Laman

Minggu, 06 November 2011

sbm (7) kelas A


MAKALAH
EVALUASI KEBERHASILAN
BELAJAR MENGAJAR

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah                : Strategi Belajar Mengajar
Dosen pengampu        : M.Ghufron Dimyati, M.S.I
Kelas                         : A

KELOMPOK 7


1. TUTI MARYAM                (202109018)
2. EMI NOVIANI                  (202109021)
3. KHOLIFATU ROHMAH   (202109022)
4. NAILA FIRKHAH             (202109023)


                    
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI 
(STAIN) PEKALONGAN
2011




BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai seorang guru harus mengetahui kondisi proses belajar mengajar dan juga kondisi siswanya.  Dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap keberhasilan yang dicapai oleh siswanya, keberhasilan siswa dapat di ketahui dengan cara mengevaluasi dengan memberikan tes pada awal pembelajaran atau tes diakhir pembelajaran.
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa “Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai”.
Ada beberapa cara dalam mengevaluasi dan mengukur tingkat keberhasilan belajar mengajar siswa. Dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana cara mengevaluasi dan mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan belajar mengajar tersebut.
Berikut pembahasannya, semoga bermanfaat...




BAB II
PEMBAHASAN
EVALUASI DAN KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR
1.        PENGERTIAN EVALUASI BELAJAR MENGAJAR
A.   Pengertian Evaluasi
Istilah Evaluasi berasal dari bahasa Inggris ’’Evaluasi’’yang berarti penilaian atau penaksiran. Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan unntuk membuat alternatif-alternatif  keputusan. Hal ini berarti evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data tersebut kemudian di coba membuat suatu keputusan.Informasi atau data yang di kumpulkan itu haruslah data yang sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang di rencanakan.[1]
Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai, mengukur lebih bersifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif namun, secara umum orang hanya mengidentifikasi kegiatan evaluasi sama dengan menilai karena aktifitas mengukur sudah termasuk di dalamnya, dan tidak mungkin melakukan penilaian tanpa di dahului oleh kegiatan pengukuran.[2]
Sedangkan evaluasi pendidikan dapat di artikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan.[3] Pengertian evaluasi dalam lingkup sekolahan diambil dari batasan yang di berikan Benjamin bloom sebagai berikut: “Evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataanya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa”.
Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang di tetapkan oleh guru dan kemudian benar-benar diusahakan  pencapaianya oleh guru dan siswa.[4] Evaluasi dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksana untuk menentukan nilai sesuatu, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
B.   Manfaat Evaluasi
Evaluasi mempunyai manfaat bagi berbagai pihak, yaitu:
1.    Manfaat Bagi Siswa
Hasil evaluasi memberikan infotentang sejauh man ia telah menguasai bahan pelajaran yang disajikan guru. Dengan informasi ini siswa dapat mengambil sikap dan langkah yang sesuai di antaranya, apabila:
a)    Hasil Evaluasi Tidak Memuaskan
Apabila ternyata hasil evaluasi menunjukan siswa ini belum mencapai tujuan instruksional yang diinginkan , Ia dapat dimotivasi untuk belajar lebih giat lagi dan mencari cara untuk menutup kekurangannya.
b)   Hasil Evaluasi Memuaskan
Apabila hasil evaluasi memuaskan siswa , siswa tersebut terdorong  untuk mengulangi atau bahkan memperbaiki hasilnya supaya dapat memperoleh kepuasan yang serupa di waktu akan datang.
2.    Manfaat bagi pendidik(Guru)
Hasil evaluasi memberikan petunjuk bagi pendidik mengenai keadaan siswa, materi pengajaran , dan metode pengajaranya.
a)    Keadaan Siswa
Hasil evaluasi memberikan info kepada pendidikan tentang belajar tiap siswa berikut letak kesulitan belajar  yang dialami oleh mereka.Berdasarkan petunjuk ini pendidik dapat mengupayakan perbaikan atau pengayaan belajar siswa.
b)   Keadaan materi pengajaran
Hasil evaluasi pun dapat memberikan gambaran bagi pendidik tentang daya serap siswa atas materi pengajaran yang disajikan. Apabila hasil evaluasi menunjukan semua atau hampir semua siswa telah menguasai bahn pengajran tersebut, maka materi pengajaran tersebut tidak perlu diulangi lagi.
c)    Keadaan metode pengajaran
Hasil evaluasi dapat dapat menunjukan tepat tidaknya metode mengajar yang dipergunakan oleh pendidik dalam menyajikan suatu materi tertentu.
3.    Manafaat Bagi Pembimbing/Penyuluh
Bimbingan dan penyuluhan umumnya di arahkan kepada usaha speningkatan daya serap siswa serta penyesuaian siswa dengan lingkungannya. Upaya bimbingan dan penyuluhan akan lebuh terarah kepada tujuanya apabila di tunjang oleh info yang akurat tentang keadaan siswa, baik dari segi intelektualnya maupun dari segi emosionalnya. Untuk memperoleh informasi akurat yang diinginkan itu, evaluasi memegang peranan penting.
4.    Manfaat Bagi Sekolah
Keberhasilan kegiatan belajar mengajar ditentukan pula oleh kondisi belajar yang di ciptakan sekolah. Efektifitas kegiatan belajar mengajar yang diprasyaratkan antara lain oleh kondisi belajar yang diciptakan sekolah itu diperoleh infonya melalui evaluasi. Hasil dari evaluasi itu dapat dipakai sekolah untuk mengintrospeksi diri untuk melihat sejauh mana kondisi belajar yang diciptanya membantu terselenggaranya pengajaran dengan baik.
5.    Manfaat Bagi Orang Tua Siswa
Semua orang tua pasti ingin melihat sejauh mana tingkat kemajuan yang dicapai anaknya di sekolah. Kendatipun pengetahuan itu tidak menjamin adanaya upaya dari mereka untuk meningkatkan kemajuan anaknya. Oleh karena itu setiap semester sekolah memberikan laporan kemajuan siswa kepada orang tuanya dalam bentuk buku rapor, yang tidak lain adalah hasil evaluasi yang dibuat oleh guru dan semua petugas sekolah terhadap siswa.[5]
C.   Tujuan Evaluasi
Dr. Muchtar Buchori M.Ed mengemukakan bahwa tujuan khusus evaluasi pendidikan ada 2, yaitu:
1)   Untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu.
2)   Untuk mengetahui tingkat efesiensi metode-metode pendidikan yang dipergunakan pendidikan.[6]
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga diupayakan tidak lanjut. Tindak lanjut termasuk merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:
a)    Penempatan pada tempat yang tepat
b)   Pemberian umpan balik
c)    Diagnosis kesulitan belajar siswa ,atau
d)   Penentuan kelulusan
Untuk masing-masing tindak lanjut yang dikehendaki ini diadakan tes, yang diberi nama :
1)   Tes penempatan (placement test)
Tes  jenis disajikan pada awal tahun pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahauan yang telah dicapai sehubung denngan pelajaran yang akan disajikan.Dengan demikian siswa dapat ditempatkan pada kelompok  yang sesuai dengan tingakat pengetahuan yang dimilikanya itu.
2)   Tes Formatif (Formative Test)
Tes jenis ini disajikan di tengah program pengajaran untuk memantau (memonitori) kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik, baik kepada siswa maupun kepada Guru. Berdasarkan hasil tes itu guru dan siswa dapat mengetahui apa yang masih perlu dijelaskan kembali agar materi pelajaran dapat dikuasai lebih baik oleh siswa dan guru.
Tes formatif umumnya mengacu pada kriteria, karena itu disebut tes acuan kriteria. Dalam tes yang mengacu kepada kriteria dibuatkan tugas-tugas berupa tujuan instruksional (SK, KD, Indikator) yang harus dicapai siswa untuk dapat dikatakan berhasil dalam belajarnya. Tugas-tugas itu merupakan kriteria yang dipakai untuk menilai apakah siswa berhasil atau tidaknya dalam pelajaranya.
3)   Tes Diagnostik (Diagnostik test)
Tes jenis ini bertujuan mendiagnosa kesulitan belajar siswa untuk mengupayakan perbaikanya, maka dalam penyusunan tes ini harus terlebih dahulu diketahui bagaimana dari pengajaran yang memberikan kesulitan belajar pada  siswa. Berarti harus terlebih dahulu disajikan tes  formatif  untuk mengetahui ada tidaknya bagian yang belum dikuasai siswa. Baru setelah diketahui bagaimana yang belum diketahui siswa, dapat dibuat butir-butir soal lebih memusat pada bagian itu sehingga dapat dipakai untuk mendeteksi bagian-bagian mana dari pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang belum yang belum dikuasai .
4)   Tes Sumatif (summative test)
Tes jenis ini biasanya diberikan pada akhir tahun ajaran atau akhir suatu jenjang pendidikan. Tes ini dimaksudkan untuk memberi nilai yang menjadi dasar penentuan kelulusan atau pemberian sertifikat bagi yang telah menyelesaikan pelajaran dengan  keberhasilan baik.[7]
D.  Fungsi-Fungsi  Evaluasi Dalam  Proses Belajar Mengajar
Fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokan menjadi 4 fungsi, yaitu :
1)        Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa
Setelah mengalami  atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan  untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi  formatif) dan juga untuk mengisi rapor atau surat tanda tamat belajar, yang berarti pula untuk menetukan kelulusan seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (Fungsi sumatif).
2)        Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.
Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen yang dimaksud antara lain adalah tujuan , materi atau bahan pengajaran, metode/proses belajar mengajar, dan penilaian /evaluasi.
3)        Untuk keperluan Bimbingan & konselling (BK).
Hasil evaluasi yang telah dilaksanakan oleh Guru terhadap siswanya dapat dijadikan sebagai sumber informasi atau data bagi pelyan  BK oleh para konselor sekolah atau Guru  pembimbing lainnya.
4)        Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Hampir setiap saat  guru  melakuakan kegiatan evaluasi dalam rangka menilai program pengajaran ,yang berati pula menilai isi atau materi pelajaran yang terdapat di dalam kurikulum.[8]

E.   Prinsip-Prinsip  Evaluasi
Terdapat  beberapa  prinsip yang perlukan diperhatikan dalam melakukan evaluasi, antara lain:
1)   Keterpaduan
Evaluasi  merupakan komponen internal dalam program pengajaran disamping tujuan instruksional, materi, dan metode pengajaran ,semuanya itu merupakan kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisahkan.

2)   Keterlibatan Siswa
Prinsip  ini berkaitan erat dengan metode cara belajar siswa  aktif (CBSA) yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif itu.
3)   Koherensi
Dengan prinsip ini dimaksudkan agar evaluasi berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
4)   Paedagogis
Disamping sebagai alat penilaian terhadap hasil belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi paedagogis.
5)   Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pehak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accuontability).[9]

2.        KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR
A.    Pengertian Keberhasilan
Belajar merupakan proses aktifitas yang memiliki keterukuran secara jelas. Keberhasilan belajar dalam pengertian yang operasional adalah penguasaan suatu bahan ajar yang dinyatakan (TPK) tujuan pembelajaran khusus dan memiliki konstribusi bagi tujuan diatasnya.[10]
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing. Namun, untuk menyamakan persepsi sebaiknya guru berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa ”suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus(TIK)-nya dapat tercapai”.[11]
B.    Indikator Keberhasilan
Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal sebagai berikut:
·      Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
·      Perilaku yang diajarkan yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
Namun demikian, indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.[12]
C.    Penilaian Keberhasilan
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:
a)    Tes formatif
Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.
b)   Tes subsumatif
Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waaktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.
c)    Tes sumatif
Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhaadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapakn tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.

D.    Tingkat Keberhasilan
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi (hasil) belajar yang di capai. Sehubung dengan hal ini keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Istimewa/maksimal   :  Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat
dikuasi oleh siswa.
2.    Baik sekali/optimal   :  Apabila sebagian besar (76% s.d. 99%) bahan  pelajaran yang
diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3.    Baik/minimal            :  Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya  60% s.d. 75%
saja dikuasi oleh siswa.
4.    Kurang                    :  Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60%
dikuasai oleh siswa.
Dengan melihat data yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan persentase keberhasilan siswa dalam mencapai TIK (Tujuan Instruksional Khusus) tersebut, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.[13]
E.     Program Perbaikan
Taraf atau tingkat keberhasilan proses belajar mengajar dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya. Salah satunya adalah sehubungan dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri yang antara lain adalah: Apakah proses belajar mengajar berikut pokok bahasan baru, mengulang seluruh pokok bahasan yang baru saja diajarkan, atau mengulang sebagian pokok bahasan yang baru saja diajarkan, atau bagaimana?.
Jawaban terhadap pernyataan tersebut hendaknya didasarkan pada taraf atau tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang baru saja dilaksanakan.
1.    Apabila 75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar atau mencapai taraf keberhasilan minimal, optimal, atau bahkan maksimal pokok bahsan yag baru.
2.    Apabila 75% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf  keberhasilan kurang (di bawah taraf minimal), maka proses belajar mengajar berikutnya hendaknya bersifat perbaikan (remedial).
Pengukuran tentang taraf atau tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar ini ternyata berperan penting. Karena itu, pengukurannya harus betul-betul shahih (valid), andal (reliabel), dan lugas (objective). Hal ini mungkin tercapai bila alat ukuranya disusun berdasarkan kaidah, aturan, hukum atau ketentuan penyusunan butir tes.
Pengajaran berikut biasanaya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.    Mengulang pokok bahasan seluruhnya.
b.    Mengulang bagian dari pokok bahsan yang hendak dikuasai.
c.    Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama-sama.
d.    Memberikan tugas-tugas khusus.[14]

F.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan
Jika tidak guru yang mengatakan bahwa dia tidak ingin berhasil dalam mengajar, adalah ungkapan seorang guru yang sudah putus asa dan jauh kepribadian seorang guru.Mustahil setiap guru tidak ingi berhasil dalam mengajar. Apalagi jika guru itu hadir ke dalam dunia pendidikan berdasarkan tuntutan hati nurani. Panggilan jiwanya pasti merintih atas kegagalan mendidik membina anak didiknya.
Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun terkadang, keberhasilan yang di cita-citakan, tetapi kegagalan yang ditemui disebabkan oleh berbagai faktor sebagai penghambatanya. Sebaliknya, jika keberhasilan itu menjadi kenyataan, maka berbagai faktor itu juga sebagai pendukungnya. Berbagai faktor dimaksud adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, alat dan bahan evaluasi, dan suasana evaluasi.[15]
Berbagai faktor tersebut akan dijelaskan satu per satu sebagai berikut;
1.    Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar berpangakal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Semakin jelas dan operasional tujuan yang akan dicapai, maka semakin mudah menentukan alat dan cara mencapainya. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.

2.    Guru
Performance guru dalam mengajar banyak dipengaruhi berbagai faktor seperti tipe kepribadian, latar belakang pendidik, pengalaman dan yang tak kalah pentingnya berkaitan dengan pandangan filosofis guru terhadap murid.
Pandangan guru terhadap anak didik mempengaruhi kegiatan mengajar guru dikelas. Guru yang memandang anak sebagai makhluk individual yang tidak memiliki kemampuan atau laksana kertas kosong akan banyak menggunakan metode yang teacher-centered, bukan pendekatan yang student-centered. Sebab, murid dipandangnya sebagai gelas kosong yang bisa diisi apapun.
3.    Peserta didik
Peserta didik dengan segala perbedaanya seperti motivasi, bakat, minat, perhatian, harapan, yang menyatu dalam sebuah sistem belajar dikelas.
Perbedaan-perbedaan inilah yang wajib dikelola, diorganisasi guru, untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal. Apabila   guru tidak memiliki kecermatan dan keterampilan dalam mengelola perbedaan-perbedaan potensi peserta  didik maka proses pembelajar  sulit mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

4.    Kegiatan pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah tercapainya interaksi antara guru dengan peserta didik denngan bahan sebagai perantaranya. Guru yang menciptakan lingkungan belajar tidak terpenuhi. Peserta  didik merupakan subyek belajar yang memasuki atmosfir suasana belajar yang di ciptakan guru, oleh karena itu, guru dengan gaya mengajarnya berusaha mempengaruhi gaya dan cara belajar anak didik. Gaya mengajar menurut Muhammad Ali (1992), dapat dibedakan ke dalam empat  macam yaitu, gaya mengajar klasik, gaya mengajar teknologis, gaya mengajar personalisasi dan gaya mengajar interaksional.

5.    Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi oleh anak didik. Setiap anak didik dan guru wajib mempunyai buku paket tersebut guna kepentingan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Evaluasi memiliki cakupan bukan saja pada bahan ajar, tetapi pada keseluruhan proses belajar mengajar, bahkan pada alat dan bentuk evaluasi itu sendiri. Artinya, evaluasi yang dilakukan sudah benar-benar mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan dan proses yang dilakukan. Guru membuat perencanaan evaluasi secara sistematik dengan menggunakan alat evaluasi yang tepat. Alat evaluasi yanng bisa digunakan antara lain: benar-salah (true-false), pilihan  ganda (multiple choice), menjodohkan (matching), essay dan bentuk evaluasi bisa tertulis maupun lisan.
Evaluasi yang valid (sahih) bukan saja memberikan informasi prestasi dalam mencapai tujuan tetapi membicarakan umpan balik terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan.[16]

6.    Suasana evaluasi
Selain faktor  tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, serta bahan dan alat evaluasi, faktor suasana evaluasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas.[17]
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjabaran makalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengevaluasian menentukan keberhasilan belajar mengajar siswa. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, yakni diantaranya: tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, bahan dan alat evaluasi, dan suasana evaluasi.
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar mengajar sebuah ukuran atas proses pembelajaran. Apabila merujuk pada rumusan  operasioal keberhasilan belajar, maka belajar dikatakan berhasil apabila diikuti ciri-ciri: (1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok, (2) Perilaku yang diajarkan yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok, dan (3) terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial “sequencial” mengantarkan materi tahap berikutnya. Namun demikian, indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.



DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngalim. 1997. “Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran” Bandung:PT Remaja Rosdakarya offset.
Zaenal Mustakim, “Strategi & Metode Pembelajaran” (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), hlm. 178.
Wayan Nurkancana & Sunartana, “Evaluasi Pendidikan” (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 1.
Suke Silverius, “evaluasi Hasil Belajar dan umpan balik” (jakarta: grasindo, 1991), hlm. 1.
Pupuh Fathurrohman & Sobry,”strategi belajar mengajar” (Bandung : Refika Aditama, 2007), hlm.113.
Syaiful Bahri Djamaroh & Aswan Zain,”strategi belajar mengajar” (Jakarta : Asdi Mahasatya, 2006), hlm. 105.
Dyah Santoso, ”akta408press.com”, diakses dari http://akta 408.wordpress.com/2008/10/30/keberhasilan-belajar-mengajar/, pada 2011/10/24/jam 22:02 WIB.









[1] Ngalim Purwanto, “Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran” (Bandung:PT Remaja Rosdakarya offset, 1997), hlm. 3.
[2] Zaenal Mustakim, “Strategi & Metode Pembelajaran” (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), hlm. 178.
[3] Wayan Nurkancana & Sunartana, “Evaluasi Pendidikan” (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 1.
[4] Suke Silverius, “evaluasi Hasil Belajar dan umpan balik” (jakarta: grasindo, 1991), hlm. 1.
[5] Suke Silverius, Ibid.,  hlm. 6.
[6] Zaenal mustakim, op. cit, hlm. 182.
[7] Suke silverius, op.cit, hlm. 9.
[8]Ngalim purwanto, Op. Cit, hlm. 5.
[9] Suke Silverius, Op. Cit, hlm. 11.
[10]Pupuh Fathurrohman & Sobry,”strategi belajar mengajar” (Bandung : Refika Aditama, 2007), hlm.113.
[11] Syaiful Bahri Djamaroh & Aswan Zain,”strategi belajar mengajar” (Jakarta : Asdi Mahasatya, 2006), hlm. 105.
[12] Ibid., hlm.106.
[13] Syaiful Bahri Djamaroh & Aswan Zain, op.cit., hlm. 107.
[14] Dyah Santoso, ”akta408press.com”, diakses dari http://akta 408.wordpress.com/2008/10/30/keberhasilan-belajar-mengajar/, pada 2011/10/24/jam 22:02 WIB.
[15] Syaiful Bahri Djamaroh & Aswan Zain, op.cit., hlm. 109.
 [16] Pupuh, op.cit., hlm. 115.
[17] Syaiful Bahri Djamaroh & Aswan Zain, op.cit., hlm. 118.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar