Laman

Selasa, 22 November 2016

TT1 B 12c Metode Tanya Jawab Q.S. Al-Baqarah ayat 189

METODE PENDIDIKAN “KHUSUS”
Metode Tanya Jawab
Q.S. Al-Baqarah ayat 189


Nisbatul Urbakh (2021115375)
 Kelas B

FAKULTAS TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016




                                                      KATA PENGANTAR       

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam raya yang telah melimpahkan taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalahyang berjudul “METODE TANYA JAWAB”, guna memenuhi tugas Tafsir Tarbawi.
     Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sebagai nabi akhir zaman dan penerang kegelapan di dunia ini. Dan semoga kesejahteraan tetap kepada seluruh keluarga serta sahabat-sahabat beliau.
      Penulis sangat bersyukur dan lega atas terselesainya makalah ini. Dan penulis hanya bisa berharap semoga makalah  ini bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi para pembaca khususnya penulis sendiri.








Pekalongan, 21 Oktober 2016


NISBATUL URBAKH
(2021115375)



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Metodemerupakanhal yang sangatpentingdalam proses belajarmengajar di lembagapendidikan. Apabila proses pendidikantidakmenggunakanmetode yang tepatmakaakansulituntukmendapatkantujuanpembelajaran yang diharapkan. Namunmasihsaja di lapanganpenggunaanmetodemengajarinibanyakmenemukankendala.Kendalapenggunaanmetode yang tepatdalambelajarmengajarbanyakdipengaruhiolehbeberapafaktor; keterampilan guru belummemadai, kurangnyasaranaprasarana, kondisilingkunganpendidikandankebijakanlembagapendidikan yang belummenguntungkanpelaksanaankegiatanbelajarmengajar yang variatif.
Apa yang ditemukanoleh Ahmad Tafsir (1992;131) mengenaikekurangtepatanpenggunaanmetodeinipatutmenjadirenungan. Beliaumengatakanpertama, banyaksiswa yang tidakserius, main-main ketikamengikutisuatumateripelajaran, keduagejalatersebutdiikutiolehmasalahkeduayaitutingkatpenguasaanmateri yang rendah, danketigaparasiswapadaakhirnyaakanmenganggapremehmatapelajarantertentu.
Kenyataaninimenunjukkanbetapapentingnyametodedalam proses belajarmengajar. Tetapibetapapunbaiknyasuatumetodebilatidakdiiringidengankemampuan guru dalammenyampaikanmaterimakametodetinggalahmetode. Al-Qur’an sebagaikitabsuciumatislam di dalamnyamemuatberbagaiinformasitentangseluruhkehidupan yang berkaitandenganmanusia. Karenamemang Al-Qur’an diturunkanuntukumatmanusia, sebagaisumberpedoman, sumberinspirasidansumberilmupengetahuan.Salahsatunya adalahhal yang berkaitandenganpendidikan.

B.    Judul Makalah
Dalam kesempatan ini, penulis akan membahas tentang Metode Tanya Jawab. Sesuai dengan tugas yang penulis terima.

C.    Nash dan Terjemah

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

D.    Arti Penting
Surat Al-Baqarah ayat 189 perlu untuk dikaji karena ayat ini menjelaskan tentang betapa pentingnya mempelajari metode tanya jawab, karena dengan begitu akan bertambahnya wawasan kita.


E.      
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.[1]
Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, karena metode ini tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap murid untuk menjawab pertanyaan.
Metode tanya jawab dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah anak didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan.
Anak didik yang biasanya kurang mencurahkan perhatiannya terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode ceramah akan berhati-hati terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode tanya jawab. Sebab anak didik tersebuit sewaktu-waktu akan mendapatkan giliran untuk menjawab suatu pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.
Untuk menghindari sesuatu yang dapat terjadi dalam metode tanya jawab terutama yang bersifat negatif maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.     Pertanyaan harus singkat, jelas, dan merangsang berfikir.
2.     Sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan anak didik yang menerima pertanyaan.
3.     Memerlukan jawaban dalam bentuk kalimat atau uraian kecuali yang bersifat objektif tes dapat menggunakan ya atau tidak.
4.     Usahakan pertanyaan yang punya jawaban pasti bukan pertanyaan yang mempunyai jawaban beberapa alternatif.
Teknik mengajukan pertanyaan :
1.     Mula-mula diajukan kepada semua anak didik baru ditanyakan kepada anak didik tertentu.
2.     Berikan waktu untuk berfikir dan menyusun jawaban.
3.     Pertanyaan diajukan bergilir, jangan berdasarkan urutan bangku atau urutan daftar yang telah disusun (daftar hadir).

Kelemahan metode tanya jawab adalah :
1.     Waktu yang digunakan dalam pelajaran tersita dan kurang dikontrol secara baik oleh guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari siswa.
2.     Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bilamana terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenan dengan sasaran yang dibicarakan.,
3.     Jalannya pengajaran kurang dapat terkoordinir secara baik, karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapat dijawab secara tepat, baik oleh guru maupun oleh siswa.

Untuk menggunakan metode tanya jawab, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.     Rumuskan tujuan pengajaran secara spesifik yang berpangkal pada tingkah laku siswa.
2.     Guru melakukan pertanyaan dari hal-hal yang sederhana kemudian dilanjutkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang materi yang dibicarakan.[2]

B.    Tafsir Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 189

1.     Tafsir Al-Mishbah
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi, sampai menghilang dari pandangan? Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, waktu dalam penggunaan Al-Qur’an adalah batas akhir peluang untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Ia adalah kadar tertantu dari masa ke masa. Dengan keadaan bulan seperti itu manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya sehingga dapat terlaksana sesuai dengan waktu yang tersedia, tidak terlambat, apalagi terabaikan dengan berlalunya waktu, dan juga untuk pelaksanaan ibadah haji.
Kembali kepada pertanyaan sahabat Nabi di atas, al-Qur’an tidak menjawabnya sesuai dengan harapan mereka, tetapi memberi jawaban lain yang lebih sesuai dengan kepentingan mereka. Hal serupa banyak terjadi dengan tujuan mengingatkan padanya bahwa ada yang lebih wajar ditanyakan daripada yang diajukan. Memang Al-Qur’an adalah salah satu bentuk pendidikannya adalah mengarahkan mereka melalui jawaban-jawabannya.
Allah menegaskan bahwa, bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan ialah kebajikan orang yang bertakwa, atau kebajikan adalah siapa yang menghindar dari kebiasaan dan pertanyaan yang serupa dengan yang dinyatakan di atas dan dalam kondisi yang serupa pula. Karena itu masuklah ke rumah-rumah itu dari pimtunya. Bertakwalah kepada Allah, berarti laksanakan tuntutan-Nya sepanjang kemampuan kamu dan jauhi larangan-Nya agar kamu beruntung.[3]
2.     Tafsir Al-Azhar
Mereka bertanya kepada engkau dari hal bulan sabit. Katakanlah: dia itu adalah waktu-waktu yang ditentukan untuk manusia dan untuk haji. (pangkal ayat 189). Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Belia berikan jawaban yang sesuai dengfan kewajiban beliau sebagai Rasul, sehingga kesanalah perhatian yang bertanya dibawa. Maka beliau katakanlah bahwasanya bulan terbit dengan keadaan yang demikian itu membawa hikmat yang penting sekali buat kita. Bulan sabit adalah untuki menentukan waktu bagi manusia. Dengan bulan yang demikian halnya manusia dapat menentukan iddah perempuan setelah bercerai, kapan waktu puasa, sampai pada waktu hari raya dan mengeluarkan zakat sekali setahun, sampai kepada waktu mengerjakan haji.
Kemudian datanglah sambungan ayat: “dan tidaklah kebajikan itu bahwa kamu masuk ke rumah kamu dari belakangnya, tetapi yang kebajikan ialah barang siapa yang bertakwa”. Menurut penafsiran dari penafsir Abu Ubaidah bahwa sambungan ini adalah senafas dengan yang sebelumnya, yaitu kalau hendak masuk ke dalam rumahmu janganlah dari pintu belakang. Maksudnya kalau hendak menanyakan sesuatu hal kepada seseorang hendaklah piulih soal yang pantas dijawab . kalau hendak menanyakan mengapa bulan mulanya laksana sabit, lama lama penuh dan khirnya kecil sebagai sabit lagi, janganlah hal itu ditanyakan kepada Nabi, tetapi tanyakanlah pada ahli falak. Tetapi kalau ditanyakan kepada Nabi apa hikmat yang dapat diambil dari peredaran bulan demikian, akan dapatlah dijawab oleh Nabi menurut selayaknya dan dapat sepadan dengan beliau. Selanjutnya Tuhan berfirman: “Dan datanglah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan takwalah kepada Allah, supaya kamu beroleh kejayaan.” (ujung ayat 189).[4]
3.     Tafsir Al-Maragi
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hikmah berbeda-bedanya bentuk hilal dan faedahnya. Kemudian Rasulullah menjawab hilal itu adalah tanda-tanda bagi umat manusia di dalam menentukan urusan dunia mereka. Dengan hilal tersebut mereka mengetahui waktu mana yang paling tepat untuk melakukan cocok tanam atau berdagang. Hilal juga merupakan tanda-tanda waktu ibadah. Mereka bisa mentukan bulan Ramadhan dan saat berakhirnya bulan puasa. Terutama sekali, hilal itu dipakai untuk menentukan waktu haji.
Imam Bukhori dan Ibnu Jahir dari Al-Barra’ menceritakan bahwa orang-orang Arab di masa jahiliyyah jika melakukan ihram harus memasuki rumah nya dari pintu belakang. Kemudia turunlah ayat ini.
Setelah Allah memberitahukan kesalahan yang mereka lakukan, yakni dalam hal memasuki rumah dari belakang, dan dugaan mereka bahwa hal tersebut termasuk amal kebajikan yang hakiki. Kebajikan yang hakiki adalah takwa kepada Allah dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan kotor, serta menghiasi diri dengan keutamaan-keutamaan, dan mengikuti kebenaran-kebenaran dan beramal kebajikan. Datangilah rumah kalian dari depan, dan hendaklah batin kalian adalah cermin lahiriyah, dan bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan.[5]

C.    Aplikasi Surat Al-Baqarah Ayat 189 Dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita tidak mengetahui akan suatu ilmu, hendaknya kita menanyakannya pada orang yang lebih mengetahui atau kepada para ahlinya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk tidak malu dalam bertanya, agar bertambahnya wawasan kita.

D.    Aspek Tarbawi

1.     Hendaknya bersemangat dalam mencari ilmu, supaya bertambahnya wawasan kita.
2.     Hendaknya bertanya sesuatu kepada yang lebih mengetahui atau pada ahlinya.
3.     Hendaknya saling berbagi ilmu kita pada orang lain, supaya ilmu kita bisa bermanfaat.





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Dalam Tafsir Al-Azhar, surat Al-Baqarah ayat 189 menjelaskan tentangMereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Beliau berikan jawaban yang sesuai dengan kewajiban beliau sebagai Rasul. Menurut penafsiran dari penafsir Abu Ubaidah bahwa sambungan ini adalah senafas dengan yang sebelumnya, yaitu kalau hendak masuk ke dalam rumahmu janganlah dari pintu belakang. Maksudnya kalau hendak menanyakan sesuatu hal kepada seseorang hendaklah soal yang pantas dijawab
Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita tidak mengetahui akan suatu ilmu, hendaknya kita menanyakannya pada orang yang lebih mengetahui atau kepada para ahlinya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk tidak malu dalam bertanya, agar bertambahnya wawasan kita.
Aspek Tarbawi yang bisa kita ambil dalam surat Al-Baqarah ayat 189, Hendaknya bersemangat dalam mencari ilmu, supaya bertambahnya wawasan kita, dan menanyakan sesuatu kepada yang ahlinya.


DAFTAR PUSTAKA

Utsman, Basyirudin. 2002. Metedologi Pembelajaran Agama Islam.  Jakarta: PT. Intermasa.


Shihab, M. Quraisy.2005. Tafsir Al-Mishbah. Tangerang: Penerbit Lentera Hati.


Hamka.2002.Tafsir Al-Azhar Jus II. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Al-Maragh, Ahmad Mustafa.1993.Tafsir Al-Maraghi. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.




PROFIL PENULIS
Nama : Nisbatul Urbakh
TTL   : Pemalang, 08 Juli 1997
Alamat : Ds. Samong Rt.03 Rw.05 Kec. Ulujami Kab. Pemalang
Nama Orang Tua:
Ayah : H. Sarokhi
Ibu    : Hj. Ulinnuha
Riwayatpendidikan:
SD    : SDN 03 Samong, Ulujami, Pemalang
SMP  : Mts. Walisongo Ulujami, Pemalang
SMA : MA Perguruan Mu’alimat Cukir Jombang
S1      : IAIN Pekalongan (Semester Tiga )





[1] Basyirudin Utsman, Metedologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: PT. Intermasa, 2002, hlm. 43
[2] Op. Cit, hlm. 44
[3]M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2005), hlm. 417-419
[4]Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Jus II, ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002 ), hlm. 148-150
[5]Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang, 1993), hlm. 146-151

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar