Laman

Jumat, 29 November 2013

fpi-N-12: masalah pendidikan 2



MAKALAH
PERSOALAN – PERSOALAN PENDIDIKAN KEKINIAN
KAPITALISME PENDIDIKAN DAN KOMERSIALISME PENDIDIKAN

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah           :  Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu   :  Muhammad Ghufron,M.S.I

Disusun Oleh :
LIYA NURLAILATUL M      2021211088
MARDIANA                            2021211095
AGUS SUTRISNO S               2021211096
DZIKROL HAZANA              2021211104

SEKIOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013



BAB I
PENDAHULUAN
Bagaimanapun Sempitnya pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusiaannya. Dan pendidikan formal disekolah hanyalah bagian kecil saja dari padanya, tapi merupakan inti dan tidak bisa lepas kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhan. Bahkan pendidikan juga menghadapi persoalan-persoalan tidak mungkin di jawab dengan menggunakan analisa dan pemikiran yang mendalam yaitu analisa filsafat.











BAB II
PEMBAHSAN
Masalah pendidikan, adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkangkeduanya pada hakikatnya adalah proses yang satu. Pengertian yang luas dari pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh lodge, yaitu  bahwa life is education, and education is life”, akan berarti bahwa proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginya.Filsfat yang dijadikan basis bagi pengembangan ilmu pendidikan dapat bersifat universal, yang dapat digunakan dimanapun dan kapanpun. Pengembangan dapat kita jadikan sebagai pedoman.dalam pengembangan pendidikan untuk masa-masa yang akan datang.
1.      Kapitalisme Pendidikan
Secara bahasa Kata kapitalisme berasal dari capital yang berarti modal, dengan yang dimaksud modal adalah alat produksi seperti misal tanah, dan uang. Dan kata isme berarti suatu paham atau ajaran. Jadi arti kapitalisme itu sendiri adalah suatu ajaran atau paham tentang modal atau segala sesuatu dihargai dan diukur dengan uang.
Kapitalisme kini telah menyentuh wilayah pendidikan nasional. Munculnya dikotomi Sekolah Berstandar Internasiaonal (SBI) dan sekolah biasa merupakan pengejawantahan semangat kapitalis dalam dunia pendidikan. Tidak dipungkiri, akan muncul kelas-kelas sosial sebagai bias ‘penerapan’ ide kapitalis dalam dunia pendidikan. [1] Kelas sosial karena system pendidikan yang berbasis modal dan menyampingkan kecerdasan.
Contoh sederhana, jika dikota anda ada sekolah ber-SBI atau minimal masih Rintisan Standar Internasiona (RSBI) yang bersebelahan dengan sekolah biasa, anda pasti menyaksikan fenomena memprihatinkan. Betapa kesenjangan sosial kelihatan sangat nyata dan menjadi pemandangan lumrah. Halaman parkir sekolah ber-SBI dipastikan penuh dengan mobil dan seluruh siswa masuk sekolah menenteng laptop. Sebaliknya di sekolah biasa, para siswa diantar dengan sepeda motor, naik angkutan kota, bahkan jalan kaki. Jarang sekali yang menenteng laptop atau membawa ponsel pun seharga ratusan ribu. Kesenjangan kenyataan ini merupakan pengejawantahan gagasan kapitalisme dalam dunia pendidikan.Perbedaan menyolok performance siswa dan pengajar antara sekolah berstandar internasional dan sekolah biasa mengindikasikan munculnya kelas sosial dalam masyarakat pendidikan. Sebuah kelas sosial sebagai akibat system pendidikan yang berbasis modal dan meletakkan kemampuan atau kecerdasan adalah efek dari kekuatan modal.
Dalam system pendidikan nasional, kecerdasan bisa dicapai apabila ditunjang oleh fasilitas lengkap (berteknologi tinggi). Dengan teknologi yang memadai, maka proses belajar akan berlangsung dengan baik. Logika seperti inilah yang menjadi landasan kegiatan belajat mengajar dalam system pendidikan kita. Lantas bagaimana dengan siswa yang tidak mamapu ‘membeli’ segala fasilitas mahal tersebut.
Semestinya konsep SBI dan Non SBI ditinjau ulang. Sesuai amanat UUD 1945 bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pengajaran. Pemerataan pendidikan harus dirasakan oleh seluru masyarakat Indonesia. Kenyataanya dalam sisitem pendidikan kita mereka yang memiliki modal akan menikmati fasilitas pendidikan yang mewah. Sedangkan yang kurang beruntung hanya bisa menikmati sekolah biasa dengan fasilitas seperti seadanya.
ü   Kapitalisme muncul setelah feodalisme runtuh dengan secara garis besar terbagi menjadi tiga fase
1.      Kapitalisme Awal ( 1500 – 1750 ).
Kapitalisme pada fase ini masih mengacu pada kebutuhan pokok yang ditandai dengan hadirnya industri sandang di Inggris sejak abad XVI sampai abad XVIII. Dan berlanjut pada usaha perkapalan, pergudangan, bahan- bahan mentah, barang- barang jadi dan variasi bentuk kekayaanyang lain.[2] Dan kemuadian berubah menjadi perluasan kapasitas produksi, dan talenta kapitalisme ini yang kemudian hari justru banyak menelan korban.
2.      Kapitalisme Klasik ( 1750 – 1914 ).
Kapitalisme pada fase ini merupakan pergeseran dari perdagangan public kebidang industri yang ditandai oleh Revolusi Industri di Inggris dimana banyak diciptakan mesin- mesin besar yang sangat menunjang industri. Di fase inilah terkenal tokoh yang disebut “bapak kapitalisme” dengan bukunya yang sangat tekenal the Wealth Of Nations ( 1776 ) dimana salah satu poin ajarannya laissez faire dengan invisible hand-nya ( mekanisme pasar )dan beberapa tokoh seangkatan seperti David Ricardo dan John Stuart Mills,yang sering dikenal sebagai tokoh ekonomi neo- klasik. Pada fase inilah kapitalisme sering mendapat hujatan pedas dari kelompok Marx.
3.      Kapitalisme Lanjut ( 1914 – sekarang ).
Momentum utama fase ini adalah terjadinya Perang Dunia I, kapitalisme lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak olehtiga momentum. Pertama, pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika. Kedua, bangkitnya kesadaran bangsa- bangsa di Asia dan Afrika sebagai ekses dari kapitalisme klasik, yang kemudian memanifestasikan kesdaran itu dengan perlawanan. Ketiga, revolusi Bolshevik Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang berupa pemilikan secara individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas sosial, bentuk pemerintahan dan kemapanan agama.
ü  Kapitalisme Terhadap Pendidikan Di Indonesia
Kapitalisme pendidikan di Indonesia bisa dilacak dari tindak tanduk dan tunduknya pemerintah pada WTO . badan imperialisme ini bermula dari dirumuskannya General Agreement Of Tariffs and Trade (GATT), atau kesepakatan umum tentang tarif-tarif dan perdagagan. GATT ini didirikan atas dasar  perjanjian di Jenewa, Swiss pasca perang dunia berakhir, tepatnya pada oktober oktober 1947. GATT lahir untuk membobol dinding-dinding yang menghalangi perdagangan antar Negara baik berupa proteksi-proteksi maupun tarif bea cukai. Ini lantas dirumuskannya the Washington Consensus  atau konsensus Washington (1989-1990) yang salah satu butir dari 10 butir rumusannya berbunyi “public expenditure” yang intinya mengarahkan kembali pengeluaran masyarakat untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, sehingga beban tanggung jawab pemerintah berkurang. Demi membentuk badan yang lebih perkarsa, GATT ini lantas berevolusi menjadi WTO pada 1 Januari 1995. Sebelumnya Indonesia sudah memberikan restu melalui UU no. 7 tahun 1994. UU yang ditanda tangani saat zaman pemerintahan Soeharto merupakan persetujuan sekaligus pengesahan atas Agreement Establishing World Trade Organization (WTO) atau kesepakatan pendirian organisasi perdagangan dunia.
ü Privatisasi dan Komiditasi Pendidikan Sebagai Dampak Globalisasi Kapitalisme
Pada intinya globalisasi kapitalisme pendidikan bersumber pada sepuluh kebijakan yang dirumuskan dalam Neoliberal Washington Consensus, di mana seluruh ajaran ini membawa pengaruh yang luar biasa terhadap formasi system social, ekonomi, politik, dan budaya. Pendidikan sebagai salah satu system social, juga mengalami dampak yang sama. Konsekuensi yang harus dibayar oleh lembaga pendidikan adalah perubahan logika pendidikan yakni lembaga pendidikan berupa sekolah dan perguruan tinggi yang semula merupakan pelayanan public (public servant) dengan memposisikan siswa dan mahasiswa sebagai warga Negara (citizein) yang berhak mendapat pendidikan yang layak. Namun, ketika status BHMN menjadi target, PTN (privatisasi pendidikan) tidak lebih sebagai produsen, sedangkan mahasiswa dan siswa sebagai konsumennya. Jalinan relasioonal yang membentuk pun mengarah pada tranksaksi harga antara penjual dan pembeli, sementara produk (output) adalah pesanan dari pemodal untuk memenuhi kebutuhan produsen dan mengabaikan aspek keasadaran kritis. Dengan demikian pendidikan yang semua sebagai aktivitas social budaya berubah menjadi komoditas usaha yang yang siap diperjualbelikan dan menjadi ajang mencari keuntungan.
ü  Kapitalime dan Filsafat
Apabila pada pembahasan sebelumnya tantangan globalisasi terhadap pendidikan digunakan filsafat pendidikan perenialisme dan rekonstruksionime maka pada pembahasan mengenai kapitalisme menurut pemakalah lebih memilih aliran esensialisme dan perenialisme yang keduanya merupakan aliaran filsafat konservatif yang menentang adanya aliran filsafat progersivisme  yang tumbuh dari filsafat pragmatism. Sedangkan aliran filsafat pragmatism sangat mendukung adanya paham kapitalisme karena aliaran ini menganggap segala sesuatu dilihat dari segi kegunanaan atau manfaat dimana kegunaan dapat dianggap berkaiatan dengan ide mencari keuntungan sebanyak-banyak pada paham kapitalisme.
2.      Komersialisme Pendidikan
Masalah komersialisame pada lembaga pendidikan Islam Komersialisme lembaga pendidikan merupakan salah satu problem yang timbul pada pendidikan itu sendiri. di sini akan memunculkan ketidak seimbangan (timbul persaingan tak sehat) antara si kaya dan si miskin. Dengan adanya komersialisasi pendidikan justru itu akan lebih memihak antara si kaya yang akan terus menjadi penguasa, mendominasi segala sesuatu yang ada.“ Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” .Jika pendidikan Islam lebih mementingkan komersialisme pendidikan berarti pemerataan pendidikan hanya menjadi “ slogan” belaka. Yang terjadi penguatan terhadap yang sudah kuat sementara si miskin dilarang untuk tidak sekolah sebab tidak mampu untuk membiayai sekolah. Walaupun ada orang yang miskin yang sekolah di situ “ melewati jalan terjal”, kekurangan fasilitas, sarana, pasti akan tersingkir bahkan putus sekolah (kuliah).[3]
ü  . Masalah pendidikan Islam memasuki abad ke 21
Memasuki abad ke-21, suatu bangsa dihadapkan perubahan global menuntut adanya sistem keterbukaan politik, ekonomi dan budaya. Banyak Pendidikan (Agama) untuk Membanggun Etika Sosial Banyak orang mengatakan “ era ini disebut dengan era persaingan bebas dan keunggulan teknologi informasi” . Ini menyebabkan tatanan masyarakat baru, akan melahirkan tuntutan dan tantangan baru pula. Tuntutan adanya keterbukaan politik, pembagian keukasaan serta sumber daya alam, menghargai hukum dan hak asasi manusia serta transparansi dalam kebijakan pemerintah semakin kuat. Atas dasar inilah, maka untuk memasuki era baru ini masyarakat menghendaki adanya desentralisasi serta otonomi di segala bidang. Dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam apakah mampu bersaing untuk memenuhi tuntuta masyarakat serta mampu menghadapi tantangan baru pula. Dengan adanya desentralisasi serta otonomi pendidikan, apakah mampu membina dan mempersiapkan generasi yang berkualitas di segala bidang. Ini merupakan problem pendidikan Islam yang harus disikapi dan ditindak lanjuti. Dalam bukunya A. Qodri A. Azizy dijelaskan abad 21 disebut pula dengan millenium ketiga dan abad globalisasi. Konon, millenium ketiga kelanjutan abad modern (dan modernisasi) yaitu antara lain kemajuan Iptek, semakin besar materialisme, kompetisi global dan persaingan bebas yang semakin ketat.[4] Salah satu dampak negatif modernisasi adalah menurunnya nilai agama. Sehingga pendidikan Islam di samping bayangan tugas begitu berat menghadapi arus globalisasi, masih ada tugas yang lebih berat lagi yaitu memperbaiki moralitas bangsa yang berpangkal dari moralitas insan Indonesian melalui pendidikan agama (Islam). Mengantisipasi abad 21UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organizati on) telah merumuskan visi dasar pendidikan yaitu learning to think (belajar bagaimana berfikir); learning to do (belajar hidup atau belajar bagaimana berbuat/bekerja);learning to be (belajar bagaimana tetap hidup, atau sebagai dirinya); learning to live together (belajar untuk hidup bersama-sama). Ini artinya, pendidikan masa depan menurut UNESCO haruslah mengacu pada empat dasar itu. Atau Abdurrahman Shaleh Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, dapat dikatakan, jika tidak mengacu pada empat dasar tersebut maka pendidikan tidak akan sesuai dengan tantangan kehidupan millenium ketiga ini. Learning to think, membimbing siswa untuk berfikir secara rasional, tidak semata-mata mengikuti “ membeo” bahkan juga tidak mandeg atau tumpul. Hasilnya akan menjadikan seseorang independen, gemar membaca, mau selalu belajar, mempunyai pertimbangan rasional, tidak semata-mata emosional, dan selalu curious untuk tahu segala sesuatu. Learning to do, pendidikan dituntut untuk menjadikan anak didik setelah selesai (lulus) mampu berbuat dan sekaligus mampu memperbaiki kualitas hidupnya, sesuai dengan tantangan zaman. Ketatnya kompetisi global, seseorang dituntut untuk semakin profesional, mempunyai skill yang berkualitas untuk mampu berkompetisi. Learning to be, pendidikan harus mampu membimbing peserta didik pada sikap tahu diri, sikap memahami diri sendiri, sadar kemampuan diri sendiri dan nantinya akan mampu menjadikan dirinya mandiri. Di samping itu, learning to be (belajar untu hidup) juga memberi arti mengajarkan sadar lingkungan untuk menjaga bumi yang dihuni dari kerusakan. Learning to live together”pendidikan memiliki kemampuan untuk menyadarkan siswa akan “pluralisme”. Hal ini dapat terwujud jika setiap orang bersedia menerima kenyataan akan adanya perbedaan.

ü  .Masalah dikotomi dalam sistem pendidikan Islam
Masalah ini klasik namun tetap aktual sebab selama ini masih sering dipersoalkan, pakar pendidikan (Islam), padahal dualisme dikotomik menjebak pada pemasungan diri atau pembelengguan diri menuju pada kejumudan dan kemunduran. Dualisme dikotomi ini, nampaknya sudah berkembang dan dianggap sebagai sistem pendidikan modern yang sesuai dengan zaman, sebenarnya hal ini tidak semestinya terjadi dalam pendidikan Islam, misal perbedaan dunia dan akhirat bukan berarti menafikan salah satu namun memperjelas satu sama lain agarmanusia tidak terjebak dalam kebodohan dan kelalaian. Memang ada sementara pihak yang mengklaim bahwa pada awalnya pihak Barat justru pernah belajar kepada Islam, tetapi sekarang sejarah sudah terbalik yaitu orang Islam yang belajar di Barat. Ini menunjukkan ilmuan Barat mampu mengolah epistimologi yang mereka pelajari dari Islam. Jadi sekarang cendekiawan muslim harus mampu pula mengolah kembali agar epistimologi Barat dapat bersahabat denganIslam.Seharusnya pendidikan Islam tidak menghendaki terjadinya dikotomi keilmuan, sebab dengan adanya sistem dikotomi menyebabkan sistem pendidikan Islam menjadi sekularistis, rasionalis-empiris, intuitif dan matrealistis. Keadaan tersebut tidak mendukung tata kehidupan umat yang mampu melahirkan peradaban Islam. Kita tahu Islam untuk semua, bukan milik pribadi, kelompok bahkan Nabi sekalipun. Dengan kata lain tidak ada yang “ monopoli Islam” . Penulis tegaskan Islam adalah Islam untuk semua makhluk.
ü  Masalah lemahnya semangat
Dalam Pendidikan Islam harus mampu menumbuh kembangkan semangat serta menanamkan dalam jiwa, alam berfikir dan berperilaku terhadap umat Islam. Haruslah diartikan dengan lebih luas lagi yaitu “ membaca, melihat, observasi, atau meneliti” . Apa yang harus dibaca? Apa yang harus diteliti atau diobservasi? Yang harus dibaca adalah semua ayat-ayat Allah baik yang tertulis di dalam al-Qur’an yang dikenal sebagai ayat-ayat qauliyah, seperti al-Qur’an,Injil, Zabur maupun Taurat, dan juga ayat-ayat Allah yang tersebar di seluruh jagat raya ini, yang merupakan fenomena-fenomena alam.
KARAKTERISTI



BAB III
Penutup
Dengan demilian dapat ditekankan bahwa filsafat tidak dipisahkan dengan pendidikan, sebab filsafat itu merupakan jiwa bagi  pendidikan. iDalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungs terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidupkkepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik  pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi lingkungan belajar yang serba terkontrol. Bagaimanapun luas pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan adalahnmerupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan manusia.















Daftar Pustaka
ü Thoha Chiba,Kapita Selekta Pendidikan Islam,(Yogyakarta: Pusataka Pelajar Offset,1996 ).
ü Usa Muslih,Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta ,( Yogyakarta: Tiara Wacana,1991).
ü Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: andi offset)
ü http://one.indoskripsi.com/content/sejarah-singkat-kapitalisme-sosialisme, diakses pada tanggal  10 april 2010 pukul 20.00. merupakan makalah yang ditulis oleh pekerja social IMPAS pada diklat IMPAS di Lawang, 19-20 Maret 2004.





1. Imam,Bernadib. Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: andi offset) hlm. 15-16.
[2]  Hasbullah,Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia,Jilit 2, ( Jakarta RajaGrafindo Persada)., hlm. 6-7.
[3] Muslih Usa,Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta ,( Yogyakarta: TiaraWacana,1991)., hlm. 3-4.

[4] Chabib Thoha,Kapita Selekta Pendidikan Islam,(Yogyakarta: Pusataka Pelajar Offset,1996 )., hlm. 15-16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar