Laman

Minggu, 13 November 2016

tt1 B 10c ”Ummat Terbaik” (QS. Ali Imran Ayat 110)

OBYEK PENDIDIKAN “TAK LANGSUNG”
”Ummat Terbaik” (QS. Ali Imran Ayat 110)

Cahyaningrum (2021115348)
  Kelas: B

JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR



Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Allah SWT., atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Objek Pendidikan “tak langsung”; Ummat Terbaik” guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi 1 ini tanpa halangan berarti. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., beserta para shahabat dan keluarga serta ummat Beliau hingga akhir zaman.
Penyusunan makalah ini dapat terlaksana bukan semata-mata hasil usaha keras dari penulis saja, namun berkat do’a dan dukungan dari berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih.Terutama kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu, dan khususnya kepada kedua orang tua.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu, dengan adanya kritik dan saran diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi bagi penulis untuk perbaikan kedepannya.Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan studi keilmuan, baik bagi audience maupun diri penulis pribadi.
Amin..



 Pekalongan, 11 Oktober 2016


Cahyaningrum
(2021115348)

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah
Allah SWT bahwa umat Muhammad s.a.w., yakni kaum muslimin, sebagai umat yang terbaik di antara umat manusia di muka bumi, karena kalian adalah orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kalian adalah orang-orang yang beriman secara benar.Pada masa sebelumnya, mereka adalah orang-orang yang saling bermusuhan.Kemudian hati mereka di dirukunkan.Karena mereka berpegang teguh pada tali (agama) Allah, melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Keadaan ummat Muhammad masih tetap dalam keadaan yang baik sampai mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar.Sekali-kali mereka tidak meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar melainkan karena kediktatoran dari para raja dan amir Bani Umayah, termasuk antek-anteknya.
B.  Judul Makalah
Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang Objek Pendidikan “Tak Langsung”, yang dalam hal ini berkonsentrasi pada judul Ummat Terbaik. Sesuai dengan tugas yang penulis terima.
C.  Nash dan Terjemahan
1.     Q.S Ali Imran  3: 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : “kamu adalah sebaik-baik umat yang telah dikeluarkan antara manusia; (karena) kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan melarang perbuatan yang mungkar serta percaya kepada Allah. Dan kalau sekirannya berimanlah ahlul kitab sesungguhnya itulah yang baik bagi mereka, (tetapi) antara mereka ada yang  beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S Al-Imran 3:110)
2.     Arti Mufrodat
كنتم      - kuntum         : kalian dijadikan dan diciptakan
اخرجت - ukhrijat         :ummat yang ditampakkan sehingga membeda dan mengetahui
D. Arti Penting
Pembahasan kali ini penting untuk dikaji, sebab Sebaik-baik manusia yang pandai diantara mereka dan paling bertakwa diantara mereka, dan menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, dan mencegah mereka dari perbuatan yang munkar, menyambung tali silaturahim.Ada tiga sifat yang dimiliki oleh umat pengemban risalah Muhammad saw ini yang menyertai predikat anugerah Allah SWT sebagai umat yang terbaik, yakni: (1). Menyuruh kepada yang ma’ruf, (2). Mencegah dari yang munkar, (3). Beriman kepada Allah SWT.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Teori
Umat Islam adalah umat terbaik.Predikat tersebut tidak begitu saja didapat.Ada sejumlah sifat yang harus mereka miliki untuk meraihnya.Apabila sifat-sifat itu ditinggalkan, predikat itu pun lepas dari mereka.Maka sudah sepatutnya, kaum Muslim memahami dan melak-sanakan sifat-sifat yang mengan-tarkan mereka menjadi khayru ummah itu.
Sifat Umat Terbaik
Allah SWT berfirman: Kuntum khayra ummah ukhrijat li al-nâs (kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia). Menurut sebagian mufassir, orang yang dimaksudkan ayat ini adalah para sahabat Nabi SAW.Bahwa mereka termasuk dalam cakupan ayat ini, memang tidak salah.Namun bukan berarti hanya dibatasi hanya untuk mereka.Sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir, ayat bersifat umum untuk seluruh umat. Pendapat yang sama juga dikemukakan Fakhruddin al-Razi.
Kesimpulan tersebut lebih bisa diterima.Pasalnya, para sahabat Nabi SAW mendapat predikat sebagai khayra ummah (sebaik-baik umat) bukan tanpa sebab.Predikat itu dilekatkan kepada mereka lantaran memiliki sifat sebagaimana digambarkan dalam frasa sesudahnya. Jika demikian halnya, maka siapa pun dapat meraih predikat tersebut asalkan memiliki sifat yang sama.
Jika ada orang yang mengerjakan shalat, zakat, puasa, dan perkara ma'ruf lainnya, bisa dikatakan sebagai orang yang baik.Demikian juga orang yang menjauhi zina, riba, judi, dan perkara mungkar lainnya. Akan lebih baik lagi jika dia juga mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Saat itu dia bukan hanya menjadi orang baik, namun menjadi sebaik-baik orang (khayru al-nâs).Jika dilakukan oleh umat, maka umat itu pun berhak menyandang status khairu ummah.
Aktivitas amar ma'ruf nahi munkar ini tidak hanya bermanfaat bagi umat tersebut, namun juga bagi seluruh manusia yang diajaknya. Itulah di antara rahasia disebutkannya: ukhrijat li al-nâs (yang dilahirkan untuk manusia). Artinya, umat terbaik itu ditujukan untuk seluruh manusia.
Kedua: wa tu'minûna bil-Lâh (dan beriman kepada Allah). Mereka juga meyakini aqidah Islam.Sebagaimana dipaparkan al-Alusi dan al-Baidhawi, maksud beriman kepada Allah adalah beriman kepada semua perkara yang diwajibkan untuk diimani.Apabila mereka mengimani semua perkara itu, maka keimanannya dapat dianggap.Sebaliknya, jika ada salah satu yang tidak diimani, maka tidak layak disebut telah beriman kepada Allah SWT.
Itulah dua sifat yang harus dimiliki umat ini untuk meraih predikat khayru ummah.Pertama, menerapkan syariah dan mendakwahkannya kepada seluruh manusia; dan kedua beraqidah Islam dengan keimanan yang benar dan total.

Posisi Ahli Kitab
Predikat khayru ummah itu berlaku umum, juga dikukuhkan dengan frasa selanjutnya: walaw âmana Ahl al-Kitâb lakâna khayr[an] lahum (sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka). Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Ditegaskan dalam frasa ini, apabila ahli kitab juga mau beriman, mereka pun akan mendapat kebaikan; di dunia maupun di akhirat. Beriman yang dimaksud tentulah mengimani semua perkara yang wajib diimani.
Sempurna dengan Daulah
Patut ditegaskan, aktivitas amar makruf nahi munkar itu bisa benar-benar sempurna apabila sudah ada daulah-daulah. Ketika daulah belum tegak, aktivitas dakwah kepada syariah itu memang sudah bisa dilaksanakan.Akan tetapi, aktivitas itu hanya sebatas pada seruan.Tidak memiliki daya paksa kepada manusia agar mau melaksanakan yang makruf dan meninggalkan yang munkar.Berbeda  halnya jika sudah ada daulah. Memerintahkan manusia untuk mebayar zakat.
Demikianlah Apabila umat Islam ingin meraih predikatnya sebagai khayru ummah, tidak ada pilihan lain kecuali harus berjuang menegakkan daulah khilafah yang menerapkan syariah dan menyebarkannya ke seluruh dunia[1].

B.       Tafsir Ayat

1.     Tafsir Al-Maraghi
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

            Kalian adalah umat yang paling baik di alam wujud sekarang, karena kalian adalah orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kalian adalah orang-orang yang beriman secara benar, yang bekasnya tampak pada jiwa kalian, sehingga terhindarlah kalian dari kejahatan, dan kalian mengarah pada kebaikan, padahal sebelumnya kalian adalah umat yang dilanda kejahatan dan kerusakan. Kalian tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
            Gambaran atas sifat ini memang cocok dengan keadaan orang-orang yang mendapatkan khitab ayat ini pada pemula. Mereka adalah Nabi saw. dan para sahabat yang bersama beliau sewaktu Al-Qur’an diturunkan. Padda masa sebelumnya, mereka addalah orang-orang yang saling bermusuhan.Kemudian hati mereka di rukunkan.Mereka berpegang pada tali (agama) Allah, melakukan amar ma’ruf nahi munkar.Orang-orang yang lemah diantara mereka tidak takut terhadap orang-orang yang kuat, dan yang kecilpun tidak takut kepada yang besar. Sebab itu iman telah meresap kedalam kalbu dan perasaan mereka, sehingga bisa ditundukkan untuk mencapai tujuan Nabi saw. di segala keadaan dan kondisi.
            Keimanan seperti inilah yang dikatakan Allah dalam fiman-Nya :
انما المؤ منون الدين امنوا با الله ورسوله ثم لم ير تا بوا وجاهدوابامولهم وانفسهم في سبيل الله اولىك هم الصدقون
“ sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang –orang yang beriman kepada Allah dan rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujarat, 49:15)
            Dari penjelasan terdahulu dapat kita ketahui bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah penyebab keutamaan, seperti anda mengatakan “ Muhammad adalah orang yang dermawan, suka memberi makan orang-orang dan memberi pakaian, serta sering memperhatikan keadaan mereka”.  Perkara ma’ruf yang paling agung adalah agama yang haq, iman, tauhid, dan kenabian.Kemunkaran yang paling diingkari adalah kafir terhadap Allah. Oleh karena itu kewajiban berjihad di dalam agama ialah pembebanan bahaya yang paling besar guna menyampaikan manfaat yang paling  besar, dan membebaskannya dari kejelekan yang paling besar. Jihad termasuk dalam kategori ibadah yang teragung dan mulia[2].
2.   Tafsir Al Azhar
Ayat ini menegaskan bahwa kamu (umat islam) menjadi sebaik-baik umat yang dikeluarkan antara manusia di dunia ini jika kamu memenuhi tiga syarat: amar Ma’ruf, nahi Munkar dan iman kepada Allah. Ketiga syarat inilah yang menjadi sebab kamu disebut yang sebaik-baik umat.Kalau ketiganya tidak ada maka kamu tidak disebut sebaik-baik umat.
Ketiga dasar yang membawa mutu kebaikan isi pada hakekatnya adalah satu. Pertama Amar Ma’ruf, kedua Nahi Munkar dan ketiga yakni beriman kepada Allah adalah dasarnya yang sejati. Apabila telah meyakini atau menimani Allah maka akan timbul kebebasan jiwa, kemudian kebebasan kemuan dan kebebasan dalam menyatakan pikiran.
Ayat ini merupakan satu, dan tidak terpotong-potong sehingga dalam memahami atau membacanya tidak boleh sepotong-potong.
1.      Kamu adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan Tuhan untuk seluruh manusia.
2.      (Karena) kamu menyuruh yang Ma’ruf.
3.       Dan kamu melarang perbuatan yang munkar.
4.      Serta kamu percaya kepada Allah.
Artinya yang mempersambungkan antara keempat bagian kalimat itu, menyebabkan hubungannya erat satu dengan yang lain. Apabila ketiganya itu ada, pastilah mereka mencapai kedudukan yang tinggi di antara pergaulan manusia.
Suatu masyarakat yang mencapai martabat setinggi-tingginya dalam dunia ini, jika mempunyai kebebasan. Dan inti sari kebebasan ada tiga hal:
1.      Kebebasan kemauan (iradat).
2.      Kebebasan menyatakan pikiran.
3.      Kebebasan jiwa dari keraguan.
Apabila seseorang mempunyai kebebasan iradat, kemauan, niscaya orang tersebut berani menjadi penyeru dan pelaksana perbuatan yang Ma’ruf.
Dalam memahami ayat ini, hendaklah diambil mafhumnya dari bawah:
1.      Beriman kepada Allah. Itulah awal permulaan kebebasan jiwa.
2.      Berani melarang yang munkar. Itulah akibat pertama beriman kepada Allah.
3.      Berani menyeru dan memimpin sesama manusia kepada yang ma’ruf[3].

C.      Aplikasi Dalam Kehidupan

                  Allah SWT. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar berpegang teguh pada tali Allah, dan mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka untuk merukunkan hati mereka pada ukhuwah islamiyah. Lalu Allah memeperingatkan mereka jangan sampai seperti orang-orang yang ahli kitab yang selalu menentang dan berbuat maksiat.Sekaligus Allah mengancam mereka bila berbuat begitu dengan siksaan yang pedih[4].
setiap manusia mempunyai tanggung jawab dalam hidupnya untuk saling menyerukan dalam kebenaran dan saling mengingatkan atau memperingatkan dalam keburukan dan dilandasi dengan keimanan kepada Allah karena pada hakekatnya manusia telah diciptakan Allah dengan begitu sempurna dan kepada umat islam diberi keutamaan dari pada umat yang lain jika seseorang itu mampu mengamalkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menegur jika ada keburukan. Namun, jika umat islam tidak melaksanakan itu maka dia tidak termasuk dalam sebaik-baik umat karena yang termasuk sebaik-baik umat adalah seseorang yang mampu mengamalkan Amar Ma’ruf, Nahi Munkar dan beriman kepada Allah[5].
D.      Aspek Tarbawi

1.     Allah memerintahkan agar hamba-hamba-Nya beriman dan berpegang teguh kepada tali Allah.
2.     Allah memperingatkan mereka jangan sampai seperti orang-orang yang ahli kitab yang selalu menentang dan berbuat maksiat.
3.     Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan oleh Allah untuk seluruh manusia yaitu : Kamu yang menyuruh perbuatan yang ma’ruf, kamu yang melarang per uatan yang munkar, dan kamu yang percaya kepada Allah








BAB III
PENUTUP

Simpulan
Bahwa setiap manusia mempunyai tanggung jawab dalam hidupnya untuk saling menyerukan dalam kebenaran dan saling mengingatkan atau memperingatkan dalam keburukan dan dilandasi dengan keimanan kepada Allah karena pada hakekatnya manusia telah diciptakan Allah dengan begitu sempurna dan kepada umat islam diberi keutamaan dari pada umat yang lain jika seseorang itu mampu mengamalkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menegur jika ada keburukan. Namun, jika umat islam tidak melaksanakan itu maka dia tidak termasuk dalam sebaik-baik umat karena yang termasuk sebaik-baik umat adalah seseorang yang mampu mengamalkan Amar Ma’ruf, Nahi Munkar dan beriman kepada Allah.















DAFTAR PUSTAKA


Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi.Semarang, PT. Karya Toha Putra Semarang.


Amrullah ,Abdul Malik Karim. 2006.Tafsir Al-Azhar.Jakarta, Pustaka Panjimas.





Nama  : Cahyaningrum
TTL    : Batang, 04 Februari 1997
Alamat: Wonosegoro Kec. Bandar Kab. Batang      
Riwayat pendidikan
-        TK       : Nusa Indah Bandar
-        SD       : SDN Wonosegoro 2
-        SMP    : SMP N 1 Bandar
-        SMA   : MA Darul Amanah Sukorejo   Kendal
-        S1        : IAIN Pekalongan (semester 3)



[1]http://www.globalmuslim.web.id/2011/06/menjadi-umat-terbaik.htmldiakses pada tgl 28 okt pukul 11.30.


[2]  Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang, PT. Karya Toha Putra Semarang 1993) hlm. 48-54
[3] Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta, Pustaka Panjimas 2006), hlm 63-70
[4]Ahmad Mustafa Al-Maraghi, op.cit. hlm. 48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar