Laman

Sabtu, 22 November 2014

SPI - G - 12: KONSTRIBUSI ISLAM TERHADAP ILMU




KONSTRIBUSI ISLAM TERHADAP ILMU
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas :
Mata Kuliah                 :   Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu         :   Ghufron Dimyati, M.S.I

Disusun oleh:
Nisrokhah                    (2021113219)
Eli Fitriani                   (2021113222)

JURUSAN TARBIYAH PAI KELAS G
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Peradaban Islam memang mengalami jatuh-bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya untuk umat manusia ini. Pencerahan pun terjadi di segala bidang dan di seluruh dunia. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin.
Sejarah Islam membuktikan banyaknya para cendikiawan Muslim yang banyak memberikan Kontribusi dalam pengembangan ilmu di percaturan ilmu pengetahuan dunia. Yang ilmunya tidak kalah dengan para ilmuwan barat, yang keberadaannya tidaklah sepopuler ilmuwan barat.
Pada abad pertengahan hidup para pakar-pakar cendikiawan muslim seperti Ibnu Sina yang terkenal dengan bukunya Qanun Fi Attib (the Canon) yang disebut-sebut sebagai inspirator utama kebangkitan barat dalam ilmu kedokteran, selain itu Islam juga mengenal Penemu Gaya Gravitasi Al-Biruni, Bapak Sosiologi Politik Ibnu Khaldun, Jabir ibnu Hayyan sebagai penemu Ilmu Kimia), Ibnu Rusyd (perintis ilmu jaringan tubuh), dan lain-lain.
Saat ini banyak hal yang telah dapat dinikmati dan kita gunakan dari hasil pemikiran para tokoh-tokoh muslim terdahulu, baik di bidang kesehatan, politik, sosial, budaya, keilmuan dan lain sebagainya. Hasil pemikiran mereka tidak kalah dengan apa yang dihasilkan oleh para pemikir-pemikir barat, bahkan banyak ilmuan-ilmuan barat yang justru mengambil hasil fikiran para pemikir-pemikir muslim dan dianggap menjadi hasil produk pemikiran mereka.

B.     Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Apa  konstribusi Islam terhadap Ilmu ?
2.       Sebutkan Para cendekiawan Muslim ?
3.      Sebutkan apa saja temuan Intelektual muslim ?


















BAB II
PEMBAHASAN
A.           Filsafat Seruan Islam
Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradapan Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiyah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya.
Sebenarnya, gerakan penerjemahan sendiri dimulai semenjak masa Daulah Umayyah atas perintah dari Khalid bin Yazid Al-Umawî untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, kimia dan geometria dari Yunani, akan tetapi para Ahli Sejarah lebih condong bahwa gerakan ini benar-benar dilaksanakan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah saja, dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Manshur (136-158 H) hingga masa pamerintahan AL-Ma'mun (198-218 H) , dimana penerjemahan ini tidak terbatas pada beberapa bidang keilmuan saja,akan tetapi meliputi berbagai cabang keilmuan sehingga kita bisa melihat lahirnya para ilmuan besar pada masa ini, contohnya Al-Kindi (155-256 H) seorang filosof besar yang menguasai beraneka bidang keilmuan, seperti matematika, astronomi, musik, geometri, kedokteran dan politik, disamping nama-nama besar yang muncul setelahnya, sebut saja Ar-Razi, Ibn Sina (370-428 H), Al-Farabi (359-438 H) dan yang lainnya.
Sebagaimana kajian Islam mengambil berbagai tema untuk bahan kajian tentang logika, etika, politik, metafisika dan lainnya, yang telah lebih dulu dikaji oleh bangsa Yunani, sehingga sangat dimungkinkan bahwa kajian-kajian filsafat islam dalam tema-tema ini dipengaruhi oleh filsafat Yunani, akan tetapi sesungguhnya filsafat Islam dalam beberapa sisi secara independen memiliki karakteristik yang berbeda dari filsafat Yunani. Filsafat Islam bukanlah filsafat Aristotelian yang tertulis dalam bahasa Arab ataupun filsafat Platonisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dari upaya ahli kalam dari kelompok Mu'tazilah maupun Asyâ’irah untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang rasional, bahwa akal merupakan unsur penting dalam agama ini, sehingga mereka membungkus filsafat dalam baju keagamaan, dan dari situ mereka memahami agama Islam dengan corak filosofis. Akan tetapi selanjutnya keinginan para filosof Islam untuk memperlihatkan agama Islam dalam suatu gambaran rasional menyebabkan mereka menafsirkan sebagian persoalan ke-islam-an yang bersifat ideologis (akidah) dengan teori-teori filsafat, hal ini oleh sebagian umat islam dipandang menyalahi cara berpikir dan akidah agama Islam, maka mulailah mereka mewaspadai dan mengkritik para filosof Islam tersebut.[1]

B.            Ilmuan Dan Para Cendekiawan Muslim
1.    Al-kindi : Peletak dasar filsafat Islam
Nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin Shabbah bin Imron bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy’ats bin qais al-Kindi. Tahun kelahiran dan kematian tidak diketahui secara jelas. Yang dapat dipastikan tentang hal ini adalah bahwa ia hidup pada masa kekhalifahan al-amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim (833-842), al-Watsiq (842-847), dan al-mutawakkil (847-861).
Sejak didirikannya Bait Al- Hikmah oleh Al-Ma’mun, Al-Kindi turut aktif dalam kegiatan penerjemahan disamping menerjemah ia juga memperbaiki terjemahan sebelumnya. Karena keahliannya dan keluasan pandangannya ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi guru putra khalifah al-Mutasim. Ia adalah filsuf berbangsa arab dan dipandang sebagai filsuf muslim pertama. Diantara kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum muslimin.
Al-Kindi telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan saat itu. Tetapi diantara sekian banyak ilmu ia sangat menghargai matematika karena bagi al-Kindi merupakan mukadimah bagi siapa saja yang mempelajari filsafat. Matematika disini meliputi bilangan, harmoni, geometri dan astronomi. Tetapi yang paling utama adalah ilmu bilangan atau aritmatika.
2.    Ar-Razi
Nama lengkap adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria bin Ar-Razi. Ia lahir di Rayy, di provinsi khurasan dekat Teheran, pada tahun 864 M wafat pada usia 62 tahun yaitu pada 25 oktober 925 di masa muda ia menjadi money changer dan ahli memainkan harpa. Ia juga sangst respek terhadap ilmu kimia ia belajar kepada Ali bin Rabban ath-Thabari (808 M) seorang dokter sekaligus filusuf. Guru inilah yang menumbuhkan minar ar-Razi terhadap kedua subjek keilmuwan tersebut sehingga pada akhirnya dia menjadi seorang filsuf besar sekaligus seorang dokter yang cukup ternama.
Penguasaanya terhadap ilmu kedokteran membuat namanya sangat terkenal baik di Barat maupun di Timur dan dipandang sebagai dokter terbesar abad pertengahan dan dokter muslim yang tiada bandingannya. Ia dipercaya memimpin Rumah Sakit di Rayy oleh Mansur bin Ishaq bin Ahmad bin Asad ketika ia baru menjelang usia 30 tahun, dan kemudian mengambil alih kepimpinan Rumah Sakit di Baghdad.
Karya ilmiah dan filsafat ar-Razi sangat banyak dalam outobiografinya ia menyatakan menulis 200 buah judul buku yang didalamnya termuat berbagai macam ilmu pengetahuan kecuali matematika. Beberapa karya monumentalnya Ath-Thibb ar-Ruhany, Ash-Shirat al-Falsafah, kitab al-Lahzhah, kitab al-Ibn al-Ilahy, asy-Syuker ‘ala Proclus, dan sebagainya.
3.    Al-farabi
Abu nashr muhammad bin muhammad bin tarhan bin auzalagh al farabi atau yang biasa dikenal dengan al-farabi lahir di wasij, sebuah dusun kecil dikota farab, sekitar tahun 890. Dia berasal dari keluarga bangsawan militer turki.
Al-farabi melewatkan masa remajanya di farab. Dikota yang mayoritas mengikuti madzhab syafiiyah inilah al farabi menerima pendidikan dasarnya, yaitu al-qur’an, tata bahasa, kesustraan, ilmu-ilmu agama (fiqih, tafsir dan ilmu hadis) dan aritmatika dasar. Setelah menyelesaikan studi dasarnya ia pindah ke bukhara untuk melanjutkan studinya. Saat ia di Bukhara dinasti samaniyah dibawah pemerintahan Nashr bin Ahmad (874-892). Munculnya dinasti ini menandai munculnya budaya Persia dalam Islam.
4.    Ibnu Sina: perintis filsafat modern
Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037) atau biasa dikenal dengan ibnu Sina atau Avicenna (bahasa Latin yang terdistorsi dari bahasa Hebrew Aven Sina) adalah seorang ensiklopedis, filsuf, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer dan sastrawan. Di beberapa tempat lebih dikenal sebagai sastrawan daripada filusuf. Dia adalah ilmuwan dan filsuf muslim yang sangat terkenal dan salah seorang ilmuwan dan filsuf terbesar  sepanjang masa. Dia lahir di Afsanah, Bukhara, Transoxiana (Persia Utara). Dia mengajar kedokteran dan filsafat di Isfahan kemudian tinggal di Teheran. Ia meninggal di usia 57 tahun dan diakhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Isfahan. Ajaran filsafatnya yaitu tetangLogika, Psikologi, dan metafisika.
5.    Al-ghazali
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M di Ghazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat Tus di Khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur dan khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian menjadi murid Imam Al-Haramain al-Juwaini, Guru Besar di Madrasah al-Nizam Nisaypur. Diantara matapelajaran-matapelajaran yang diberikan di Madrasah ini ialah : teologi, hukum Islam, falsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam.


6.    Ibnu Rusyd
Abu Ya’la al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd (1126-1198) yang dikenal dengan sebutan ibnu Rusyd atau Averroes adalah filsuf muslim barat terbesar di abad pertengahan adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa.
Ibnu Rusyd merupakan komentator besar karya-karya aristoteles namun perhatian intelektualnya yang vital dalam konteks pikiran filsafat Islam diabaikan.
Ia lahir di Cordova, ibukota Andalusia. Dia juga menjadi seorang dokter dan astronomer tetapi dia lebih dikenal sebagai filsuf.[2]
7.    Ibnu Thufail
Ia adalah abu bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail dilahirkan di wadi Asy dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. Kegiatan ilmuahnya meliputi kedokteran, kesusteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter dikota tersebut dan berulangkali menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal ia menjadi dokter pribadai Abu Ya’qub Yusuf al-Mansyur, khalifah kedua dari Daulat Muwahhidin. Dari al-Mansyur ia memperoleh kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana khalifah itu, diantaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku karangan Aristoteles.
8.    Ibnu Bajjah
Ia adalah abu bakar Muhammad bin Yahya yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajjah. Orang-orang eropa pada abad-abad pertengahan menamai ibnu bajjah dengan “Avempace” sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd masing-masing dengan Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averros.
Ibnu Bajjah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui demikian masa kecilnya dan mudanya. Sejauh yang dicatat para sejarah ibnu bajjah hidup di Serville, Granada dan Fas menulis beberapa risalah tentang logika di kota serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketiaka usianya belum begitu tua.[3]

C.           Penemuan Ilmu Dan Teknologi Modern Dikalangan Intelektual Muslim
Cendekiawan-cendekiawan islam bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku yunani, tetapi menambah kedalam hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan filsafat. Dengan demikian muncullah ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filsuf-filsuf islam.filsuf-filsuf islam sebagaimana filsuf-filsuf yunani, bukan hanya mempunyai sifat filsuf tetapi juga sifat ahli ilmu pengetahuan. Karya mereka bukan hanya terbatas dalam bidang filsafat tetapi juga meliputi bidang ilmu pengetahuan.[4]
a.         Bidang Agama
Kemajaun di bidang agama antara lain dalam beberapa bidang ilmu, yaitu ulumul quran, ilmu tafsir, hadis, ilmu kalam, bahasa dan fiqh.
1.           Fiqh :
Pada masa dinasti Abassiyah lahir para tokoh bidang fiqh dan pendiri mazhab antara lain sebagai berikut :
1)      Imam Abu Hanifah (700-767 M)
2)      Imam Malik (713-795 M)
3)      Imam Syafi’i (767-820 M)
4)      Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M)

2.           Ilmu Tafsir
Perkembangan ilmu tafsir pada masa pemerintahan Abbasiyah mengalami kemajuan pesat. Diantara para tafsir pada masa dinasti Abbasiyah adalah :
1)      Ibnu Jarir Ath-Thabrani
2)      Ibnu Athiyah Al-Andalusia
3)      Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahan.
3.      Ilmu Hadis
Diantara para ahli hadis pada masa Dinasti Abbasiyah adalah
1)      Imam Bukhari (194-256 H) karyanya Shahih Al-Bukhari.
2)      Imam Muslim (w. 216 H) karyanya shahih Muslim
3)      Ibnu Majah karyanya Sunan Ibnu Majah
4)      Abu Dawud karyanya Sunan Abu Ddawud
5)      Imam An-Nasau karyanya Aunan An-Nasai
6)      Imam Baihaqi.
4.             Ilmu Kalam
Kajian para ahli ilmu kalam (teologi) adalah mengenai dosa, pahala, surga neraka serta perdebatan mengenai ketuhanan atau tauhid menghasilkan suatu ilmu yaitu ilmu kalam atau teologi. Diantara tokoh ilmu kalam adalah :
1)      Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi tokoh Asy’ariyah.
2)      Washil bin Atha, Abul Huzail Al-Allaf (w. 849 M) tokoh Mu’tazilah
3)      Al-Juba’i.
5.      Ilmu Bahasa
Bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan di samping sebagai alat komunikasi antabangsa. Diantara para ahli ilmu bahasa adalah
1)      Imam Sibawaih (w. 183 H) karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1000 halaman.
2)      Al-Kiasi
3)      Abu Zakaria Al-Farra (w.208 H) kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman lebih.
b.      Bidang Umum
Berkembang dalam kajian bidang Filsafat, logika, metafisika, metematika, ilmu alam, geometri, aljabar, aritmatika, mekanika, musik, kedokteran, kimia, sejarah dan sastra.
1.             Filsafat
Kajian filsafat mencapai puncaknya pada masa daulah Abbasiyah diantaranya dengan penerjemahan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Para filusuf Islam antara lain:
1)      Abu Ishaq Al-Kindi (809-873 M) karyanya lebih dari 231 judul
2)      Abu Nasr Al-Farabi (961 M) karyanya lebih dari 12 buah buku. Ia memperoleh gelar Al-Mualimuts Tsani (the second teacher) yaitu guru kedua sedangkan guru pertama bodang filsafat adalah Aristoteles.
3)      Ibnu Sina terkenal dengan Avicenna (980-1037 M) ia seorang filsuf yang menghidupkan kembali filsafat Yunani Aliran Aristoteles dan Plato. Selain filsuf Avicenna juga seorang dokter istana kenamaan. Diantara bukunya yang terkenal adalah Asy’Syifa dan Al-Qanun fi Ath-Thib (Canon of Medicine).
4)      Ibnu Bajah (w. 581 H)
5)      Ibnu Tufail (w. 581 H) penulis buku novel filsafat Hayy bin Yaqdzan
6)      Al-Ghazali (1058-1111 M) julukannya Al-Hujjatul Islam. Karyanya antara lain : Maqasid Al-Falasifah, Al-Munqid Minadh Dhalal, Thaful Al-Falasifah, dan Ihya Ulumuddin.
7)      Ibnu Rusyd di Barat dikenal dengan Averros seorang filsuf, dokter, dan ulama. Karyanya antara lain : Mabadi Al-Falasifah, Tahafut At-Tahafut Al-Falasifah, Al-Kuliah fi Ath-Thibb dan Bidayah Al-Mujtahid.

2.             Ilmu kedokteran
Diantara ahli kedokteran ternama adalah
1)      Abu Zakaria Yahya bin Mesuwaih (w. 242 H) seorang ahli farmasi di rumah sakit Jundhisapur Iran.
2)      Abu Bakar Ar-Razi (rhazes) (864-932 M) dikenal dengan “Galien Arab”
3)      Ibnu Sina (Avicenna ) karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun fi Ath-Thib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran serta membahas pengaruh obat-obatan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa Canon op Medicine.
4)      Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles, ia adalah penulis buku mengenai kedokteran anak.
3.             Matematika
Terjemahan dari buku-buku asing ke dalam bahasa Arab menghasilkan karya dalam bidang matematika. Di antara ahli matematika islam yang terkenal adalah Al-Khawarizmi, ia adalah pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung) dan penemu angka nol. Sedangkan angka latin : 1,2,3,4,5,6,7,8.9.0 disebut angka Arab kerena diambil dari Arab. Sebelumnya dikenal angka Romawi I,II,III,IV,V dan seterusnya. Tokoh lain adalah Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al-Abba (940-998) terkenal sebagai ahli ilmu matematika.
4.             Farmasi
Diantara ahli farmasi pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar kayanya yang terkenal adalah A-Mughni (berisi tentang obat-obatan), Jami Al-Mufradat Al-Adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
5.             Ilmu Astronomi
Kaum muslimin mengkaji dan menganalisis berbagai aliran ilmu astronomi dari berbagai bangsa seperti bangsa Yunani, India, Persia, Kaldan dan Ilmu Falak Jahiliah. Diantara ahli astronomi islam adalah:
1)      Abu Mansur Al-Falaki (w. 272 H) karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat Al-Falak
2)      Jabir Al-Batani (w. 319 H) ia adalah pencipta teropong bintang pertama karyanya yang terkenal adalah kitab Ma’rifat Mathiil Baruj Baina Arbai Al-Falak
3)      Raihan Al-Biruni (w. 440 H) karyanya At0Tafhim li Awal As-Sina At-Tanjim.
6.             Geografi
Dalam bidang ini umat Islam sangat Maju kerena sejak semula bangsa Arab merupakan bangsa pedangang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga. Diantara wilayah pengembaraan umat islam adalah umat Islam mengembara ke Cina dan Indonesia pada masa-masa awal kemunculan Islam. Diantara tokoh-tokoh geografi yang terkenal adalah
1)      Abu al-Hasan Ali Mas’ud adalah seorang pengembara yang mengadakan perjalanan sampai Persia, India, Srilanka, Cina dan penulis buku Maruj Az-Zahab wa Ma’adin Al-Jawahir.
2)      Ibnu Khurdazabah ((820-913 M) berasal dari Persia yang dianggap sebagai ahli geografi Islam tertua. Diantara karyanya adalah Masalik wa Al-Mamalik, tentang data-data penting mengenai sistem pemerintahan dan peraturan keuangan.
3)      Ahmad El-Yakubi penjelajah yang pernah mengadakan perjalanan sampai ke Armenia, Iran, India, Mesir, Maghribi dan menulis buku Al-Buldan.
4)      Abu Muhammad Al-Hasan Al-Hamdani (w. 334 H/946 M) karyanya berjudul Sifatu Jazirah Al-Arab.
7.             Bidang Sastra
Dalam bidang sastra Baghdad merupakan kota pusat seniman dan sastrawan. Para tokoh sastra antara lain :
1)      Abu Nuwa salah seorang penyair terkenal dengan karya cerita humornya
2)      An-Nasyasi penulis buku Alfu Lailah wa Lailah (The Arabian Night ), adalah buku cerita sastra seribu satu malam yang sangat terkenal dan diterjemahkan kedalam hampir seluruh bahasa dunia
8.             Bidang Sejarah
Di masa dinasti Abbasiyah muncul tokoh-tokoh sejarah seperti :
1)      Ahmad bin Al-Ya’kubi (w. 895 M) karyanya adalah Al-Buldan (negeri-negeri), At-Tarikh (sejarah).
2)      Ibnu Ishaq
3)      Abdullah bin Muslim Al-Qurtubah (w. 889 M), penulis Al-Imamah wa As-Siyasah, Al-Ma’rifat, Uyunul Ahbar,dan lain-lain.
4)      Ibnu Hisyam
5)      Ath-Thabrani (w. 923 M) penulis buku kitab Al-Umam wa Al-Muluk
6)      Al-Maqrizi
7)      Al-Baladzuri (w. 892 M) penulis buku-buku sejarah.[5]
9.             Bidang Sains Dan Teknologi Modern
Iran tercatat sebagai negara ke-14 dalam teknologi energi nuklir, negara ke-7 dalam kemampuan menghasilkan uranium hexafluoride (UF6) dan negara ke-6 yang mempu merancang peralatan fusi nuklir. Seorang saintis iran, Ali Javan berhasil menemukan laser gas pertama pada tahun 1960 dengan meneruskan studi optik yang diwariskan oleh Ibn Al-Haitsam, ilmuan Muslim abad 11 M. Sekarang iran telah memproduksi berbagai jenis laser untuk memenuhi kebutuhan medis dan industri. Salah satu terapan sains fisika dan meteriel yang mendapatkan perhatian besar adalah nanoteknologi. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Abdolreza Simchi, saintik nanoteknologi Iran mendapatkan penghargaan sebagai Distinguisted researcher (peneliti terkemuka) oleh presiden mahmoed Ahmadinejad. Nanoteknologi adalah sebuah disiplin baru dan interdisipliner dimana saintik dapat merekayasa atom dan molekol dalam skala nano yakni 50 ribu lebih halus dari sehelai rambut manusia. Iran juga membangun sains komputer dan robotika dan meluncurkan super komputer pertama pada tahun 2001. Dan seorang sarjana matematika Iran, Lotfi A. Zadeh mengembangkan suatu logika baru yang berbeda dengan logika tradisional (diperkenalkan oleh Aristoteles) teoti ini disebut “fuzzy set theory (teori himpunan fuzzy)” yang menjadi basis perumusan fuzzy logic (logika fuzzy). Ahli bedah iran juga menemukan teknik pembedahan syaraf otak dan menurunkan resiko kematian para korban dan teknik ini menjadi prosedur standar di dunia medis sekarang.transplantasi organ vital seperti ginjal, jantung, liver dan paru-paru rutin dilakukan para dokter iran sejak dasawarsa 1990. Pada tahun 2009 iran berhasil mengembangkan paru-paru buatan. Pada tahun 2006 ahli bioteknologi iran telah memproduksi dan mengirim CinnoVex ke pasar internasional dan pada tahun 2012 berhasil memproduksi 15 obat antikanker monoklon yang selama ini hanya bisa diproduksi 2 atau 3 perusahaan farmasi barat.[6]











BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan

Konstribusi islam terhadap ilmu terjadi perkembangan yang cukup signifikan pada abad pertengahan yaitu sekitar abad ke 12 dan 13, terdapat karya-karya Muslim tentang sains, filsafat, dan bidang-bidang lain telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin, terutama dari bahasa Spanyol dan memperkaya kurikulum barat. Konstribusi muslim terhadap filsafat sangat mempengaruhi ilmu pengetahuan modern. Filsafat yang awalnya dibawa oleh yunani, kemudian dipelajari oleh para cendekiawan muslim dan para cendekiawan muslim memadukan antara rasio (akal) dengan agama. Selanjutnya para cendekiawan muslim mendapatkan penemuan-penemuan yang mengagumkan dalam bidang pengetahuan. Mereka menemukan ilmu matematika, kimia, fisika, teknologi dan lain-lain.











Daftar Pustaka
Nakosteen,Mehdi. 1995.Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat.Surabaya. Risalah Gusti.
Amin,Samsul Munir. 2010.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta. Amzah
Awani dkk,Ghulam Reza. 2012.Islam, Iran dan Peradaban peran dan konstribusi intelektual iran dalam peradaban islam. Yogyakarta. RausyanFikr Institute.
Hamdi Ahmad zainul. 2004.  Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern.Yogyakarta. PTLkis Pelangi Angkasa.















[2]Ahmad zainul hamdi, tujuh filsuf muslim pembuka pintu gerbang filsafat barat modern (Yogyakarta: Pt Lkis Pelangi Angkasa, 2004). Hlm 45-194
[3]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (jakarta: Bulan Bintang, 1999), hlm 161
[4]Samsul Munir, Op.Cit.....Hlm  29
[5]Samsul Munir, Ibit....Hlm 148-152
[6]Ghulam Reza Awani dkk, Op.Cit... Hlm 344-347

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar