new post

zzz

Senin, 08 Oktober 2012

sbm F5 : evaluasi - feed back

sbm F5 : evaluasi - feed back - word

sbm F5 : evaluasi - feed back - ppt






MAKALAH
EVALUASI DAN UMPAN BALIK


Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : M. Ghufron Dimyati, M.Si.





Disusun Oleh :
Kelas F
1.      Nur Aini Mahbubah        202  111  0273           
2.      Khomsatun Nadhiroh      202  111  0274
3.      M. Charist Arrosyid        202  111  0275

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2012

BAB I
PENDAHULUAN
Proses belajar mengajar sangat erat kaitannya dengan materi, metode belajar mengajar, dan evaluasi serta umpan balik. Ke empat elemen tersebut tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, semuanya harus berdampingan dan berjalan secara seimbang sesuai dengan kaidahnya masing-masing.
Tujuan pengajaran yang hendak dicapai sekolah mempunyai kaitan dengan materi yang hendak diberikan dan dengan metode belajar-mengajar yang dipakai guru dan siswa dalam memberikan atau menerima materi tersebut. Sejauh mana keberhasilan guru memberikan materi, dan sejauh mana siswa menyerap materi yang disajikan itu dapat diperoleh informasinya melalui evaluasi.
Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang ditetapkan oleh guru dan kemudian benar-benar diusahakan pencapaiannya oleh guru dan siswa. Betapapun baiknya evaluasi, apabila tidak didasarkan atas tujuan pengajaran yang diberikan, tidaklah akan tercapai sasarannya. Demikian pula betapapun baiknya tujuan pengajaran yang ditetapkan, jika tujuan tersebut tidak diwujudkan dalam penyajian pengajaran itu tiadalah berguna pula tujuan itu.
Begitupun umpan balik sangat diperlukan dalam proses belajar-mengajar, baik untuk menunjang pengembangan pemahaman materi pengajaran ataupun untuk mengetahui sampai dimana pemehaman siswa terhadap materi pengajaran itu sendiri.
Semuanya itu akan dibahas dalam makalah ini, lebih khususnya yaitu tentang evaluasi dan umpan balik dalam belajar mengajar. Adapun pembahasan yang lain tentang strategi elajar mengajar, sudah atau bahkan akan dibahas pada makalah yang lain. Semoga bermanfaat.
Selamat membaca…




BAB II
PEMBAHASAN
A.    EVALUASI
1.      Pengertian Evaluasi
Evaluasi secara harfiah berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti nilai. Sehingga secara harfiah evaluasi adalah penilaian dalam bisang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Sedangkan menurut istilah evaluasi berarti suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Dan dapat disimpulkan dari pengertian tersebut bahwa evaluasi adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya[1].
Bloom memberikan batasan tentang evaluasi yaitu pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyetaannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa. Stufflebeam berpendapat bahwa evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperolwh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Pendapat lain mengatakan bahwa evaluasi merupakan pertimbangan professional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu[2].
2.      Ciri-Ciri Evaluasi
Ciri-ciri pokok evaluasi pendidikan dijelaskan oleh H.G. Shane sebagai berikut ;
Pertama, penilaian dalam pendidikan itu dilakukan secara tidak langsung. Obyek pengukuran dan penilaian dalam pendidikan adalah peserta didik, tidak dilihat dari sosok fisiknya, seperti berat da tinggi badannya, melainkan aspek psikologiknya, seperti sikap, minat, bakat, intelegensi, dan hasil belajar. Aspek-aspek tersebut tidak dapat diukur secara langsung.
Kedua, penggunaan ukuran kuantitatif, karena penilaian selalu dimulai dari pengukuran, maka hasil pengukuran akan menggunakan satuan-satuan secara kuantitatif. Penggunaan satuan kuantitatif ini untuk mendapatkan hasil pengukuran yang obyektif, dan pasti setelah itu dapat dioleh dan ditafsirkan ke dalam satuan kualitatif.
Ketiga, penilaian pendidikan itu menggunakan unit satuan yang tetap. Sebab apabila penggunaan satuan pengukuran tidak tetap, akan mengakibatkan hasil evaluasi tidak memiliki nilai keajegan, prediksinya menjadi rendah. Keempat, penilaian pendidikan bersifat relatif, artinya hasil penilaian itu sudah menggunakan satuan yang tetap, hasilnya tidaklah selalu sama dari waktu ke waktu. Kelima, penilaian pendidikan tidak mungkin terhindar dari kesalahan, kesalahan disini bermacam-macam penyebabnya[3].
3.      Prinsip-Prinsip Evaluasi
Betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan betapapun sempurnanya teknik evaluasi yang diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya maka hasil evaluasi pun akan kurang dari yang diharapkan. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi.
a.       Keterpaduan
Perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.
b.      Keterlibatan siswa
Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang menuntut keterlibatan secara aktif itu. Siswa merasakan evaluasi terhadap kegiatannya sebagai suatu kebutuhan mutlak.
c.       Koherensi
Dengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
d.      Pedagogis
Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai ganjaran yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang tidak atau kurang berhasil.
e.       Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilah program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban[4].
4.      Langkah Langkah Evaluasi
Secara umum langkah-langkah pokok evaluasi pendidikan meliputi tiga kegiatan utama, yaitu ;
a.       Perencanaan dan perumusan kriteria
Langkah perencanaan dan perumusan kriteria mencakup perumusan tujuan evaluasi, penetapan aspek-aspek yang akan diukur, menetapkan metode dan bentuk ters, merencanakan waktu evaluasi, melakukan uji coba tes untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan.
b.      Pengumpulan data
Dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang keadaan objek dengan menggunakan alat yang telah diuji coba.
c.       Persifikasi data
Langkah untuk penelitian terhadap data.
d.      Pengolahan data
Langkah untuk menjadikan data lebih bermakna, sehingga dengan data itu orang dapat memperoleh beberapa gambaran yang lebih lengkap tentang keadaan peserta didik.
e.       Penafsiran data
Verbalisasi atau pemberian makna dari data yang telah diolah[5].
5.      Makna Evaluasi
Evaluasi mempunyai makna bagi berbagai pihak. Evaluasi hasil belajar siswa bermakna bagi semua komponen dalam proses pengajaran, terutama siswa, guru, pembimbing sekolah, dan orang tua siswa.
a.       Makna bagi siswa
Hasil evaluasi memberikan informasi tentang sejauh mana siswa telah menguasai bahan pelajaran yang disajikan guru. Dengan informasi ini siswa dapat mengambil langkah-langkah yang sesuai. Terdapat dua kemungkinan bagi siswa untuk emngambil sikap dan langkah yang sesuai.
Pertama, hasil evaluasi tidak memuaskan. Apabila ternyata hasil evaluasi menunjukkan siswa itu belum mencapai tujuan instruksional yang diinginkan, siswa dapat dimotivasi untuk belajar lebih giat lagi dan mencari upaya uantuk menutup kekurangannya.
Kedua, hasil evaluasi memuaskan. Apabila hasil evaluasi memuaskan siswa, akan mendorong untuk mengulangi atau bahkan memperbaikli hasilnya supaya dapat memperoleh kepuasan yang serupa di waktu yang akan datang.
b.      Makna bagi guru
Hasil evaluasi memberikan petunjuk bagi guru mengenai keadaan siswa, materi pengajaran, dan metode mengajarnya.
Keadaan siswa, hasil evaluasi dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan belajar tiap siswa berikut letak kesulitan belajar yang dialami siswa. Keadaan materi pengajaran¸ hasil evaluasi pun dapat memberikan gambaran bagi guru tentang daya serap siswa atas materi pengajaran yang disajikannya. Keadaan metode pengajaran, hasil evaluasi dapat menunjukkan tepat tidaknya metode mengajar yang dipergunakan oleh guru dalam menyajikan duatu materi tertentu.
c.       Makna bagi pembimbing sekolah
Upaya bimbingan dan penyuluhan akan lebih terarah kepada tujuannya apabila ditunjang oleh informasi yang akurat tentang keadaan siswa, baik dari segi intelektualnya maupun dari segi emosionalnya.
d.      Makna bagi orang tua siswa
Keberhasilan kegiatan belajar mengajar ditentukan pula oleh kondisi belajar yang diciptakan sekolah. Efektivitas kegiatan belajar mengajar yang dipersyaratkan antara lain oleh kondisi belajar yang diciptakan sekolah itu diperoleh informasinya melalui evaluasi.
6.      Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa penempatan pada tempat yang tepat, pemberian umpan balik, diagnosis kesulitan belajar siswa, dan penentuan kelulusan[6].
Dalam sumber lain tujuan evaluasi dibagi menjadi dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Adapu tujuan umumnya adalah sebagai berikut;
a.       Untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
b.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah;
a.       Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
b.      Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidak berhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya[7].
Adapun fungsi evaluasi adalah sebagai berikut ;
a.       Evaluasi berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain ;
·         Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu
·         Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya
·         Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapatkan beasiswa
·         Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
b.      Evaluasi berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa.
c.       Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Pendekatan yang bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi.
d.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan
Dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum[8].
Dalam sumber lain disebutkan bahwa fungsi evaluasi adalah sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui taraf kesiapan daripada siswa untuk menempuh suatu pendidikan tertentu.
b.      Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
c.       Untuk mengethaui apakah suatu mata pelajaran yang diajarkan dapat dilanjutkan dengan bahan yang baru ataukah haris mengulangi kembali bahan-bahan pelajaran yang telah berlalu.
d.      Untuk mendapatkan bahan-bahan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jenis jabatan yang cocok untuk siswa tersebut.
e.       Untuk mendapatkan bahan-bahan informasi untuk menentukan apalah seorang siswa dapat dinaikkan ke dalam kelas yang lebih tinggi ataukah harus mengulang di kelas semula.
f.       Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai oleh siswa sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum.
g.      Untuk menafsirkan apakah seorang siswa telah cukup matang untuk dilepaskan ke dalam masyarakat atau melanjutkan ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
h.      Untuk mengadakan seleksi
i.        Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar[9].
B.     UMPAN BALIK
1.      Pengertian Umpan Balik
Umpan balik dapat diartikan kedalam dua bagian yaitu umpan balik saat proses pembelajaran berlangsung dan umpan balik setelah dilakukan proses evaluasi. Umpan balik  yang diberikan anak didik selama pelajaran berlangsung ternyata bermacam-macam, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru. Rangsangan yang diberikan guru bermacam-macam dengan tanggapan yang bermacam-macam pula dari anak didik, dengan menggunakan sistem Tanya jawab. Kesesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar anak didik dapat menciptakan interaksi dua arah. Inilah apa yang dimaksud dengan umpan balik saat proses pembelajaran berlangsung[10].
Sedangkan umpan balik setelah dilakukan proses evaluasi berpengertian bahwa umpan balik adalah pemberian informasi yang diperoleh dari tes atau alat ukur lainnya kepada siswa untuk memperbaiki atau meningkatkan pencapaian atau hasil belajarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa umpan balik berkaitan erta dengan kegiatan belajar mengajar terdahulu yang dievaluasi dengan suatu alat evaluasi. Hasil evaluasi ini memberikan informasi mengenai sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang disajikan delam proses belajar mengajar.
Kondisi atau keadaan siswa maupun situasi pengajaran menentukan keberhasilah usaha pemberian umpan balik terhadap belajar siswa. Berikut beberapa ketentuan mengenai umpan balik :
a.       Umpan balik tidak mempermudah belajar jika;
·         Siswa sudah mengetahui jawaban yang benar sebelum memberikan jawaban atas soal.
·         Bahan yang hendak dipelajari terlalu sukar dimengerti oleh siswa sehingga siswa pada umumnya menebak jawaban soal-soal yang diberikan.
b.      Umpan balik membantu dan mempermudah belajar apabila memenuhi syarat sebagai berikut;
·         Mengkonfirmasikan jawaban-jawaban benar yang diberikan siswa dan menyampaikan kepadanya seberapa jauh siswa mengerti materi belajar yang disajikan.
·         Mengidentifikasi kesalahan serta memperbaikinya atau menyruh siswa memperbaikinya sendiri[11].
2.      Teknik-teknik Dlam Umpan Balik
Untuk mendapatkan umpan balik (dalam proses pembelajaran) dari peserta didik diperlukan beberapa teknik yang sesuai dan tepat dengan diri setiap peserta didik sebagai makhluk individual. Berikut beberapa teknik untuk mendapatkan umpan balik dari peserta didik, yaitu ;
a.       Memancing apersepsi peserta didik
Peserta didik adalah makhluk individual yang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Dengan demikian, usaha guru menghubungakn pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik dengan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.
Bahan apersepsi sangat membantu peserta didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Penjelasan demi penjelasan dapat bisa dicerna peserta didik secara bertahap hingga proses pelajaran berakhir. Akhirnya pengetahuan guru mengenai apersepsi dapat memancing aktivitas belajar peserta didik secara optimal.
b.      Memanfaatkan taktik akat bantu yang akseptabel
Penggunaan alat bantu tidak hanya berlaku untuk peserta didik di tingkat SD, tetapi dapat juga dilakukan di tingkat SMP atau SMA. Tetapi memang frekuensi penggunaannya lebih banyak untuk peserta didik di tingkat SD, karena pada masa itu peserta didik masih berpikir konkret. Penguasaan bahasa anaj yang minim dan sedikitnya pengetahuan, lebih besar menuntut kehadiran alat bantu dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian alat bantu yang akseptabel dapat dimafaatkan sebagai taktik yang jitu untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap bahan pelajarna yang disampaikan oleh guru. Umpan balik pun terjadi seiring fdengan proses belajar peserta didik yang berkelanjutan.
c.       Memilih bentuk motivasi yang akurat
Dalam usaha membangkitkan gairah belajar peserta didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu ;
·         Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
·         Menjelaskan secara konkrit kepada peserta didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
·         Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai peserta didik
·         Membentuk kebiasaan belajar yang baik
·         Membantu kesulitan belajar peserta didik secara individual maupun kelompok
·         Menggunakan metode yang bervariasi.
Kemudian ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap bahan pelajaran yanf diberikan. Bentuk motivasi tersebut adalah:
·         Memberi angka
Angka dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar peserta didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik bervariasi sesuai hasil ulangan yang telah dicapai dari hasil penilaian guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk mempertahankan atau meningkatkan prestasi belajarnya.
·         Hadiah
Peemberian hadiah bias diterapkan di sekolah. Guru dapat memberikan hadiah kepada peserta didik yang berprestasi. Pemberian hadiah tidak mesti dilakukan pada waktu kenaikan kelas. Tetapi dapat pula dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru dapat memberikan hadiah berupa apa saja kepada peserta didik yang berprestasi dalam menyelesaikan tugas, benar menjawab ulangan formatif yang diberikan, dapat meningkatkan disiplin dalam belajar, taat pada tata tertib di sekolah, dll.
·         Pujian
Pujian adalah alat motivasi yang positif. Dalam kegiatan belajar mengajar, pujian dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena peserta didik  jug manusia, maka dia juga senang dipuji. Guru dapat memakai pujian untuk menyenangkan perasaan peserta didik. Peserta didik senang mendapatkan perhatian guru. Dengan pemberian perhatian, peserta didik merasa diawasidan dia tidak akan dapat berbuat menurut sekehendaknya sendiri. Pujian dapat berfungsi untuk mengarahkan kegiatan peserta didik Pda hal-hal yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran.
·         Gerakan tubuh
Gerakan tubuh dalam bentuk mimic yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dll adalah sejumlah gerakan fisik yang dapat memberikan umpan balik dari peserta didik. Gerakan tubuh merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar peserta didik, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan.
·         Memberi tugas
Tugas adalah suatu ekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada peserta didik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tugas belajar peserta didik.
·         Memberi ulangan
Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran. Dalam rentang waktu tertentu guru tidak pernah melupakan masalah ulangan ini. Sebab dengan ulangan yang diberikan kepada peserta didik, guru akan mengetahui sampai dimana hasl pengajaran yang telah dilakukannya dan smpai sejauh mana tingkat penguasaan peserta didik terhadap bahan yang diberikan dalam rentangan wkatu tertentu. Dalam kegiatan belajar mengajar, ulangan dapat guru manfaatkan untuk membangkitkan perhatian peserta didik terhadap bahan yang diberikan di kelas.
·         Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil dari apa yang telah dilakukan oleh peserta didik, apa lagi hasilnya dengan prestasi yang tinggi, dapat mendorong peserta didik untuk mempertahankannya dan bahkan berusaha untuk meningkatkannya di kemudian hari.
·         Hukuman
Hukuman adalah reinforcement yang negative, tetapi diperlukan dalam pendidikan. Hukuman dimaksudkan tidak seperti hukuman penjara, tetapi hukuman yang bersifat mendidik.
d.      Menggunakan metode yang bervariasi
Penggunaan metode yang bervariasi, dapat menjembatani gaya-gaya belajar anak didik dalam menyerap bahan pelajaran. Umpan balik dari peserta didik akan bangkit sejalan dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi psikologis peserta didik[12].
3.      Fungsi Umpan Balik
Umpan balik memiliki 3 fungsi utama yakni fungsi informasional, motivasional, dan komunikasional.
a.       Fungsi informasional
Informasi yang diberikan dalam umpan balik dibedakan atas 5 tingkat yaitu;
·         Tidak ada umpan balik
·         Umpan balik berupa keterangan mengenai salah atau benar jawaban yang diberikan siswa (knowledge of results (KR))
·         Umpan balik berupa keterangan mengenai salah atau benarnya jawaban ditambah dengan menunjukkan jawaban yang benar (knowledge of the correct response (KCR))
·         KCR ditambah penjelasan
·         KCR ditambah pengajaran tambahan.
b.      Fungsi motivasional
Dengan pemberian umpan balik, maka tes sekaligus berfungsi sebagai motivator bagi para siswa untuk meningkatkan potensi belajarnya.
c.       Fungsi komunikasional
Pemberian umpan balik merupakan upaya komunikasi antara siswa dan guru. Guru menyampaikan hasil evaluasi kepada siswa, dan bersama siswa membicarakan upaya peningkatan dan perbaikannya. Dengan demikian, melalui umpan balik siswa mengetahui letak kelemahannya dengan sendiri dan atau bersama guru bereaksi terhadap hasil tersebut[13].







BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dalam mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal selain diperlukan suatu input, proses dan segala yang ada di dalamnya, evaluasi dan umpan balik juga berperan sangat aktif dalam menunjang keberhasilan tujuan tersebut. Karena evaluasi adalah alat ukur untuk mengetahui sampai mana tingkat keberhasilah suatu proses kependidikan. Serta umpan balik juga demikian, karena dengan umpan balik, pembelajaran dapat mudah dicerna dan dapat diketahui kelemahan-kelemahan dalam pemahaman materi serta dapat mengatasinya sehingga dicapailah tujuan pembelajaran itu dengan baik pula.
Sehingaa dapat disimpulkan bahwa suatu proses pendidikan tidak akan terlepas dari aspek evaluasi dan umpan balik, karena keduanya merupakan sebuah sistem pendidikan yang saling mengisi antara satu dengan yang lain dan tidak bisa beridiri sendiri dan dipisah-pisahkan. Semaunya merupakan satu kesatuan yang terpadus
B.     Saran
Manusia tidak lepas dari salah dan kekhilafan, apabila masih ada kesalahan baik dari segi bahasa maupun tulisan, kami dari penyusun makalah mohon di perbaiki guna menyempurnakan dari makalah kami ini.









DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Djamarah Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Nurkancana, Wayan dan P. P. N. Sunartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sudijono,Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Thoha, M. Chabib. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



[1] Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 1-2
[2] Dr Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1991), hlm. 4
[3] Drs. M. Chabib Thoha, M.A., Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 11-12
[4] Dr. Suke Silveriu, Op Cit, hlm. 11-12
[5] Drs. M. Chabib Thoha, M.A., Op Cit, hlm. 18-19
[6] Dr. Suke Sulverius, Op Cit, hlm. 9
[7] Prof. Drs. Anas Sudijono, Op Cit, hlm. 16-17
[8] Drs. H. Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), hlm. 14-16
[9] Drs Wayan Nurkancana dan Drs P. P. N. Sunartana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 3-6
[10] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag dan Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 141-142
[11] Dr. Suke Sulverius, Op Cit, hlm. 148-149
[12] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 143-159
[13] Dr. Suke Sulverius, Op Cit, hlm. 149-152

12 komentar:

  1. nama : nur daningsih
    nim : 2021111046
    kelas : F

    seberapa besar pengaruh umpan balik terhadap peserta didik dalam pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat berpengaruh sekali, karena dengan umpan balik pembelajaran menjadi lebih hidup, peserta dapat lebih mudah dalam menerima pembelajaran dan tujuan pembelajaran lbih mudah tercapai.

      Hapus
  2. Dewi Nurlita Kurniawati
    2021111036
    jelaskan keempat teknik dalam umpan balik tersebut, manakah yang biasa digunakan? apa alasannya? serta berikan contoh pengaplikasiannya dalam pembelajaran sekarang.
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. penjelasannya bisa dibaca dimakalah karena sudah dijelaskan, adapun penggunaannya, semua bisa digunakan namun sesuai dengan kondisi siswa, disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik tersebut.
      untuk apersepsi biasanya digunakan pada siswa sekolah dasar. dalam bentuk motivasipun bermacam-macam dan bisa digunakan pada semua jenjang pendidikan. begitupun pada masalah metode yang bervariasi.

      Hapus
  3. ELLY ANISAH
    2021111035

    Tolong jelaskan faktor penyebab terjadinya kesalahan dalam evaluasi penilaian pendidikan apa saja dan apakah dalam umpan balik hanya menggunakan sistem tanya jawab saja apakah ada yang lain?

    terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. langsung pada contohnya, evaluasi disini kesalahannya bukan pada proses penghitungan, namun kesalahan itu terjadi saat evaluasi itu berlangsung. contoh saat evaluasi tak jarang peserta didik melakukan kecurangan-kecurangan yang bermacam-macam.
      adapun teknik dalam umpan balik bukan hanya tanya jawab, namun bermacam-macam, bisa dibaca di makalah.

      Hapus
  4. naely fajriyah hasan
    2021 111 037
    appakah evaluasi dengan asesmen itu sama appa beda dan tolong sebut apa persamaan dan perbedaannya
    gumawo oppa ,,,, :)

    BalasHapus
  5. yeni nur khasanah
    2021110266


    Bagaimana sikap seorang guru apabila tujuan dari adanya evaluasi itu tidak tercapai secara optimal dan tidak ada umpan balik dari siswa terkait dengan proses pembelajaran yang berlangsung?
    Trs apa kelebihan dan kekurangan dari adanya evaluasi itu sendiri???
    terimakasih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelumnya telah dijelaskan bahwa umpan balik yang dibahas tidak hanya dalam pengertian saat pembelajaran berlangsung, namun setelah pembelajaran pun. sehingga jika evaluasi tidak terlaksana dengan maksimal, maka bisa dilakukan umpan balik dengan pemberian program remidial, atau tugas-tugas lainnya.
      kelebihan evaluasi adalah bisa mengetahui perkembangan siswa dalam menangkap pembelajaran yang diberikan. masalah kekrangan ,menurut kami tidak ada karena pada dasarnya evaluasi bertujuan baik.namun kelemahannya ada. penjelasan kelemahan ada di comentnya mbak elly annisah

      Hapus
  6. Husnul Lina Luaini
    2021110279

    bagaiaman jika dalam suatu pembelajaran tidak terdapat evaluasi?
    kemudian menurut pemkalah bagaimana jika ditemukan sebuah kecurangan dalam evaluasi proses belajar mengajar? bagaiman tindak lanjutnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut kami itu suatu tindakan yang kurang baik bagi guru, karena tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui perkembangan siswa dalam menangkap materi pembelajaran yang diberikan.

      tidak bisa dihindari dalam evaluasi jika dilakukan suatu kecurangan, ini sesuai dengan penjelasan makalah kami. adapun tindak lanjutnya adalah bagaimana seorang guru meminimalisir kecurangan tersebut, dengan berbagai cara dan taktik tertentu

      Hapus