Laman

Jumat, 28 Oktober 2011

Psikologi Agama (6) Kelas B


MAKALAH
PERAN AGAMA SEBAGAI METODE PSIKOTERAPI

Dosen Pengampu      :  M. Hufron, M.S.I








Disusun oleh :

Yuni Aunillah                        2022110049
Mila Minchatussalimah         2022110050
A. Arif Afandi                       2022110051

Prodi : PBA / B

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
A. Definisi Agama
Agama berasal dari bahasa sansekerta ‘a’ berarti tidak dan ‘gamma’ berarti kacau, agama berarti tidak kacau.
Sedangkan secara terminologi, menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berasal dari suatu kekuatan yang ghaib.[1]  
B. Definisi Psikoterapi
Secara etimologi, psikoterapi berasal dari kata ‘psyco’ berarti jiwa dan theraphy berarti penyembuhan sehingga psikoterapi dapat diartikan sebagai perawatan dan penyembuhan gangguan kejiwaan secara psikologis.
Adapun tujuan dari psikoterapi diantaranya sebagai berikut :
-          menghilangkan dan mengubah gejala penyakit mental
-          memperantarai (perbaikan) tingkah laku yang rusak
-          meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan perilaku positif.[2]
2.2 Masalah kesehatan mental
Pada umumnya setiap orang senantiasa memiliki mental yang sehat, namun karena suatu sebab ada sebagian orang memiliki mental tidak sehat. Orang yang tidak sehat mentalnya ini memiliki tekanan batin yang membuat kepribadiannya menjadi kacau dan mengganggu ketenangan hidupnya.
Orang yang jiwanya kacau sering merasakan stress dan konflik batin. Hal ini menyebabkan timbulnya emosi negatife sehingga ia tidak mampu mencapai kedewasaan psikis, mudah putus asa dan bahkan ingin bunuh diri.
Seseorang dikatakan pribadi yang normal atau bermental sehat dengan adanya integrasi bathin/jiwa, tingkah lakunya sesuai dengan tingkah laku sosial, sanggup melaksanakan tugas-tugas hidup dan mempertanggungjawabkannya pada social dan mampu menanggapi realitas hidup secara efisien. Orang yang bermental sehat ini akan merasakan suasana bathin yang aman, tentram, tenang dan sejahtera.[3]
Orang yang memiliki ganguan pada kesehatan mental harus ditangani karena kesehatan mental dapat berpengaruh pada perasaan, tingkah laku bahkan kecerdasan dan kesehatan. Sehubungan dengan hal itu, banyak bermunculan bimbingan dan penyuluhan, psikiater, konsultan jiwa dan sebagainya yang mencoba memberikan jawaban terhadap problem jiwa yang tidak sehat dengan proses penyembuhan yang dikenal dengan psikoterapi.
2.3 Peran agama dalam psikoterapi
Adapun langkah-lankah untuk menolong kasus abnormalitas atau ketidaksehatan mental dalam psikoterapi secara umum diantaranya :
1.      Mencari tanda awal keabnormalan
2.      Mencegah perkembangan dan meniadakan konflik-konflik bathin
3.      Membimbing dan membina pasien untuk kembali kepada kehidupan yang realitas (nyata)
4.      Memberikan pertolongan dengan memberi obat-obatan atau memakai terapi lainnya.[4]
Dalam upaya psikoterapi, agama dapat dijadikan salah satu metode yang sangat penting dalam proses penyembuhan jiwa. Karena agama merupakan kehidupan dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan ibadah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Agama juga mengkaji manusia secara keseluruhan.


Alasan agama dinilai melibatkan manusia secara keseluruhan dan seutuhnya :
1.      Kehidupan atau pengalaman beragama seseorang tentang ketuhanan berhubungandengan fungsi finalis atau afektif
2.      Keimanan berhubungan dengan fungsi kognitif
3.      Ibadah berhubungan dengan sikap dan fungsi motorik sebagai realisasi dalam kehidupan seseorang.[5]
Ada beberapa peranan pendidikan agama dalam kesehatan mental, diantaranya :
a.       Agama dapat memberikan bimbingan hidup
b.      Ajaran agama sebagai penolong dalam kesukaran hidup
c.       Aturan agama dapat menentramkan bathin
d.      Aturan agama sebagai pengendali jiwa
e.       Agama dapat menjadi terapi jiwa.[6]
Konsep agama sebagai terapi jiwa perlu dilaksanakan secara konsisten dan produktif, yaitu dengan menjalankan perintah agama dengan penuh tanggung jawab dan meninggalkan larangan agama. Dengan demikian seseorang akan mengalami ketenangan jiwa, kematangan kepribadian, dan mengembalikan kesehatan mental. Sebaliknya jika seseorang memiliki kesadaran agama yang kurang, ia akan merasa gelisah dan tingkah lakunya kaku karena tidak disertai tanggung jawab.


2.4 Psikoterapi Islam
Berbeda dengan psikoterapi kontemporer sekuler yang menggunakan kemampuan intelektual untuk menemukan asas-asas kejiwaan. Psikoterapi mendekati dengan memfungsikan akal dan keimanan sekaligus, yaitu daya nalar yang obyektif, ilmiah secara optimal dengan metodologi yang tepat, disamping merujuk kepada sumber formal Al Qur’an dan sunnah atau pandangan ulama yang teruji. Ini bukan berarti menghapus atau menganggap salah sama sekali teori, system, metode dan tehnik yang sudah ada dan berkembang, melainkan psikoterapi islami bertujuan menyempurnakan, melengkapi dan memberi kerangka acuan bagi konsep psikoterapi yang sudah ada.[7]
Adapun langkah-langkah praktek psikoterapi dalam islam :
1.Menciptakan kehidupan islami dan perilaku religius
2.Mengintensifkan dan meningkatkan kualitas ibadah
3.Meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir
4.Melaksanakan rukun islam, iman dan ikhsan
5.Menjauhi sifat-sifat tercela
6.Mengembangkan sifat-sifat terpuji.[8]




















DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, Yusak. 1999. Kesehatan Mental. Bandung : Pustaka Setia
Sholeh, Moh. 2005. Agama Sebagai terapi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
AL – Patalingi, Ading Khawalid. 2011. Definisi Agama Kepercayaan dan religi.
Sugianto, Arief. 2010. Agama Sebagai Dasar Psikoterapi.
Http://ariefsugianto503. blogspot.com/2010. Diakses 22 Oktober 2011.


[1] Ading Khawalid AL – Patalingi, 2011. Definisi Agama Kepercayaan dan religi.
[2] Arief Sugianto, 2010. Agama Sebagai Dasar Psikoterapi. (Http://ariefsugianto503.      
blogspot.com/2010). Diakses 22 Oktober 2011.

[3] Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental. (Bandung : Pustaka Setia,1999) hlm. 15 - 16

[4] Ibid, hlm. 16
[5] Arif Sugianto, Loc. Cit
[6] Yusak Burhanudin, Op. Cit, hlm 105 – 109.
[7] Moh. Sholeh,. Agama Sebagai terapi. ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 251

[8] Ibid, hlm. 43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar