Laman

Sabtu, 22 November 2014

SPI - F - 12: KONSTRIBUSI ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT



KONSTRIBUSI ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah             : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu     : Ghufron Dimyati M.S.I
                                                      Disusun oleh:
Nihlatus Sofa              (2021113268)
Anna Khoiriyah           (2021113279)
Kelas PAI F

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Peradaban Islam memang mengalami jatuh bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya untuk umat manusia ini. Pencerahanpun terjadi di segala bidang dan di seluruh dunia. Andalusia yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginspirasi para ilmuwan Barat untuk belajar  dari kemajuan IPTEK yang dibangun oleh kaum muslimin.
Sejarah Islam membuktikan banyaknya para cendekiawan muslim yang banyak memberikan konstribusi dalam pengembangan ilmu di percaturan ilmu pengetahuan dunia. Pada Abad peretngahan hidup para pakar-pakar cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Rusyd, dan lain-lain. Namun kadang mereka jarang disebut dalam khazanah pendidikan kita.
Saat ini banyak hal yang telah dapat dinikmati dan kita gunakan dari hasil pemikiran para tokoh-tokoh muslim terdahulu, baik di bidang kesehatan, politik, sosial, keilmuan, filsafat dan lain sebagainya. Hasil pemikiran mereka tidak kalah dengan apa yang dihasilkan oleh para pemikir-pemikir barat, bahkan banyak ilmuan barat yang justru mengambil hasil pikiran para pemikir-pemikir muslim dan dianggap menjadi  hasil produk pemikiran mereka.
Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang konstribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah filsafat seruan Islam?
2.    Siapa saja para ilmuwan dan cendekia muslim?
3.    Apa saja penemuan ilmu dan teknologi modern di kalangan intelektual muslim?
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Filsafat Seruan Islam
Hal pertama berkaitan dengan tema “Filsafat Islam”, yang telah disangsikan oleh beberapa orientalis pada abad ke-19, yang menganggapnya sebagai contradictioin adjecto (bertentangan dalam sifat). Mereka berpendapat bahwa filsafat bukan Islam dan Islam bertentangan dengan filsafat. Maksimal yang bisa mereka katakan bahwa dalam Islam terdapat teologi dogmatis (kalam) bukan filsafat. Kita dapat sependapat dengan ini, dengan mengatakan bahwa istilah “Filsafat Islam”, seperti halnya inovasi modern lainnya, memang pernah tidak eksis di kalangan Filsuf Muslim.[1]
Dalam perkembangannya, filsafat Yunani dapat dipisahkan dari agama. Filsafat Timur, di sisi lain, tidak dapat dipisahkan dari agama. Dengan demikian, tidak ada pengertian filsafat dalam istilah yang sebenarnya di Timur, entah apakah itu Persia, atau yang lainnya, sehingga hal ini menjadi pandangan yang merugikan mengenai konsepsi filsafat. Timur merupakan tempat lahirnya agama-agama besar dunia, agama dalam pengertian yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari kebijaksanaan primordial (fitrah), tidak pula dari sophia dalam pengertiannya yang paling dalam. Konfusius dan Zoroaster, yang dikenal sebagai pendiri agama, disebutan dalam sebuah buku teks dan di buku yang lain sebagai pendiri madzhab filsafat. Di Timur, sebagaimana halnya di Barat kuno dan di Yunani pra-Socrates, agama sangat dekat dan berjalin berkelindan dengan esensi pengetahuan primordial yang dimiliki agama.
Dalam studi filsafat dan tasawuf, posisi Iran sebagai ladang kelahiran para filsuf dan ‘urafa semakin mencolok pasca Ibnu Rusyd. Ketika filsafat redup dan lenyap di sebagian besar dunia Islam, setelah kemenangan kaum teolog ortodoks yang memusuhi filsafat, Iran justru terus bersinar melahirkan sejumlah pemikir dan pecinta ilmu dan hikmah yang kian mengukuhkan autentisitas dan jati diri sebagai pemikir Islam.
Al-Thusi berhasil menghidupkan kembali filsafat Peripatetik Ibn Sina yang mengandalkan kekuatan analisis logis dan diskursif, sebuah ungkapan yang sangat berguna bagi pengembangan tradisi dan budaya ilmiah. Syaikh Al-Isyraq Suhrawardi menyuguhkan integrasi dua kebijaksanaan, yaitu Hikmah bahtsiyyah (filsafat diskursif melalui pemikiran dan analisis logis) dan hikmah dzauqiyyah (filsafat intuitif melalui penyucian jiwa). Filsafat Iluminasi ini dianggap lebih religius dan dekat dengan spiritualitas karena penyucian jiwa menjadi metodologi yang terintegrasi dalam memecahkan problem-problem filosofis, sedangkan filsafat Mulla Shadra (al-hikmah al-muta’aliyyah), yang menyintesiskan metode burhan filsafat dan kasyf ‘irfan seraya menyimak makna Al-Qur’an dan Hadits, merupakan lompatan besar dalam sejarah perkembangan filsafat Islam, yang membuat filsafat Isslam semakin jauh berbeda dan jauh meninggalkan filsafat Yunani.
Mungkin perlu disebutkan di sini bahwa ketika mayoritas dunia Islam hari ini mengalami krisis identitas menghadapi dominasi pemikiran dan budaya Barat modern sedemikian rupa sehingga banyak kaum intelektual Muslim yang rendah diri di hadapan filsafat dan pemikiran Barat, para ulama dan intelektual Iran justru aktif menawarkan filsafat dan pemikiran Islam kaum sarjana dunia Islam dan Barat. Kini telah banyak sarjana Barat yang tidak saja belajar filsafat Islam di Qum, Masyhad, dan Teheran, tetapi mereka juga memperkenalkan pemikiran Ibn Sina, Suhrawardi, Ibn Arabi, dan Mulla Shadra kepada dunia Barat sendiri.[2]
B.  Para Ilmuan dan Cendekia Muslim
Sejak sekitar abad ke-8 M hingga abab ke-20 M, Islam telah melahirkan ribuan ilmuwan, baik dalam bidang ilmu filsafat, kalam, tasawuf, sains, teknologi, dan seni. Apa pun bidangnya, mereka adalah tokoh-tokoh langka yang telah memperkaya dunia ilmu pengetahuan bahkan secara khusus menjadi simbol kemajuan peradaban Islam.  Ilmuwan-ilmuwan Muslim beserta karya-karyanya yaitu sebagai berikut:
1.    Ibnu Musa Al-Khawarizmi (Astronom, penemu Algoritma dan Aljabar)
Nama lengkap dari Ibnu Musa Al-Khawarizmi adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Ia adalah ilmuwan Muslim penemu  Algoritma dan Aljabar. Di kalangan ilmuwan Barat ia lebih dikenal dengan nama Algorizm.  Ia lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, yakni Al-Makmun, yang memerintah pada tahun 813-833 M.[3]
Nama Aljabar sendiri diambil dari bukunya yang terkenal, yakni Al-Jabr wa Al- Muqabilah. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus, tangen, dan kotangen serta konsep diferensiasi. Tak hanya itu, di bidang ilmu ukur, Al Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Sayangnya beberapa ilmuwan Barat seperti John Napier (1550-1620 M) dan Simon Stevin (1548-1620 M) mengkalim bahwa penemuan tersebut merupakan hsil pemikiran mereka. Massih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al-Kharizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Bukunya Kitab Surat Al-Ard, menjadi dasar ilmu bumi Arab. Naskah itu hingga sekarang masih disimpan di Strassburg, Jerman oleh Abdul Fida, Seorang ahli ilmu bumi terkenal.[4]
Petualangan dan pengabdian panjangnya itu baru berakhir pada tahun 840 M ketika Sang Khaliq memanggilnya. Al-Khawarizmi meninggalkan warisan khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia.
2.    Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik)
Nama lengkap dari Ibnu Khaldun yaitu Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun.  Moyangnya berasal dari Hadramaut, Yaman yang berimigrasi ke Sevilla, Andalusia (Spanyol). Namun keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai Kristen.[5]
Ia dikenal sebagai bapak ilmu sosiologi dan politik melalui karyanya yaitu  Al-Muqaddimah yang merupakan karya monumental pertama yang memuat prinsip-prinsip politik, strata suatu masyarakat, dan teori disintegrasi. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M.
Pendidikannya dimulai di Tunisia dan di Fez (Maroko) dengan mempelajari berbagai bidang ilmu seperti menghafal Al-Qur’an, mempelajari tata bahasa, hukum Islam (syari’ah), hadis, retorika, filologi, dan puisi. Selain itu ia memepelajari sastra Arab, filsafat, matematika dan astronomi. Khaldun sangat terlibat dengan politik. Kariernya di bidang politik membawanya keluar masuk istana. Usia mudanya dihabiskan sebagai pendamping, penasihat sultan serta menduduki beraneka jabatan.
Kariernya menanjak saat ia membantu Sultan Abu Salem dalam menjatuhkan Al-Mansyur, musuh politiknya. Ia diberi jabatan sekretaris selama lebih dari dua tahun, lalu ditugaskan sebagai qadi (hakim). Sultan Abu Salim tidak lama kemudian dijatuhkan oleh Wazir Omar. Gagal mendapatkan kedudukan di pemerintahan yang baru, Ibnu Khaldun meninggalkan Fez dan pergi ke Andalusia.
Dalam karyanya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun memetakan masyarakat dengan interaksi sosial, politik, ekonomi dan geografi yang melingkupinya. Al-Muqaddimah juga mengupas tentang asal muasal suatu masyarakat , lahirnya kota dan desa, dan sebagainya.
Konstribusi Ibnu Khaldun dalam ilmu pengetahuan memang tidak sedikit. Setidaknya berkat berkatnyalah dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan filsafat dibangun, tidak heran jika karya emasnya hingga kini telah diterjemahkan ke berbagai  bahasa, termasuk bahasa Indonesia
3.    Jabir Ibnu Hayyan (Bapak Kimia)
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa embrio persenjataan nuklir yang banyak digunakan oleh ngara-negara maju bermula dari ilmu kimia. Sebenarnya ilmu kimia sudah ada sejak puluhan abad silam. Memang belum pada bentuk modern seperti sekarang yang telah diadopsi sedemikian canggihnya.
Nama lengkap dari Jabir Ibnu Hayyan adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Ia adalah ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia.
4.    Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali Al-Husain Ibnu Abdullah Ibnu Sina. Lahir pada 980 M di Ifsyia Karmitan, Asia Tengah, dan wafat pada 1037 M. Pada usia 10 tahun, ia sudah hafaal al-Qur’an. Ibnu Sina dikenal sebagai the father of doctors (bapak kedokteran). Selain kedokteran, ia juga menguasai fisika, matematika, astronomi, sejarah, dan filsafat.[6]
Sebagai dokter, ia lebih suka tindakan preventif daripada kuratifan selalu menguatkan aspek spiritual dan fisik pasien secara simultan dalam pengobatannya. Bahwa temperatur, makanan, minuman, limbah, udara, keseimbngan gerak dan pikiran, tidur an kerja mempengaruhi kesehatan, itu semua terbukti, dan sekarang menjadi masalah lingkungan yang utama. Katanya, udara yang terkontaminasi uap dari rawa, danau, saluran drainase, asap atau jelaga dapat membahayakan kesehatan.
Dari sejumlah risalah kesehatannya, Ibnu Sina punya dua teori segitiga pengobatan. Pertama, Triangular Theorynof Islamic Medicine Yang menyatakan kaitan antara Allah, manusia, dan pengobatan. Teori kedua, adanya hubungan antara badan, pikiran, dan semangat pada kesehatan manusia. Topik artikelnya yang lain adalah tentang penyakit jantung yang ada  di dalam kitab Adwiyat al-Qalbiyah (risalah obat untuk sakit jantung). Kitab ini diterjemahkan Arnold of Villanova dengan judul De Viribus Cordis di Spanyol. Karya lainnya, Urjuzah fit Tibb, sebuah manual medis, dibahasalatinkan oleh Armengaud Blasius (meninggal pada tahun 1312 M). Selain itu, karyanya tentang risalah penyakit malaria juga  dibahasalatinkan oleh Prof. Wagner von Jauree dari Vienna.
5.    Ibnu Majid
Ibnu Majid adalah seorang navigator Arab terbesar yang bergelar “singa laut”. Pada usianya yang ke-15, Ibnu Majid sudah memimpin sebuah pelayaran. Navigator yang lahir di Julfar, Mesir, tahun 1421 M ini memiliki nama lengkap Shihabud adain Ahmad bin Majid bin Muhammad bin Amir bin Duwayk bin Yusuf bin Husain bin Abi Ma’lak as-Sa’adi bin Abi ar-Raka’ib an-Najdi.
Ia mempelajari ilmu navigator dari ayah dan kakeknya dengan cara menjalankan kapal laut dan kapal terbang. Selain itu, ia juga menguasai ilmu geografi dan astronomi sebagai syarat utama untuk menjadi navigator ulung. Karya Ibnu Majid dintaranya adalah al-Hijaziah, Urjuza (melagukan syair dengan prosa raja-raja) terdiri dari tiga jilid, Hawiyatul Ikhtisar fi Ushul Ilmil Bihar (ringkasan ilmu navigator) yang ia tulis tahun 1490 M. Buku ini berisi tentang rute-rute laut sepanjang pantai India hingga Sumatera, Cina, Taiwan, dan sepanjang pantai Samudra Hindia, serta tanda-tanda dekatnya daratan.
6.    Ibnu Rusyd
Nama lengkapnya adalah Abu Walid Muhammad bin Rusyd. Ibnu Rusyd lahir Kardoba (Spanyol) pada tahun 520 H (1128 M). Ia adalah seorang filusuf dari Spanyol (Andalusia).Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masaanya. Ibnu Rusyd adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Ia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.[7]
Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebgai qadi (hakim) dan fisikawan. Di dunia Barat Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan.
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fiqh dalam bentuk karangan, ulasan, essai, dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada. Di antara karyanya adalah: Bidayat Al Mujtahid (kitab ilmu fiqh), Kulliyaat fi At Tib (buku kedokteran), Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat wa Asy-Syari’at (filsafat dlam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat).[8]
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.
7.    Al Farabi
Nama lengkapnya yaitu Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Ia lahir pada tahun 874 M (260 H) di Transoxia yang terletak dalam wilayah Wasij di Turki. Bapaknya merupakan seorang anggota tentara yang miskin tetapi semua itu tidak menghalanginya dari pada mendapat pendidikan di Baghdad. Beliau telah mempelajari bahasa Arab di bawah pimpinan Ali Abu Bakar Muhammad ibn al-Sariy.[9]
Selain itu, dia juga merupakan seorang pemusik yang handal. Lau yang dihasilkan meninggalkan kesan secara langsung kepada pendengarnya. Selain mempunyai kemampuan untuk bermain musik, ia juga telah menciptakan satu jenis alat musik yang dikenal sebagai gambus.
Karya-karya Al Farabi dapat dibagi menjadi dua, satu di antaranya mengenai logika dan yang lainnya mengenai bidang lain. Krya-karya tentang logika menyangkut bagian-bagian berbeda dari Organonnya Aristoteles, baik yang berbentuk komentar maupun ulasan panjang. Sedangkan kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fifika, matematika, metafisika, etika dan politik.[10]
8.    Ibnu Bajjah
Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-saigh atau lebih terkenal sebagai Ibnu Bajjah terlahir di saragossa tahun 1082 M dan meninggal tahun 533H/1138 M. Para ahli sejarah sama memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mahir dalam berbagai ilmu. Fatha ibn Khaqan, yang menuduh ibn Bajjah sebagai ahli bid’ah dan mengancamnya dengan pedas dalam karyanya Qala’id al-‘Iqyan, Pun mengakui keluasan dan pengetahuan dan tidak meragukan keamatpandaiannya. Karena menguasai sastra, tatabahasa dan filsafat kuno, oleh tokoh-tokoh sezamannya dia telah disejarahkan dengan al-syaikh al-Rais ibn Sina.[11]
selain itu, Ibnu Bajjah juga ahli di bidang musik dan pemain gambus yang handal. Ia juga seorang yang hafal Alquran. Dalam waktu yang sama, Ibnu Bajjah amat terkenal dalam bidang perobatan dan merupakan salah seorang dokter terkenal yang pernah dilahirkan di Andalusia.
Ibnu Bajjah juga telah menulis sebuah buku yang berjudul AL-Nafs yang membicarakan persoalan yang berkaitan dengan jiwa. Pembicara itu banyak dipengaruhi oleh gagasan pemikiran filsafat yunani. oleh sebab itulah, Ibnu Bajjah banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristoteles, Galenos, al-Farabi, dan al-Razi.
Ilmu sains dn fisika digunakan oleh Ibnu Bajjah untuk menguraikan persoalan benda dan rupa. Menurut Ibnu Bjjah, benda tidak mungkin terwujud tanpa rupa tetapi rupa tanpa benda mungkin wujud. Oleh sebab itu, Kita boleh mengambarkan suatu dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda.
9.    Al-Razi
Nama sebenarnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi, lahir pada tahun 236 H bersamaan 850 M. Ada yang berpendapat bahwa beliau lahir pada tanggal 1 Sya’ban 251 H bersamaan 865 M di Iran.
Ia pada zaman mudanya menjadi pemain gambus (rebab atau rebana) sambil menyanyi, kemudian dia meninggalkan pekerjaan itu dan mempelajari bidang falsafah dan ilmu kedokteran. Ia belajar ilmu kedokteran dengan Ali ibn Rabban al-Thabari dan belajar ilmu falsafah dengan al-Balkhi.

C.  Penemuan Ilmu dan Teknologi Modern Di Kalangan Intelektual Muslim
Penemuan-penemuan ilmu dan teknologi itu sebagian besar berasal dari masa kejayaan Kekhalifahan Islam, oleh para sarjana Muslim. Berikut ini adalah  beberapa penemuan-penemuan ilmu dan teknologi modern:
1.    Matematika
Al-Khawarizmi dan para penerusnya menghasilkan metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara arimetis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkat akar kwadrat dari satu angka. Berbagai operasi yang dikenal oleh orang Yunani digarap dengan cara ini.[12]
Selanjutnya, seorang sarjana Iran, Lotfi A. Zadeh, telah mengembangkan suatu logika baru tentang sebagaimana yang diperkenalkan Aristoteles berabad-abad lalu.  Zadeh mengajukan teori baru apa yang disebut “fuzzy set theory (teori himpunan fuzzy)”, yang menjadi basis perumusan fuzzy logic (logika fuzzy). Fuzzy logic bertujuan untuk menyediakan sebuah model modus-modus penalaran yang bersifat aproksimasi ketimbang eksak.[13]
Selain itu d dalam ilmu matematika juga telah ditemukan Algoritma dan Ajjabar, penemunya adalah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi.
2.    Ilmu Astronomi
Melalui eksperimen Ibnu al-Hytham menggunakan cermin-cermin sperik dan parabolik yang berkenaan dengan refraksi atau pembiasan cahaya melalui medium yang transparan, mampu memberikan suatu perhitungan tentang tingginya atmosfir bumi, dan hampir menemukan prinsip pembesaran lensa.[14]
3.    Ilmu Kedokteran
Di paparkan dalam laporan, bahwa salah satu prestasi ilmiah mutakhir Iran, yang memperoleh perhatian dunia, adalah peluncuran satelite Kavoshgar-3 (Explorer-3) ke ruang angkasa yang membawa hewan untuk percobaan, yaitu seekor tikus, dua kura-kura dan berbagai cacing. Iran juga adalah negara Timur Tengah pertama yang memproduksi hewan transgenik dan telah menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang menguasai teknologi kloning sebagai bagian dari riset kedokteran dan penggunaan hewan klon untuk memproduksi antibodi manusia terhadap penyakit. Iran telah sukses mengklon seekor kambing bernama Royana, seekor domba bernama Hanna, dan dua ekor sapi dengan nama Bonyana dan Tamina.[15]
Ahli Bedah Iran menemukan teknik pembedahan syaraf otak yang berhasil menurunkan secara tajam resiko kematian para korban serangan kimia pasukan Saddam dan teknik itu telah menjadi prosedur standar di dunia medis sekrang. Selai  itu, transplantasi sejumlah organ vital, seperti ginjal, jantung, liver, dan paru-paru, telah rutin dialkukan oleh para dokter Iran sejak dasawarsa 1990. Pada tahun 2009, Iran berhasil mengembangkan paru-paru buatan. [16]
4.    Sains Fisika dan Kimia
Dengan usaha dan jerih payah sarjana Iran yeng  didukung oleh rakyat serta pemerintahan Iran, negeri Republik Islam ini telah bisa melakukan sebuah proses penting dalam teknologi nuklir, yaitu pengayaan uranium hingga 20 persen yang berguna untuk keperluan riset-riset medis dan pembuatan isotop-isotop. Kini, Iran telah sepenuhnya mennguasai siklus pembuatan bahan bakar nuklir.
Selain itu, seorang saintis Iran, Ali Javan, berhasil menemukan laser gas pertama pada tahun 1960 dengan meneruskan studi optik yang diwariskan oleh Ibn Al-Haitsam, ilmuwan Muslim Iran abad 11 M lalu. Kini Iran telah memproduksi berbagai jenis laser untuk memenuhi kebutuhan medis dan industri.
Iran juga mengambangkan sains komputer dan robotika. Iran juga terlibat dalam pengembangan komputer masa depan, yaitu komputer kuantum. Karena sistem operasinya bekerja atas dasar koneksi antar atom dan partikel-partikel subatom, maka komputer kuantum ini dapat bekerja jauh lebih cepat daripada superkomputer tercepat sekarang.[17]



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam perkembangannya, filsafat Yunani dapat dipisahkan dari agama. Filsafat Timur, di sisi lain, tidak dapat dipisahkan dari agama. Dalam studi filsafat dan tasawuf, posisi Iran sebagai ladang kelahiran para filsuf dan ‘urafa semakin mencolok pasca Ibnu Rusyd. Ketika filsafat redup dan lenyap di sebagian besar dunia Islam, setelah kemenangan kaum teolog ortodoks yang memusuhi filsafat, Iran justru terus bersinar melahirkan sejumlah pemikir dan pecinta ilmu dan hikmah yang kian mengukuhkan autentisitas dan jati diri sebagai pemikir Islam.
Al-Thusi berhasil menghidupkan kembali filsafat Peripatetik Ibn Sina yang mengandalkan kekuatan analisis logis dan diskursif, sebuah ungkapan yang sangat berguna bagi pengembangan tradisi dan budaya ilmiah. Ketika mayoritas dunia Islam hari ini mengalami krisis identitas menghadapi dominasi pemikiran dan budaya Barat modern sedemikian rupa sehingga banyak kaum intelektual Muslim yang rendah diri di hadapan filsafat dan pemikiran Barat, para ulama dan intelektual Iran justru aktif menawarkan filsafat dan pemikiran Islam kaum sarjana dunia Islam dan Barat. Kini telah banyak sarjana Barat yang tidak saja belajar filsafat Islam di Qum, Masyhad, dan Teheran, tetapi mereka juga memperkenalkan pemikiran Ibn Sina, Suhrawardi, Ibn Arabi, dan Mulla Shadra kepada dunia Barat sendiri.
Para ilmuwan dan cendekiawan Muslim diantaranya adalah Ibnu Musa Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Sina, Ibnu Majid, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, dan Ibnu Bajjah. Penemuan-penemuan ilmu dan teknologi itu sebagian besar berasal dari masa kejayaan Kekhalifahan Islam, oleh para sarjana Muslim, seperti penemuan Aljabar, penemuan teknologi kloning, penemuan teknologi nuklir, penemuan leser, penemuan Algoritma, dan lain-lain.



DAFTAR PUSTAKA

Awani, Ghulam Reza, Andayani. 2012. Peradaban Islam Iran. Yogyakarta: Rausyanfikr Institute.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Sucipto, Hery. 2008. The Great Moslem Scientist. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu.
Syarif, M.M. 1996. Para filosof Muslim. Bandung: Mizan.
Watt, W. Monttgomery. 1995. Islam dan Peradaban Dunia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



[1] Ghulam Reza Awani dan Andayani, Peradaban Islam Iran (Yogyakarta: Rausyanfikr Institute, 2012), hlm. 287.
[2] Ibid., hlm. 339-340.
[3] Hery Sucipto, The Great Moslem Scientist (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2008), hlm. 16.
[4] Ibid., hlm. 17-18.
[5] Ibid., hlm. 47.
[6] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 34.
[7] Ibid., hlm. 47.
[8] Ibid., hlm. 47-48.
[9] Ibid., hlm. 26
[10] M.M. Syarif, Para filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 58-59.
[11] Ibid., hlm. 144.
[12] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 49.
[13] Ghulam Reza Awani dan Andayani, Op. Cit., hlm. 345-346.
[14] W. Montgomery Watt, Op. Cit., hlm. 50.
[15] Ghulam Reza Awani dan Andayani, Op. Cit., hlm. 342.
[16] Ibid., hlm. 346.
[17] Ibid., hlm. 344-345.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar