Laman

Jumat, 27 Februari 2015

F-3-12 : Reza Oktaviana Safitri



 “Keluarga sebagai Madrasah” 
Mata kuliah : Hadis Tarbawi II
 
Disusun oleh:

Reza Oktaviana Safitri    (2021113161)

Kelas : F


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015













PENDAHULUAN
                Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang diperoleh anak dalam memberikan pendidikan pendidikan agama, dalam keluarga anak diberi bimbingan dan bimbingan ini merupakan bimbingan pertama yang diperoleh anak. Pendidikan seorang anak banyak diterima dalam lingkungan keluarga, karna sebagian keseharian anak ada dalam keluarga, dalam hal ini orang tua dapat memposisikan dirinya sebagai guru(pendidik).
                Keluarga dapat dijadikan sebagai madrasah bagi anak sebagai pengganti sekolah, kelurga mengajarkan tentang pendidikan yang berkaitan dengan norma, moral, dasar-dasar keagamaan dan pendidikan keimanan.





















                                                                PEMBAHASAN
1.                   Pengertian keluarga sebagai madrasah
Keluarga ditinjau dari aspek kebahasaan, di dalam bahasa inggris menurut HW Fowler kata “Keluarga”adalah “family” yang berasal dari kata “familier” yang berati dikenal dengan baik atau terkenal. Selanjutnya kata Family tidak terbatas pada keluarga manusia saja, akan tetapi membentang dan meluas sehingga meliputi setiap anggotanya untuk saling mengenal. Terkadang pula makna keluarga meluas sehingga ia benra-benar keluarga dalam arti lusa, yaitu sekumpulan umat dan negara yang berdekatan.
Sementara itu kata keluarga dalam bahasa arab adalah “al-usrab” yang merupakan kata jadian dari “al-asru”. Secara etimologis berarti ikatan(al-qaid). Al-Razi mengatakan “al-asru”maknanya mengikat dengan tali.
Dengan demikian, keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari subsistem yang berhubungan dan saling mempengarui satu sama lain, subsistem dalam keluarga adalah fungsi-fungsi hubungan antar anggota keluarga yang ada dalam keluarga.[1]
Sedangkan kata madrasah merupakan terjemahan dari istilah sekolah dalam bahasa arab, namun konotasi madrasah dalam hal ini bukan pada pengertian etimologi tersebut, melainkan pada kualifikasinya.[2] Madrasah adalah salah satu jenis yang lain dari lembaga pendidikan tinggi.[3]
Sekolah(madrasah) berfungsi sebagai pelengkap pendidikan dalam keluarga, karena pendidikan anak dimulai di dalam buaian orang tuanya, di sini anak mendapatkan pendidikan tentang dasar pendidikan bahasa, konsep kehidupan sosial serta situasi kehidupan. Disamping itu, keduanya memeberikan pendidikan dasar keimanan yang benar.[4]
Pendidikan islam atau madrasah sangat penting sebab dengan pendidikan islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perekembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama islam. Pendidikan agama islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan islam merupakan  merupakan dasar yang  menentukan untuk pendidikan selanjutnya.[5]
Pendidkikan anak diawali dari keluarga atau rumah yang nyatanya rumah adalah sebuah madrasah pertama bagi anak-anak sebelum mereka terjun ke dunia pendidikan yang lain.

2.                   Teori Pendukung
Menurut john locke (1985) mengemukakan, posisi pertama dalam mendidik seseorang individu terletak pada keluarga. Melalui konsep “tabula rasa”, john locke menjelaskan, bahwa individu adalah ibarat sebuah kertas yang bentuk dan coraknya tergantung kepada orang tua(keluarga) bagaimana mengisi kertas kosong tesebut sejak bayi. Melalui pengasuhan, perawatan, dan pengawasan yang terus menerus, diri serta kepribadian anak dibentuk. Dengan nalurinya bukan dengan teori, orang tua mendidik dan membina keluarga.
Dadang hawari menyatakan bahwa tumbuh kembang anak secara kejiwaan(mental intelektual dan mental emosional) yaitu, IQ dan EQ, amat dipengarui oleh sikap, cara, dan kepribadian orang tua dalam memelihara, mengasuh dan mendidik anaknya. Sebab, dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi proses imitasi dan identifikasi anak terhadap kedua orang tuanya.[6]
3.                   Hadis Tentang Keluarga Sebagai Madrasah
berikut hadis tentang keluarga sebagai madrasa:

- عثمان بن الأرقم انه كان يقول : (أنا ابن سبع الإسلام، اسلم أبي سابع سبعة وكانت داره على الصفا وهي الدارالتي كان النبي صلى الله عليه وسلم يكون فيها في الإسلام وفيها دعا الناس إلى الإسلام)(رواه الحاكم في المستدرك، باب ذكرالأرقم بن أبي الأرقم المخزومي رضي الله عنه)
Terjemahan:

Ustman bin Arqam berkata: saya masuk Islam usia tujuh tahun, ayah saya orang yg ke tujuh masuk Islam. Rumahnya di tanah safa dan rumah itu pernah di tempati oleh Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah dan berdo’a kepada manusia untuk masuk Islam. (HR. Al- Hakim).

Keterangan hadis:
Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa Ustman bin Abi Arqam telah masuk islam pada usia 7 tahun, ayahnya terlebih dahulu masuk islam dan termasuk golongan assabiqunal awwalun (orang yang mula-mula masuk islam), merupakan orang yang ke tujuh dari jumlah orang tujuh tersebut. Rumahnya terletak di daerah Safa, dan di rumah tersebut Rasulullah pernah menempati di dalamnya untuk berdakwah atau mengajak manusia untuk masuk Islam dan di rumah itu banyak orang yang masuk Islam. Rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulullah Saw. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan disana. Akhirnya rumah Al-Arqam yang sebelumnya disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam), setelah dia memeluk Islam  disebut dengan Dar al-Islam (Rumah Islam).[7]

4.                   Aplikasi dalam kehidupan
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, dengan demikian bentuk pertama pendidikan terdapat dalam kelurga yakni para orang tua.
Pendidikan dan pembinaan mengenai dasar-dasar moral, tabiat yang harus dimiliki oleh seorang anak sejak anak masih kecil, hingga dewasa atau mukallaf. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAWa, berkata, “dekatilah anak-anakmudan didiklah serta binalah akhlak-akhlaknya.” Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku. Pendidikan dan pembinaan akhlak dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua. Contoh yang terdapat pada perilaku dan sopan santun orang tua dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakuan orang tua terhadap anak-anak mereka dan perlakuan orang tua terhadap orang lain di dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Betapa besar pengaruh contoh dan perilaku orang tua pada anak, terlebih bagi anak yang usia 3-5 tahun. Perkataan, cara bicara, dan perilaku lain, juga cara mengungkapkan marah, gembira, sedih dan lain-laindipelajari pula dari orang tuanya. Maka dari itu, akhlak, sopan santun dan cara menghadapi orang tuanya banyak bergantung pada sikap orang tua.[8]


                                                                                                     




5.Aspek Tarbawi
1.                   Keluraga( orang tua) dapat memposisikan diri sebagai pendidik(guru)
2.                   Posisi pertama dalam mendidk anak adalah dalam lingkungan keluarga
3.                   Keluarga sebagai madrasah digunakan untuk menanamkan dasar pendidikan moral dan memberikan dasar keagamaan
4.                   Keluarga dijadikan sebagai wahana pendidikan luar yang paling ampuh dalam pendidikan agama(madrasah).
5.                   Peran orang orang tua dalam mendidik anak sangat berpengaruh pada perkembangan anak.























PENUTUP
Kesimpulan
                Pada hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga merupakan lembaga pertama yang diperoleh anak untuk mengajarkan pendidikan moral dan dasar-dasar keagamaan, kelurga wajib membimbing, mendidik, dan memelihara anak agar menjadi dewasa yang baik. Setiap perbuatan, tingkah laku kelurga dijadikan acuan oleh anak, sehingga dalam kelurga harus memberikan pendidikan-pendidikan yang baik. Keluarga menjadi madrasah pertama sebelum anak lahir di dunia.






















DAFTAR PUSTAKA
              Mahmud, Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga, Jakarta:Akademia permata, 2013
              Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,  Penerbit Erlangga
              An-Nahlawi abdurrahman, prinsip-prinsip dan metoda pendidikan islam  dalamkeluarga, di sekolah dan di madrasah, Bandung:CV di ponegoro, 1996
              Fahmi Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan   Bintang, 1979
              Majid Abdul, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004




















[1]Mahmud, Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga, (Jakarta:Akademia permata, 2013), hlm 127-128
[2]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, ( Penerbit Erlangga), hlm 79
[3]Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm 40
[4]Abdurrahman An-Nahlawi, prinsip-prinsip dan metoda pendidikan islam  dalamkeluarga, di sekolah dan di madrasah, (Bandung:CV di ponegoro, 1996), hlm 227
[5] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm139
[6]Mahmud , Op. Cit, hlm 133-135
[8]Mahmud, Op. Cit, hlm 137

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar