Laman

Jumat, 28 Oktober 2011

Psikologi Agama (6) Kelas A


MAKALAH
PERAN AGAMA SEBAGAI METODE PSIKOTERAPI

Disusun untuk memenuhi tugas :
Mata Kuliah Dosen Pengampu
:
:
Psikologi Agama
Ghufron Dimyati, M.S.I











Disusun Oleh :

                                                Kelompok F

1.      Zaenal                (2022110016)
2.      Ikhwan Farodis  (2022110017)
3.      Nur Ilmiah          (2022110018)

Kelas PBA A

JURUSAN TARBIYAH PBA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011




BAB I
PENDAHULUAN

            Manusia bertingkah laku keagamaan karena ia mengalami frustasi dan berusaha untuk mengatasi. Kita harus menganalisis manusia sebagai suatu kesatuan psikosomatis, sebagai kesatuan jasmani rohaniah atau jiwa raga dan mencari motivasi perilaku keagamaan secara lebih mendalam dan lebih mendasar. Penyebab itu harus dicari bukan hanya berdasarkan fakta empiris objektif saja, akan tetapi harus mencakup pula perilaku keagamaan yang subjektif dan rohaniah.
            Psikologi sebagai sains tidak mampu menganalisis penyebab yang paling mendasar dari tingkah laku keagamaan, karena analisis psikologis itu terbatas pada fakta empiris.
            Kalau psikoterapi membatasi diri pada fakta empiris objektif saja, maka psikoterapi hanya mampu menangani kasus-kasus gangguan mental secara terbatas. Padahal psikoterapi harus menangani manusia secara utuh. Oleh karena itu psikoterapi harus terbuka dan menerima pembahasan, analisis, asumsi, hipotesis, dan teori mengenai gangguan mental dan filsafat serta agama. Kehidupan menusia yang kompleks tidak akan terpecahkan dengan tepat kalau hanya melalui pendekatan metode sains saja.
            Dalam makalah ini, penulis berusaha memaparkan keterkaitan antara agama dan psikologi serta mendeskripsikan peran agama dalam metode psikoterapi.









BAB II
PERAN AGAMA SEBAGAI METODE PSIKOTERAPI

1.    Definisi Psikoterapi
            Istilah psikoterapi (psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan (Guidance and Counseling), pendidikan dan ilmu agama. Secara harfiah psikoterapi berasal dari kata psyco yang artinya jiwa, dan therapy yang berarti penyembuhan. Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.
            James P.Chaplin membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri seseorang. Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama melalui pembicaraan informal atau diskusi personal dengan guru atau teman. Sedangkan menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua.[1]
            Berdasarkan pendapat Jung tersebut, psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikiater tidak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.
            Pengertian di atas memberi kesimpulan bahwa, psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya. Tugas utama psikiater adalah memberi pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang. Oleh karena itu, boleh jadi psikiater yang dimaksudkan di sini adalah para guru, orang tua, saudara dan teman dekat yang biasa digunakan sebagai tempat curahan hati serta memberi nasihat-nasihat kehidupan yang baik.
2.    Macam Psikoterapi
            Berdasarkan tujuan dan pendekatan metodis, Wolberg membagi perawatan psikoterapi menjadi tiga (3) tipe, yaitu :
a)        Penyembuhan Supportif (Supportive Therapy)
          Merupakan perawatan dalam psikoterapi yang mempunyai tujuan untuk :
  Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
  Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau kepribadian
  Pengembalian pada penyesuaian diri yang seimbang.
          Penyembuhan supportif ini dapat menggunakan beberapa metode dan  teknik pendekatan, diantaranya :
  Bimbingan (Guidance)
  Mengubah lingkungan (Environmental Manipulation)
  Pengutaraan dan penyaluran arah minat
  Tekanan dan pemaksaan
  Penebalan perasaan (Desensitization)
  Penyaluran emosional
  Sugesti
  Penyembuhan inspirasi berkelompok (Inspirational Group Therapy)
b)        Penyembuhan Reedukatif (Reeducative Therapy)
          Suatu metode pnyembuhan yang mempunyai bertujuan untuk mengusahakan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran/tujuan hidup, dan untuk menghidupkan kembali potensi. Adapun metode yang dapat digunakan antara lain :
   Penyembuhan sikap (attitude therapy)
   Wawancara (interview psychtherapy)
   Penyembuhan terarah (directive therapy)
   Psikodrama
   Dan lain-lain.
c)        Penyembuhan Rekonstruktif (Reconstructive Therapy)
          Penyembuhan rekonstruktif mempunyai tujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan untuk perluasan pertunbuhan kepribadian dengan mengembangkan potensi. Metode dan teknik pendekatannya antara lain :
   Psikoanalisis
   Pendekatan transaksional (transactional therapy)
   Penyembuhan analitik berkelompok[2]
            Berdasarkan teori dan teknik yang diterapkan, jenis-jenis psikoterapi dibagi menjadi :
a)        Psikoanalisis
Suatu teknik terapi yang ditemukan oleh Sigmund Freud dengan mencoba menjelajahi alam ketidaksadaran pasiennya melalui wawancara yang dinamakan asosiasi bebas (free association) sampai si pasien menemukan sumber masalahnya.
b)        Hypnoterapi
Teknik ini menggunakan metode hipnotis untuk menemukan ambang kesadaran dan mensugesti pasien untuk sembuh, bersifat instan (dapat langsung menghilangkan gejala) tetapi hanya berlangsung sesaat dan akan kembali kambuh lagi jika pengaruh sugseti telah hilang.
c)        Terapi  Kelompok
Dalam terapi kelompok, psikoterpis mengajak beberapa orang dalam proses terapi, baik dari semua pasien dengan persoalan sejenis maupun dari kalangan keluarganya.
d)       Terapi Bermain
Terapi ini digunakan pada anak-anak, dengan maksud sambil bermain, si anak bisa memproyeksikan perasaan-perasaan terhadap orang yang menjadi sumber masalahnya.
e)        Terapi Humanis (Client Centered)
Terapi ini didasarkan pada asumsi yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Disini, psikoterapis berfungsi untuk membantu klien menelusuri semua potensi positif dalam dirinya hingga ia bisa mengembangkan dirinya dan meninggalkan gejala-gejala gangguan mental.
f)         Terapi Perilaku (Behavior)
Biasanya terapi ini digunakan untuk mengatasi phobia. Caranya yaitu mendekatkan benda yang ditakuti itu dengan hal-hal yang menyenangkan klien, sehingga akan menimbulkan asosiasi positif antara benda yang ditakuti dengan hal yang menyenangkan itu, dan lama-kelamaan phobia bisa hilang. Kelemahan dari terapi ini adalah sewaktu-waktu phobia itu bisa muncul kembali jika ada trauma baru.
g)        Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavior Therapy)
Untuk mengatasi kelemahan  terapi perilaku, dikembangkan terapi ini. Dalam teknik ini, semua emosi negatif terhadap hal tertentu dibahas tuntas secara rasional sampai klien bisa mengubahnya menjadi lebih positif.
h)        Terapi Seni (Art Therapy)
Seni yang digunakan dalam terapi ini biasanya seni rupa, seperti lukis dan patung. Dan dalam proses pembuatan benda seni tersebut, diharapkan si klien dapat melepaskan emosinya (katarsis) dan memproyeksikan perasaan-perasaannya sehingga terasa lebih ringan.
i)          Konseling
Terapi ini berbentuk wawancara, disini terapis membantu klien mencari penyelesaian yang terbaik untuk masalahnya. Konseling biasanya digunakan dalam masalah-masalah ringan, seperti kesulitan dalam belajar. [3]
3.    Tujuan Psikoterapi
            Tujuan psikoterapi adalah mengolah kepribadian klien agar mampu menyesuaikan dan merealisasikan dirinya sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Realisasi ini dapat diumpamakan seperti proses kelopak bunga yang merekah secara alamiah untuk merealisasikan tumbuhnya kembang. Para ahli membantu proses merekahnya kelopak, sehingga bunga tampak indah. Dalam psikoterapi, para ahli membantu proses realisasi dari proses fitrah kliennya menuju kepada kehidupan yang bermakna, berarti, dan berguna. Makna hidup yang tertinggi adalah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Pencipta diri dan alam semesta.[4]
4.    Agama sebagai Psikoterapi
            Hakekat makna terdalam agama adalah ketundukan atau ikatan (a binding), yaitu dari asal kata religere yang maksudnya ketundukan atau keterikatan yang absolut. Lewat ketundukan dan ikatan ini, secara spiritual manusia dimungkinkan mengalami kenaikan eksistensi dalam mengatasi keterbatasannya sebagai manusia. Dengan beragama, manusia berarti mengikatkan hidupnya untuk tunduk dan patuh kepada Yang Kuasa, Sang Pencipta dan Pengatur segala kehidupan.
            Manusia terdiri dari dua substansi yang berbeda, yaitu tubuh yang bersifat materi dan jiwa/al-nafs yang bersifat immateri. Al-nafs mempunyai dua daya yang pengembangannya telah diatur oleh Islam, yaitu daya berpikir/rasio (akal) dan daya rasa. Yang menjadi hakekat manusia adalah al-nafs karena jiwa itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dan agar jiwa dan perbuatan lahiriyahnya bisa baik, manusia membutuhkan agama karena agama mengajarkan cara-cara yang ditentukan Allah untuk kehidupan manusia. Tanpa agama, jiwa manusia tidak mungkin dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.
u   Fungsi Agama dalam Kehidupan
               Ada empat fungsi agama dalam kehidupan, yaitu :
a)      Agama memberi bimbingan dan petunjuk dalam hidup
b)      Agama adalah penolong dalam kesukaran
c)      Agama menentramkan batin
d)     Agama mengendalikan moral.[5]
u   Langkah-langkah Terapi Religius
                           Ada beberapa cara untuk mencegah munculnya penyakit kejiwaan sekaligus menyembuhkannya melalui konsep Islami, upaya tersebut adalah :
a)      Menciptakan kehidupan Islami dan religius
b)      Mengintensifkan dan meningkatkan kualitas ibadah
c)      Meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir al-Qur’an
d)     Melaksanakn rukun Islam, rukun iman, dan berbuat ikhsan
e)      Menjauhi sifat-sifat tercela
f)       Mengembangkan sifat-sifat terpuji.[6]
            Abdul Aziz Ahyadi mengemukakan alasan agama dijadikan sebagai dasar filosofis psikoterapi adalah agama melibatkan manusia seutuhnya. Agama berarti kehidupan “dunia-dalam” seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan dengan tujuan untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Agama mengkaji manusia secara keseluruhan, sebagai totalitas dengan seutuhnya dan dengan cara yang sedalam-dalamnya. Manusia dengan segala aspek dan fungsi kejiwaan dikaji oleh agama.
            Agama melibatkan manusia seutuhnya karena beberapa faktor, diantaranya :
a)      Kehidupan atau pengalaman dunia-dalam seseorang tentang ketuhanan berhubungan erat dengan fungsi finalis (motivasi dan emosi atau efektif dan kognitif).
b)      Keimanan berhubungan erat dengan fungsi kognitif.
c)      Peribadatan berhubungan erat denngan sikap dan fungsi motorik sebagai pelaksanaan dan realisasi kehidupan dunia seseorang.
            Fungsi kejiwaan manusia tidak dapat dipisahkan secara tegas, maka aspek agama juga merupakan satu kesatuan yang melekat pada manusia sebagai totalitas yang utuh. Fungsi kognitif tidak dapat dipisahkan dengan fungsi finalis dan motorik. Demikian pula dengan kehidupan dunia-dalam seseorang yang tidak dapat dipisahkan dengan keimanan dan peribadatan. Dalam psikoterapi, yang dirawat dan disembuhkan adalah manusia sebagai totalitas, dikarenakan akibat ganguan emosional itu mengenai manusia seutuhnya. Demikian pula manusia yang dikenai agama adalah manusia sebagai totalitas.[7]






















BAB III
KESIMPULAN dan PENUTUP
A.       Kesimpulan
            Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa agama sangat berpengaruh untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa seseorang.
            Menurut Wolberg, perawatan psikoterapi di bagi menjadi tiga (3) tipe, yaitu :
1.        Penyembuhan Supportif (Supportive Therapy)
2.        Penyembuhan Reedukatif (Reeducative Therapy)
3.        Penyembuhan Rekonstruktif (Reconstructive Therapy)
            Sedangkan berdasarkan teori dan teknik yang diterapkan, jenis-jenis psikoterapi dibagi menjadi :
  Psikoanalisis
  Hypnoterapi
  Terapi  Kelompok
  Terapi Bermain
  Dan lainnya.
            Agama dijadikan sebagai dasar filosofis psikoterapi karena agama melibatkan manusia seutuhnya. Dan dalam psikoterapi, yang dirawat dan disembuhkan adalah manusia sebagai totalitas, dikarenakan akibat yang ditimbulkan dari ganguan emosional itu mengenai manusia seutuhnya.
B.     Penutup
            Demikianlah makalah kami yang membahas tentang “Peran Agama sebagai Metode Psikoterapi” kami berharap semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin…
Terima Kasih





DAFTAR PUSTAKA

Ahyadi, Abdul Aziz. 2005. Psikologi Agama. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Sarwono, Sarlito W. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo           Persada.

Sholeh, Moh. dan Iman Musbikin. 2005. Agama sebagai Terapi. Yogyakarta: Pustaka       Pelajar.

(http://blog.uin-malang.ac.id/azzqie/2011/02/01/psikoterapi/), diakses pada tanggal 09        Oktober 2011.



[1] http://blog.uin-malang.ac.id/azzqie/2011/02/01/psikoterapi/
[2] Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2005) halm.161-162.
[3] Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), halm. 275.
[4] Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, op. Cit., halm.166.
[5] Dr. Moh. Sholeh dan Iman Musbikin, Agama sebagai Terapi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), halm. 43.
[6] Ibid., halm. 45.
[7] Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, op. Cit., halm. 165.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar