Laman

Sabtu, 15 Oktober 2011

Mempertahankan Kebudayaan Islami Dalam Pergaulan Antara Muslim-muslimat di STAIN Pekalongan

Edward Muslim
NIM  ; 2021111236
 
  
Pada zaman globalisasi ini tidaklah mustahil apabila seorang laki-laki dan perempuan berkumpul dalam satu majlis yang sama. Kebudayaan bangsa Indonesia yang ketimur-timuran kini sudah mulai terpengaruh dengan kebudayaan barat yang jauh berbeda dengan kebudayaan timur tengah yang selama ini kita anut. Negara-negara yang berpotensi memberikan pengaruh kepada negara-negara lain adalah negara yang sudah maju dalam segala bidang.Pengaruh-pengaruh itu dapat melalui media-media,seperti ;televisi,internet dan tourist-touist yang berkunjung kesebuah negara. Mereka memasukkan (menkombinasikan) antara budaya mereka dengan produk-produknya yang diekspor ke berbagai negara,termsuk Indonesia, seperti game dan film produksi asing yang diisi dengan sedikit hal-hal yang berbau prnografi, dan ini sangat mempengaruhi anak-anak yang memainkan atu menonton film dan game tersebut, lebih-lebih terhadap kejiwan dan moral mereka. Kalau misalkan sejak usia 6-15 tahun sudah terpengruh dengan hal-hal  tersebut bagaimana keadaan moral merek ketik sudah dewasa ,mungkin mereka akan merasa bisa saja saat memekai pakaian yang kurang menutup aurat.
Di Indonesia kebudayaan barat sudah meluas, terutam di kota-kota besar yang mayoritas penduduknya mengikuti trend barat. Sudah sepatutnya sebagai umat muslim yang taat memfilter (menyaring) semua kebudayaan asing yang masuk ke kebudayaan kita dengan berpedooman kepada Al-Quran dan Hadits. Kita sebagai mahasiswa STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negri) Pekalongans sudah seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai islami sebagai acuan bergaul terhadap sesama umat muslim baik di kampus maupun di lingkungan masyarakat.
Saya menyadari di kampus STAIN pun sudah mulai terpengaruh terhadap kebudayaan negatif yang merupakan sebuah tuntutan zaman yang sulit untuk ditolak. Kita memeng sulit menolak hal tersebut ,akan tetapi setidaknya kita dapat mengurangi hal-hal negatif yang dapat merusak moral kita.Salah satu contoh pengaruh negatif yang masuk ke kampus STAIN adalah bercampurnya mahasiswa dan mahasiswi dalam satu ruangan, sistem belajar ini berbeda dengan sistem belajar pada zaman dulu ( 1976, zaman orang tua saya ). Pada zaman dulu laki-laki dan perempuan selalu terpisah dan jarang bertemu. Pergaulan pada zaman dulu juga sangat jauh dengan sekarang, apabila ada seorang laki-laki dan kemudian seorang perempuan berjalan di depan laki-laki tersebut maka si perempuan akan menundukkan kepala dan memperkecil (sirri) suara berbicaranya. Namun nampaknya hal seperti itu sudah mulai hilang, hanya sedikit yang masih mempertahankan adab tersebut. Ini menunjukkan bahwa moralitas bangsa sudah mulai terpuruk kedalam jurang kemunduran.
Namun saya kira STAIN Pekalongan dapat menjadi contoh bagi Universits-universitas lain dalam hal berbusana dan cara bergaul mereka ,mahasiswa/i STAIN selalu menutup aurat mereka dengan baik selama mereka studi di sana. Cara bergaulnya pun cukup sederhana dan tidak melampaui batas kewajaran sebagai mahasiswa/i STAIN Pekalongan.Oleh karena itu kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar terhadap perubahan masa depan bangsa dengan memberikan perubahan moral yang lebih baik kepada individu di sekitar kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar