Laman

Minggu, 13 November 2016

tt1 B 10d Menyeru Pada Kebenaran Q.S. An-Nahl ayat 36

OBYEK PENDIDIKAN “TAK LANGSUNG”
Menyeru Pada Kebenaran
Q.S. An-Nahl ayat 36


Andriono Abdullah (2021115349)
Kelas B

TARBIYAH/PAI
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016













Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
    
                                                                                     
Pekalongan12 November 2016
    
                                                                                             
Andriono Abdullah



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Segala puji bagi Allah SWT., Rabb semesta alam. Shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa Allah SWT. karuniakan kepada sang Baginda Rasulullah SAW., sang revolusioner dunia dari ratusan abad yang lalu hingga sekarang, juga atas segenap keluarga, para sahabat, para tabi’in serta pengikut beliau hingga akhir zaman.
Sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul, sejak itulah kenabian dam kerasulan berakhir. Kenbian dan kerasulan memang sudah berakhir, namun risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah risalah sepanjang masa hingga datangnya Hari Kiamat kelak.
Allah SWT. telah mengutus rasul-Nya SAW setelah manusia berpaling dari ajaran risalah samawiyah sebelumnya. Dan menghilang, atau hampir menghilang pengaruhnya dalam meluruskan kehidupan manusia. Maka datanglah dakwahnya yang abadi sebagai pembaharuan dakwah tauhid yang didakwahkan oleh semua rasul. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa risalahnya adalah penyempurna bagi risalah-risalah langit yang sebelumnya.
B.    Judul
“Objek Pendidikan Tak Langsung”    Menyeru Pada Kebenaran.

C.    Nash dan Terjemahan
QS. An-Nahl : 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”[1]

  1. Arti Penting Untuk Dikaji
Ayat ini penting sekali untuk dikaji, karena di dalam ayat ini terkandung makna bahwasanya kita harus mengimani para rasul yang telah di utus Allah untuk tiap-tiap umatnya tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menyerukan kebenaran atau ketauhidan serta ke Esa-an Allah SWT. sebagai satu-satunya dzat yang pantas untuk di sembah.


BAB II
PEMBAHASAN



A.    Teori
 Dalam Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur nabi muhammad SAW, dalam menghadapi para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada juga yang membangkang.
 Kata (الْطَّـغُوتَ) thaghut terambil dari kata (طغى) thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan sewenang-wenangan terhadap manusia.[2]
Allah mengabarkan kepada kita untuk meneliti sejarah umat terdahulu, baik umat yang memperoleh dan mendapat petunjuk dari Allah Swt. ataupun ummat yang membangkang karena didalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi manusia dan menjadi bekal agar manusia tidak terjerumus kedalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya.
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini yaitu:
1. Perintah untuk tidak beribadah selain kepada Allah dan tidak mengingkarinya/kafir.
2. Perintah untuk menjauhi syaitan dan sekutunya.
3. Dapat mengambil pelajaran pada setiap kesalahan yang pernah diperbuat oleh ummat terdahulu dan tidak mengulanginya kembali.[3]
B.    Tafsir Ayat

1.    Tafsir Jalalayn
                                                                                                                                            
(Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat) seperti Aku mengutus kamu kepada mereka (untuk) artinya untuk menyerukan ('Sembahlah Allah) esakanlah Dia (dan jauhilah thaghut,') berhala-berhala itu janganlah kalian sembah (maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah) lalu ia beriman (dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti) telah ditentukan (kesesatan baginya) menurut ilmu Allah, sehingga ia tidak beriman. (Maka berjalanlah kalian) hai orang-orang kafir Mekah (di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan) rasul-rasul mereka, yakni kebinasaan yang akan mereka alami nanti.[4]

2.                Tafsir Al- Misbah

Telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang mengatakan kepada umatnya, "Sembahlah Allah semata dan jauhilah seluruh tiran yang merusak." Rasul tersebut telah menyampaikan risalah dan membimbing mereka. Lalu segolongan dari mereka ada yang sudi mendengar bimbingan itu dan menerimanya. Maka Allah memberinya petunjuk berupa kesiapan yang baik untuk mengikuti jalan yang lurus. Sementara segolongan lain dari mereka berpaling dari kebenaran sehingga berjalan pada jalan yang tidak benar. Maka Allah pun menurunkan siksa-Nya kepada golongan tersebut. Jika kalian meragukan hal ini, hai orang-orang musyrik Mekah, maka berjalanlah di muka bumi yang dekat dari kalian. Lihat dan perhatikanlah bagaimana azab Allah menimpa orang-orang yang mendustakan para rasul seperti kaum 'Ad, Tsamûd dan kaum Nabi Lûth, dan bagaimana kesudahan nasib mereka yang binasa dan merugi.[5]

3.                Tafsir Ibnu katsir

“Maka senantiasa Allah mengutus Rasul-rasul kepada manusia, menyeru manusia supaya menyembah Allah  Yang Esa dan menjauhkan diri dari Thaghut, sejak terjadinya manusia mempersekutukan yang lain dengan Allah pada kaum Nuh, yang diutus kepada mereka Nuh. Maka Nuh itulah Rasul yang mula-mula sekali diutus oleh Allah ke muka bumi ini, sampai ditutup dengan kedatangan Muhammad saw. Yang dakwahnya melingkupi manusia dan jin di timur dan di barat, dan samasekali itu adalah menurt satu pokok firman Allah, yaitu membawa wahyu pada tidak ada tuhan melainkan Allah dan hendaklah kepada Allah saja beribadah.”
Kata Ibnu Katsir seterusnya: “tidak ada Allah Ta’ala menghendaki bahwa mereka menyembah kepada Dia, bahkan dia telah melarang mereka berbuat demikian dengan perantaraan lidah Rasul-rasulNya. Adapun kehendak Allah didalam mewujudkan sesuatu yang mereka ambil alasan mengatakan takdir, tidaklah hal itu dapat dijadikan hujjah, karena Tuhan Allah memang menciptakan neraka, dan penduduknya ialah syaitan-syaitan dan kafir, tetapi tidaklah Allah ridha hambaNya menjadi kafir. Dalam hal ini Tuhan mempunyai alasan yang cukup dan kebijaksanaan yang sempurna.”
Allah tidak memerintahkan manusia dengan suatu perintah yang jelas-jelas dia ketahui akan menghalangi seorang makhluk dari Qudrah-Nya itu atau mendorong mereka secara paksa untuk menyalahi-Nya. Dan tanda ketidak ridhaan-Nya akan penentangan terhadap perintah-Nya adalah seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang mendustakan-Nya.
“maka diantara mereka da orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan diantara mereka ada yang tetap diatasnya kesesatan. Maka berjalanlah dibumi dan pandanglah, bagaimana kesudahannya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Sesungguhnya Iradah Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana menginginkan penciptaan manusia dengan segala kesiapannya untuk menerima petunjuk atau kesesatan. Dia membiarkan mereka bebas dalam memilih salah satu dari dua jalan diatas, membekali mereka akal pikiran agar ia bisa menentukan dengan akalnya itu salah satu diantara dua pilihannya. Namun, hal itu setelah Allah memperlihat ayat-ayat petunjuk-Nya dijagat raya sana yang bisa dijangkau oleh mata, telinga, hati, dan akal manusia-kapan saja pekat malam dan gemilau nya cahaya sian berputar.
Kemudian rahmat Allah berkehendak kepada hamba-hamba-Nya agar tidak membiarkan mereka mengandalkan akalnya semata. Maka, dia meletakkan bagi akal itu barometer yang kuat (mizan tsabit) pada syari’at-syari’at-Nya yang dibawa oleh para rasul-rasul-Nya akal akan merujuk ke barometer tersebut setiap kali terasa samar pada urusan manusia ditengah jalan, agar dapt memastikan kebenaran pilihannya atau kekeliruannya melalui mizan tsabit dan tidak akan sirna oleh manisnya tarikan-tarikan hawa nafsu.
Allah juga tidak menjadikan para rasul-Nya itu sebagai hamba-hamba yang keras, yang mematahkan batang-batang leher manusia agar mereka beriman, tidak sama sekali. Akan tetapi, para rasul itu dijadikan-Nya hanya sebagai penyampai (Mubaligh), misi-Nya tidak lebih dari itu. Mereka mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya dan menjauhi setiap selain-Nya seperti berhala-berhala, hawa nafsu, syahwat, dan kekuasaan.[6]


  1. Aplikasi dalam Kehidupan sehari-hari

1.     Kita wajib meyakini bahwa dzat yang patut di sembah adalah Allah swt. .
2.     Meyakini bahwa risalah yang di ajarkan Rasulullah sebagai penyempurna bagi risalah-risalah nabi sebelumnya.
3.     Hendaknya kita menjauhi thaghut,  karena itu merupakan bentuk syirik terhadap Allah swt. .

  1. Aspek Tarbawi

1.       Menyatukan iktikad dan keyakinan umatnya bahwasannya Allah SWT adalah Zat maha kuasa
2.        Menyampaikan risalah Allah ta’ala dan wahyu-Nya
3.        Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.
4.       Menyampaikan Ajaran Tauhid



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Ayat ini menyatakan allah telah mengutus nabi Muhammad diantara umatnya ada yang menerima dengan baik ajarannya dan adapula yang membangkang. Hal ini juga dialami oleh rasul-rasul sebelumnya. Mereka menyampaikan agar umatnya tunduk dan patuh dengan penuh pengagungan kepada tuhan yang maha esa.
Risalah berasal dari bahasa arab yaitu arsala, yursilu, risalah yang artinya Utus. Dalam konteks ini, yang mengutus adalah Allah SWT dan utusannya adalah Nabi Muhammad. Beliau ditugaskan untuk menyebarkan ajaran yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah. Bentuk ajarannya adalah Islam yang selalu diartikan dengan selamat, karena berasal dari kata salamah.
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
o   Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.
o   Menegakkan hujjah atas manusia.
o   Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.
o   Membawa Kebenaran, Berita gembira, dan peringatan pada umatnya
o   Membimbing umatnya menuju jalan yang benar agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
o   Memberikan batasan bagi umatnya mana hal-hal yang dilarang dan yang diperintah oleh Allah SWT
o   Mengajarkan kepada umatnya tentang berita-berita gaib sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan Allah SWT.
o   Muhammad Rasul Terakhir
                                                                                     
“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.









DAFTAR PUSTAKA
Q.S. An-Nahl 16;36.
Moh Quraish Shihab. 2002. Tafsir Al-Misbah. Vol:03. Jakarta : Pustaka Lentara hati.
Departemen Agama RI. 2009.  Al-Quran Bayan. Jakarta: Quran Bayan
M. Quraish Shihab. 2006. Tafsir Al-Mishbah.  jilid ke XIV, Cet ke-V.  Pisangan, Ciputat, Tangerang : Lentera Hati.
Tafsir Ibnu Katsir jilid 4. 2005. Jakarta : Gema Insani











PROFIL PENULIS

NAMA                        : Andriono Abdullah
NAMA ORANG TUA
-       BAPAK           : Basuki
-       IBU                 : Chalimah
-       TTL                : Pekalongan, 08 Desember 1994
-       ALAMAT       :Perum. Binagriya jl.Anggrek1 no.417 rt 001/003 kel. Pringrejo kota Pekalongan
RIWAYAT PENDIDIKAN
-       SD      : SDN Podosugih 1 Pekalongan
-       SMP   : SMPN 1 Pekalongan
-       SMA   : SMA Muhammadiyah 1 Pekalongan
 
 


        





[1] Q.S. An-Nahl 16;36
[2] Moh Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Vol:03, (Jakarta: Pustaka Lentara hati, 2002), hal:224
[3] Departemen Agama RI, Al-Quran Bayan, ( Jakarta: Quran Bayan , 2009)hal: 271.
[4] http://wahyudiezei.blogspot.co.id/2013/02/tafsir-nahl-16-ayat-36.html
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, jilid ke XIV, Cet ke-VI, Pisangan, Ciputat, Tangerang: Lentera Hati, 2006
[6] Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, (Jakarta, Gema Insani, 2005) cetakan kelima.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar