Laman

Minggu, 16 Oktober 2011

PENDIDIKAN DARI HATI KE HATI


Nama : Nadya Kamilia
NIM  :  202 109 035


PENDIDIKAN DARI HATI KE HATI

            Pendidikan bagi saya merupakan kebutuhan yang sangat primer bagi setiap manusia. Numun, pada kenyataannya pendidikan belum dapat dirasakan oleh semua anak di  negeri ini, baik karena mereka yang kurang dari segi finansial ataupun mereka yang kurang dari segi kecerdasan. Hal ini sangat ironis sekali melihat bahwa pembukkan undang-undang dasar negara kita mencantumkan ‘pemerintahan Negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa..’
            Pendidikan-pendidikan kovensional yang ada saat ini mengorientasikan tujuannya kepada value atau nilai. Nilai disini bisa kita artian niai daam rapor ataupun niai di dari segi finansial. Sehingga terkesan merea yang memiliki IQ yang tinggi dan uang yang banyak yang berhak memperoleh pendidikan yang baik. Buankash semua berhak memperoleh pendidikan?
            Pendidikan impian saya adalah pendidikan yang tidak hanya mengidolakan nilai yang terpampang di dalam rapor. Di mana orang tua ataupun guru akan merasa bangga ketika nilai peserta didik mencapai target yang mereka harapkan. Akan tetapi, dengan adanya hal ini peserta didik cenderung menghalalkan segala cara agar dapat menyenangkan hati orang tua dan guru mereka, dan tentu saja untuk menyelamatkan gengsi mereka.
Pendidikan  seharusnya tidak hanya sekadar nilai yang terpampang dirapor saja, atau bisa kita sebut sebagai pencapaian aspek kognitif saja. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika pendidikan juga dapat membidik dua aspek yang lain yaitu aspek afektif dan psikomotorik. Aspek afektif merupakan sikap yang mana di dalam pendidikan siswa diajarkan untuk dapat menentukan sikap mereka di dalam menghadapi suatu hal atau suatu permasalah dengan berbagai pertimbangan. Kemudian melalui aspek psikomotorik siswa diharapkan memiiki skill yang baik.
            Pendidikan masa kini seharusnya pendidikan yang dapat mengkaver semua potensi-potensi yang dimiliki siswa. Sebagai seorang guru alangah lebih indah jika menggunakan pendekatan-pendekatan yang variatif sehingga tidak terkesan kaku dan akan lebih dinamis dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik dapat mencapai perkembangan sesuai pada waktunya. Misalnya saja pada waktu tertentu saat diperlukan untuk menggunaan pendekatan kelompok dan dilain waktu mungin menggunkan pendekatan individual.
            Dalam proses belajar mengajar juga diperukan subuah catatan pribadi yang dimiiki guru untuk mencatat perkembangan anak, sekecil apapun perubahan tersebut peru untuk dicatat dan menjadi perhatian guru. Peserta didik akan merasa senang ketika ia diperhatikan oleh gurunya karena sifat alamiah manusia akan merasa senang ketika ia diperhatikan. Hal ini akan membuat peserta didik lebih termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar.
            Ketika seorang guru menganggap semua muridnya memiliki kemampuan yang sama. Padahal, setiap individu memiliki kemampuannya masing-masing, tidak selalu lebih dan tidak selalu kurang. Guru yang bijak akan membantu peserta didiknya yang kesulitan dalam belajar, dan memberii dorongan kepada peserta didiknya yang berprestatasi.
            Sebuah pengalaman pribadi saya ketika saya merasa dipermalukan oleh guru saya karena keterbatasan saya dalam mata pelajaran tertentu, membuat saya down dan tidak memiliki kepercayaan diri terhadap mata pelajaran tersebut. Hal itu berimbas pada motivasi belajar saya terhadap mata pelajaran tersebut. Saya menjadi acuh tak acuh terhadap mata pelajaran tersebut. Dan tentu saja saya sangat dirugikan karena hal tersebut.
            Dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi pendidik tidak hanya bertugas untuk menyampaikan materi dan selanjutnya terserah anda, tetapi guru memiliki tugas mulia untuk membimbing peserta didiknya dalam mencapai tujuan pembeajaran. Baik secara ilmu pengetahuan maupun akhlak peserta didik.
            Pendidikan yang dilakukan dari hati ke hati akan membawa dampak yang hebat di dalam diri peserta didik. Mereka akan merasa enjoy dalam setiap pertemuan pembelajaran, mereka tidak akan merasa didikte harus mengikuti semua perintah guru dan ketika perintah itu tidak dilaksanakan maka bersiap-siaplah menerima eksekusi.
            Guru memang manusia, biasa yang memiliki keterbatasan dan tingkat kesabaran yang terbatas. Namun demikian, akan sangat indah ketika guru selalu belajar memahami keanekaragaman perilaku peserta didiknya dan dari segala sesuatu yang ia temui di lingkungannya. Untuk memberikan yang terbaik demi tugas mulia mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar