Laman

new post

zzz

Minggu, 09 Oktober 2011

ilmu akhlak (3) Kelas E


MAKALAH
ASPEK – ASPEK PEMBENTUK PERILAKU
(KEBEBASAN dan TANGGUNG JAWAB)
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati,M.S.I
Disusun oleh :

Fitri Nur Afina                               2021111197
            Kiki Fiya Mastriana                       2021111198
Nahdiyah                                       2021111199
Nur Asfiyani                                  2021111200


   Kelas E

                           TARBIYAH  PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI 
                    (STAIN) PEKALONGAN
                                     2011

I.  PENDAHULUAN
      Sesuai dengan keadaan kehidupan manusia,sudah menjadi sesuatu yang lazim bahwa perilaku manusia itu terbentuk karena adanya aspek – aspek atu faktor – faktor yang mempengaruhinya. Sebagai manusia yang berakhlak, dengan kebebasan yang  kita miliki haruslah dibarengi dengan tanggungjawab agar kebebasan tersebut tidak disalahgunakan dan tetap dalam aturan –aturan yang telah ditetapkan oleh agama islam. Sehingga kita dapat menjadi manusia yang berkualitas.
      Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai aspek – aspek pembentuk perilaku dan kebebasan sebagi salah satu faktor kebebasan dan tanggung jawab.
Semoga bermanfaat.


                       












II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian perilaku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan  motor atau mobil. Untuk melakukan aktivitas ini mereka harus melakukan sesuatu,sebagai contoh seseorang yang duduk diam dengan buku ditangannya,maka ia dikatakan sedang berperilaku. Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan sangat minim,akan tetapi sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Menurut Notoatmodjo perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia,baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar.
Menurut Skiner, seorang ahli psikologi,merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
            Proses terjadinya perilaku :
Penelitian Rogers(1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang menghadapi perilaku baru (berperilaku baru) didalam diri orang tersebut terjadi proses yang  berurutan,yakni  :
a)      Awareness (kesadaran),yakni orang tersebut menyadari dalam arti stimulus (objek) terlebih dahulu.
b)      Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
c)      Evaluation(menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebiih baik lagi.
d)     Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
e)      Adoption,subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. 
B.     Aspek-aspek yang mempengaruhi bentuk perilaku :
1)      Insting
Definisi dari insting masih menjadi perdebatan para ahli,namun perlu di ketahui bahwa definisi insting menurut James adalah suatu alat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu dan tiada dengan didahului latihan perbuatan itu.[1]
Sifat – sifat insting :
a)    Kekuatan insting berbeda menurut perbedaan orang dan bangsanya,sehingga          menimbulkan keanekaragaman.
b)    Saat tampaknya insting yang beragam ini tidak terbatas dan tidak teratur                dalam manusia.
c)    Banyaknya terjadi pertentangan antara insting – insting, sehingga                             menimbulkan kegoncangan serta keragu –raguan dalam perilaku manusia.
d)   Insting – insting itu menjadi pendorong untuk berbuat sesuatu.
e)    Insting itu adalah asas bagi perbuatan manusia. Dia melakukan perbuatan yang       bermacam – macam,mulai dari bangun tidur,berpakaian dan perbuatan lain   yang beraneka warna.
Selain insting,akal juga berperan dalam membentuk perilaku manusia,lain halnya dengan binatang yang hanya melakukan sesuatu karena insting tanpa disertai akal. Dan insting itu adalah penentu tujuan yang dikehendaki sedangkan akal sebagai cara untuk mewujudkan hasil.
2)      Pola dasar bawaan (keturunan)
Dalam berperilaku keturunan juga menjadi pengaruh,walaupun seorang anak tidak 100% mewarisi sifat pokok dari orang tua mereka,sebab antara kedua orang tua (ayah dan ibu) terkadang memiliki sifat yang berlawanan.
                    Ada 2 teori yang mengemukakan masalah mengenai keturunan(bawaan) :
a.       Turunan (pembawaan) sifat – sifat manusia.
Di tempat manapun,orang membawa keturunan dengan beberapa sifat yang bersamaan, seperti, bentuk, panca indera, perasaan, akal dan kehendak. Dengan sifat – sifat manusia yang diturunkan ini,manusia dapat mengalahkan alam didalam beberapa perkara,sedangkan seluruh binatang tidak dapat menghadapinya.
b.      Sifat – sifat bangsa.
Selain adat kebiasaan tiap – tiap bangsa,ada juga bebrapa sifat yang diturunkan (dibawa) sekelompok orang dahulu kepada kelompok orang sekarang. Sifat - sifat ini ialah menjadikan beberapa orang dari tiap – tiap bangsa berlainan dengan beberapa orang dari bangsa lain,bukan saja dalam bentuk mukanya tetapi juga dalam sifat – sifat yang mengenai akal.[2]
Akan tetapi, keturunan juga bukan sebab utama atau satu – satumya dalam membentuk perilaku manusia,karena disamping keturunan lingkungan ternyata juga memengaruhi perilaku.
3)      Lingkungan.
Lingkungan ialah sesuatu yang melingkupi tubuh yang hidup. Jika pada tumbuh – tumbuhan, lingkungannya adalah tanah dan udaranya, sedangkan manusia ialah apa yang melingkupinya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa.
Macam –macam lingkungan ada 2,yakni:
a)      Lingkungan alam
Lingkungan alam itu sudah pasti ialah sesuatu yang ada di alam semesta ini,misalnya,udara,logam didalam tanah,letaknya negeri ini dan apa yang ada di lautan,sungai dan pelabuhan.
Semua itu sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia,karena manusia juga tergantung kepada alam,apabila lingkungan tidak cocok dengan tubuh,maka tubuh tersebut lemah dan akan mati.
b)      Lingkungan pergaulan
Lingkungan yang kedua adalah lingkungan pergaulan,dimana ia mengandung susunan pergaulan yang mencakup manusia,seperti rumah, sekolah, pemerintah, pekerjaan, keyakinan, pikiran- pikiran, adat- istiadat, bahasa, kesenian, pengetahuan dan akhlak.
Lingkungan pergaulan ini mempunyai pengaruh yang berlawanan, terkadang menguatkan hidup manusia dan meninggikannya tetapi terkadang melemahkannya atau mematikannya.
4)      Kebiasaan
 Kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara terus – menerus sehingga mudah dikerjakan bagi seseorang. Seperti kebiasaan berjalan, berpakaian, berbicara, mengajar dan kebiasaan yang lain.
Seseorang berbuat baik atu buruk dikarenakan dua faktor dari kebiasaan,yaitu
                                                        i.            Kesukaa hati terhadap suatu pekerjaan.
                                                      ii.            Menerima kesukaan itu,yang akhirnya menampilkan suatu perbuatan dan diulang secara terus menerus.
Kebiasaan juga mempunyai fungsi,antara lain:dengan kebiasaan kita lebih mudah melakukan suatu perbuatan,selain itu kita juga dapat mempersingkat waktu dalam melakukan suatu perbuatan tersebut.
5)      Kehendak
Kehendak dapat juga disebut azam yang berarti niat berbuat yang kemudian niat itu diikuti dengan perbuatan.
Perbuatan hasil dari kehendak mengandung :
1.      Perasaan
2.      Keinginan
3.      Pertimbangan
4.      Kehendak


6)      Pendidikan
Seseorang yang awalnya mengetahui apa-apa, setelah ia memasuki dunia pendidikan, ia akan diberikan pengetahuan serta wawasan, kemudian dengan bekal itu mereka terapkan  dalam kehidupan sehari-hari.
        Dengan demikian pendidikan di jadikan pusat perubahan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju perilaku yang baik. Maka dibutuhkan  beberapa unsur dalam pendidikan, untuk bisa dijadikan agent perubahan perilaku manusia.[3]


C.     Kebebasan
a.       Pengertian kebebasan
Dalam filsafat, pengertian kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri, kebebasan lebih bermakna positif, dan ia ada sebagi konsekuensi dari adanya potensi manusia untuk dapat berfikir dan berkehendak.
Sudah menjadi kodrat manusia untuk menjadi makhluk yang memiliki kebebasan, bebas untuk berfikir, berkehendak dan berbuat.
Seseorang disebut “bebas” apabila :
1)      Dapat menentukan sendiri tujuan – tujuannya dan apa yang dilakukannya.
2)      Dalam memilih antara kemungkinan – kemungkinan yang tersedia baginya.
3)      Tidak dipaksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya sendiri ataupun dicegah dari berbuat apa yang dipilihnya sendiri oleh kehendak orang lain,Negara atau kekuasaan apapun.[4]
Kebebasan itu mengenai segala macam kegiatan pada manusia yaitu kegiatan yang disadari, disengaja dan dilakukan demi suatu tujuan yang disebut tindakan.
b.      Macam – macam kebebasan :
1)      Kebebasan jasmaniah
Yaitu tidak ada paksaan terhadap kemungkinan – kemungkinan kita untuk menggerakkan badan kita.
Jangkauan kebebasan jasmaniah ini ditentukan oleh kemampuan badan kita sendiri. Jadi jangkauan itu tentu saja tidak tak terbatas, akan tetapi adanya batas – batas jangkauan kemampuan kita itu,tidak mengurangi melainkan menentukan sifat kebebasan kita.
Kita berjenis kelamin, tetapi tidak dapat terbang, semua itu tidak disebut melanggar kebebasan jasmaniah kita.
2)      Kebebasan kehendak
       Yaitu kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berfikir, karena manusia dapat memikirkan apa saja dan ia dapat juga menghendaki apa saja.
Berlainan dengan kebebasan jasmaniah, kebebasan kehendak tidak dapat secara langsung dibatasi dari luar. Seseorang tidak dapat dipaksa menghendaki sesuatu .
3)      Kebebasan moral
Arti kebebasan secara luas yaitu tidak adanya macam – macam ancaman ,tekanan, larangan atau desakan lain yang tidak sampai berupa paksaan fisik.
Arti kebebasan secara sempit yaitu tidak adanya kewajiban.
D.    Tanggung jawab
Dalam filsafat pengertian tanggung jawab adalah kemampuan manusia yang menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi / akibat.[5]
Bertanggung jawab berarti dapat menjawab apabila ditanyai tentang perbuatan – perbuatan yang dilakukan. Orang yang bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakunya dan bukan saja ia dapat menjawab melainkan juga harus menjawab.
Jadi, apabila seseorang dimintai tentang pertanggung jawaban maka ia tidak  boleh mengelak dan ia harus memberikan penjelasan tentang perbuatannya.
Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al-Qiyamah: 36 yang artinya:
  “ apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (dalam tindakannya).
Mujtahid Turki paman Mustofa Kemal, menafsirkan tentang nasib setiap pribadi manusia. Manusia menurutnya akan dihisab nantinya, baik masalah kecil maupun yang besar. Dan akan menuju masyar (tempat berkumpul) untuk mendapat ketentuan tentang tempat terapnya yang abadi. [6]
Firman Allah diatas memberikan penjelasan bahwa Allah menjadikan manusia tidak percuma begitu saja. Mereka diberikan berbagai alat dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Semua tindakan yang dilakukannya akan diperhitungkan,baik besar atau kecil, baik atau buruk. Dan nantinya akan ada perhitungan ilahi yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu manusia tidak boleh berperilaku semaunya sendiri, karena nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukannya.
Pertanggung jawaban itu selain kepada Allah juga kepada sesama manusia, akan tetapi kedudukan yang paling tinggi adalah pertanggung jawaban kepada Allah, karena Dia adalah dzat yang telah menciptakan segala makhluk yang ada dialam semesta ini. Jika diperhatikan, ternyata tanggung jawab adalah untuk mempertahankan keadilan, keamanan dan kemakmuran, maka kemampuan seseorang bertanggung jawab dalam segala tindakan merupakan salah satu dan kelebihan yang dimiliki manusia.














           III. KESIMPULAN
Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa sebuah perilaku tidaklah lepas dari kebebasan dan tanggung jawab. Keduanya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain dan mempunyai hubungan timbal balik antara kedua pengertian itu. Pada dasarnya kebebasan dan tanggung jawab tersebut memberikan efek dasar yang akan membentuk perilaku baik atau buruk,tergantung dengan apa yang kita perbuat. Tidak mungkin kebebasan tanpa tanggungjawab,sebaliknya tidak mungkin pula tanggungjawab tanpa kebebasan. Dalam arti saat kita melakukan perilaku maka kita akan berada dalam suatu kebebasan,walaupun demikian kita kan tetap bertanggungjawab atas perbuatan tersebut.















DAFTAR PUSTAKA
Bertens,K.1993.Etika.Jakarta:Gramedia Pustaka
Mufid Muhammad.2009.Etika Filsafat Komunikasi.Jakarta:Kencana
Mustofa,H,A.2005.Akhlak Tasawuf.Bandung:Pustaka Setia
Zubair,A.C.1987.Kuliah Etika.Jakarta:Rajawali






[1] Drs.H.A.Mustofa,akhlak tasawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2005),hal.82
[2] Drs.H.A.Mustofa,akhlak tasawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2005),hal.88.
[3] Drs.H.A.Mustofa,Akhlak Tasawuf,(Bandung:Pustak Setia,2005),hal.109
[4] Drs.Achmad Charris Zubair,Kuliah Etika,(Jakarta:Rajawali,1987),hal.40
[5] Muhammad Mufid,Etika Filsafat Komunikasi,(Jakarta:kencana,2009),hal.243
[6] Drs.H.A.Mustofa,Akhlak Tasawuf,(Bandung:Pustaka Setia,2005),hal.116

Tidak ada komentar:

Posting Komentar