shaffat ayat 102)”.

C.    Nash
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يبُنىَ إنّى أَرَى فى الْمَنَام أَنّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْمَاذَا تَرَى قَالَ يأَبَت افْعَلْ ماَ تُؤْمَرُ سَتَجدُنى إنْشَاءَاللهُ منَ الًصّبرينَ   
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat:102)

D.    Arti penting
Dalam Qs. Ash-Shaffat ayat 102 diterangkan tentang ketaatan dan kepatuhan seorang anak kepada apa yang diperintahkan Allah SWT dan orang tuanya, serta mengajarkan kita untuk selalu bersabar dalam menghadapi cobaan. Siapa saja yang senantiasa melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT serta bersabar dalam menerima cobaan dari-Nya akan memperoleh hikmah dari kejadiannya tersebut, karena Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar.























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
Metode dalam bahasa Arab disebut dengan al-thariq, yang artinya jalan. Jalan adalah sesuatu yang dilalui supaya sampai ke tujuan. Mengajarkan materi pelajaran agar dapat diterima peserta didik hendaknya menggunakan jalan yang tepat, atau dalam bahasa yang lebih tepatnya cara dan upaya yang dilakukan pendidik.[1]
Abu al-Fath al-Tawanisi mendefinisikan metode mengajar sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan informasi ke otak murid-murid.
Kata ‘Dialog’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu dialogos, yang berarti percakapan. Dialog adalah sebuah proses yang di dalamnya terjadi komunikasi yang berbentuk percakapan atau diskusi untuk saling bertukar pikiran dan opini-opini dari apa yang ada di pikiran individu. Dialog dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dialog secara langsung nampak dalam pertemuan antar pribadi. Dialog ini disebut dialog lisan. Sedangkan dialog secara tidak langsung adalah dialog melalui tulisan.
Dalam dunia pendidikan, dialog antara guru dan murid sangatlah penting dalam menciptakan suasana yang harmonis, sehingga murid akan menikmati proses pembelajaran dengan rasa senang dan nyaman tanpa ada paksaan dan ia akan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru dengan melalui dialog berupa tanya jawab.
B.     Tafsir
 1. Tafsir Ibnu Katsir
“Maka tatkala anak itu telah sanggup bersama-sama Ibrahim,” yaitu menjadi besar dan dewasa serta dapat pergi bersama ayahnya dan sanggup melaksanakan pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” sesungguhnya Ibrahim memberitahu anaknya dengan cara seperti itu agar lebih mudah diterima oleh anaknya dan dengan maksud menguji kesabaran, keteguhan, dan keistiqamahan anaknya di kala masih kecil dalam menaati Allah dan menaati ayahnya. Maka dia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, yakni laksanakanlah perintah Allah untuk menyembelihku itu, insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar. ”Aku akan bersabar dan mengharapkan pahala-Nya dari sisi-Nya.[2]

2.      Tafsir al-Mishbah
Ayat sebelum ini menguraikan janji Allah kepada Nabi Ibrahim As. Tentang perolehan anak. Demikianlah hingga tiba saatnya anak tersebut lahir dan tumbuh berkembang, maka tatkala ia yakni sang anak itu telah mencapai usia yang menjadikan ia mampu berusaha bersamanya yakni bersama Nabi ibrahim, ia yakni Nabi Ibrahim berkata sambil memanggil anaknya dengan panggilan mesra: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu dan engkau tentu tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu ilahi. Jika demikian itu halnya, maka pikirkanlah apa pendapatmu tentang mimpi yang merupakan perintah Allah itu!” ia yakni sang anak menjawab dengan penuh hormat: “Hai bapakku, laksanakanlah apa saja yang sedang dan akan diperintahkan kepadamu termasuk perintah menyembelihku, engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk kelompok para penyabar.”
            Ucapan sang anak: (افْعَلْ ماَ تُؤْمَرُ) if’al ma tu’mar, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, bukan berkata: “Sembelihlah aku”, mengisyaratkan sebab kepatuhannya, yakni karena hal tersebut adalah perintah Allah swt. Bagaimanapun bentuk, cara dan kandungan apa yang diperintahkan-Nya, maka ia sepenuhnya pasrah. Kalimat ini juga dapat merupakan obat pelipur lara bagi keduanya dalam menghadapi ujian berat itu.
            Ucapan sang anak: (سَتَجدُنى إنْشَاءَاللهُ منَ الًصّبرينَ) satajiduni insya Allah min ash-shabirin, engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk para penyabar, dengan mengaitkan kesabarannya dengan kehendak Allah, sambil menyebut terlebih dahulu kehendak-Nya, menunjukkan betapa tinggi akhlak dan sopan santun sang anak kepada Allah swt.[3]



2.      Tafsir al-Azhar
“Maka setelah sampai anak itu dapat berjalan betsamanya.” (pangkal ayat 102). Anak yang sudah dapat berjalan bersama ayahnya ialah di antara usia 10 dengan 15 tahun. Keadaan itu ditonjolkan dalam ayat ini, untuk menunjukkan betapa tertumpahnya kasih Ibrahim As. kepada anak itu.
Suatu waktu dibawalah Ismail oleh Ibrahim berjalan bersama-sama. Di tengah jalan, “Berkatalah dia, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasanya aku menyembelih engkau. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu!”
Dengan kata-kata yang halus mendalam, si ayah berkata kepada si anak, yaitu ayah yang telah tua berusia lebih dari 90 tahun, dan anak yang dihadapi adalah anak yang berpuluh tahun lamanya ditunggu-tunggu, dan sangat diharapkan.
Disuruhnya anaknya memikirkan mimpinya itu dan kemudian diharapkan anaknya menyatakan pendapat.
“Berkata dia: - yaitu Ismail - “Ya ayahku! Perbuatlah apa yang diperintahkan kepada engkau. Akan engkau dapati aku – Insya Allah – termasuk orang yang sabar.” (ujung ayat 102).
Alangkah mengharukan jawaban si anak. Benar-benar terkabul doa ayahnya memohon diberi keturunan yang terhitung orang yang shaleh. Benar-benar tepat apa yang dikatakan Tuhan tentang dirinya, yaitu seorang anak yang penyabar. Dia percaya bahwa mimpi ayahnya adalah wahyu dari Allah, bukan mimpi sembarang mimpi. Sebab itu dianjurkannya ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan.[4]
C. Aplikasi dalam Kehidupan
Qs. Ash-shaffat ayat 102 menjelaskan ketaatan dan kepatuhan seorang anak kepada Allah SWT dan ayahnya, serta kesabaran dalam menghadapi ujian atau cobaan. Dari sinilah kita harus meneladani sifat-sifat Nabi Ibrahim As. dan anaknya Nabi Ismail As. Sebagai orang tua kita hendaknya mengajarkan ketauhidan kepada sang anak sejak dini, agar ia mempunyai rasa keyakinan yang kuat kepada Allah SWT, sehingga apapun yang diperintahkan oleh Allah ia kerjakan, serta bersabar dalam menerima apapun ujian yang diberikan Allah SWT. Dan sebagai anak, kita harus senantiasa patuh dengan perintah orang tua kecuali dalam hal kemaksiatan.

D. Aspek Tarbawi
1.  Kerjakanlah  apa yang telah diperintahkan Allah SWT.
2. Sebagai seorang anak kita harus patuh kepada orang tua (birrul walidain) kecuali dalam hal kemaksiatan.
3. Bersabarlah dalam menghadapi cobaan atau ujian karena selalu ada hikmah dibalik kejadian, dan Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar.
4. Dialog merupakan sarana untuk saling bertukar fikiran, sehingga dengan dialog dapat melatih kita untuk berfikir kritis dan kreatif.






















DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir IV. Jakarta: Gema Insani Press

Hamka. 1994. Tafsir al-azhar juzu’ XXIII. Jakarta: Pustaka Panjimas

Nizar, Samsul dan Zaenal Efendi Hasibuan. 2011.Hadits Tarbawi. Jakarta: Kalam Mulia

Shihab, M. Quraish. 2006.Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati


















PROFIL


Nama : Tika Luluk Fauzi
NIM : 2021115365                           
Alamat : Desa. Wiradesa, Kec. Wiradesa, Kab. Pekalongan
Tempat/tanggal lahir : Pekalongan, 06 Desember 1996
Riwayat pendidikan :
-          SD N 02 Wiradesa, Kec. Wiradesa Kab. Pekalongan
-          SMP N 01 Wiradesa, Kec. Wiradesa Kab. Pekalongan
-          SMA N 02 Wiradesa, Kec. Wiradesa Kab. Pekalongan
-          IAIN Pekalongan (masih semester 3)



[1] Samsul Nizar dan Zaenal Efendi Hasibuan, Hadits Tarbawi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), hlm. 57
[2] Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir IV, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 39-40
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 62-63
[4] Hamka, Tafsir al-azhar juzu’ XXIII, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994), hlm. 143-144

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar