Laman

1111

Sabtu, 24 Maret 2012

F6-32. Ifrokha


MAKALAH
PERINTAH UNTUK MENGAMATI ALAM SEMESTA

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah          : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.Si



 










Disusun Oleh:
IFROKHA
202 111 0258



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN

Tafakur mengandung banyak manfaat dan keutamaan. Tafakur adalah kunci pembuka pintu-pintu makrifat dan merupakan khazanah kekayaan pengetahuan dan keutamaan. Tafakur merupakan langkah pertama yang harus dilalui dalam perjalanan manusia menuju kesempurnaan sejatinya. Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada satu malam beribadah, dalam hadits Nabi SAW, tafakur satu jam lebih baik dibandingkan dengan ibadah satu tahun. Dalam hadits lain, disbutkan bahwa satu jam berfikir lebih baik dibandingkan dengan enam puluh tahun beribadah. Berapapun, tafakur itu memiliki derajat dan tingkatan berbeda-beda derajatnya, terdapat hasil-hasil dan konsekuensi-konsekuensi tertentu.



BAB II
PEMBAHASAN

LEMBAGA PENDIDIKAN NON MUSLIM

A.    Teks Hadits
عَنْ اَبِيْ دَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلاَ تُفَكَّرُوْا فِى اللهِ فَتُهْلِكُوْا [1]
(رواه ابوا الشيخ فى العزمة باب الامر بالتفكر في ايات الله عز وجل)

B.     Terjemah
“Dari Abi Dzar r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda berfikirlah di dalam makhluknya Allah dan janganlah berfikir pada Allah, maka engkau akan rusak atau hancur”.

C.    Mufrodat
Membayangkan/berfikir
تَفَكَّرُوْا
Makhluk
خَلْقِ
Rusak
هلِكُ

D.    Biografi Rowi
Nama lengkap Abi Dzar adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Nama lainnya adalah Jundub bin Junadah (Menurut Qoul yang shahih). Masyhur atau makbur (menurut Qil Burair). Nama ayahnya masih diperselisihkan ada yang mengatakan Jundub, Asyarakah, Abdullah dan Sakan.[2]
Beliau adalah seorang sahabat dari golongan yang paling dahulu masuk Islam. Diriwayatkan darinya, bahwa beliau berkata: “saya adalah orang yang kelima dari orang yang masuk Islam”. Beliau dijadikan teladan dalam kejujuran. Haditsnya yang dimuat dalam kitab-kitab hadis sebanyak 281 hadits.[3] Beliau meninggal pada tahun 32 H. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman,nama Ibunya adalah Ramlan binti Rabi’ah yang berasal dari Bani Ghifar.[4]
Beliau termasuk ahl-As-Suffah beliau berasal dari Ghifar, sebuah perkampungan di antara Mekkah dan Yatsrib (Madinah). Sebelum masuk Islam beliau adalah pemimpin perampok di Ghifar. Namun, hasil rampokannya dibagi-bagikan pada fakir miskin. Beliau masuk Islam ketika saudaranya bernama Anis Al-Ghifari pulang dari Makkah yang menceritakan kepada Abu Dzar tentang Nabi Muhammad SAW.[5]

E.     Penjelasan Hadits
(تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ ) “Berfikir kepada Allah”. Yang dimaksud makhluk disitu adalah makhluk Allah yang sudah diketahui oleh hambanya. Seperti beberapa langit dengan berbagai bintangnya, bergerak perputaran, munculnya dan terbenamnya. Kemudian bumi, apa-apa yang ada di dalam bumi dari gunung, sungai, laut, hayawah, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu tidak bisa bergerak atau berkembang kecuali Allah dan kebesaran-Nya.
Tafakur itu dikhususkan di dalam hati, dan tujuannya untuk tafakur kepada makhluk. Langit itu menunjukkan nikmat-Nya, kemudian perbintangan menunjukkan atas ciptaan-Nya yang bagus, angin menunjukkan rahmat-Nya, bumi menunjukkan kesempurnaan nikmat-Nya,d an pepohonan menunjukkan keindahan ciptaan-Nya.
(وَلاَ تُفَكَّرُوْا فِى اللهِ فَتُهْلِكُوْا ) “janganlah kalian semua berfikir kepada Allah karena jika engkau berfikir tentang Allah, dalam arti berfikir untuk mengukuratau menyelidiki tentang sifat-Nya dan Kuhn (Zat) maka engkau akan rusak. Karena sesungguhnya akal tidak mampu memikirkan zat-Nya Allah. Namun kita harus berfikir kepada Allah melalui makhluk Allah atau dari keagungan ciptaan-Nya. Dengan kita memikirkan lewat ciptaan-Nya, kita bukan hanya mendapatkan pengetahuan, namun juga menambah keimanan kita kepada Allah.[6]

F.     Aspek Tarbawi
Perlu kita ketahui bahwa tafakur atau berfikir mengandung banyak manfaat dan keutamaan. Tafakur adalah kunci pembuka pintu-pintu makrifat dan merupakan khazanah kekayaan pengetahuan dan keutamaan.[7] Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Kita disuruh untuk memperhatikan, kemudian memikirkan atau bertafakur dan menganalisis atau mempelajari tentang alam semesta beserta seluruh isinya seperti langit, bumi, bintang, dan lain-lainnya yang ada di alam semesta ini.[8] Dengan kita tafakur terhadap makhluk ciptaan-Nya, ketelitian serta kemampuan sistem-Nya adalah termasuk pengetahuan yang bermanfaat. Ini merupakan salah satu aktifitas hati terbaik dan merupakan semulia-mulia hasil. Dan dengan kita tafakur terhadap hikmah yang berada dibalik proses itu, kita bisa mengetahui, memahami dan menghayati bahwa dibalik fenomena alan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya menunjukkan adanya sang pencipta, Allah SWT.[9]
PENUTUP
Tafakur merupakan kunci pembuka pintu-pintu makrifat dan merupakan khazanah kekayaan pengetahuan dan keutamaan. Perlu diketahui bahwa berfikir tentang zat, nama-nama, dan sifat-sifat Allah lewat makhluk-makhluk ciptaan-Nya itu diperbolehkan, karena dengan itu demi membuktikan argumentasi tentang keberadaan, keesaan dan itu merupakan sebaik-baik ibadah. Namun, biasanya orang yang jahil atau bodoh itu salah mengartikan tentang “LA TAFAKKARU FIDZATILLAH”, mereka mengartikan bahwa berfikir tentang zat Allah itu tidak boleh. Namun padahal bahwa bertafakur dan merenung tentang zat Allah itu dilarang pada tingkat tertentu, yaitu menyelidiki atau mengukur misteri dalam (Kuhn) Zat dan mengukur sifat-sifat-Nya.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Bughori Mustafa, Muhyiddin Mitsu. 2008. Al-Wafi Syarah Hadis Arba’in Iman Nawawi. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.
Abdi Baar Ibnu. 2006. Al-Isti’ah Fi Asma’il Ashab, Darul Fikr.
Al-Manawi Al-Alamah. 2003. Faidhul Qadir Syarah Jami’us Soghir. Juz: III. Mesir: Maktabah Mishri.
Al-Maraghi Ahmad Mustaf. 1986. Tafsir Al-Margahi. Semarang: Toha Putra Semarang.
Azra Azyumardi. 2002. Ensikolpedi Islam. Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi.
Syihafuddin Al-Khafid, Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Atsqolani. 1995. Taqribut Tahdhibuz II. Darul Fikr.
Ruhullah Ayatullah Al-Musawi Al-khumaeni. 2004. Telaah Atas Hadis-hadis mistis dan Akhlak. Bandung: Mizan.














[1] Al-Alamal Al-Manawi, Faidhul Qadir SyarahJami’us Soghir, Juz: III, (Mesir: Maktabah Mishri, 2003), hlm. 338.
[2] Al-Khafid Syihafuddin, Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Atsqolani, Taqribut Tahdhib, Juz II, (Darul Fikr, 1995), hlm. 718.
[3] Mustafa Al-Bughori, Muhyiddin Mitsu, Al-Wafi Syarah Hadis Arba’in Imam Nawawi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), hlm. 468.
[4] Ibnu Abd Baar, Al-Isti’ab Fi Asma’il Ashab, (Darul Fikr, 2006), hlm. 155.
[5] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2002), hlm. 13.
[6] Op.cit., Faidhul Qadir, Syarah Jami’us Soghir, Juz III, hlm. 338
[7] Ayatullah Ruhulullah Al-Musawi Al-Khumaini, Telaah Hadits-hadits Mistis dan Akhlak, (Bandung: Mizan, 2004), hlm. 221.
[8] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1986), hlm. 258-288.
[9] Op.cit., Telaah Hadits-Hadits Mistis dan Akhlak. hlm. 230.

33 komentar:

  1. ibnu athoillah
    202 111 0282

    tafakur yang bagaimanakah agar kita bisa mendekatkan n menigkatkan diri kpd Allah? serta bgmana cara kita mempraktikkan nilai tarbawinya setelah kita tahu penjelasan dr makalah itu??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. 1. Bertafakkur dengan serius, yang didasarkan pada keimanan kita, sehingga dengan itu bisa menambah keimanan serta ketakwaan kita kepada kepada Allah, karena pengamatan disini bukan hanya menggunakan Panca Indra ataupun akal saja. Namun, juga harus dibarengi dengan hati, dan iman sendiri berdasarkan hati. Perintah bertafakkur ini bertafakkur dalam lima perkara, diantaranya:
      a. Bertafakkur didalam ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah: kita memikirkan bahwa adanya matahari, adanya bumi, itu menunjukkan adanya yang menciptakan yaitu Allah Swt, Allah yang menciptakan langit, bumi, terbitnya matahari, terbenamnya matahari, datangnya malam datangnyan siang pastikan ada yang mengaturnya . separti Allah Swt berfirman dalam Alqur’an yang artinya: dan dibumi itu ada tanda-tanda bagi orang mukmin, dalam diri mereka, ketika seseorang memikirkan tanda-tanda tersebut, maka seseorang itu bisa tambah dan yakin, makrifat.
      b. Berfikir dalam cobaan dan nikmat Allah: adapun kita bertafakkur tentang nikmat, maka kita akan melihat tentang nikmat-nikmat Allah . contoh kita mempunyai dua tangan dan kaki tersebut digunakan untuk bekerja, itu adalah bentuk kenikmatan. Setiap perkara yang dhohir atau tampak itu adalah cobaan, setiap perkara yang batin itu adalah nikmat, contoh diberi dua tanga, itu berarti kita masih dicoba. Denga seseorang itu bertafakkur terhadap cobaan maupun nikmat Allah maka dalam diri seseorang itu akan tumbuh rasa mahabbah atau rasa cinta kepada Allah.
      c. Berfikir pada Pahala, adapun tafakkur didalm pahala, yaitu bertafakkur didalam perkara pahala, maka Allah akan menjanjikan kepada para Wali atau kekasih Allah, supaya menjadi kekasihnya disurga. Maka jika dengan itu bisa menjadi tambah kecintaanny adan ijtihad didalam mencarinya (kecintaan kepada Allah). Dan akan semakin kuat ketakwaan kita kepada Allah.
      d. Bertafakkur dalam siksa, apabila seseorang bertafakkur terhadap siksa akan muncul rasa bahwa orang yang melakukan kesalahan pastilah akan mendapat siksa di neraka, dengan seseorang berfikir seperti itu, maka seseoramg yang akan melakukan sesuatu hal yang menurut agama itu salah atau berdosa maka seseorang itu akan berfikir sebelum melakukan hal yang salah tersebut dengan bertafakkur seperti ini, bisa menambah ketaatan kita pada Allah jugs kepada manusia, serta bisa terhindar dari kemaksiatan.
      e. Berfikir terhadap kebaikan Allah.
      Syaikh Nasir bin Muhammad bin Ibrahim Ash-Samarkandi, Tanbighul Ghofilin, (Semarang: Toha Putra Semarang, tanpa tahun), hlm: 206-207

      Hapus
  2. nama:dadang irwanto
    nim:2021110256
    kelas:F

    kita diperintahkan untuk mengamati alam semesta, itu berarti tidak jauh dari tugas ulul albab. bagaimana cara pandang kita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. 2. Perintah untuk mengamati dalam Hadits ini berlaku untuk semua orang, jadi dari sini seseorang disuruh untuk mengamati alam semesta, itu berarti sama saja kita disuruh untuk menjadi seorang Ulul Albab. Ulul Albab itu sendiri sebutan untuk oranh-orang yang berfikir, artinya, orang yang tidak pernah lepas akan Allah dari ingatannya. Bahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Imron ayat 190-191 sudah terlihat bahwa orang yang berakal atau Ulul Albaba adalah orang yang melakukan dua hal yaitu: Tazakkur (mengingat Allah) dan Tafakkur, memikirkan ciptaan Allah. Dengan melakukan hal tersebut ia sampai pada hikmah yang berada dibalik proses mengingat atau Tazakkur dan berfikir atau Tafakkur yaitu mengetahui , memahami, dan menghayati bahwa dibalik fenomena alam dan segala sesuatu yang ada didalamnya menunjukkan adanya sang pencipta yaitu Allah Swt.
      Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm: 131-133

      Hapus
  3. nur aini
    2021110263
    f

    janganlah berfikir pada Allah, maka engkau akan rusak atau hancur”. maksud nya hancur itu hancur yang bagaimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. 3. Hancur dalam artian akan mengakibatkan lemahnya keimanan seseorang kepada Allah dan kebimbangan atau kekacauan fikiran kita karena telah berfikir melampaui batas kemampuan akal manusia untuk berfikir. Dalam hadits tersebut apabila kita ingin melihat keagungan Allah, seseorang itu harus menyimpulkannya dari keagungan ciptaannya, melalui sarana ciptaaan (makhluk) itu. Hadist tersebut menunjukkan bahwa tujuan pelarangan itu adalah agar orang tidak melakukan pembicaraan yang bertujuan mengukur kedalaman zat Allah dan kualitas (kaifiyah) Zat-Nya dengan mencari-cari alasan keberadaan-Nya. Karena hal itu akan menyebabkan kebingungan pada diri seseorang. Seperti dalam hadits Al-kahfi dengan sanad melalui Abu Bashir diriwayatkan bahwa Abu Ja’far a.s telah berkata: “berbicaralah tentang ciptaan Allah, sebab berbicara tentang Allah tidak akan menambah sipembicaranya kecuali kebingungan”.
      Juga dalam hadits lain diriwayantkan: “barang siapa bertafakkur tentang Allah supaya mengetahui bagaimana Dia itu, maka binasalah ia”.
      Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini, 40 Hadts Telaah atas Hdits-hadits Mistis dan Akhlak, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm: 223

      Hapus
  4. Nisfu Laila
    202 111 0272

    minta dijelaskan hikmah dari kita selalu bertafakur trhdp ciptaan Allahh,,!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Menambah keimanan kita serta ketakwaan kita: dengan mengamati tentang semua ciptaan Allah tersebut, akan terlihat betapa besar atau agung atas kekuasaan Allah tersebut, dengan begitu seseorang akan bertambah takjub atas kekuasaanya tersebut sehingga menimbulkan rasa iman yang tambah karena melihat betapa besar keagungan Allah atas semua ciptaan-Nya.
      Bisa menambah pengetahuan: denga kita bertafakkur tentang ciptaan Allah dapt menambah rasa pengetahuan kita, misalkan seseorang yang mendengar petir sesorang itu akan berfikir dari mana asalnya petir tersebut sehingga seseorang tersebut terdorong untuk untuk melakuakan penelitaian, dengan penelitaiannya tersebut dapat menambah penhetahuan seseorang.
      Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini, 40 Hadts Telaah atas Hdits-hadits Mistis dan Akhlak, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm: 223
      Ibid, hlm: 224

      Hapus
  5. syifa adilla
    2021110281

    kita di perintah untuk mengamati alam semesta.....
    pengamatan yang bagaimana???
    terimakasih
    ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. 5. Pengamatan disini kita berarti berfikir, berfikir atas segala yang telah diciptakan Allah, yang mana jika kita berfikir atau bertafakkur dapat memberikan hikmah yang sangat baik yaitu:
      a. dapat menambah keimanan kita kepada Allah
      b. dapat menambah ketakwaan kita kepada Allah
      c. dapat menambah pengetahuan kita atas semua makhluk ciptan Allah.
      Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Toha Putra Semarang, 1986), hlm: 285

      Hapus
  6. Apa sebenarnya hakikat mengalami alam semesta? padahal yang kita tau pengamatan itu identik dengan indra penglihatan? lalu bagaimana orang yang tidak sempurna indra penglihatannya? apakah orang tersebut isa dit mengamati alam semesta seperti orang biasanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. 6. Mengamati disini kita disuruh bertafakkur terhadap semua ciptaan Allah.bagi orang yang kurang indra penglihatnnya, Mengamati tidak harus dengan menggunakan Indra penglihatan saja, namun bisa dengan menggunakan Pnca Indra yang lain yang dimilikinya, seperti Indra pendengar, peraba, perasa, dan yang lainnya. Contoh misalkan orang yang tidak sempurna penglihatannya, suatu ketika turun hujan, saat hujan turun, tiba-tiba ada suara petir yang terdengar amat keras, orang yang buta tersebut bisa menggunakan indra pendengarannya untuk bertafakkur atas makhluk-makhluknya, dari situ seseorang tersebut bisa berfikir dari mana asalnya petir tersebut dengan menggunakan indra yang lainnya tentang awal mula adanya petir tersebut, sehingga dengan itu semua bisa mengetahui bahwa ada yang mnengendalikan dan menciptakan atas petir tersebut, yaitu Alah, sehingga dapat menimbulkan rasa keimanannya serta ketakwaannya. Bahkan dalam suatu Hadits dikatakan bahwa mendengar sendiri merupakan salah satu proses mengetahui sebuah ilmu. Bahkan Rasulullah meninggikan derajat seseorang yang mau mendengarkan sesuatu dari beliau. Semakin banyak kita mendengar, melihat dan berfikir dengan menggunsksn panca Indra maka semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Sholihin, (Jakarta: Pustaka Amani, 1994), hlm: 320
      Muh. Nasib ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 2006),

      Hapus
  7. arum arifah
    2021110271
    F
    Bagaimana pendapat anda tentang ramalan kiamat yang pada dasarnya itu mengamati alam semesta?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 7. Kalau untuk masalah kiamat sendiri itu merupakan takdir atau ketentuan Allah, namun manusia tidak bisa memprediksi kapan terjadinya hari kiamat tersebut, namun kita bisa melihat tanda-tanda akan datangnya hari kiamat tersebut melalui makhluk ciptaannya, denagn menggunakan tanda-tanda yang sekarang ini sudah nampak pada dunia sekarang ini, contoh banyak laki-laki yang menyerupai wanita, wanita menyerupai laki-laki, banyak terjadi bencana yang terjadi disekitar kita. Meskipun untuk kapan terjadinya hari tersebut kita tidak tahu, namun kita harus yakin bahwa kelak suatu saat akan terjadi kiamat, seperti yang ditegaskan dalam Qs. Al-Ankabut ayat 19-20, yang artinya “dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan ((manusia), dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: “berjalanlah dimuka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah mencipyakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu”.
      yang mana penegasan tersebut melalui hasil penciptaan Allah yang dapat mereka lihat pada diri mereka sendiri, setelah sebelumya mereka bukan apa-apa. Pandangan kepada hal-hal itu akan mengantar seseorang menggunakan pikirannya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa dibalik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan yang maha Besar lagi maha Esa yaitu Allah Swt. Pandangan kepada hal-hal itu akan mengantar seseorang menggunakan pikirannya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal didunia ini. Dan bahwa dibalik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan yang Maha Besar lagi Maha Esa yaitu Allah Swt.
      Muh. Nasib ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm: 723
      M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah juz 10, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm: 467-468

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Hartini
    2021110237
    F

    Kita diperintahkan oleh Allah untuk mengamati alam semesta, namun pada kenyataannya sekarang banyak manusia yang tidak mengamati alam semesta melainkan menghancurkan alam. seperti menebang pohon sembarangan atau membuang sampah disungai.
    menurut anda bagaimana anda melihat hal tersebut yang telah menjamur disekitar kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 8. Kalau berdasarkan pemikiran saya, perintah untuk mengamati disini kan sangat mulia dengan tujuan yang sangat baik yaitu untuk menambah keimanan, ketakwaan, serta ilmu pengetahuan kepada kita. Kalau misalkan ada seseorang yang melakukan hal yang sangatlah tidak mulia tersebut maka seseorang itu kalau menurut sayan belum mendapatka petunjuk atau hidayah dari Allah, dan bahkan mungkin seseorang tersebut kurang imannya terhadap Allah. Orang yang beriman kepada Allah, pastinya akan berfikir berkali-kali sebekum dia bertindak hal yang tidak baik tersebut, yang mana jika perbuatan tersebut dilakukan dapat merugikan diri sendiribahkan orang lain, mungkinb saja orang yang imannya kurang kepada Allah orang itu akan berbuat yang tidak baik yang mana perbuatan tersebut tidak dia fikir terlebih dahulu dampak atas perbuatannya tersebut yang dapat merugikan bagi diri sendiri dan bagi orang lain yang ada disekitarnya.

      Hapus
  10. Fahmi amrullah
    202 111 0248
    F
    Apakah kita hanya disuruh mengamati saja ataukah setelah kita mengamati ada hal lain yang harus dilakukan, jelaskan???

    BalasHapus
    Balasan
    1. 9. Kita bukan hanya mengamati saja, namun ada hal lain yang perlu dilakukan seseorang setelah mengamati yaitu kita disuruh untuk tawakkal, dan ridho, menyerah dan mengakui kelemahan diri, bahwa ada kekuatan tertinggi yang telah menciptakan segala sesuatunya yaitu Allah Swt, sebab dengan kerendahan diri itu salah satu tanda bertambah tinggi ilmu seseorang sehingga bertambah pula ingatannya terhadap Allah. Sebagai tanda atas kelemahan diri itu dihadapan kebesaran Allah Swt sehingga timbullah bakti dan ibadah kita kepada-Nya. Serta mendapatkan hikmah atas apa yang kita lakukan yaitu bisa menambah keimanan, keyakwaan, serta pengetahuan kita tentang apa yang telah Allah ciptakan yang ada di bumi ini. Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm: 251
      Al-Alamal Al-Manawi, Faidhul Qadir, Syarah Jami’ush Shoghir, juz III (Mesir: Maktabah Mishri, 2003), hlm: 338
      Ayatullah Ruhullah Al-Musawi

      Hapus
  11. Nur Halimah
    2021110278
    F

    dalam maklah anda kan berjudul "perintah mengamati alam semesta". Dari konteks itu sudah terlihat bahwa kalau kita ingin mengamati alam semesta ini berarti orang itu kan bisa melihat. Nah pertanyaan saya bagaimana jika seseorang itu tidak bisa melihat (buta) bagaimana cara dia mengamati alam semesta ini?mohon di jelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. 10. Pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan nomor 6, pertanyaan dari mb ismi Zulfatun Ni’mah. Seseorang yang kurang sempurna penglihatannya bisa mengamati dengan panca Inda yang lainnya,karena perintah Mengamati disini tidak harus dengan menggunakan Indra penglihatan saja, namun bisa dengan menggunakan Pnca Indra yang lain yang dimilikinya, seperti Indra pendengar, peraba, perasa, dan yang lainnya. Contoh misalkan orang yang tidak sempurna penglihatannya, suatu ketika turun hujan, saat hujan turun, tiba-tiba ada suara petir yang terdengar amat keras, orang yang buta tersebut bisa menggunakan indra pendengarannya untuk bertafakkur atas makhluk-makhluknya, dari situ seseorang tersebut bisa berfikir dari mana asalnya petir tersebut dengan menggunakan indra yang lainnya tentang awal mula adanya petir tersebut, sehingga dengan itu semua bisa mengetahui bahwa ada yang mnengendalikan dan menciptakan atas petir tersebut, yaitu Alah, sehingga dapat menimbulkan rasa keimanannya serta ketakwaannya.Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Sholihin, (Jakarta: Pustaka Amani, 1994), hlm: 320
      Muh. Nasib ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta

      Hapus
  12. zuhrotunnisak
    2021110242
    F

    apa usaha yang harus kita lakukan supaya dalam memikirkan atau bertafakkur itu tidak melampaoi batas atau supaya kita tidak terjerumus dalam kemusyrikan?? makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. 11. Yang harus kita lakukan dalam berfikir namun berfikir yang tidak melampaui batas supaya tidak terjerumus dalam kemusyrikan: bertafakkur tentang Zat Allah demi membuktikan argumentasi tentang keberadaan, keesaan, dan menegaskan transendensi (al-Tanzih) dan kesuciannya. Berfikir tentang Allah, nama-nama, sifat-sifat, serta kesempurnaan-kesempurnaan-Nya. Bukan berfikir yang bertujuan untuk mengukur kedalaman Zat Allah dan kualitas (kaifiyyah) Zat-Nya dengan mencari-cari alasan keberadaan-Nya. Dan apabila seseorang ingin melihat keagungan Allah Awt, dia harus menyimpulkannya dari keagungan ciptaan-Nya.
      Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini,40 Hadits: Telaah Atas Hadits-Hadits Mistis dan Akhlak, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2004), hlm: 226-227

      Hapus
  13. Yeni Nur Khasanah
    2021110266

    bagaimana caranya agar kita bisa mengamati alam semesta dengan baik ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 12. Cara mengamati alam yang baik yang berarti kita memikirkan tentang makhluk-makhluk-Nya yang telah diciptakan-Nya Dalam hadits tersebut apabila kita ingin melihat keagungan Allah, seseorang itu harus menyimpulkannya dari keagungan ciptaannya, melalui sarana ciptaaan (makhluk) itu. Hadist tersebut menunjukkan bahwa tujuan pelarangan itu adalah agar orang tidak melakukan pembicaraan yang bertujuan mengukur kedalaman zat Allah dan kualitas (kaifiyah) Zat-Nya dengan mencari-cari alasan keberadaan-Nya. Karena hal itu akan menyebabkan kebingungan pada diri seseorang. Seperti dalam hadits Al-kahfi dengan sanad melalui Abu Bashir diriwayatkan bahwa Abu Ja’far a.s telah berkata: “berbicaralah tentang ciptaan Allah, sebab berbicara tentang Allah tidak akan menambah sipembicaranya kecuali kebingungan”. Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini,40 Hadits: Telaah Atas Hadits-Hadits Mistis dan Akhlak, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2004), hlm: 226-227
      Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta

      Hapus
  14. tidk smbarang org dpt brtafakkur dgn bnr2 shngga dpt mnumbuhkan rsa syukur trhdp cptaanyNya jg dpt mngkatkn rasa syukur kpdnya...

    *bagaimn cara bertfakkur agar tujuan diatas dpt trcapai,.?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. 13. Usaha yang dilakukan dalam bertafakkur agar memperoleh keimanan serta dapat menambah ketaqwaan dan pengetahuan yaitu dengan bertafakkur melalui ciptaan-ciptaan Allah, yang ada disekitar kita, yang menunjukkan kekuasaan dan keagungan Allah yang dengan kita mengetahui hal tersebut, pengetahuan tentang keesaan, kekuasaan, keagungan Allah dapat menimbulkan rasa Syukur, Taqwa, Iman, sera Pengetahuan Kita. Serta kita disuruh untuk tawakkal, dan ridho, menyerah dan mengakui kelemahan diri, bahwa ada kekuatan tertinggi yang telah menciptakan segala sesuatunya yaitu Allah Swt, sebab dengan kerendahan diri itu salah satu tanda bertambah tinggi ilmu seseorang sehingga bertambah pula ingatannya terhadap Allah. Sebagai tanda atas kelemahan diri itu dihadapan kebesaran Allah Swt sehingga timbullah bakti dan ibadah kita kepada-Nya. Serta mendapatkan hikmah atas apa yang kita lakukan yaitu bisa menambah keimanan, keyakwaan, serta pengetahuan kita tentang apa yang telah Allah ciptakan yang ada di bumi ini. Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm: 251
      Al-Alamal Al-Manawi, Faidhul Qadir, Syarah Jami’ush Shoghir, juz III (Mesir: Maktabah Mishri, 2003), hlm: 338


      dari ifrokha lewat blog saya...

      Hapus