Laman

Minggu, 20 November 2016

tt1 C 11d METODE ARGUMENTATIF (Q.S Al-Baqarah : 258)

METODE PENDIDIKAN “UMUM”
METODE ARGUMENTATIF
(Q.S Al-Baqarah : 258)

Afrizal Hanan  (2021115283)
 Kelas C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016





KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga dalam beberapa hari ini saya bisa menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Metode Pendidikan Umum: Metode Argumentatif”  ini dengan baik. Sholawat serta salam telah tercurahkan pula kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw yang telah kita nantikan syafaatnya di yaumul qiyamah.
            Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini mungkin tidak bisa sempurna seperti yang telah di inginkan oleh dosen karena kesempurnaan itu hanya milik Allah swt. Untuk itu penulis mengharap kepada bapak dosen dan teman-teman kelas C untuk  memberi kritik dan saran agar bisa memperbaiki makalah yang telah dibuat penulis supaya pembaca dapat lebih memahami dan mempelajari isi dari makalah tersebut.
            Semoga makalah ini bisa bermanfaat dan memberikan wawasan yang luas sebagai ilmu tambahan pengetahuan bagi pembaca pada umumnya. Sekian dari penulis apabila terdapat kesalahan dalan makalah ini mohon untuk bisa di kritik agar bisa menjadikan motivasi dimasa yang akan datang. Terima kasih.

Pekalongan, 25 November 2016

Afrizal Hanan
NIM 2021115283



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Pendidikan bertujuan untuk membina dan membentuk perilaku atau akhlak peserta didika dengan cara mmeningkatkan keimanan, pemahaman, serta pengalaman peserta didik terhadap ajaran agama Islam. Sehingga setelah menyelesaikan pendidikan, peserta didik mampu menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara.
       Dalam melaksanakan pendidikan, dibutuhkan sebuah metode pembelajaran untuk menunjang kelancaran pendidikan. Metode pembelajaran merupakan cara atau teknik pengkajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru saat pengkajian bahan pelajaran. Salah satu dari metode pembelajaran adalah Metode Argumentatif. Metode ini memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para siswa untuk mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya kemudian dipadukan dengan pendapat siswa lain.        
B.  Judul
       Metode Pendidikan “UMUM” : Metode Argumentatif
C.  Nash
       Q.S Al-Baqarah : 258
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِي حَآجَّ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ فِي رَبِّهِۦٓ أَنۡ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ إِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٥٨
258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan".Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
D.  Arti Penting
            Seorang penguasa – yang konon bernama Namrud – terpedaya oleH kekuasannya. Kekuasaan yang dimilkinya menjadikan dia merasa wajar menjadi Tuhan, atau menyaingi Allah. Memang, kekuasaan seringkali cenderung menjadikan orang lupa diri dari Tuhan-Nya. Maka ia mendebat Nabi Ibrahim as. tentang Allah. Tidak dijelaskan oleh ayat ini, bagaimana awal perdebatan, yang dijelaskan adalah sekelumit dari perdebatan itu.[1]



















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori
       Secara etimologi, kata “metode” berasal dari bahasa Yunani, kata metode berasal dari dua suku kata meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti “jalan” atau “cara”.
       Secara terminologi, Metode adalah seperangkat jalan atau cara yang digunakan pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta  didik dapat mencapai tujuan pembelajaran dan kompetensi tertentu.[2]
       Salah satu dari berbagai macam metode pendidikan adalah Metode Argumenttif. Metode Argumentatif adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa/kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah.
Metode Argumentatif/Diskusi tepat digunakan karena:
1.     Untuk menumbuhkan sikap transparan dan toleran bagi peserta didik, karena ia terbiasa mendengarkan pendapat orang lain sekalipun pendapat tersebut berbeda pendapat dengan pendapatnya.
2.     Untuk mencari berbagai masukan dalam memutuskan sebuah/beberapa permasalahan secara bersama.
3.     Untuk membiasakan peserta didik berfikir secara logis dan sistematis.[3]
B.      Tafsir
1.     Tafsir Ibnu Katsir
            Orang yang mendebat Nabi Ibrahim as. ialah raja Namrudz bin Kan’an. Raja Babilon, pernah menguasai dunia dari barat sampai ke ujung timur.
            Mujahid berkata: “Raja yang pernah menguasai dunia empat, dua mu’min yaitu Sulaiman dan Zulqarnain dan dua kafir yaitu Namrudz dan Bukhtunassar  (Bogatnesar).[4]
            Dalam ayat ini Allah menganjurkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada kita semua supaya memperhatikan suatu kejadian yang terjadi dari seorang raja besar di masa Nabi Ibrahim, ia tidak percaya adanya Tuhan Allah, maka Nabi Ibrahim yang dengan menunjukkan kekuasaan Tuhan Allah yang menghidupkan semua makhluk dan mematikan mereka, sebagai bukti yang sangat nyata, tetapi raja yang sombong dengan kerajaan dan kekuasaanya itu tidak dapat menerima keterangan Ibrahim, bahkan ia berkata; “Aku juga dapat menghidupkan dan mematikan, yaitu jika dihadapkan kepadaku dua pesakitan (narapidana) yang harus dihukum mati, lalu saya perintahkan supaya dibunuh dan  yang lain saya lepaskan.” sebenarnya jawaban raja itu lain dengan tujuan Ibrahim dalam arti menghidupkan dan mematikan, tetapi dasar raja degil, maka langsung oleh Ibrahim dijelaskan lain dalil (bukti) kekuasaan Allah, yaitu; Allah menerbitkan matahari dari sebelah barat, jika anda merasa berkuasa, maka cobalah.” Disini raja itu menjadi bingung terdiam tidak dapat berbuat apa-apa, benar-benar merasakan tidak dapat membantah bukti dan alasan yang dibawa oleh nabi Ibrahim as. Demikianlah Allah takkan memberi petunjuk bagi kaum yang dzalim.
            Assuddi menyebut bahwa perdebatan yang terjadi antara Ibrahim dengan raja Namrudz ini terjadi sesudah keluarnya Ibrahim dari api, sebab tidak pernah bertemu kedua orang ini kecuali ketika itu, maka terjadilah perdebatan itu.
Zaid bin Aslam berkata; “Namrudz mengatur pembagian makanan bagi rakyatnya, dan orang-orang  yang datang untuk membeli makanan ke sana, maka Ibrahim ikkut antri untuk membeli bahan makanan. Maka terjadilah perdebatan ini, sehingga nabi Ibrahim tidak diberi bagian dan harus pulang ke rumah dengan karung yang kosong. Maka nabi Ibrahim berusaha mengisi kedua karungnya dengan tanah, sambil berkata; “Untuk menghibur keluargaku, dan ketika sampai di rumah segera diletakkan kedua karung itu di muka rumah, lalu  ia masuk dan tidur. Kemudian bangunlah istrinya, Sarah, dan segera pergi ke tempat karung itu, dilihatnya karung penuh makanan, maka ia pun memasak makanan yang diambil dari dalam karung itu.[5] Ketika nabi Ibrahim bangun ia mendapatkan makanan yang sudah masak dan ia pun bertanya : “Dari mana kalian mendapatkan makanan ini?” jawab istrinya: “Dari tepung yang anda bawa itu.” Ibrahim mengerti bahwa itu semata-mata rizki pemnberian Allah azza wajalla.
             Zaid bin Aslam berkata; “Kemudian Allah mengutus seorang Malaikat kepada raja Namrudz dan menyuruhnya beriman kepada Allah, tetapi raja Namrudz menolaknya, hingga kedua dan ketiga kalinya. Maka disuruhnya mengumpulkan semua tentaranya pada keesokan harinya ketika matahari terbit. Kemudian Allah m menuengirimkan nyamuk sebanyak-banyaknya sehingga menutupi cahaya matahari dan menyuruh nyamuk-nyamuk itu menyerang tentara Namrudz, sekaligus memakan darah dan dagingnya, sehingga habis hingga tinggal tulang belulangnya belaka. Sedang terhadap raja Namrudz dimasukinya hidungnya oleh seekor nyamuk dan tinggal di dalam hidungnya selama empat ratus tahun tersiksa oleh nyamuk itu, sehingga jika sakit kepalanya oleh gangguan nyamuk terpaksa dipukuli dengan pentung selama itu hingga mati karenanya.
2.     Tafsir Al-Maraghi
            Dalam ayat ini dikemukakan suatu contoh sebagai mitsal yang mendukung kebenaran dari masalah ini, dan sebagai bukti keshahihannya. Selanjutnya, dijelaskan kisah Ibrahim as., bahwa Allah memberi taufik dan menolong Ibrahim dengan bantuan Allah. Ketika itu, Nabi Ibrahim menegakkan hujjah untuk melenyapkan hal-hal yang syubhat yang merupakan hujjah musuh. Sehingga, beliau berhasil memenangkan hujjah atas musuhnya itu. Namun, pihak musuh yang mengemukakan hujjah kepada beliau itu tetap “buta”, tidak mau melihat nur kebenaran. Lalu, dirinya semakin tenggelam ke dalam keraguan yang makin bertambah, dan makin terjerumus ke dalam jurang kehancuran karena terseret pengaruh kekuasaan thaghut.
3.     Tafsir Al-Azhar
            “Atau tidakkah engkau fikirkan dari hal orang yang membantah Ibrahim tentang Tuhannya? (pangkal ayat 258) Pangkal ayat ini mengajak kepada Rasul khususnya dan ummat beriman umumnya untuk memikirkan kisah ini. Orang itu ialah raja Namrudz sendiri. “Lantaran Allah telah memberikan kerajaan kepadanya.” Suatu pengajaran ilmu jiwa yang mendalam dari al-Qur’an, yaitu  seorang manusia, oleh karena diberi Allah kekuasaan dan kerajaan, sombong, lupa diri, lupa segala, merasa awak sangat berkuasa, sebab itu perkataan yang keluarpun tidak ada batasnya lagi, sebab merasa tidak ada juga orang yang berani membantah: “Tatkala Ibrahim berkata: Tuhankulah yang menghidupkan dan mematikan.” Di hadapan raja itu Ibrahim telah menerangkan siapa Tuhan, bahwa Tuhan Allah lah yang mematikan dan menghidupkan. Tetapi karena memang dasar jiwa orang berkuasa tidak berbatas itu sombong dengan kekuasaannya, boleh difikirkannya dengan panjang apa maksud Ibrahim mengatakan demikian, langsung saja beliau sambut: “Dia berkata; Akulah yang menghidupkan dan mematikan.” Nyawa dari seluruh rakyat negeriku ada di tanganku.
            Ibrahim pun meneruskan perkataannya: “Berkata  Ibrahim: Maka sesungguhnya Allah mendatangkan matahari dari timur, maka cobalah datangkan matahari dari barat.” Dengan sambungan kata yang demikian Ibrahim telah membawa raja berfikir yang lebih luas. Sekarang baru dia mengerti apa maksud Ibrahim: “Maka terdiamlah orang yang kafir itu.” Dia tidak dapat menjawab lagi. Dasar berfikirnya salah, sebab itu dia terdiam. “Dan Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (ujung ayat 258)[6]
C.      Aplikasi dalam Kehidupan
            Dalam menjalani kehidupan di dunia pendidikan seringkali kita mempunyai perbedaan argumen dalam menyikapi suatu permasalahan. Perbedaan tersebut jangan sampai membuat putusnya tali persaudaraan antar sesama manusia. Maka hendaknya, kita harus menghargai pendapat orang lain, dan tidak keras kepala dengan tidak menerima kebenaran ketika keenaran itu mulai tampak. Sebab, kembali pada kebenaran adalah lebih baik daripada terus-menerus dalam kebatilan.
D.      Aspek Tarbawi
1.       Tidak diperbolehkan menjadi orang yang sombong dan menang sendiri.
2.       Dalam berargumentasi, haruslah menggunakan sumber/dalil yang benar.
3.       Tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menzalimi orang lain.
4.       Senantiasa menyampaikan kebenaran yang ada di dalam Al-Qur’an.
5.       Bersikap hati-hati, baik perbuatan maupun lisan.


Daftar Pustaka
Armai, Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers
Al Maraghi, Ahmad Mustofa. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: Karya Toha Putra
Hamka. 1983. Tafsir Al-Azhar. 1983. Jakarta: Pustaka Panjimas
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati
Katsir, Ibnu. 1987. Terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: Bina Ilmu.



Biodata Penulis

Nama                          : Afrizal Hanan
NIM                            : 2021115283
TTL                             : Pekalongan, 09 Mei 1997
Alamat                                    : Setono, Gg. 5B. Pekalongan Timur, Kota Pekalongan
Riwayat Pendidikan   :
1.     TK Aisyiyah Bustanul Athfal Setono Pekalongan
2.     SD Islam 01 Setono Pekalongan
3.     SMP Muhammadiyah Pekalongan
4.     SMA Muhammadiyah 01 Pekalongan
5.     IAIN Pekalongan (masih)



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002) hlm. 556
[2] http://www.academia.edu/18246898/METODE_PENDIDIKAN_DALAM_PERSPEKTIF_AL-QURAN. diakses pada tanggal 19 November 2016 pukul 21.29 WIB
[3] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 146-147
[4] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir  (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1987), hlm.469

[5] Ibid., hlm.468-469
[6] Hamka, Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983) hlm. 30-31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar