Laman

Minggu, 17 November 2013

SBM-H-10: pembelajaran berpusat pada siswa - student center



MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA

Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliyah : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I




Disusun Oleh :
Tolkhah                       2021 111 348
Siti Tasyaroh               2021 111 350
Panji Hardiko              2021 111 352
                 Aenun Najib                232 107 256                          
 Kelas H

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
Jurusan Tarbiyah PAI
2013



BAB I
PENDAHULUAN
Problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah proses belajar mengajar yang diberikan di kelas pada umumnya hanya mengemukakan konsep-konsep dalam suatu materi. Proses belajar mengajar yang dilakukan adalah satu arah. Model pembelajaran tersebut dianggap kurang mengeksplorasi wawasan dan pengetahuan siswa.
Perubahan paradigma dalam proses yang tadinya berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa. Peran guru dalam pembelajaran berpusat pada siswa adalah sebagai fasilitator yang dalam hal ini, guru memfasilitasi proses pembelajaran di kelas. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi.
Pembelajaran yang inovatif dengan metode yang berpusat pada siswa memiliki keragaman model/metode pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari siswa. Dalam makalah ini akan dibahas metode-metode yang ada dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, diantaranya : metode kerja kelompok, metode karya wisata, metode penemuan, metode eksperimen, metode pengajaran unit dan metode pengajaran dengan modul.


BAB II
Pembahasan
Pengertian Pembelajaran Berpusat pada Siswa
Pembelajaran berpusat pada peserta didik merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada kebutuhan, minat, bakat dan kemampuan peserta didik, sehingga pembelajaran akan menjadi sangat bermakna. Dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik menghasilkan peserta didik yang berkepribadian, pintar, cerdas, aktif, mandiri, tidak bergantung pada pengajar, melainkan mampu bersaing atau berkompetisi dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.[1]
Model-Model Pembelajarannya
Dalam pembelajarana yang berpusat pada siswa, terdapat beberapa model pembelajarannya, yaitu :
A.  PEMBELAJARAN KOOPERATIF ( COOPERATIVE LEARNING )
1.      Landasan Pemikiran
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistis  telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Siswa datang ke Sekolah untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk  menjadi yang terbaik. Tentunya dengan tempat duduk yang terpisah di kelas.
Jika disusun dengan baik, belajar kompetitif dan individualistis  akan evektif dan cara memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis.[2] Untuk menghindarinya dan agar siswa dapat membantu siswa yang lain untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan  belajar kooperatif.
Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivitas adalah cooperative learning. Cooperative learning muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk paling memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
Di dalam jelas kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen kemampuannya, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses belajar berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah ketuntasan materi yang disajikan oleh guru dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.[3]
2. Tujuan Cooperative Learning
Cooperative learning merupakan sebuah kejamn strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Cooperative learning disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dalam pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memeberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam cooperative learning siswa berperan ganda, yaitu sebagai siswa atau sebagai guru.
3. Efek-efek Cooperative Learning
Cooperative learning mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan agama, sastra, sosial, kemampuan dan ketidakmampuan.




Tiga macam hasil yang dicapai model pembelajaran ini:
a. Efeknya pada perilaku kooperatif
Kebanyakan orang menjunjung tinggi perilaku kooperatif dan percaya bahwa perilaku itu merupakan tujuan penting bagi pendidikan banyak kegiatan ekstrakulikuler di sekolah seperti olah raga tim, produksi drama, dan musik.
b. Efeknya pada toleransi terhadap keanekaragaman
Studi-studi yang serupa dengan penelitian Johnson dan Johnson menunjukkan bahwa cooperative learning tidak hanya mempengaruhi toleransi dan penerimaan yang lebih luas terhadap siswa-siswa dengan kebutuhan khusus, tetapi juga dapat mendukung tercapainya hubungan yang lebih baik diantara siswa-siswa dengan ras dan etnis yang beraneka ragam.
c. Efeknya pada prestasi akademik
Salah satu aspek penting cooperative learning adalah bahwa selain pendekatan ini membantu meningkatkan perilaku kooperatif dan hubungan kelompok yang lebih baik diantara para siswa, pada saat yang sama ia juga membantu siswa dalam pembelajaran akademiknya.[4]
3. Unsur Penting, Prinsip Utama dan Ciri Pembelajaran Kooperatif
Pertama, saling ketergantungan yang bersifat positif antar siswa
Kedua, interaksi antara siswa yang semakin meningkat.
Ketiga, tanggung jawab individu.                                   
Keempat, proses kelompok.                
Dan prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.
b.      Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.
c.        Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran.
d.      Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas semua pekerjaan kelompok.
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a.       Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b.      Kelompok dibentuk secara heterogen.
c.       Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu.
5.      Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan
Proses demokrasi dan pern aktif merupakan ciri yang khas dari lingkungan pembelajaran kooperatif. Agar pembelajaran kooperatif dapat berajalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok, siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif, berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas.
6. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
a.       Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
b.      Menyajikan informasi
c.       Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
d.      Membimbing kelompok bekerja dan belajar
e.       Evaluasi
f.       Memberikan penghargaan
7. Beberapa variasi dalam model Cooperative Learning
a. Student Teams Achievement Division (STAD)
Slavin menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku. Guru nenyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.

Persiapan-persiapan yang dibutuhkan STAD, yaitu:
1.      Perangkat Pembelajaran
2.      Membentuk kelompok kooperatif
3.      Menentukan skor awal
4.      Pengaturan tempat duduk
5.      Kerja kelompoK
b. Tim Ahli (Jigsaw)
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas dan diadopsi oleh Salvin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins.
Langkah-langkah pembelajaran jigsaw:
·           Siswa dibagi atas beberapa kelompok
·           Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab.
·           Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
·           Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
·           Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
·           Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
c. Investigasi Kelompok
Dalm implementasi tipe investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 orang yang heterogen. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Lalu menyiapkan dan mempresentasikannya kepada seluruh kelas.
Langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 fase, yaitu:
-          Memilih topik
-          Perencanaan Kooperatif
-          Implementasi
-          Analisis dan Sintesis
-          Presentasi Hasil Final
-          Evaluasi
d. Think Pair Share (TPS)
Strategi TPS atau berpikir berpasangan berbagi adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Langkah-langkah TPS:
o   Berpikir (Thinking)
o   Berpasangan (Pairing)
o   Berbagi (Sharing)
e.  Numbered Head Together (NHT)
Numbered Head Together (NHT) atau jenis penomoran berpikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.
Langkah-langkah NHT:
ü  Penomoran
ü  Mengajukan pertanyaan
ü  Berpikir bersama
ü  Menjawab
8. Karakteristik dan prinsip-prinsip Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
1)   Karakteristik SPK
-          Pembelajaran secara tim
-          Didasarkan kepada menajemen kooperatif
-          Kemauan untuk bekerja sama
-          Keterampilan untuk bekerja sama
2)   Prinsip-prinsip SPK
-          Prinsip ketergantungan positif (Positive Independence)
-          Tanggung jawab perseorangan (Individual Accountability)
-          Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction)
-          Partisipasi dan komunikasi (Partisipation Communication)
9. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
·         Penjelasan materi
·         Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.
·         Belajar dalam kelompok
·         Penilaian
·         Penilaian dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau tulis.
·         Pengakuan Tim
·         Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim yang paing berprestasi untuk kemudian diberikan hadiah atau penghargaan.
10.  Keunggulan dan kelemahan SPK
a. Keunggulan SPK:
v  Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru.
v  SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkap ide dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
v  SPK dapat membantu anak untuk respek kepada orang lain.
v  SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
v  SPK merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial.
v  Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri.
v  Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan belajar abstrak menjadi nyata.
v  Meningkatkan motivasi dan rangsangan untuk berpikir.
b. Kelemahan SPK:
Ø  Butuh waktu lama untuk memahami filosofis SPK.
Ø  Ciri utama dari SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan.
Ø  Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang cukup panjang.[5]

B. PENGAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PROBLEM BASED INSTRUCTION)
1.      Pengertian
Istilah Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) diadopsi dari istilah inggris Problem Based Instruction (PBI). Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Dewasa ini model pembelajaran ini mulai diangkat, sebab ditinjau secara umum, pembelajran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan pada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri. Menurut Dewey, belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan pada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan system syaraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif, sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik6.
Pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis.
2.      Ciri Khusus Pengajaran Berdasarkan Masalah
a.       Pengajuan pertanyaan atau masalah
b.      Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
c.       Penyelidikan autentik
d.      Menghasilkan produk dan memamerkannya
e.       Kolaborasi

3. Tujuan Pengajaran Berdasarkan Masalah
a.       Membantampilan berfikir siswa mengembangkan ketrampilan siswa bermasalah
-    PBI memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir sesuai yang bersifat kongkret, tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks. Dengan kata lain PBI melatih kapada peserta didik untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi.
b.      Belajar peranan orang dewasa yang autentik
-    Model pembelajaran berdasarkan masalah amat penting untuk menjembatani gap antara pembelajaran formal di sekolah dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah.
c.       Menjadi pembelajar yang mandiri
-    Dengan bimbingan guru secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan mereka menagjukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri, siswa belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas itu secara mandiri dalam hidupnya kelak.
4. Manfaat Pengajaran Berdasarkan Masalah
Menurut sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah.tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tapi dari masalah yang ada di sekitar.selain manfaat, model pengajaran berdasarkan masalahnya memiliki kelebihan dan kekurangan
Kelebihan PBM sebagai model pengajaran adalah sebagai berikit :
a.       Realistic dengan kehidupan siswa
b.      Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
c.       Memupuik sifat inquiri siswa
d.      Retensi konsep jadi kuat, dan
e.       Memupuk kemampuan problem solving


Selain kelebihan tersebut, PBM juga memiliki beberapa kekurangan antara lain :
1.      Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep)
2.      Sulitnya mencari problem yang relevan
3.      Sering terjadi miss-konsepsi
4.      Konsumsi waktu, dimana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.
5.      Pelaksanaan Pengajaran Berdasarkan Masalah
1. Tugas-tugas Perencanaan
a.       Penetapan tujuan
b.      Merancang situasi masalah
c.       Organisasi sumber daya dan rencana logistic
2. Tugas interaktif
a.       Orientasi Siswa pada Masalah
b.      Mengorganisasikan Siswa untuk belajar
c.       Membantu Penyelidikan mandiri dan kelompok
3.      Linkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen
4.      Assesment dan Evaluasi


BAB III
PENUTUP

Pembelajaran yang berpusat pada siswa memang memusatkan perhatian dalam pembelajaran hanya kepada siswa. Guru sebagai pendamping dalam model pembelajaran ini. Dan model pembelajaran yang berpusat pada siswa ini memiliki dua jenis model, yaitu :
1.    Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning )
Cooperative learning merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Cooperative learning disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dalam pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi, dalam cooperative learning siswa berperan ganda, yaitu sebagai siswa atau sebagai guru.
2.    Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
Adapun Ciri Khusus Pengajaran Berdasarkan Masalah:
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah
b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
c. Penyelidikan autentik
d. Menghasilkan produk dan memamerkannya
e. Kolaborasi
DAFTAR PUSTAKA

Munir. 2008. Kurikulum Berbasis TIK. Bandung : Alfabeta.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatis-Progresif : Konsep,
  Lndasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Zaenal Mustakim. 2011. Strategi dan Metode Pembelajaran . Pekalongan: STAIN
 Press.



[1] Munir, Kurikulum Berbasis TIK, (Bandung : Alfabeta, 2008), hal. 80-81
[2] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatis-Progresif : Konsep, Lndasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), hal. 55
[3] Zaenal Mustakim. 2011. Strategi & Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press. hlm. 277

[4] Ibid  hlm. 279
[5] Trianto, Op.Cit, hal. 91

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar