Laman

new post

zzz

Jumat, 15 Februari 2013

A1-4 Anang Ghufron: Teladan dari Pemimpin Rumah Tangga


MAKALAH

LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA
TELADAN DARI PEMIMPIN RUMAH TANGGA

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah                       : HADITS TARBAWI II
Dosen Pengampu            :  GHUFRON DIMYATI, M.S.I



Disusun Oleh :
ANANG GHUFRON
202109437
Kelas A

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN )
PEKALONGAN
2013







BAB I
PENDAHULUAN

Bismillahirohmanirrohim,. Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah memberikan banyak kenikmatan di antaranya ialah nikmat iman, Islam, jasmani, akal, pikiran, sehingga kita dapat memikirka tentang segala penciptaannya dan membaca Kalam - Nya yaitu Al-Qur’an. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada beliau Rosulullah Muhammad SAW
Pada kesempatan kali ini pemakalah akan berusaha menguraikan sebuah tema dari hadits Tarbawi yaitu “ teladan dari pemimpin rumah tangga” juga menjelaskan isi hadits dalam pokok bahasan tersebut ,semoga apa yang kami paparkan dalam karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa khususnya ,dan masyarakat pada umumnya. Amin















BAB II

A.    MATERI  HADITS

Hadits 4      : Teladan dari Pemimpin Rumah Tangga

4- حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا صَالِحٌ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ قَالَ   كَانَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ إِذَا أَشْفَى عَلَى خَتْمِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ بَقَّى مِنْهُ شَيْئًا حَتَّى يُصْبِحَ فَيَجْمَعَ أَهْلَهُ فَيَخْتِمَهُ مَعَهُمْ    (رواه الدارمي فى السنن,كتاب فضا ئل القران,باب فى ختم القران)

B.     TERJEMAH  HADITS
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Shalih dari Tsabit Al Bunani ia berkata; Apabila Anas bin Malik hampir mengkhatamkan Al Qur'an di malam hari, ia menyisakan sedikit dari Al Qur'an hingga waktu pagi. Lalu ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia mengkhatamkan Al Qur'an bersama mereka.(HR. Ad-Darimi) Riwayat Adarimy di Sunan nya-Sunan Adarimy-,  Kitab Fadhilah-keutamaan- Al Qur’an, Bab Khatamil Qur’an –Khataman Qur’an-.
 [1]

C.    MUFRODATNYA
Artinya : Dari Tsabit al Bunaaniyi berkata : عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ قَال         
INDONESIA
عربيى
Adalah
كَانَ
Anas bin Malik
اَنَسُ بْنُ مَالِكِ
Apabila
اِذَا
Sudah mendekati
اَشْفَى عَلَى
Khatam Al-Qur’an
خَتْمِ الْقُرْاَنِ
Pada waktu malam
بِللَّيْلِ
Masih atau menyisakan sedikit
بَقَّى
Darinya
مِنْهُ
Sesuatu
شَيْئًا
Sampai
حَتَّى
Pagi hari
يُصْبِحَ
Mengumpulkan
فَيَجْمَعَ
Keluarganya
اَهْلَهُ
Mengkhatamkannya
فَيَخْتِمَهُ
Bersama
مَعَهُمْ


D.    BIOGRAFI  PEROWI  HADITS

Nama lengkapnya adalah Tsabit bin Aslam al Bunani al Bashri Abu Ahmad,ia adalah seorang tabi’in yang mulia, zuhud dan ahli ibadah. Nama dan sejarah hidupnya –sirah- turut mengisi cakrawala para ‘abid (ahli ibadah) yang senantiasa menghidupkan malam-malam mereka dengan ta’abbud kapada Allah SWT dan menempuh jalan ketakwaan.
Tsabit al bunani selalu menyerahkan dirinya kepada Allah, ia selalu rindu dengan shalat dan sujud di hadapan Allah sehingga ia tidak lagi memiliki keinginan apapun dari materi dunia. Tiada yang dijadikan sebagai tujuan hidupnya kecuai shalat, dzikir, dan menyebarkan hadis nabi SAW. Ia banyak meriwayatkan hadits dari Anas.
Tsabit al bunani selalu meneguhkan hatinya dengan berdoa kepada Allah agar jangan sampai mengharamkan dirinya menikmati kelezatan sujud di hadapan Allah, juga kelezatan shalat hingga sampai didalam kuburnya sekalipun.
Dalam hidupnya, ia telah berguru dan nyantri pada sahabat mulia Anas bin Malik selama empat puluh tahun. Dan termasuk orang yang paling banyak ibadahnya diantara penduduk bashrah.
Anas berkata : “ setiap kebajikan itu ada pintunya. Tsabit al Bunani salah satu pintu kebajikan”.
Selain itu beliau juga pernah berguru pada Malik bin Dinar, orang yang berilmu , alim, zuhud dan Wara’.
Tsabit al Bunani wafat di bashrah pada tahun 127 Hijriyah[2]






















E.     KETERANGAN HADITS
Dari contoh hadits diatas dapat kami simpulkan bahwa seorang ayah ( Anas bin Malik ) mengajarkan mengkhatamkan Al-Qur’an kepada keluarganya, dengan cara mencontohkan dirinya dan dengan menyisakan bacaan Al-Qur’an untuk mengkhatamkanya bersama keluarganya,maka tidak hanya Anas bin Malik yang mendapat kebaikan dari mengkhatam Al-Qur’an,tetapi juga keluarganya pun mendapat kebaikan dari mengkhatam Al-Qur’an,. Jadi seorang pemimpin rumah tangga harus bisa menjadi teladan bagi keluarganya,dalam hal kebaikan.
خير كم من تعلم القر ان وعلمه . رواه البخا رى
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR.Bukhari).[3]
من علم ا بنا له ا لقر ا ن نظرا غفر له ما تقد م من د نبه و من علمه ايا ه ظا هرا فكلما قرا الا بن ا ية ر فع ا لله بها للا ب در جة حتى ينتهي ا لى ا خر ما معه من القرا ن . رواه الطبرا نى
Barang siapa yang mengajarkan anaknya Al-Qur’an dengan melihat, maka diampunkan baginya dosanya yang lalu dan yang akan datang, dan siapa yang akan mengajarkannya dengan hafalan maka setiap anak itu membaca satu ayat, Allah menaikkan ayahnya satu derajat hingga akhir ayat yang dihafalkan. (HR. Thabrani)[4]
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang baik dalam kitabnya Az Zuhud dari Al Hasan Al Bashri bahwasanya, dia-Al Hasan- berkata, “Umar bin Khotob masuk ke rumah anaknya, Abdullah bin Umar, dan mendapatkan disana ada daging.
            “Daging apa ini?” tanya Umar
            “Apakah engkau kepingin?” tanya Abdullah bin Umar
            Umar menjawab, “Apakah setiap sesuatu yang kuingini harus kumakan? Cukuplah seseorang disebut berlebihan –pemboros-, jika dia memakan makanan apapun yang mengundang seleranya.”
Secara dzahir riwayat tersebut berisikan nasehat Umar kepada anaknya Abdullah untuk hidup sederhana dan tidak bersikap berlebih-lebihan dalam perihal makanan dan bersikap boros. Akan tetapi Umar selaku ayah mengajarkan kepada anaknya agar hidup sederhana dengan cara mengekang nafsu yang timbul dalam diri. Inilah Umar ibn Khotob sang ayah yang baik yang senantiasa mengajarkan kesederhanaan dan gaya hidup yang tidak boros kepada anak dan keluarganya.
Rasulullah SAW bersabda :
“ setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”.
Dari penggalan sabda Rasulullah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa seorang pemimpin seperti contoh diatas Anas bin Malik,Umar bin Khotob,serta seorang ayah yang dicontohkan dlm hadits-hadits pendukung diatas,bahwasanya peran seorang pemimpin rumah tangga amatlah penting dalam mengajarkan serta membimbing anak-anaknya,oleh karena itu seorang ayah/pemimpin haruslah bisa menjadi tauladan yang baik Bagi anaknya dan keluarganya. [5]


















BAB III

ASPEK TARBAWI

1.      Seorang pemimpin dalam rumah tangga harus bisa menjadi teladan yang baik untuk keluarganya
2.      Keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak
3.      Anak lebih paham diajarkan melalui contoh perilaku dibandingkan hanya dengan perkataan,sebab perilaku mendukung daya berfikirnya
4.      Perkataan seorang pemimpin rumah tangga harus dijaga agar dapat terucap dengan baik
5.      Baik buruknya seorang anak dapat terpengaruh oleh keluarga
6.      Keluarga yang baik selalu menjaga kebersamaan dalam suka dan duka
7.      Dukungan dari keluarga mempengaruhi kesuksesan seseorang

BAB IV

PENUTUP

Alhamdulillah,demikianlah beberapa hadist tentang  Al-Qur’an dan kaitanya terhadap teladan pemimpin rumah tangga yang dapat kami uraikan. Semoga bisa memberikan banyak manfaat kepada kita semua khususnya menjadikan kita lebih berinstropeksi diri apakah pemimpin kita sudah sesuai dengan tuntunan syari’at Islam sehinga kita sebagai pendidik atau calon pendidik akan dapat memberikan tauladan yang baik bagi anak didik kita.
Segala sesuatu yang dibuat oleh yang tidak sempurna pastilah sesuatu itu tidaklah sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak khususnya kepada Bapak Dosen dan teman-teman seperjuangan kami kelas E Tarbiyah PAI,. Semoga kritik dan saran tersebut dapat memberikan kita ilmu dan perbaikan kita di kemudian hari. Amiin.








DAFTAR PUSTAKA

[1] Ad darimi, Sunan ad-Darimi Kitab  Fadhoilil Qur’an Bab Mengkhatamkan Qur’an , jilid 1-2, tt, hlm. 368
[2] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997), hlm. 301-302
[3]Thabaqat Ibn Sa’ad (VII/233)
[4]Imam al Bukhari,Adabul Mufrod,Pustaka al kautsar,Jakarta Timur,2008.
[5]http//taufikrasyid.blogspot.com/2008/09/keutamaan menghatamkan Al-Qur’an.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar