zzz

Kamis, 04 April 2013

f8-3 nur slamet: HUBUNGAN MANUSIA DG PENCIPTA



HADITS HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA
Pertanyaan Jibril Kepada Nabi SAW Tentang Iman,Islam, Ihsan, Hari akhir
dan Pejelasan Nabi Kepadanya

Disusun guna memenuhi tugas 
Mata Kuliah                   : Hadits Tarbawi
Dosen Pengampu           :Ghufron Dimyati, M.S.I.




Disusun Oleh :
Nur Slamet      2021 111 266

Kelas F



PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
PENDAHULUAN
Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah agama islam,berikut adalah salah satu firman Allah yang telah menegaskan bahwasanya agama islam adalah agama yang paling benar disisi Allah. Namun apakah agama islam itu dan bagaimana bisa dikatakan sebagi islam? Namun dalam firman Allah tersebut belumlah dijelaskan secara terperinci sehingga dapat dipahami. Dan hadits Rasulullah merupakan sumber pedoman yang ke dua setelah Alquran. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut merupakan penjelasan dari Nabi terkait dengan islam dan apasaja yang berhubungan dengannya seperti iman, ihsan dan lainnya yang sudah selayaknya kita sebagai muslim dapat mengetahuinya.
















A.     HADITS HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA ( Pertanyaan Jibril Kepada Nabi SAW Tentang Iman,Islam, Ihsan, Hari akhir dan Pejelasan Nabi Kepadanya).
عن ابي هريرة  قل: كان النبي صلي الله عليه و سلم بارزا يوما للناس فأتاه جبريل فقال: ما الإيمان قال: الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته و كتبه و بلقائه و رسله و تؤمن بالبعث قال: ما الإسلام قال: الإسلام أن تعبد الله ولاتشرك به شيئا و تقيم الصلاة و تؤدي الزكاة المفروضة و تصوم رمضان قال: ما الإحسان قل: أن تعبد الله كأنك تراه فأن لم تكن تراه فإنه يراك قال متى الساعة قال: ما المسئول عنها بأعلم من السائل و سأخبرك عن أشراطها إذا ولدت الأمة ربها وإذا تطاول رعاة الإبل البهم في البنيان في خمس لا يعلمهن إلا الله ثم تلا النبي صلى الله عليه وسلم (إن الله عنده علم الساعة) الاية ثم أدبر فقال ردوه فلم يروا شيئا فقال هذا جبريل جاء يعلم الناس دينهم قال أبو عبدالله جعل ذلك كله من الايمان(رواه البخا ري في الصحيح كتا ب الايمان,باب سؤال جبريل النبي عن الايمان والاسلام والاحسن)             

B.     TARJEMAH
Di kabarkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa pada suatu hari Nabi SAW sedang tampak dihadapan orang-orang, tiba-tiba datang kepadanya seorang pria dan bertanya, “Apakah artinya Iman?” Rasulullah menjawab, “Iman ialah percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, Rasul-Nya dan kepada kebangkitan.” Kemudian orang tersebut kembali bertanya, “Apakah artinya Islam?” Nabi menjawab, “Islam yaitu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, menegakkan sholat, membayar zakat dan puasa Ramadhan”. Lalu dia kembali bertanya, “Apakah artinya Ihsan?” Rasul menjawab, “Ihsan ialah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Biarpun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” Orang tersebut bertanya lagi, “Kapankah hari kiamat?” Nabi menjawab ,“orang yang ditanya tidak lebih tahu dari orang yang bertanya,tapi akan kuterangkan tanda-tandanya; yaitu apabila budak perempuan melahirkan majikannya, apabila pengembala unta telah bermegah-megah dalam gedung yang indah mewah; dan kiamat adalah salah satu dari lima rahasia Allah yang hanya Dia yang mengetahuinya.” Kemudian Rasulullah membaca, “Hanya Allah yang mengetahui hari kiamat.” Setelah itu orang tersebut pergi. Maka Nabi bersabda, “panggillah dia kembali.” Akan tetapi mereka tidak melihatnya lagi. Rasul kemudian bersabda, “Itulah Jibril, dia mengajarkan agama kepada umat manusia.”




C.     MUFRODAT
a.       الإيمان artinya iman
b.      أن تؤمن artinya beriman
c.       و بلقائه artinya adalah ( bangkit),  lafadz ini ditemukan diantara kata “ kutup” dan Rasul. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bangkit adalah bangkit dari kubur,sedang yang dimaksud dengan kata لقاء (bertemu) setelah dibangkitkan.
d.      بالبعث(hari kebangkitan)
e.       أن تعبد الله ( untuk menyembah Allah)
f.       : ما المسئول عنها (bukankah orang yang ditanya)
g.      ما المسئول(bukankah orang yang ditanya)
h.      بأعلم(lebih mengetahui)
i.        سأخبرك عن أشراطها (akan kuberitahukan kepadamu tanda-tandanya)
j.        إذا ولدت الأمة ربها (apabila budak melahirkan tuannya)
k.      رعاة الإبل (pengembala intan)[1]

D.    BIOGRAFI ABU HURAIRAH
Nama asal Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dawsi (salah satu kabilah Yaman), nama islam yang diberikan Nabi Saw sebagai pengganti nama masa jahiliahyaitu Abdusyams bin Shakhr. Kemudian dipanggil Abu Hurairah oleh Rasulullah yang juga berati bapaknya kucing pada saat beliau melihatnya membawa kucing kecil. Memang ia sangat menyayangi kucing , setiap hari ia selalu membawanya kemana ia pergi.
Abu Hurairah masuk islam pada tahun ke-7 Hijriyah pada tahun perang Khaibah dan meninggal dunia pada 57 H di Al-Aqiq. Dia adalah komandan penghuni Shuffah, yang menghabiskan waktunya untuk beribadah. Abu Hurairah juga pernah diangkat menajadi gubernur Bahrain pada masa Umar bin Al-Khathab dan pada masa Ali juga pernah akan diangkat menjadi Gubernur Madinah. Abu Hurairah memiliki sifat yag terpuji diantaranya wara’, takwa,dan Zuhud. Ia juga seorang yang suka bercanda dan humoris yang bermanfaat. Ia suka bercerita cerita yang menghibur. Tetapi pada malam hari ia selalu melaksanakan shalat tahajud sepanjang malam secara khusyu’.
Abu Hurairah adalah sehabat yang terbanyak dalam periwayatkan hadits. Menurut Baqiq bin Mukholaq  Ia telah meriwayatkan hadits sebanyak 5374 Hadits. Dia mengambil hadits dari sekitar 800 orang para sahabat dan tabi’in. Kemudian diriwayatkan oleh para perawi dalam buku induk 6 Hadits dan Imam Malik dalam Al-Muwatta dan Imam Ahmad dalam kitab suci Musnadnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari padanya sebanyak 93 hadits dan Muslim sebanyak 189 hadits.Ada beberapa faktor banyaknya periwayatan yang di peroleh Abu Hurairah antara lain:
a.     Rajin menghadiri majlis-majlis Nabi.
b.    Selalu memahami Rasul, karena ia sebagai penghuni Shuffah di Masjid Nabawi.
c.     Kuat ingatanya.
d.    Banyak berjumpa dengan para sahabat senior.[2]

E.     KETERANGAN HADITS
Sebelum ini telah disebutkan, bahwa Imam Bukhari menganggap Islam dan Iman adalah satu makna. Secara eksplisit pertanayaan Jibril mengindikasikan adanya perbedaan antara Iman dan Islam dengan menganggap bahwa Iman adalah keyakinan terhadap tertentu. Dalam hadits ini ditunjukkan Iman merupakan suatu keyakinan seorang hamba terhadap sang pencipta dalam hal ini adalah Allah SWT. Sedangkan Islam menurut hadits Nabi adalah menampakkan amalan-amalan khusus seperti yang dikemukakan dalam hadits bahwa islam yaitu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, menegakkan sholat, membayar zakat dan puasa Ramadhan.
Kata Iman dan Islam keduanya tidak terpisahkan dan saling melengkapi. Seperti seseorang yang melakukan suatu perbuatan, seseorang tidak dapat dikatakan muslim yang sempurna kalau tidak disertai dengan suatu keyakinan. Dan orang yang berkeyakinan tidak dapat dikatakan mukmin yang sempurna kalau tidak mengerjakannya. Dalam hadits dijelaskan bahwasanya Iman adalah percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, Rasul-Nya dan kepada kebangkitan. Beriman kepada malikat berarti meyakini keberadaan mereka. Kata malaikat disebutkan terlebih dahulu daripada kitab dan Rasul. Hal itu merujuk kepada kronologi kejadiannya, karena Allah mengutus malaikat dengan membawa kitab kepada para Rasul-Nya.
Iman kepada kitab Allah adalah keyakinan bahwa kitab tersebut adalah kalamullah, dan apa yang terkandung didalamnya adalah benar.selanjutnya adalah Iman kepada Rasul yaitu percaya bahwa Allah mengutus seorang Rasul yang dapat dijadikan panutan umat manusia. Serta Iman pada hari kebangkitan yang mana pasti terjadi di yaumil akhir nanti. Ada yang berpendapat bahwa maksud dari hari kebangkitan adalah bertemu melihat Allah, pendapat ini disampaikan oleh Al Khathabi. Akan tetapi dibantah oleh An-Nawawi dengan mengatakan bahwa seseorang tidak dapat begitu saja melihat Allah, karena hal tersebut dikhususkan bagi orang yang meninggal dalam keadaan beriman dan seorang tidak mengetahui akhir dari hidupnya. Lalu bagaiman hal tersebut menjadi syarat keimanan?, jawabnya karena hal itu akan terjadi. Hal ini merupakan dalil kuat bagi Ahlu Sunnah bahwa melihat Allah pada hari akhir merupakan dasar keimanan.
Dalam pertenyaan malikat Jibrir tentang apa arti Ihsan?, Nabi menjawab bahwa “Ihsan ialah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Biarpun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau.”Ihsan disini adalah ihsan dalam beribadah adalah ikhlas, khusyu’ dan berkonsentrasi pada saat melaksanakannya, dan selalu dimonitor oleh Yang di sembah. Jawaban tersebut mengisyaratkan dua hal, yang paling tinggi diantara keduanya adalah ketika seseorang didominasi oleh Musyahadah Al Haqdengan batinnya sampai seakan-akan dia melihat-Nya dengan kedua matanya berdasarkan kalimat “ seakan-akan kamu melihat-Nya”. Yang kedua untuk selalu di ingat bahwa Allah selalu diingat bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan yang dilakukan, ini yang dimaksud dengan kalimat “ sesungguhny Dia melihatmu”. Kedua hal ini melahirkan ma’rifatullah ( pengetahuan tentang Allah) dan kekhusyu’an.
Dan ketika Nabi ditanya dengan pertanyaan kapankah datangnya hari kiamat?, Nabi tidak langsung menjawabnya melainkan bersabda “orang yang ditanya tidak lebih tahu dari orang yang bertanya”. Pernyataan  yang  ditunjukkan terhadap malaikat  tersebut Nabi tidak lebih tau tentang hal demikian. Meskipun pernyataan tersebut mengindikasikan adanya kesamaan dalam ilmu (mengetahui hal yang ditanyakan), akan tetapi maksudpersamaan disini adalah hanya Allah yang mengetahui tentang apa yang ditanyakan malaikat Jibril.
Selanjutnya Nabi bersabda, “tapi akan kuterangkan tanda-tandanya; yaitu apabila budak perempuan melahirkan majikannya, apabila pengembala unta telah bermegah-megah dalam gedung yang indah mewah; dan kiamat adalah salah satu dari lima rahasia Allah yang hanya Dia yang mengetahuinya.” Sebagian berpendapat, bahwa penggunaan kata ربها(tuan) untuk menunjukkan anaknya adalah merupakan bentuk majaz (kiasan),karena ketika bayi itu menjadi sebab merdekanya budak tersebut akibat ditinggal mati bapaknya, maka pembatasan seperti itu diperbolehkan. Kemudian sebagian yang lain lebih mengkhususkannya, bahwa perbudakan jika meluas dapat menjadikan anak sebagai budak. Kemudian ia dibebaskan pada saat dewasa dan menjadi tuan atau pemimpin lalu dia memeperbudak ibunya dengan cara membelinya karena dia telah mengetahui atau tidak mengetahui. Selanjutnya dia menjadikan wanita tersebut sebagai budaknya dan menyetubuhinya, atau dia memerdekakan dan mengawininya.
Tanda kiamat selanjutnya menurut hadits adalah pengembala unta yang telah bermegahan. Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan kebodohan yang sangat, artinya mereka tidak memepergunakan pendengaran dan penglihatan mereka untuk urusan agama walaupun indera mereka sehat. Atau dapat diartikan para penguasa dunia yang dicontohkan disini adalah orang-orang Badui. Berubahnya kondisi, yaitu orang-orang Badui menguasai negeri-negeri dengan kekerasan sehingga harta mereka bertambah banyak. Kemudian perhatian mereka bergeser kepada pembangunan istana dan mererka membagakannya, dan hal tersebut telah kita saksikan pada saat ini.

F.      ASPEK TABAWI

Aspek tarbawi yang terkandung dalam hadits diantaranya ialah
1.      Bahwasanya agama yang paling benar adalah agama islam
2.      Nabi mengajarkan kepada manusia agar beriman, islam dan ihsan terhadap Allah SWT
3.      Diantara tanda-tanda kiamat adalah seorang anak yang telah memperbudak ibunya. Untuk hal ini dianjurkan untuk lebih tidak menyia-nyiakan orang tua.

4.      Pertanyaan yang baik dapat dinamakan ilmu dan pengajaran, hal ini adalah pertanyaan malikat jibril terhadap Nabi terkait kebaikan yakni tentang iman, islam, ihsan dan hari kiamat.[3]

PENUTUP
Dari keseluruhan isi hadits diatas hadits ini dapat dikatakan sebagai Ummu Sunnah(induk Sunnah) karena mengandung ilmu sunnah secara global karena seluruh hadits ini mencakup keseluruhan kewajiban ibadah secara lahir dan batin mulai dari iman, waktu, harta, perbuatan anggota tubuh , ikhlas dan konsisten untuk melaksnakan amalan sampai-sampai seluruh ilmu syari’at merujuk kepadanya dan menjadi cabangnya. Menurut Imam Bukhari sebagai periwayat hadits ini semua itu merupakan bagian dari Iman, yaitu Iman yang sempurna yang mencakup seluruh perkara ini.

























DAFTAR PUSTAKA
AL Asqalani, Ibnu Hajar dan Al Imam Hafizh. 2008. Fathul B’ari Syarah Shahih Al-Bukhari.Jakarta: Pustaka Azzam.
Khan, Abdul Majid. 2009. Ummul Hadits. Jakarta: Amzah.


[1]Ibnu Hajar AL Asqalani dan Al Imam Hafizh, Fathul B’ari Syarah Shahih Al-Bukhari. 2008 , Jakarta: Pustaka Azzam, hlm,207-209
[2], Abdul Majid Khan,2009, Ummul Hadits,Jakarta: Amzah, hlm,246-247
[3] Ibid, hlm. 209-229

14 komentar:

  1. mustaqimah
    2021 111 252
    kelas F

    assalamualaikum,

    dalam point aspek tarbawi, disebutkan bahwa agama yang paling benar adalah agama Islam.
    tetapi ada juga orang yang mengatakan bahwa kita jangan membenarkan agama kita dan menyalahkan agama lain, menurut pemakalah sendiri harusnya sebagai seorang muslim itu bagaimana? an bagaimana pendangan Islam mengenai ha tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikum salam...
      Terimakasih atas pertanyaannya.
      Mengenai kebenaran agama islam sebagai agama yang benar dijelaskan dalam firman Allah SWT yaitu: ”Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. 61: 9).
      Bukti bahwa Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah, dapat pula diperhatikan pada wahyu terakhir yang diterima oleh Rasulullah SAW tatkala beliau sedang melaksanakan haji wada’ yang berbunyi: ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agamamu (QS 5: 3).
      Dari firman tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa agama terbagi dalam dua bagian, yaitu agama yang berasal dari Allah, agama yang diridhoi yaitu Islam dan agama selain Islam atau dalam ayat itu disebut sebagai ad-diinu kullih yakni agama selain islam. Ayat itu juga menegaskan Islam merupakan agama yang benar.
      Ayat tertsebut juga merupakan salah satu petunjuk bagi kaum yang beriman kepada untuk menegaskan kepada mereka bahwa agama yang di yang di anutnya adalah benar apabila ia beragama islam. dan menurut saya setelah kita yakin akan agama yang kita anut ini benar itu akan menambah keyakinan dan iman kita terhadap Allah. Namun, kita disini hidup dalam berbagai agama dan kepercayaan, mengenai hal ini sebagai seorang muslim kita juga harus dapat bertoleransi dan menghargai agama orang lain. Tidak selayaknya kita merasa benar akan agama kita sendiri dari agama lain. Dan menyalahkan agama yang lain . Cukup firman Allah yang telah menjelaskan bahwa agama kita ini benar menjadi penguat iman kita sendiri.

      Dan menurut pandangan islam tentang perbedaan agama, islam merupakan agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengharagai satu sama lainnya, dengan begitu islam tidak menolak dan memusuhi perpedaan yang ada. Islam juga mengajarkan kepada umatnya tidak mencari mungsuh dan pesaing. Sehingga islam juga agama yang bertoleran terhadap agama yang lainnya.

      Hapus
  2. irma susanti
    2021 111 218
    assalamualaikum wr wb.
    Diantara tanda-tanda kiamat adalah seorang anak yang telah memperbudak ibunya. Untuk hal ini dianjurkan untuk lebih tidak menyia-nyiakan orang tua.
    menurut pemakalah, apakah hal yang banyak terjadi di zaman sekarang ini yaitu banyak ibu-ibu muda yang bekerja dengan menitipkan anaknya kepada orang tua mereka, agar mereka bisa tetap bekerja dan tidak khawatir terhadap anak yang ditinggal di rumah, dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua tersebut, apakah hal itu termasuk dalam pernyataan tentang memperbudak orang tua tadi? mohon dijelaskan, beserta solusi yang bisa dipakai untuk masalah tersebut, terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wasslamu'alaikum ...
      terima kasih atas pertanyaannya,
      memang sekarang banyak di jumpai hal demikian seorang nenek yang mau menerima mengasuh cucunya karena ibunya sibuk bekerja. untuk mengambil solusi yang terbaik harusnya bagaimana? kita mlihat dri si nenek tersebut apakah ia mau merawat cucunya tersebut atas paksaan atau tidak? dan seorang nenek tersebut tidak keberatan dengan tugas tersebut itu tidaklah apa-apa.
      dan sebagai anak yang menitipkan anaknya kepada ibiunya tersebut juga harus membalas kebaikannya ibunya dengan menyenangkan hati ibunya. bukan maksud memberikan harta seperti orang yang menggaji seorang pembantu. disini si anak tersebut membalas budi kepada orang tua dengan menyenangkan hatinya.

      Hapus
  3. Nama : Miftakhul janah
    NIM : 2021 111 244
    Kelas : F

    AssaLaaMuaLaikum....
    Saya akan sedikit bertanya...
    Adakah ibarat atau perumpamaan Hubungan manusia dengan Pencipta di dalam Al-Qur'an atau hadist....??? Lantas apakah hubungan tersebut ada batasan tertentu atau tidak??!!!
    tolong Jelaskan....!!
    Makacie......
    WassaLaamualaikum......

    BalasHapus
    Balasan
    1. wassalamu'alaikum ...
      Dalam perumpamaan seorang hamba dengan Allah sering kita dengar dengan sebutan hablumminanas.
      Ada beberapa hal yang bisa dijadikan rumusan dalam hubungan antara kita dengan Allah Swt. Hubungan tersebut memiliki rumusannya tersendiri, anda sebagai pegawai ada aturan main dan sistemnya, kita pun sebagai hamba ada aturan mainnya dari Allah Swt.

      Pertama, ada yang disebut dengan rumusan timbal balik, yaitu action-reaction, analoginya seperti ini, kalau kita mempunyai bola karet kemudian kita lempar pelan-pelan ke arah tembok, maka bola tersebut akan memantul kembali dengan pelan kepada kita, namum kalau kita melemparnya dengan keras maka secara otomatis bola tersebut kembali kepada kita dengan keras.
      Di dalam ayat-ayat Al-qur’an, Allah Swt menyebutkan beberapa penjelasan, fadzkuruni adzkurkum, bila kau ingat Aku,Aku pun ingat kamu, kalau dalam hadist qudsi dikatakan, bila ada manusia yang mendekat kepada Aku, maka Aku akan membalasnya dengan tidak terhitung artinya reaksinya lebih tepat dan banyak, kalau ada hamba yang meminta maka Aku akan mendekatinya, bila datang padaKu berjalan maka Aku akan menyambutnya dengan berlari artinya bahwa di dalam hukum timbal balik itu Allah lebih tepat dan lebih banyak membalasnya, dalam hadist yang lain intansurulloha yansurkum bila engkau menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu, itu artinya ada timbal balik. Banyak dalam Al-qur’an yang menyebutkan rumusan tadi, hanya saja yang perlu kita fahami bahwa rumusan timbal balik ini Allah Swt sangat luar biasa sekali memberikan yang lebih dari apa yang kita umpankan, terutama dalam hal kebaikan, sementara dalam hal kejelekan Allah Swt tidak menambahnya.

      Hapus
  4. nama; Nafrotul Izza
    nim; 2021 111 245

    assalamu'alaikum wr.wb,,,
    di malakah anda dijelaskan mengenai tentang Iman, Islam dan Ihsan,,,dan disitu ihsan dijelaskan bahwa ihsan dalam beribadah yakni dengan ikhlas, berkonsentrasi, serta khusyu' akan tetapi pada kenyataannya , semua itu untuk kita melakukannya sulit, seperti kita masih dalam keadaan lelah pasti kita merasa terpaksa belum bisa ikhlas. trus bagaiman menurut pemakalah agar kita itu senantiasa dalam melakukan perbuatan dengan penuh keikhlasan????

    BalasHapus
    Balasan
    1. wassalamu'alaikum ...
      terima kasih pertanyaannya..
      menurut saya untuk bisa ikhlas dalam melakukan sesuatu
      yang pertama kita harus memiliki sikap suka atau cinta dengan hal terseebut. misalkan dalam sholat bagaimana kita supaya bisa iklas kita juga harus mempunyai rasa cinta kepada sholat dan juga pastinya dengan sholat juga akan menambah kecintaan kita kepada Allah. insya Alla bila cinta dengan sholat kita juga akan ikhlas melaksanakannya walaupun dalam keadaan apapun.
      yang kedua kita harus yakin perbuatan tersebut baik atau tidaak bagi kita . apabila kita yakin terhadap sholat itu baik dan itu merupakan kewajiban bagi kita akan lebih iklas untuk melakukannya. selain hal itu juga kita harus tau apa dampak bagi kita apabila kita tidak melakukan hal demikia.
      kita sudah tau bahwa sholat itu wajib dan dosa bagi yang meninggalkannya, dengan perasaan takut akan dosa yang diterima apabila kita tidak melakukan sholat, maka kita akan merasa takut untuk nmeninggalkannya.
      kita juga mempunyai rasa bahwa apabila kita menegrjakan sholat adalah kebahagiaan yang kita terima maka kita juga akan merasa semangat dalam melaksanakanya.

      Hapus
  5. Nama : Maghfiroh
    NIM : 2021 111 246
    Kelas : f

    Di dalam makalah kan tertulis "Kata Iman dan Islam keduanya tidak terpisahkan dan saling melengkapi. Seperti seseorang yang melakukan suatu perbuatan, seseorang tidak dapat dikatakan muslim yang sempurna kalau tidak disertai dengan suatu keyakinan. Dan orang yang berkeyakinan tidak dapat dikatakan mukmin yang sempurna kalau tidak mengerjakannya". Lantas bagaimana jikalau ada seseorang yang mengaku iman islam tetapi tidak mengerjakan perbuatan yang sesuai dengan islam..?? apakah itu sudah dapat dikatakan beriman...??? ataukah belum...?? tolong jeaskan dan berikan alasannya...!
    makaci...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang benar iman dan islam adalah saling melengkapi dan lebih sempurna iman dan islam seseorang jika disempurnakan perbuatan" ikhsan kepada Allah.
      iman merupakan kita percaya dengan sungguh-sungguh untuk agama islam yakni melakukan rukun-rukun islam dengan ikhsan yakni dengan kesungguhan hati dan ikhlas melaksanakannya..
      dan apabila ada orang yang mengaku beriman dengan islam namun tidak mengerjakan perbutan sesuai ajaran islam maka orang tersebut di katakan sebagai orang yang fasiq yaitu
      الفاسق هو الخارج عن طاعة الله ورسوله

      Fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya




      karena karena ia mengakui di kebenaran islam namun tidak melakukan tuntunan islam maka iman orang tersebut tidaklah sempurna

      Hapus
  6. Nur Latifah
    2021 111 215

    yang ingin saya tanyakan bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang beriman, islam serta ihsan mengingat zaman sekarang ini banyak berbagai godaan yang dapat menggoyahkan iman, islam dan ihsan kita? mohon jelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya,
      bagaimana supaya kita menjadi orang yang iman, islam dan ikhsan yaitu dengan cara kita mengimani sepenuh hati keesaan Allah dan hanya Allahlah yang patut kita sembah, serta menjalankan perintah sebagi orang islam yang terangkim dalam rukun islam yakni, sholat, zakat, puasa dan pergi haji bagi yang mampu, serta mempunyai rasa ikhsan yakni kekhusyu'an dan keikhlasan dalam menjalankan perintah islam tersebut.
      Namun, semua itu tidaklah mudah dizaman zaman sekarang dimananya banyak godaan yang menerpa, kita sebagai muslim harus menghindari hal-hal yang dapat merusak iman,islam dan ikhsan kita, dengan menjauhi perkara buruk apapun dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

      Hapus
  7. Ning Yuliati
    2021 111 214

    'Assalamu'alaikum Wr. Wb
    bagaimana menurut pemakalah bagi seorang muslim yang meyakini tentang adanya ramalan yang belum tentu ada kebenarannya? mohon jelaskan !

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikum salam...

      menurut saya sebagai seorang muslim tidaklah seharusnya percaya terhadap ramalan apapun, terlebih itu ramalan yang belum tentu kebenarannya karena hal tersebut akan menimbulkan syirik kepada Allah.

      Hapus