Laman

Jumat, 07 Oktober 2011

Psikologi Agama (3) Kelas B


KESADARAN BERAGAMA DAN PENGALAMAN BERAGAMA
 
 
MAKALAH
 
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata kuliah: Psikologi Agama
Dosen pengampu: Ghufron Dimyati, M.S.I
 
Disusun Oleh:
 
                                                                         Kelompok 3 :


                                                    1. Nailul Murodah  (2022110040)
                                                    2. Ella Kholila        (2022110041)
                                                    3. Khusni Faza       (2022110042)


                                                                           PBA Kelas B

Jurusan Tarbiyah PBA 
 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
TAHUN 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Disadari atau tidak,kita sebagai manusia tentu pernah merasakan pengalaman beragama atau keagamaan dalam kehidupan kita, bahkan mereka yang tidak memiliki agama sekalipun.
Namun, karena kekurangtahuan manusia akan apa itu pengalaman agama, sehingga ia tidak juga menyadari bahwa sebenarnya dia beragama. Sehingga belum dapat mencapai kesadaran beragama.

B.     PERMASALAHAN
1.      Apa itu pengalaman keagamaan?
2.      Apa saja bentuk-bentuk pengalaman keagamaan?
3.      Bagaimana tingkatan pengalaman beragama?
4.      Apakah yang dimaksud dengan kesadaran beragama?
5.      Apa saja faktor-faktor yang menjadi sumber kesadaran beragama?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui pengertian pengalaman keagamaan
2.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk pengalaman keagamaan
3.      Untuk dapat mengetahui berbagai tingkatan dalam pengalaman keagamaan
4.      Untuk mengetahui apakah yang dinamakan kesadaran beragama itu.
5.      Untuk dapat mengerti akan faktor-faktor yang menjadi sumber kesadaran beragama





BAB II
PENGALAMAN BERAGAMA DAN KESADARAN BERAGAMA

A.    PENGALAMAN BERAGAMA
      Definisi Pengalaman  beragama.
Rudolf Otto dan Schleiermacher beranggapan bahwa pengalaman keagamaan adalah inti dan substansi agama, pemikiran agama dan akhlak lebih bersifat aksiden. Dalam pandangan Otto, jika agama dipahami dan diyakini berdasarkan pengenalan rasionalitas atas wujud dan sifat-sifat Tuhan, maka akan terdapat kesalahan dalam pemahaman agama.
Pengalaman keagamaan adalah substansi agama dengan makna bahwa hakikat agama adalah perasaan khas yang lahir ketika berhadapan dengan hakikat tak terbatas. Hal-hal lain, seperti pemikiran agama, amal perbuatan dan akhlak tidak termasuk dalam hakikat dan inti agama. Oleh karena itu, jika keadaan perasaan tersebut hadir pada diri seseorang, maka dia disebut memiliki agama. Tetapi jika sebaliknya, maka dia tidak dikategorikan sebagai orang yang beragama. Apabila perasaan tersebut semakin sempurna, maka agama pun semakin sempurna. Agama dan perasaan berbanding lurus.
Bentuk-bentuk Pengalaman Keagamaan
1. Pengalaman interpretatif
Yang dimaksud dengan pengalaman interpretative (interpretative experiences) adalah warna pengalaman agama ini bukan disebabkan oleh kekhususan-kekhususan pengalaman itu sendiri, tetapi ditentukan oleh penafsirannya atas agama.
Jadi, pelaku yang meraih pengalaman keagamaan, memandang pengalamannya sendiri berdasarkan suatu penafsirannya atas agama. Seperti seorang muslim yang memandang kematian anaknya sebagai balasan atas dosanya sendiri, atau seorang penganut Kristen menafsirkan kematian anaknya sebagai ikut serta dalam penderitaan Isa As. Jadi, mereka bersabar dalam musibah tersebut dan menghasilkan ekspresi kejiwaan dalam bentuk kesedihan, kenikmatan atau kebahagiaan.
  
  2. Pengalaman inderawi
Pengalaman inderawi (sensory experience) adalah pengalaman yang bersifat penginderaan yang dipengaruhi oleh lima panca indera. Penglihatan-penglihatan yang bersifat keagamaan, perasaan menderita ketika melakukan pengamalan keagamaan, melihat malaikat, mendengar wahyu dan percakapan Musa as dengan Tuhan, kesemuanya itu dikategorikan dalam pengalaman inderawi.
3. Pengalaman wahyu
Pengalaman ini meliputi wahyu, ilham dan bashirah yang seketika. Pengalaman wahyu (revelatory experience) yang bersifat seketika, tanpa penungguan sebelumnya, hadir dalam diri seseorang.Dan warna keagamaan pengalaman ini berkaitan dengan isi dan makna dari wahyu tersebut. Menurut Davis, pengalaman ini memiliki beberapa kriteria,antara lain:
·         Bersifat tiba-tiba dan waktunya yang singkat;
·         Meraih pengetahuan baru tanpa tafakkur dan argument;
·         Keyakinan akan kebenaran yang diperoleh;
·         Tidak dapat dijelaskan dan digambarkan.
4. Pengalaman pembaharuan
Pengalaman ini merupakan bentuk pengalaman keagamaan yang paling umum. Pengalaman pembaharuan (regenerative experiences) ini adalah pengalaman yang menjadikan keimanan pelaku semakin bertambah sempurna. Pengalaman ini merubah secara drastis keadaan jiwa dan akhlak pelaku. Seseorang akan merasa bahwa Tuhan sedang mengarahkan dirinya kepada hakikat kebenaran.

5. Pengalaman mistik
Pengalaman mistik (mystical experience) merupakan salah satu bentuk pengalaman keagamaan yang paling penting. Rudolf Otto dalam karyanya,membagi pengalaman mistik menjadi dua bagian:
a. Pengalaman yang berhubungan dengan sisi internal jiwa
Pada dimensi ini seseorang memperhatikan ke dalam diri dan tenggelam dalam lautan kejiwaannya,dia berupaya jauh dari pengaruh indera lahiriah dan lebih memperhatikan sisi-sisi batin. Hal ini dicapai dengan pemusatan konsentrasi pada satu perkara. Ketika dia berhasil meraih kesempurnaan konsentrasi, tahap selanjutnya adalah menghilangkan semua rasa dan menghapus semua gambaran inderawi dan gambaran pikiran hingga mencapai “kekosongan” dan “ketiadaan” yang sempurna. Dan seseorang yang sampai pada tingkatan ini, akan meraih pengetahuan yang hakiki.
      b. Pengalaman yang berkaitan dengan penyaksian kesatuan wujud.
Sisi ini memiliki tiga tingkatan:
Pertama, seseorang mengetahui adanya kesatuan alam. Fenomena-fenomena alam menjadi satu kesatuan dengan dirinya.
Kedua, bukan hanya alam tapi juga ada kekuatan supra natural yang mempengaruhinya.
Ketiga, alam menjadi “tiada” dalam pandangannya, dia memandang kesatuan tanpa kejamakan alam. Yang ada hanyalah kesatuan itu sendiri.

 Hirarki pengalaman beragama.
Ada tiga hirarki pengalaman beragama Islam seseorang. Pertama, tingkatan syariah. Syariah berarti aturan atau undang-undang, yakni aturan yang dibuat oleh pembuat aturan (Allah dan RasulNya) untuk mengatur kehidupan orang-orang mukallaf baik hubungannya dengan Allah ( habl min Allah ) maupun hubungannya dengan sesama manusia (habl min al-Nas ). Menurut al-Qusyairi dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah,beliau mengatakan bahwa;
“Syariah adalah perintah untuk memenuhi kewajiban ibadah, dan hakikat adalah penyaksian ketuhanan, Syariat datang dengan membawa beban Tuhan yang maha pencipta, sedangkan hakikat menceritakan tentang tindakan Tuhan. Syariah adalah engkau mengabdi pada Allah, sedangkan hakikat adalah engkau menyaksikan Allah, Syariah adalah melaksanakan perintah sedangkan hakikat menyaksikan apa yang telah diputuskan dan ditentukan, yang disembunyikan dan yang ditampakkan.”[1]
Kedua, tingkat tarikat yaitu kesadaran pengamalan ajaran agama sebagai jalan atau alat untuk mengarahkan jiwa dan moral. Dalam dataran ini, seseorang menyadari bahwa ajaran agama yang ia laksanakan bukan semata-mata sebagai tujuan, tapi sebagai alat dan metode untuk meningkatkan moral. Puasa Ramadlan misalnya, tidak hanya dipandang sebagai kewajiban tapi juga disadari sebagai media untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu sikap bertaqwa. Demikian juga ,tuntutan-tuntutan syariah lainnya disadari sebagai proses untuk mencapai tujuan moral.
Ketiga, tingkatan hakikat yang berarti realitas, senyatanya, dan sebenarnya. Dalam tasawuf yang real dan yang sebenarnya adalah Allah yang maha benar atau real ( al-Haq ). Dengan demikian tingkat hakikat berarti dimana seseorang telah menyaksikan Allah s.wt. Pemahaman lain dari hakikat adalah bahwa hakikat merupakan inti dari setiap tuntutan syariat.Berbeda dengan syariat yang menganggap perintah sebagai tuntutan dan beban maka dalam dataran hakikat perintah tidak lagi menjadi tuntutan dan beban tapi berubah menjadi kebutuhan. Itulah Aba Ali al-Daqaq yang dikutip oleh al-Quyairy mengatakan;
Saya mendengar al-Ustadz Abu Ali al-Daqaq rahimahu Allah berkata” firman Allah iyyaka na’budu (hanya padamu aku menyembah) adalah menjaga syariat sedangkan waiyyaka nastain (dan hanya padamu kami meinta pertolongan) adalah sebuah pengakuan hakikat”.[2]
Kesatuan syariat dan hakikat
Syariat dan hakikat adalah ibarat wadah dan isi, yang lahir dan yang batin, ibarat gelas dan air yang ada dalam gelas. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Shalat dilihat dari sisi syariat adalah perbuatan dan perkataan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diahiri dengan salam beserta rukun-rukunnya dan inti dari shalat adalah mengingat Allah. Seseorang tidak boleh hanya mengingat Allah tanpa melaksanakan shalat yang telah disyariatkan. Dan sebaliknya seseorang tidak boleh melaksanakan shalat dengan segala rukunnya akan tetapi hatinya kosong tidak nyambung ( hudlur ) dengan Allah.
Al-Qusyairi mengatakan:
Setiap syariat yang tidak dikuatkan dengan hakikat maka tidak akan diterima, dan setiap hakikat yang tidak dikuatkan dengan syariat maka tidak diterima”.[3]

B.  KESADARAN BERAGAMA.
Pengertian Kesadaran beragama
Dalam hal ini kita meninjau istilah Zakiah Drajat yang membahas tentang kesadaran agama. Kesadaran agama adalah bagian atau segi yang hadir/ terasa dalam pikiran dan dapat dilihat gejalanya melalui introspeksi, dapat dikatakan bahwa kesadaran beragama adalah aspek mental atau aktivitas agama, sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan.
 Dari kesadaran dan pengalaman agama tersebut akan muncul sikap keagamaan yang ditampilkan seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan ketaatannya pada agama yang dianutnya. Sikap tersebut muncul karena konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif yang merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan. Perasaan serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menujukkan bahwa sikap keagamaan menyangkut dengan segala kejiwaan.
 Sumber Kesadaran Jiwa Keagamaan
 Sumber kesadaran jiwa keagamaan diklasifikasikan terdiri dari empat kelompok yaitu :
 a. Faktor Sosial
 Hal ini mencakup semua pengaruh social dalam perkembangan sikap keagamaan melalui pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi social, dan pengaruh lingkungan social, untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.
b. Faktor Pengalaman
 Hal ini mencakup semua pengaruh yang lebih terikat secara langsung dengan tuhan pada sikap keagamaan.
c. Faktor Kebutuhan
 Yaitu merasa tidak terpenuhi secara sempurna sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cita, kebutuhan memperoleh harga diri .
d. Faktor proses pemikiran
 Manusia adalah makhluk yang berfikir dan salah satu akibat dari pemikirannya adalah bahwa ia membantu dirinya untuk menentukan keyakinan-keyakinan yang mana yang harus diterimanya dan sebaliknya, hal ini merupakan salah satu unsur yang membantu pembentukan sikap keagamaan.

BAB III
PENUTUP

A.        Pengalaman Beragama
     Pengalaman keagamaan adalah substansi agama dengan makna bahwa hakikat agama adalah perasaan khas yang lahir ketika berhadapan dengan hakikat tak terbatas. Oleh karena itu, jika keadaan perasaan tersebut hadir pada diri seseorang, maka dia disebut memiliki agama.
Bentuk-bentuk pengalaman keagamaan;
·      pengalaman interpretatif (interpretative experience)
·      pengalaman inderawi (sensory experience)
·      pengalaman wahyu (revelatory experience)
·      pengalaman pembaharuan (regenerative experience)
·      pengalaman mistik (mystical experience)
       Hirarki pengalaman beragama
·                Tingkatan syari’ah
·                Tingkatan tarikat
·                Tingkatan hakikat
       Kesatuan syariat dan hakikat
              Syariat dan hakikat adalah ibarat wadah dan isi, yang lahir dan yang batin, ibarat gelas dan air yang ada dalam gelas. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
B.         Kesadaran beragama
Kesadaran agama adalah bagian atau segi yang hadir/ terasa dalam pikiran dan dapat dilihat gejalanya melalui introspeksi, dapat dikatakan bahwa kesadaran beragama adalah aspek mental atau aktivitas agama.
Sumber Kesadaran Jiwa Keagamaan;
a. Faktor Sosial
b. Faktor Pengalaman
c. Faktor Kebutuhan
d. Faktor proses pemikiran
DAFTAR PUSTAKA

http ://mazguru.wordpress.com/2009/02/08/hirarki-pengalaman-beragama/.di akses      pada tanggal 4 oktober 2011
http ://kompas.com//kompasiana.blogshop.di akses pada tanggal 4 oktober 2011
http ://akcaya.tripod.com/berita/jumat/berita34783.htm.di akses pada tanggal 5 oktober 2011


 


[1] Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah, Juz I, al-Maktabah al-Syamilah, hal.42

[2]  Ibid.,
[3]  Ibid.,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar