Laman

Minggu, 20 November 2016

tt1 D 11d “METODE ARGUMENTATIF” QS. Al-BAQARAH AYAT 258

METODE PENDIDIKAN UMUM
“METODE ARGUMENTATIF”
QS. Al-BAQARAH AYAT 258


Ririn Widayanti  2021115307
KELAS : D

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
            Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi robbil alamin,  puji syukur saya panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan beribu-ribu kenikmatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metode Pendidikan Umum” dengan tema ‘Metode Argumentatif’. Dan alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita dapat berkumpul, bermuajahah bersama guna memusyawarahkannya.
            Sholawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, sosok sempurna yang membawa peradaban besar pada agama kita, yaitu nabi agung Muhammad SAW. Semoga  kita mendapat syafa’atnya besok di hari kiamat. Amin.
            Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua rekan yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat pada waktunya tanpa adanya rintangan yang begitu berarti. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, tetapi saya mengharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan untuk semua kalangan yang membaca. Dan guna memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya, saya mengharap kritik dan saran yang membangaun dari Anda semua.
            Akhir kata, semoga kita mendapat ilmu yang berkah dan di ridhoi oleh Allah swt. serta di beri cahaya kemudahan dalam mencari ilmu. Amin.
            Wassallamualaikum Wr. Wb.







Pekalongan, Nopember 2016

Ririn Widayanti

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Allah dalam Qur’an –Nya telah banyak menceritakan kepada kita tentang berita para rasul yang terdahulu. Dimana dengan berita-berita tersebut jelaslah segala hakikat, bukti-bukti nyata yang beraneka ragam akan tegak membela tauhid. Allah dalam ayat ini mengambarkan tentang kekasihNya, Ibrahim as., dimana ia mendebat raja yang dzalim yaitu Namrud al-Babali yang meniadakan dan mengingkari adanya Robb. Namrud telah terpedaya oleh kekuasaan nya dan tersesat hingga akhirnya ia meniadakan Allah. Lalu ia mendebat Nabi Ibrahim, yang oleh Allah Ibrahim telah diberi ilmu yang mana tidak pernah Allah kasih untuk orang orang yang dzalim.

B.    Judul
Metode Pendidikan Umum “Metode Argumentatif” (Q.S Al-Baqoroh ayat 258)

C.    Nash dan Tarjamah Q.S. Al-Baqarah ayat 258

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٢٥٨)

258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

D.    Arti Penting untuk Dikaji
Ayat ini sangat perlu dikaji oleh semua kalangan orang islam karena didalamnya terkandung pesan bahwa kita tidak boleh sombong terhadap apa yang kita punya. Terlebih menganggap diri lebih ungul dari pada Tuhan.  Karena sesungguhnya apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah swt semata. Dan dalam ayat ini pula kita dianjurkan untuk senantiasa berfikir dan berargumen yang baik terhadap siapapun.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori dari buku
B.      Tafsir
1.     Tafsir Ibnu Katsir
Orang yang mendebat nabi Ibrahim adalah raja Babilonia yang bernama Namrud bin Kan’an bin Kausy bin Sam bin Nuh. Maksud firman Allah “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrohim tentang Tuhannya.” Adalah ihwal keberadaan Tuhannya. Hal itu karena Namrud menolak tuhan lain selain dirinya. Hal yang mendorong ia bersikap demikian adalah kesombongan dan keinginan bertahta dalam kerajaannya selama mungkin. Oleh karena itu Allah berfirman “karena Allah telah memberikan kepada orang itu kerajaan”. Dia meminta Ibrahim mengemukakan sebuah dalil yang menunjukkan keberadaan tehan yang disembahnya. Maka Ibrahim berkata “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan” yakni, Dialah yang mengadakan semua perkara dari tidak ada, dan meniadakan setelah ada. Hal itu menunjukkan pada pentingnya keberadaan pelaku terpilih, karena perkara-perkara itu tidak ada dengan sendirinya. Ia mesti memerlukan pihak yang mengadakan, yaitu Robb yang saya serukan untuk disembah secara tauhid, tanpa sekutu bagi-Nya. maka Namrud berkata, “saya pun dapat menghidupkan menmematikan.” Dia menampilkan dua orang yang mendapat hukuman mati. Namrud menyuruh membunuh yang satu dan memaafkan yang satunya lagi agar tidak dibunuh. Inilah yang katakan oleh Qatadah.
      Yang jelas, dan Allah Maha tahu, tindakan yang demikian bukanlah yang dimaksud namrud, sebab ia bukan merupakan jawaban bagi pertannyaan Ibrahim. Namun yang dimaksud Namrud adalah keinginan untuk dipanggil tuhan  karena ingkar dan takabur, dan menduga bahwa ia dapat melakukan hal itu, bahwa dialah yang dapat menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu Ibrahim berkata “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Yakni, jika kamu dapat menghidupkan dan mematikan, maka yang dapat menghidupkan dan mematikan itulah yang mengatur segala yang ada,menciptakan wujudnya, menaklukkan planet-planet berikut peredarannya dan matahari itu adalah sebagian kecil dari sejumlah makhluk. Setiap hari matahari terbit dari dari timur. Jika kamu sebagai tuhan sama seperti yang kamu katakan, maka terbitkanlah matahari dari barat.” Setelah menyadari ketidakberdayaannya dan tumbangnya kesombongan dirinya, Namrud diam membisu. Kemudian dilancarkanlah hujjah kepadanya, “dan Allah tidak akan memberi petunjuk  kepada orang-orang yang dzalim”, artinya Allah tidak kan memberitahukan hujjah dan alasan kepadanya, justru hujjah mereka dilumpuhkan, ditimpa kemurkaan, dan bagi mereka adzab yang hebat.

      Pendapat para ahli logika yang mengatakan bahwa susungguhnya perpindahan Ibrahim dari maqam pertama kepada maqam yang kedua merupakan perpindahan dari dalil  satu kedalil lain yang lebih jelas tidaklah tepat. Justru, maqam pertama itu sebagai premis bagi maqam kedua, dan disebabkan tidak validnya pernyataan Namrud yang pertama dan kedua. Kepunyyaan Allah lah segalu puji dan karunia.
      Walaupun Namrud sudah tidak berkutik, dia tetap saja ingkar dan tidak iman kepada Allah yang menghidupkan dan mematikan.  Oleh karenanya, Allah mengirim siksaan nyamuk kepada dirinya dan kaumnya sehingga mereka tidak dapat melihat matahari. Allah mengutus nyamuk itu untuk melahap daging dan menyedot darah mereka serta menyisakannya sebagian tulang yang rapuh. Salah satu nyamuk itu masuk ke lubang hidung Namrud. Lalu Namrud memukuli kepalanya dengan linggis selama beberapa waktu hingga Allah membinasakannya.[1]

2.     Tafsir Jalalain
... (Tidakkah kamu perhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya.) -.... (disebabkan dia diberi Allah kerajaan) maksudnya raja Namrud, yang karena telah berkuasa hendak menyangkal karunia Allah kepadanya.-... (yakni-ketika)  menjadi baddal dari hajja - .... (Ibrahim berkata)
Ketika Namrud menanyakan kepadanya: “siapakah Tuhanmu yang kamu seru kami  kepada-Nya itu?”-... (Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan”) maksudnya menciptakan kehidupan dan kematian didalam tubuh.-... (katanya)  kata Namrud. -... (sayalah yang menghidupkan dan yang mematikan). Yakni dengan membeuhun dan memaafkan, lalu dipanggilnyalah dua orang laki-laki, yang seorang dibunuhnya sedang yang seorang lagi dibiarkannya. Maka tatkala dilihatnya raja itu seorang yan tolol, -... (Ibrahim berkata)  sambi meningkat kepada alasan yang lebih jelas lagi: -(sesungguhnya Allah menerbitkan matahari darei timur, maka terbitkanlah) olehmu-... (dari barat. Karena itu binggung dan terdiamlah orang kafir itu.) tidak dapat memberikan jawaban atau dalih lagi-... (dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang aniaya) karena kekafirannya, yakni petunjuk kejalan hidayah. [2]

3.     Tafsir Al-Misbah
seorang penguasa yang konon bernama Namrud terpedaya oleh kekuasaannya. Kekuasaan yang dimilikinya  menjadikannya merasa wajar menjadi tuhan atau menyaingi tuhan. Memang, kekuasaan sering kalimenjadikan orang lupa diri dan melupakan tuhan. Maka ia mendebat Nabi Ibrohim tentang Tuhan. Tidak dijelaskan dalam ayat ini, bagaimana awal perdebatan. Yang dijelaskan adalah sekelumit dari perdebatan itu.
     Kata Hajja menunjukkan adanya dua pihak yang saling berdebat. Memang perdebatan itu tidak dapat terjadi sepihak. Tetapi karena yang memulai perdebatan itu adalah sang penguasa itu, maka ayat ini mengisyaratkan bahwa ia yang mendebat Ibrahim as. Agaknya ia bermaksud membuktikan “kekeliruan” Nabi Ibrahim menyembah Allah. Maka untuk tujuan itu-bukan untuk mengetahui- dia bertanya “Siapa Tuhanmu, apa kemampuanNya? Maka Ibrahim menjawab, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.” Yakni Dia yang mewujudkan sesuatu lalu menganugerahkan ruh kepada nya sehingga ia mampu bergerak, merasa, tahu, dan tumbuh. Dia juga yang mencabut potensi it. Penguasa itu berkata, “saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Tentu saja yang dimaksud ialah membatalkan hukuman mati atas seseorang sehingga hidupnya dapat berlanjut dan membunuhnya sehingga ia mati.
Sungguh berbeda apa yang dimaksud oleh Nabi Ibrahim dengan jawaban atau kemampuan orang itu. Manusia betapapun kemampuannya, ia tidak dapat memberi hidup. Disisi lain, sungguh berbeda hakikat mematikan dengan hakikat membunuh. Tidak seorang pun dapat menangkal kematian bila tiba, tetapi Allah dapat menghalangi kematian orang yang akan dibunuh, bila Allah belum menghendaki kematiannya. Jawaban sang penguasa tidak pada tempatnya. Ia memang tidak bermaksud mengetahui, karena itu, tidak ada gunanya menlanjutrkan diskusi tentang kekuasaan memberi hidup dan mencabutnya. Dari sini, Allah mengilhami nabi Ibrahim ucapan yang tidak dapat dipermainkan atau diselewwngkan, dan pada saat yang sama, ucapan tersebut berkaitan dengan jawaban penguasa itu, serta tujuan yang ingin dibuktikan oleh nabi Ibrahim as. Beliau berkata,”kalau engkau merasa menyamai Tuhan dalam kemampuanmu dan merasa wajar dipertuhankan, maka sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.”
Disini, sang penguasa tidak dapat menjawab, karena memang dia tidak memiliki kemampuan itu. Lalu heran terdiamlah orang kafir itu,  begitulah terjemah diatas dari kata buhitta. Kata ini oleh sementara pakar diartikan sebagai “keberadaan sesuatu dengan keadaan dan bentuknya, tidak mengalami perubahan disebabkan oleh sesuatu yang menguasai jiwanya.” Asy-Sya’rawi mengemukakan tiga fase yang dilalui seseorang sebelum sampai kepada paham yang dilukiskan oleh kata buhutta. Fase pertama adalah tercengang dan heran; fase kedua adalah binggung bagaimana mengahadapinya; dan pada fase ketiga kegagalan menghadapinya sehingga mau atau tidak mau terpaksa mengakui kegagalan.
Dengan ucapan ini nabi Ibrahim as. Membuktikan bahwa penguasa itu, jangankan menghidupkan, yakni mewujudkan sesuatu lalu menganugerahkan ruh kepadanya sehingga ia mampu bergerak, merasa, tahu dan tumbuh. Jangankan demikian mengalihkan sesuatu yang telah wujudpun dari arah yang ditetapkan Allah ke arah lain, penguasa itu tak mampu. Ia tidak diminta menciptakan matahari, ia hanya diminta untuk mengalihkan arah terbitnya  matahari yang selama ini dari timu ke barat menjadi dari barat ke timur.[3]

C.    Aplikasi dalam kehidupan
Bahwasanya kita sebagai makhluk yang terlahir sempurna dengan akal fikiran, nafsu, rasa dan lain sebagainya. Seyogyanya kita selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki bukan malah menyombongkan diri dan senantiasa bersikap tawadlu’. Senantiasa berargumen yang baik.

D.    Aspek Tarbawi
Dari surat al-baqarah ayat 258 ini pelajaran yang dapat dipetik ialah:
1.     Meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, tiada tuhan selain Allah
2.     Seberapa banyak harta yang dimiliki tidak menjadikan kita lalai dan sombong.
3.     Senantiasa merendah diri dihadapan Allah
4.     Senantiasa berargumen yang baik
5.     Senantiasa berjalan diarah kebaikan,



BAB III
KESIMPULAN
























Biodata Penulis

Nama :            Ririn Widayanti

Alamat :          Gelaran, Kutoanyar, Kedu, kab. Temanggung, Jawa Tengah

TTL :               Temanggung, 20 Agustus 1996

Riwayat Pendidikan:
                        -RA. Al-Huda Kutoanyar
                        -MI Al-Huda Kutoanyar
                        -MTs Negeri Kedu
                        -MA Negeri Temanggung
                        -IAIN Pekalongan (masih dalam proses)




[1] Ibnu Katsir, Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir, cet.VIII (Jakarta:Gema Insani, 2005), hlm.431-432
[2] Imam Jalaluddin As-Syuyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain, cet.VII (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), hlm.142-143
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, cet I (Bandung:Lentera Hati,2000), hlm.519-521

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar