Laman

Senin, 17 Oktober 2011

pendidikan membentuk manusia seutuhnya: jasmani dan rohani.


Tri Puji Agustina
202 109 048

Meaningful Education

            Dunia pendidikan adalah dunia guru, rumah rehabilitasi peserta didik. Dengan sengaja guru berupaya mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mengeluarkan peserta didik dari terali kebodohan. Sekolah sebagai tempat pengabdian adalah bingkai perjuangan guru dalam keluhuran akal budi untuk mewariskan nilai-nilai ilahiyah dan mentransformasikan multinorma keselamatan duniawi dan ukhrawi kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia cerdas, kreatif, dan mandiri serta berguna bagi pembangunan bangsa dan negara.
            Pendidikan adalah proses kompleks yang ditujukan untuk membantu manusia menemukan “makna” dalam kehidupan. “Makna” atau hakikat itu merupakan spirit yang bisa mendorong manusia menuju kehidupan yang berguna, mantap, serta kehidupan yang penuh arti (maningful life).
            Idealnya pendidikan harus mampu memberikan jalan keluar bagi berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa. Namun realitas yang nyata-nyata dirasakan masyarakat adalah tumpulnya kekuatan dari lini tersebut. Pendidikan belum bisa menjadi ujung tombak yaang menyentuh permasalahan inti yang dihadapi masyarakat.
            Banyak faktor yang menyebabkan pendidikan itu kurang memberikan makna bagi peserta didik, salah satunya adalah hampir semua instansi pendidikan yang ada di negeri ini, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi sekalipun lebih mementingkan penilaian kognitifnya saja, bukan dari aspek afektif maupun psikomotoriknya. Akibatnya, generasi yang terbentuk dari pendidikan ini adalah generasi yang hanya mencari “nilai” atau skor secara nominal saja, bukan generasi yang dewasa secara intelektual, emosional, ataupun spiritualnya.
            Guru yang tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga pendidik dan pembelajar, seharusnya bisa mentransferkan esensi nilai atau makna dari setiap proses pembelajaran. Tidak hanya sebatas menyampaikan pengetahuan secara teoritis saja, tetapi juga bisa menginspirasikan kepada peserta didiknya untuk senantiasa melakukan proses pendewasaan dalam hidup ini.
            Diperhatikannya seluruh aspek pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pendidikan, meminjam bahasa Bobby De Potter bisalah kita sebut dengan orkestrasi. Layaknya tim orkestra sebuah lagu akan mengalun indah bila semua bagian musik berjalan sesuai iramanya. Demikian pula dalam proses belajar mengajar, orkestrasi segala variabel itulah yang akan menciptakan pendidikan yang sesungguhnya. Orkestrasi itu meliputi segala hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Dengan demikian, tujuan utama pendidikan akan tercapai  yaitu membentuk manusia seutuhnya. Seutuhnya dalam arti keutuhan antara dua dimensi , jasmani dan rohani.

 Inspirasi:
Mustakim, Zainal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta: Gama Media Yogyakarta
Abdurrahman. 2007. Meaningful Learning: Re-invensi Kebermaknaan Pembelajaran. Yogyakart: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar