Laman

Selasa, 22 November 2016

TT1 B 12a METODE KISAH Q.S Al A’raf (176-177)

“METODE PENDIDIKAN KHUSUS”
METODE KISAH  Q.S Al A’raf (176-177)

 Indra Khotibul Imam (2021115369)
Kelas B 

FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul “Metode Pendidikan Khusus” dengan sub pembahasan “Metode Kisah”. Tak lupa sholawat dan salam marilah kita limpah curahkan kepada guru besar kita yakni Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya beliau mungkinkah kita terbebas dari zaman kebodohan. Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi. Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada:
Dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada kami, orangtua kami yang selalu memberikan doa dan dukungan dalam menuntut ilmu. Rekan rekan mahasiswa dan seluruh pihak yang bersedia memberikan partisipasi dalam penyusunan makalah ini.
Manusia pasti memiliki kekuragan seperti halnya dalam pembuatan makalah ini pun kami banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami selalu mengharap kritik dan saran dari pembaca guna kemajuan bersama.
Akhir kata dari penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

                                                                                                         Pekalongan, 19 November 2016.
                                                
     Penulis,
                                                          

   Indra Khotibul Imam


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................................
KATA PENGANTAR............................................................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ......... 3
BAB  I      PENDAHULUAN                                                                        .
A.     Latar Belakang ........................................................................................           4
B.     Rumusan Masalah...................................................................................         4-5
C.     Tujuan Penelitian.....................................................................................           5

BAB II     PEMBAHASAN
A.     Teori QS. Al A’Raf  ................................................................................            6
1.      Pengertian metode kisah ...........................................................................    6
2.      Penjelasan QS Al Ankabut ayat 19 – 20 ........................................... .......    6
B.   Tafsir QS Al A’raf 176 - 177...................................................................         7-8
C.   Aplikasi QS Al A’raf 176 - 177...............................................................            8
D.  Aspek Tarbawi ........................................................................................            8


BAB III    PENUTUP
A.  Kesimpulan  ............................................................................................          9
B.   Daftar pustaka.........................................................................................          10
C.   Profil pemakalah ....................................................................................          11





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Surat Al A’raf adalah surat ke-7 dalam Al-Qur’an. Surat ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surat makkiyah. Dinamakan surat Al A’raf karena perkataan Al A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada diatas Al A’raf yaitu tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
       Metode kisah yaitu teknik yang dilakukan dengan cara bercerita, mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung ibrah (nilai moral, sosial, dan rohani) bagi seluruh umat manusia disegala tempat dan zaman baik mengenai kisah yang bersifat kebaikan maupun kisah kedzoliman yang berakibat buruk dimasa lalu. Teknik ini sangat efektif sekali, terutama untuk materi sejarah, dan terlebih lagi sasarannya untuk peserta didik yang masih dalam perkembangan fantasi. Dengan mendengarkan suatu kisah kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat tergugah, meniru figur yang baik yang berguna bagi perkembangan hidupnya, dan membenci terhadap tokoh antagonis atau dzolim. Jadi dengan memberikan stimulasi kepada peserta didik dengan cerita itu, secara otomatis mendorong peserta didik untuk berbuat kebajikan dan dapat membentuk akhlak mulia serta membina rohani.
       Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia maupun diakhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupan.
            Namun demikian Al-qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan Al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran Al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memahami ajaran Al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir yang sebagaimana dikemukakan oleh para ulama.
Dalam al-Qur’an dan hadist dapat di temukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan membangkitkat semangat, juga mampu menggugah puluhan ribu muslimin untuk membuka hati umat manusia menerima tuntunan Allah. Dalam hal ini salah satunya metode dakwah yang merupakan metode pendidikan yang berfungsi untuk mengajak dan membawa umatnya kejalan Allah dan untuk mendapat keridhoannya. Untuk itu disini akan

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, penulis merumuskan tujuan penulisan makalah ini dengan tujuan antara lain:
1. Apa teori yang dibahas dalam surat Al A’raf ayat 176 dan 177?
2. Bagaimana penjelasan surat Al A’raf ayat 176 dan 177?
3. Apa yang dapat kita pelajari dalam surat Al A’raf ayat 176 dan 177 dalam kehidupan sehari-hari?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pembahasan yang terdapat dalam Q.S Al A’raf ayat 176 dan 177.
2.      Mengetahui tafsir Q.S Al A’raf ayat 176 dan 177.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
Metode kisah yaitu teknik yang dilakukan dengan cara bercerita, mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung ibrah (nilai moral, sosial, dan rohani) bagi seluruh umat manusia disegala tempat dan zaman baik mengenai kisah yang bersifat kebaikan maupun kisah kedzoliman yang berakibat buruk dimasa lalu. Teknik ini sangat efektif sekali, terutama untuk materi sejarah, dan terlebih lagi sasarannya untuk peserta didik yang masih dalam perkembangan fantasi. Dengan mendengarkan suatu kisah kepekaan jiwa dan perasaan peserta didik dapat tergugah, meniru figur yang baik yang berguna bagi perkembangan hidupnya, dan membenci terhadap tokoh antagonis atau dzolim. Jadi dengan memberikan stimulasi kepada peserta didik dengan cerita itu, secara otomatis mendorong peserta didik untuk berbuat kebajikan dan dapat membentuk akhlak mulia serta membina rohani. [1]
Sebagian besar isi Al-Qur’an, muatannya sejarah. Filosofi mempelajari sejarah ialah untuk menjadikan kisah sejarah yang ada itu untuk menjadi i’tibar atau ibrah. Didalam kisah sejarah selalu muncul dua peristiwa yaitu baik dan buruk begitu juga muncul tokoh baik dan juga buruk. Karena kebaikan selalu mendatangkan kemasalahatan, sedangkan kejahatan mendatangkan kehancuran. Maka sejarah dapat dijadikan pembelajaran untuk mencontoh yang baik dan menjauhi yang jahat. [2]
B.     Penjelasan Q.S Al A’Raaf ayat 176-177
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya:
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”

سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ 
Artinya:
“Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

Penjelasan suat al araf 176-177:
Surat tersebut menjelaskan tentang siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuannya artinya seseorang yang mempunyai wawasan atau pengetahuan tetapi tidak digunakan atau di manfaatkan dengan baik, melainkan hanya mengejar sesuatu yang mengarah kepada dunia saja.
Dan amat buruklah perumpamaan orang orang yang mendustakan ayat ayat kamikarena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya bahkan berbuat dzalim dan terhadap diri mereka sendirilah bukan terhadap orang lain mereka terus menerus berbuat dzalim.
Kedua ayat tersebut di atas memberikan perumpamaan tentang siapapun yang sedemikian dalam pengetahuannya, sampai sampai pengetahuan itu melekat pada dirinya, seperti melekatnya kulit pada daging. Namun ia menguliti dirinya sendiri , dengan melepaskan tuntutan pengetahuannya. Ia di ibaratkan seekor anjing yang terengah engah sambil menjulurkan lidahnya.[3]


C.    Tafsir
a.      Al-Maraghi
Kalau kami menghendaki agar orang itu kami angkat dengan ayat-ayat kami tersebut dan dengan mengamalkannya kepada derajat derajat kesempurnaan dan pengetahuan, bisa aja itu kami lakukan.yaitu, kami buat petunjuk itu jadi wataknya benar-benar, dan kami membuat dia mesti mengamalkannya, baik dengan suka hati maupun terpaksa.karna bagi kami itu pun tidak sukar. Hanya saja itu bertentangan dengan sunnah kami. akan tetapi orang itu cenderung dan lebih condong terhadap dunia yang tidak akan ada puas puasnya akhirnya, hilanglah perhatiannya sama sekali untuk memikirkan ayat ayat kami yang telah kami berikan kepadanya. [4]

b.      Al-Mishbah
Allah menyatakan bahwa, dan sekiranya kami menghendaki, pasti kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajatnya dengannya, yakni melalui pengamalan terhadap ayat ayat, bukan hanya menuruti hawa nafsu duniawi saja, terjebak dalam gemerlapnya duniawi yang di perumpamakan seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya, saat dihalau atau di biarkan dia tetap saja menjulurkan lidahnya. Seperti melekatnya kulit pada daging. Namun iya menguliti dirinya sendiri, dalam artian melepaskan tuntunan pengetahuannya. Seharusnya pengetahuan tersebut membentengi dirinya dari perbuatan buruk yang menjerumuskannya terus untuk mengejar kebahagian duniawi, karena yang demikian telah menjadi sifat bawaan anjing tersebut.[5]

D.    Aplikasi dalam kehidupan
       Penerepan dalam kehidupan sehari-hari mengenai surat al-araf 176-177 ini ialah hendaknya kita sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah yang sempurna dan mempunyai akal, harus tersadar akan kepentingan pengetahuan, menggunakan dan mengamalkan pengetahuan yang kita miliki di jalan yang benar, pengetahuan yang kita miliki harus dapat membentengi dari segala hal yang buruk, menjadikan pengetahuan yang kita punya untuk kepentingan akhirat agar dapat bermanfaat kelak di kehidupan kita nanti, bukan malah menjerumuskan kita di germerlapnya dunia.

E.     Aspek Tarbawi
1. Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna hendaknya kita dapaat memanfaatkan pengetahuan kita untuk hal yang baik dan bermanfaat.
2.menggunakan pengetahuan yang kita punya hanya karna ridho Allah, bukan menuruti nafsu duniawi.
3.selalu menyampaikan atau bercerita hal-hal yang baik kepada sesama serta memutuskan cerita cerita yang buruk agar tidak menjadi gosip dan fitnah


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesimpulan dari surat al araf ayat 176-177 bahwa Allah menyuruh kita untuk selalu menggunakan pengetahuan kita untuk hal yang baik dan bermanfaat, bukan untuk  di gunakan lantaran menuruti nafsu akan kehausan duniawi,dan kita sebagai makhluk yang berakal dan berpengetahuan, di tuntun untuk menyampaikan pengetahuan yang baik kepada sesama, bukan untuk mentiadakannya atau menyalahgunakannya


DAFTAR PUSTAKA
Dr. Abdul Mujib M.Ag. 2006. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media
Prof Dr. Haidar Putra Daulay M.A. 2014. Pendidikan Islam Dalam Prespektif Filsafat, Jakarta: Kencana
M. Quraish Shihab.2006. Tafsir Al-Misbah Jakarta: Lentera Hati
Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi


PROFIL PEMAKALAH


Nama : Indra Khotibul Imam
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 23 Februari 1997
Alamat : Jalan Tanjung Ciracar Jakarta Timur
Riwayat Pendidikan : TK Ar-Rahma, SD 10 NEGRI Ciracas Jakarta Timur, SMP 174 Negri Susukan Jakarta Timur, SMK Tunas Medika Setu Cipayung Jakarta Timur


[1] Dr. Abdul Mujib M.Ag, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm.192-193
[2] Prof Dr. Haidar Putra Daulay M.A, Pendidikan Islam Dalam Prespektif Filsafat, (Jakarta: Kencana, 2014) hlm.126
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta, Lentera Hati, 2006) hlm.310-311
[4] Ahmad Musthofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, hlm.199
[5] Ibid M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta, Lentera Hati, 2006) hlm.310-311

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar