Laman

Selasa, 08 November 2016

tt1 C 9d DIRI DAN KETURUNAN TUNDDUK KEPADA ALLAH SWT (QS. AL-BAQARAH AYAT 128)

 “OBYEK PENDIDIKAN LANGSUNG”
DIRI DAN KETURUNAN TUNDDUK KEPADA ALLAH SWT
(QS. AL-BAQARAH AYAT 128)


Sulasmi (2021115166)
KELAS C

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN

2016



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, Atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini yang berjudul “ Diri dan Keturunan Tunduk Kepada Allah swt” yang dijelaskan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 128 dapat  saya selesaikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi kita Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya,dan sahabatnya.
Dalam penyusunan makalah ini penulis tak lupa mengucapkan terimah kasih kepada Bapak Muhammad Ghufron M.S.I selaku dosen pengampuh mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta motivasi-motivasi serta tak lupa kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan dan doa yang menyertai dengan ikhlas, serta tidak ketinggalan pula teman-teman seperjuangan yang saya cintai.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan untuk memperdalam pengetahuan dan memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.  Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas dari mata kuliah Tarsir Tarbawi.
            Dalam makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Untuk itu kami sangat menerima dengan rendah hati apabila ada kritik dan saran guna membuat perbaikan di kemudian hari.

                                                                        Pekalongan,8 Oktober 2016
                                                                       
                                                                                    Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Berdasarkan uraian, perkataan Din mengacu kepada makna yang menunjukan hubungan timbal balik antara dua pihak. Pihak pertama sebagai pihak yang pada dirinya memiliki unsur perintah kekuasaan dan hukum, sedangkan pihak kedua sebagai pihak yang pada dirinya terdapat sikap yang merendahkan diri dan tunduk. Apabila dillihat dari ikatan antara kedua pihak, maka ia menunjukan adanya unsur undang-undang yang mengatur hubungan diantara keduanya.
Dengan demikian Din itu mengandung pengertian hubungan antara makhluk dan Khalik-Nya. Hubungan ini tercemin dalam sikap batin yang dilakukan dalam ibadah dan sikap perilaku sehari-hari.
Berbicara masalah fungsi din bagi kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari tantanga-tantangan yang dihadapinya, baik secara individu maupun masyarakat. Seperti diketahui melalui penjelasan Tuhan, manusia telah dilengkapi dengan seperangkat potensi anugerah Allah dianataranya alat indra dan akal. Dengan indra dan akal ini manusia melakukan eksperimen, pengamatan, dan penelitian, sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dalam bentuk teori dan hukum-hukum. Meskipun demikian, karena keterbatasan kemampuan indra dan akal, manusia masih menemukan tantangan-tantangan, sehingga tidak semua permasalahan yang dihadapi dapat terjawab. Namun demikian manusia tetap saja berupaya untuk menemukan jawaban terhadap setiap permasalahan yang dijumpainya. Untuk menjawab berbagai permasalahan dan problema yang muncul di tengah-tengah kehidupan, manusia memerlukan pedoman, baik secara global maupun secara rinci yang dapat dijadikan pedoman . pedoman yang dimaksud adalah aturan, undang-undang, dan hukum yang terhimpun dalam din.
B.  Nash dan Artinya Qs. Al-Baqarah ayat 128
 رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُ رِّ يَّتِنَاأُ مَةً مُسْلِمَةً لَكَ وَ اَرِنَا مَنَا سِكَنَا وَتُبْ عَلَيْناَ
اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ  (١٢۸)
Artinya: Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami kedua ini orang-orang yang berserah diri kepada Engkau, dan dari keturunan-keturunan kamipun orang-orang yang berserah diri kepada Engkau , dan tunjukanlah kiranya  kepada kami cara-cara kami ber’ibadat, dan ampunilah kiranya kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, Penyayang.
C.    Arti Penting Qs. Al-Baqarah ayat 128
Beriman kepada Allah swt merupakan iman yang paling tinggi kedudukannya dan paling mulia nilainya. Sebab, seluruh kehidupan seorang muslim berputar disitus dan terbentuk karena-Nya. Iman kepada Allah swt merupakan dasar segala prinsip di dalam sistem umum bagi kehidupan seorang muslim secara keseluruhan. Manakala keimanan ini sudah terbangun baik, maka keimanan yang lainnya akan mengikuti.









BAB II
PEMBAHSAN
A.    Teori
Din sejenis kepasrahan dan kerendahan. Menurut makna asalnya, Din sama saja dengan islam. Secara etimologi islam berasal dari kata aslama yang mengandung pengertian khadla’a (tunduk) dan istaslama (sikap berserah diri), dan juga adda (menyerahkan atau menyampaikan). Pengertian lain dari islam adalah al-inqiyad (tunduk patuh), dan al-ikhlas (tulus) disamping itu juga dengan al-tha’ah (taat) serta al-salam (damai atau selamat).
Al-Raghib al-Ishfahani menulis. Di dalam syarak, islam itu ada dua macam: (1) di bawah iman, yakni hanya mengakui di lisan saja. (2) di atas iman, bersamaan dengan pengakuan ada juga keyakinan dalam hati, pelaksanaan dalam tindakan, dan penrehan diri kepada Allah dalam segala hal yang telah Ia tetapkan dan tentukan. Seperti yang diingatkan dalam kisah Ibrahim: Ketika Tuhan berkata kepadanya: Islamlah (pasralah), Ibrahim berkata: Aku pasrah kepada Pemelihara Seluruh Alam.
Al-Mushtafawi menulis, Islam itu bertingkat-tingkat: pertama, kepasrahan dalam amal lahiriah, gerakan badaniah, dan anggota-anggota jasmaniah seperti dalam berkata orang Arab Badwi itu: Kami telah beriman. Katakan: kamu belum beriman. Tetapi katakanlah: Kami telah Islam. Kedua,, menjadikan diri sesuai atau sejalan secara lahir dan batin, sehingga tidak terjadi pertentangan dalam amalnya, niatnya, dan hatinya, seperti dalam kamu tidak akan dapat memperdengarkan kepada mereka (petunjuk) kecuali kepada orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, maka mereka itulah yang berserah diri. Ketiga, menghilangkan kontrakdiksi sama sekali. Baik dalam amal, niat, maupun eksitensi dzat. Pada tingkat ini tidak ada lagi eksitensi diri atau melihat diri. [1]

B.    Penafsiran Qs. Al-Baqarah : 128
1.   Tafsir Al-Azhar
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ
Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami keduanya ini orang-orang yang berserah diri kepada Engkau.”. setelah rumah atau Ka’bah itu selesai merekA dirikan, maka mereka berdua pulalah orang yang pertama sekali menyatakan bahwa mereka keduanya: Muslimaini laka, muslimin kami keduanya kepada Engkau! Yang berpokok kepada kata-kara ISLAM yang berarti berserah diri. Berjanjilah keduanya kepada rumah yang suci itu hanyalah untuk beribadat dari pada orang-orang yang berserah diri kepada Allah, tidak bercampur dengan penyerahan diri kepada yang lain.
وَمِنْ ذُ رِّ يَّتِنَاأُ مَةً زمُسْلِمَةً لَكَ وَ اَرِنَا مَنَا سِكَنَا
Dan dari keturunan –keturunan kamipun (hendaknya) menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Engkau”. Bukan saja Ibarahim mengaharapkan agar penyrahan dirinya dan puteranya ismail kepada Allah, agar diterima Allah. Bahkan diapun memohonkan kepada Allah agr cucu dan keturunannya yang datang di belakangpun menjadi orang-orang yang berserah diri, menjadi orang-orang muslim, atau ISLAM. Sehingga cocoklah dan sesuailah hendaknya langka dan sikap hidup anak cucu keturunanya  dengan dasar pertama ketika rumah itu didirikan. “Dan tunjukan kiranya kepada kami cara-cara kami beribadat”.
Cara-cara kami beribadat, kita artikan dari Manasikana.
Setelah Ibrahim dan membawa juga nama puteranya Isma’il menga kui bahwa Allah-lah tempat mereka berserah diri, dan telah bulat hati mereka kepada Allah, tidak bercampur kepada yang lain, dan diharapkannya pula kepada Tuhan agar anak cucu keturunannya yang tinggal disekeliling rumah itu semuanya mewarisi keislaman itu pula, berulah ibrahim memohon kepada Allah agar ditunjuki bagaimana caranya beribadat, yang disebut manasik. Manasik itu bisa diartikan umum untuk seluruh ibadat, dan bisa pula dikhususkan untuk seluruh upacara ibadat haji.
وَتُبْ عَلَيْناَ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
Dan berilah taubat atas kami, sesungguhnya Engkau adalah penerima taubat lagi penyayang”. Kita sudah maklum bahwasannya Rasul Allah adalah ma’shum, suci dari pada dosa, terutama dosa yang besar. Tetapi orang-orang yang telah mencapai derajat iman yang sempurna sebagi Ibrahim dan Isma’il, tidaklah berbangga dengan anugerah Allah kepada mereka dengan ma’shum itu.
Nabi Ibrahim memohonkan taubat untuk dirinya da untuk anaknya ini, adalah suatu teladan bagi kita agar selalu ingat dan memohonkan ampun kepada Tuhan. Ma’na yang asal dari pada taubat, ialah kembali. Kita bertaubat kepada Allah. Dan Allah mengabulkan permohonan kita, dengan memakai perkataan A’la, yang berarti keatas. Kita mendaki menuju Allah, dan Allah menarik tangan kita keatas. Nabi Isa Alaihissalam yang ma’shum, setiap waktu memohon taubat kepada Tuhan, sehingga diriwayatkan oleh Al-Ghazali, bahwasanya beliau menyediakan bunga-karang (spons) untuk mengahapus air matanya, dan nabi kita Muhammad saw mengatakan bahwa tidak kurang dari 7o kali sehari semalam beliau memohon ampun. Dengan demikian, bertambah suci manusia, bertambah pula mereka merasa kekurangan.[2]
2.     Tafsir Al-Maraghi
WahaiTuhan kami! Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau”. Maksudnya, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang ikhlas kepadaMu dalam keyakinan yaitu dengan cara kami mengahadapkan hati kami hanya kepada Engkau, kami tidak meminta pertolongan kepada siapapun, selain Engkau dan dalam meramal, kami tidak punya tujuan selain untuk mencari keridhaan Engkau, bukan karena mengikuti hwa nafsu dan memuaskan keinginan.
Dan jadikanlah di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau”. Maksudnya,Wahai Tuhan kami, jadikanlah di antara anak cucu kami golongan yang ikhlas kepada Engkau agar supaya berkesinambungan kepatuhan dan ketundukan kepada Engkau dengan kekuatan ummat dan kegotong royongan masyarakat. Dan doa kedua orang ini telah Allah kabulkan dan Allah jadikan pada anak keturunannya ummat islam dan ia bangkitkan di tengah-tengah mereka seorang Nabi yang menjadi penutup para Nabi. Dan kata ISLAM yang dimaksud adalah patuh dan tunduk kepada Tuhan, pencipta langit dan bumi, bukan dari ummat islam secara khusus saja, sehingga setiap anak yang lahir di negeri ini dan diberi predikat ini dapat disebut islam yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, serta ia termasuk ke dalam golongan yang tercakup dalam doa Nabi Ibrahim as.
Dan tunjukanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami”. Maksudnya, beritahukanlah kepada kami tempat-tempat amalan haji kami seperti miqat-miqat untuk memulai ihram, tempat wukuf di Arafah, tempat tawaf dan lain sebagainya yang berupa amalan da ucapan.
Dan perkenankanlah taubat kami”. Maksudnya, berilah kami taufik untuk bertaubat agar kami bertaubat dan kembali kepada Engkau dari setiap perbuatan yang memalingkan kami dari Engkau. Hal ini senada dengan Q.S. 9 ayat 118.
Doa dari Ibrahim dan Isma’il ini adalah sebagai bimbingan kepada anak keturunannya dan pengarahan kepada mereka bahwa Baitullah dengan segala tempat dan cara ibadahnya mrupakan tempat-tempat untuk membersihkan diri dari segala dosa dan tempat  untuk memohon  rahmat dari Allah.
Sungguh Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Sungguh Engkau sajalah Tuhan yang banyak memperkenankan taubat kepada hamba-hambaMu dengan jalan memberi petunjuk kepada mereka untuk bertaubat baik lalu menerima amal baik mereka itu. Engkaulah yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang taubat kepadaMu yang meyelamatkan mereka dari siksa dan kemurkaanmu.[3]
3.     Tafsir Al-Misbah
Selanjutnya Nabi Ibrahim as meneruskan permohonannya: Tuhan kami, jadikanlah kami berdua, yakni saya dan anak saya, Ismail, orang yang tetap dan bertambah tunduk kepadaMu dan jadikanlah juga anak kami, umat yang tunduk, patuh kepada-Mu dan tunjukanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.
Ibadah murni (muhdhah) secara umum dan ibadah haji khususnya, adalah aktivitas pendekatan diri kepada Allah swt, yang ditentukan langsung waktu, kadar, dan caranya oleh Allah swt dan sampaikanlah oleh Rasulnya. Tidak ada peranan akal dalam hal ibadah itu, kecuali mencari hikmahnya. Kalau hikmah itu ditemukan, kita bersyukur. Kalau tidak, ia tetap harus dilaksanakan sesuai petunjuk yang diterima itu. Nabi Ibrahim as memohon agar di tunjukan cara-cara dan tempat ibadah haji, serta ibadah-ibadah lainnya, dan Allah mengabulkan doa beliau. Dalam konteks itu juga, Rasul saw bersabda tentang haji,”Ambilah melalui aku menasik kalian”, yakni tata cara, waktu, dan tempat-tempat melaksanakan ibadah haji.
Setelah memohon untuk ditunjukan manasik, Nabi Ibrahim melanjtkan doa beliau: Dan terimalah taubat kami atau ilhami jiwa kami dengan kesadaran akan kesalahan, penyesalan, dan tekad untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahan kami. Perhatkan bagaimana Nabi suci itu memohon taubat setelah memohon ditunjukan cara-cara beribadah. Memang, demikianlah sewajarnya. Walaupun ibadah telah dilaksanakan, namun taubat masih harus terus dimohonkan., karena siapa tahu ibadah tersebut tidak sempurna rukun dan syaratnya, bahkan boleh jadi, ia disertai riya’ dan pamrih. Bukan hanya taubat yang beliau mohonkan, tetapi juga rahmat-Nya. Lihatlah bagaimana beliau mengakhiri permohonan beliau disni, dengan menyatakan : Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi, atau Penerima taubat. Ya Allah, Engkau berulang-ulang memberi dan mengilhami manusia kesadaran untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka setelah kesadaran tersebut mereka buktikan dengan penyesalan, serta permohonan ampun, yang disertai dengan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan.
Sifat Allah, Maha Penerima taubat atau Pemberi taubat, dirangkaikan oleh Nabi Ibrahim dengan sifat Maha Pengasih, sehingga akhirnya doa beliau yang diucapkan disini bermakna , terimalah taubat kami dan rahmatilah kami, karena Sesungguhnya Engkau Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.[4]

C.    Aplikasi dalam kehidupan
1.     Kita harus berusaha untuk menjadi pribadi yang selalu berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, dan juga menyakini bahwa nantinya akan ada hari kiamat atau pembalasan’
2.     Menyakini bahwa setelah hidup di dunia masih ada kehidupan yang selanjutnya yaitu di alam kubur dan alam akhirat.
3.     Sebagai seorang muslim kita harus  memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
4.     Memperbanyak berbuat kebaikan karena nantinya akan mendapatkan pembalasan di hari pembalasan nanti.
5.     Senang berbuat baik terhadap diri sendiri dan orang lain serta alam sekitarnya sebagai bukti dari keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.
6.     Di dalam perkuliahan harus brlomba-lomba dalam kebaikan, misalnya dalam belajar, dalam mengerjakan ulangan dengan jujur, sehingga kita bisa mendapatkan nilai yang terbaik dan memuaskan.

D.    Aspek Tarbawi
1.     Setiap umat pasti mempunyai atau memiliki kiblat yang berbeda-beda, kiblat umat islam adalah Ka’bah dimana kiblat ini merupakan lambnag untuk persatuan umat.
2.     Agama atau umat yang ada di dunia ini bermacam-macam, tetapi semua agama tersebut pasti memiliki ajaran yang mengajak ke arah kebenaran dan juga kebaikan.
3.     Sebagai umat Islam kita harus memiliki sikap yang rajin, bersunguh-sungguh, giat, beramal dan berlomba-lomba dalam mengerjakan suatu kebaikan atau amal shalih, karena kebaikan ini adalah bekal kita untuk di akhirat nanti.
4.     Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mengumpulkan kita semua di Yaumul Akhir nanti untuk mendapatkan balasan atas apa yang telah kita kerjakan selama hidup di dunia ini.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Perkataan Din mengacu kepada makna yang menunjukan hubungan timbal balik antara dua pihak. Pihak pertama sebagai pihak yang pada dirinya memiliki unsur perintah kekuasaan dan hukum, sedangkan pihak kedua sebagai pihak yang pada dirinya terdapat sikap yang merendahkan diri dan tunduk. Apabila dillihat dari ikatan antara kedua pihak, maka ia menunjukan adanya unsur undang-undang yang mengatur hubungan diantara. Seperti diketahui melalui penjelasan Tuhan, manusia telah dilengkapi dengan seperangkat potensi anugerah Allah dianataranya alat indra dan akal. Dengan indra dan akal ini manusia melakukan eksperimen, pengamatan, dan penelitian, sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dalam bentuk teori dan hukum-hukum. Meskipun demikian, karena keterbatasan kemampuan indra dan akal, manusia masih menemukan tantangan-tantangan, sehingga tidak semua permasalahan yang dihadapi dapat terjawab. Namun demikian manusia tetap saja berupaya untuk menemukan jawaban terhadap setiap permasalahan yang dijumpainya. Untuk menjawab berbagai permasalahan dan problema yang muncul di tengah-tengah kehidupan, manusia memerlukan pedoman, baik secara global maupun secara rinci yang dapat dijadikan pedoman . pedoman yang dimaksud adalah aturan, undang-undang, dan hukum yang terhimpun dalam din.




DAFTAR PUSTAKA

Hamka. Tafsir Al-Azhar.1967. Pekalongan: Yayasan Nurul Islam.
Muchtar, Aflatun. Tunduk Kepada Allah. 2001. Jakarta: Khasanah Baru.
Musthafa, Syeh Ahmad. Tafsir Al-Maraghi. 1985. Yogyakarta: Sumber Ilmu.
Shihab, M.Quraish. Tafsir Al-Misbah. 2000. Jakarta: Lentera Hati.















PROFIL PENULIS

Nama                          : SULASMI
NIM                            : 2021115166
TTL                             : Pemalang
Alamat                        : Ds.Kendaldoyong, Dk.Pilangjati, Kec.Petarukan,
  Kab.Pemalang, Rt.007/Rw.003 No.17
Riwayat pendidikan    : SD Negeri 5 Kendaldoyong
                                      SMP Negeri 4 Panjunan
                                      SMK Islam Al-Khoiriyah Petarukan
                                      IAIN Pekalongan -Sekarang


[1] Aflatun Muchtar, Tunduk Kepada Allah(Jakarta: KHASANAH BARU: 2001), hlm.217-228
[2] Hamka, Tafsir Al-Azhar(Pekalongan: Yayasan Nurul Islam,1967).hlm.402-405
[3] Syeh Ahmad Musthafa, Tafsir  Al-Maraghi (Yogyakarta:SUMBER ILMU, 1985), hlm.240-242
[4] M.Quraish shihab, Tafsir Al-Misbah(Jakarta: Lentera Hati, 2000), hlm. 325-326


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar