Laman

Jumat, 15 Februari 2013

A1-1 Zaenal Arifin: Rumah Tangga Penuh Kasih Sayang

MAKALAH
HADITS TARBAWI II

LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA
RUMAH TANGGA PENUH KASIH SAYANG

Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah    :  Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu      :  Ghufron Dimyati, M.S.I



Disusun oleh :

Zaenal Arifin
202 109 251
Kelas A


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
      
BAB I
PENDAHULUAN
Sebuah masyarakat di negara manapun adalah kumpulan dari beberapa keluarga. Apabila keluarga kukuh, maka masyarakat akan bersih dan kukuh. Namun apabila rapuh, maka rapuhlah masyarakat. Membina rumah tangga atau pun menikah memang tidaklah sullit, tetapi membangun keluarga bukan sesuatu hal yang mudah. Pekerjaan membangun, pertama harus didahului dengan adanya gambar sebagai konsep dari bangunan yang diinginkan.
Al-Qur’an membangun sebuah keluarga yang kuat untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang memelihara aturan-aturan Allah dalam kehidupan. Aturan yang ditawarkan oleh Islam menjamin terbinanya keluarga bahagia, lantaran nilai kebenaran yang dikandung, serta keselarasannya yang ada dalam fitrah manusia.
Hal demikianlah yang mendasari kami menulis makalah ini. Pada makalah ini akan diuraikan tentang rumah tangga. Pada kesempatan kali ini pemakalah akan berusaha menguraikan sebuah tema dari hadits tarbawi yaitu “ Rumah Tangga” Dalam bahasan kali ini kami akan mencoba memberikan suatu gambaran dan penjelasan terkait tema hadits tarbawi diatas, juga menjelaskan isi hadits dalam pokok bahasan tersebut, semoga apa yang kami paparkan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Materi Hadits

1- قَالَ أَبُو عَبْدِاللهِ الْجَدَلِي قُلْتُ لِعَائِشَةَ كَيْفَ كَانَ خُلُقُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فى أَهْلِهِ قَالَتْ :{كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَابًا بِالْأَسْوَاقِ وَلَا يُجْزِئُ بِالسَّــيِّـــئَةِ مِثْلَهَا وَلَكِنْ عَفُوٌّو وَ يَصْفَحُ} (رواه أحمد فى المسند, باقى مسند الأنصارى)


B.     Terjemahan Hadits
"Abu Abdullah Al-Jadali r.a. berkata, Suatu hari aku bertanya kepada Aisyah r.a tentang akhlak Nabi Muhammad saw. Ia Menjawab. “Bagus-bagusnya manusia adalah nabi Muhammad saw Beliau Tidak pernah bersikap kasar dan tidak pernah berteriak dipasar dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi beliau selalu memaafkan dan tidak mengungkitnya." (HR. Imam Ahmad)


C.    Kosa Kata

Akhlak           : خُلُقُ
Bagus             : أَحْسَنَ
Kasar             : فَاحِشًا
Berteriak         : مُتَفَحِّشًا
Memaafkan     : عَفُوٌّو






D.    Biografi Prowi Hadits

Aisyah adalah Putri dari Abu Bakar hasil dari pernikahan dengan istri keduanya, yaitu Umml Ruman yang telah melahirkan Abd al Rahman dan Aisyah menurut tsabani Aisyah lahir sebelum tahun 610 M. Aisyah adalah istri Nabi Muhammad SAW, ia menikah pada tahun 623 M tepat 1 H. Aisyah mendapat gelar Ummul Mu’minin yaitu “ Ibu orang- orang mu’minin perempuan lainnya.
Aisyah adalah wanita yang luar biasa, Rasulullah SAW menjulukinya “ Humairoa” (si jelita yang kemerah-merahan pipinya ), bahkan ia tak hanya cantik lahirnya, sopan tutur katanya, dan lembut perilakunya, tetapi juga dikenal sebagai wanita yang smart ( cerdas ) dan pandai sehingga menjadikannya al Mukatsirin orang yang banyak meriwayatkan hadits 297 diantaranya tersebut dalam kitab shahihan, dan yang mencapai derajat muttafaq  alaih hadits.

E.     Keterangaan Hadits
Berapa banyak rumah tangga yang hancur, hubungan suami-istri rusak lantaran kemarahan masing-masing suami-istri atau salah satunya, atau tiadanya kesabaran yang satu dengan yang lainnya. Dalam hubungan suami-istri dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, sehingga perahu rumah tangga dapat berlayar dengan selamat menuju dermaga kebahagiaan dan keharmonisan. Rumah tangga yang islami adalah rumah tangga yang dijalankan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak melangkahkan kaki untuk suatu hal kecuali setelah mengetahui ketentuan hukumnya dari Allah (AlQur’an) dan RasulNya (sunnah).
 Setelah mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali keduanya tidak akan mengesampingkannya demi mengutamakan kebiasaan (adat) atau hawa nafsu. Keduanya menjunjung tinggi akidah atau keyakinan mereka, dan tetap berdiri  tegak meski harus menentang mereka, serta mempersembahkan yang terbaik dan menjadi panutan dalam membina rumah tangga yang islami sesuai dengan batas kemampuan mereka di bawah panduan Alqur’an dan Sunnah Nabi-Nya.

F.     Hadits Pendukung
Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi setiap manusia, keluarga merupakan benteng utama bagi anak-anak dibesarkan dengan pendidikan pertama yaitu dari kedua orang tuanya, Shaleh dan tidaknya perilaku seorang anak ditentukan oleh keluarganya sendiri sebagai pendidik atau pengasuh pertama. Keluarga merupakan pangkal ketentraman dan kedamaian hidup bagi setiap manusia, ajaran Islam memandang bahwa keluarga bukan saja merupakan perkumpulan orang, akan tetapi lebih dari itu, yakni keluarga merupakan suatu lembaga hidup manusia yang dapat memberi kemungkinan bahagia atau celakanya manusia baik di dunia atau pun diakhirat kelak. Firman Allah (QS. At- Tahriim 66: 06)





Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim/66: 06)

G.    Aspek Tarbawi

1.      Keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak
2.      Seorang pemimpin dalam rumah tangga harus bisa menjadi teladan yang baik untuk keluarganya
3.      Keluarga yang baik selalu menjaga kebersamaan dalam suka dan duka
4.      Perkataan seorang pemimpin rumah tangga harus dijaga agar dapat terucap dengan baik
5.      Dukungan dari keluarga mempengaruhi kesuksesan seseorang
6.       Anak lebih paham diajarkan melalui contoh perilaku dibandingkan hanya dengan perkataan,sebab perilaku mendukung daya berfikirnya
7.      Baik buruknya seorang anak dapat terpengaruh oleh keluarga
           

BAB III
PENUTUP

Alhamdulillah, demikianlah beberapa hadist  yang  kaitanya dengan rumah tangga yang dapat kami uraikan. Semoga bisa memberikan banyak manfaat kepada kita semua.

Di dalam rumah tangga tanpa adanya “al-mawaddah” dan “al-Rahmah”, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan. Dua perkara ini sangatlah diperlukan kerana sifat kasih sayang yang wujud dalam sebuah rumah tangga dapat melahirkan sebuah masyarakat yang bahagia, saling menghormati, saling mempercayai dan tolong-menolong.


                                                                                                     





















BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Imam al Bukhari,Adabul Mufrod,Pustaka al kautsar,Jakarta Timur,2008.

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasby. 1997. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar