Laman

Selasa, 24 November 2015

spi F 09


IMPERIALISME BARAT TERHADAP DUNIA ISLAM

( 1492 – SEKARANG )


KELAS : F

Disusun oleh :
Nur Lailatus Syarifah   (2021114100)
Ani Nur Aini                 (2021114189)
Kismanto                      (2021114295)

TARBIYAH PAI
 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015
 
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
D.    Metode Pemecahan Masalah .................................................................... 2
E.     Sistematika Penulisan Makalah ................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Kemajuan Dunia Barat Dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ............ 3
B.     Kebangkitan Eropa ................................................................................... 4
C.     Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam ............................................... 5
D.    Kemunduran Kerajaan Usmani dan Ekspansi Barat ke-
Negeri-negeri Islam ................................................................................... 7
E.     Gerakan Kebangkitan di Dunia Islam .................................................... 11
• Kebangkitan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Pendidikan
   dan Politik ............................................................................................ 11
• Gerakan Kebangkitan Menentang Imperialisme Barat ........................ 14
F.      Kemerdekaan Negara-negara Islam dari Imperialisme ........................... 16
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ............................................................................................. 18
B.     Saran ....................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 19
PROFIL PENULIS ............................................................................................ 20


KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala Nikmat dan karunia-Nya yang tidak bisa di ukur dengan ukuran materi, sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberi tauladan berupa akhlak yang mulia.

            Dengan demikian kami bisa menyelesaikan  makalah yang berjudul “Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam (1492 – Sekarang)”. Pembuatan makalah ini bertujuan guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.

            Dengan demikian diharapkan materi makalah dapat membantu kita dalam membentuk kecerdasan. Dengan kecerdasan akan menumbuhkan jiwa kebaikan, membangun bangsa akan lebih maju sehingga makalah ini dapat dijadikan pegangan dalam mencari pengetahuan. Kecerdasan juga harus sesuai dengan kebenaran. Maka dari itu, kecerdasan yang hakiki yang paling utama yakni kecerdasan dengan dasar keimanan.
            Akhirnya dengan menyadari segala kekurangan dan keterbatasan dalam menyajikan makalah ini maka kritik dan saran sangatlah kami harapkan demi sempurnaannya makalah ini. Semoga makalah yang sederhana ini menambah khasanah dan bermanfaat. Amin...



 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Berhasilnya bangsa Mongol mengakhiri kekuasaan Islam di Baghdad, dalam hal ini tidak hanya berakhir masa kepemimpinan para khalifah akan tetapi juga mulai mundurnya politik dan peradaban Umat Islam.
Jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol ini juga menyebabkan kerajaan-kerajaan terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang terpecah itu sering mengalami adanya perselisihan sehingga semakin melemahnya sistem politik dan peradaban umat Islam. Sehingga hal itu dimanfaatkan oleh orang Barat untuk menguasai wilayah kekuasaan orang Islam.
Namun, kemajuan pada masa itu lebih kepada aspek material, dan lemah pada bidang pemikiran, sains, seni dan filsafat. Hal ini dapat dilihat dari perekonomian, kekuatan militer, dan wilayah teritorial negara yang kuat pada masa itu, namun kemajuan tersebut tidak mendorong terjadinya kemajuan pada bidang pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya menyebabkan ketidakmampunya menandingi kekuatan Eropa Modern yang didukung oleh sains dan teknologi.
Kebangkitan bangsa Barat bermuara pada semangat keIlmuan yang begitu tinggi, yang telah membawa bangsa Barat menuju penemuan-penemuan baru dan penjelajahan Samudra, serta revolusi industri hingga berujung pada imperialisme terhadap wilayah-wilayah Islam pada khususnya.  

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Kemajuan Dunia Barat dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ?
2.      Bagaimana Kebangkitan Eropa ?
3.      Bagaimana Imperialisme Barat terhadap Dunia Islam?
4.      Bagaimana Kemunduran Kerajaan Usmani dan Ekspansi Barat ke Negeri-negeri Islam ?
5.      Bagaimana Gerakan Kebangkitan di Dunia Islam ?
6.      Bagaimana Kemerdekaan Negara-negara Islam dari Imperialisme

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Kemajuan Dunia Barat dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
2.      Untuk mengetahui Kebangkitan Eropa.
3.      Untuk mengetahui Imperialisme Barat terhadap Dunia Islam.
4.      Untuk mengetahui Kemunduran Kerajaan Usmani dan Ekspansi Barat ke Negeri-negeri Islam.
5.      Untuk mengetahui Gerakan Kebangkitan di Dunia Islam.
6.      Untuk mnengetahui Kemerdekaan Negara-negara Islam dari Imperialisme.

D.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literature/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas.

E.     Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah Pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari Simpulan dan Saran.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kemajuan Dunia Barat Dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa Barat pada periode ini sebenarnya memiliki korelasi yang erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuannya di Eropa ataupun kemajuan yang dicapai dunia Islam di Baghdad. Bangsa Barat banyak berutang budi kepada para ilmuwan muslim yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Spanyol (Andalusia) merupakan tempat paling utama bagi bangsa Barat dalam menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar bangsa. Bangsa B arat menyaksikan realitas bahwa ketika Andalusia berada bawah di bawah kekuasaan umat Islam, negeri ini telah terlalu jauh meninggalkan negara-negara tetangganya di Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping perkembangan dan kemajuan bangunan fisik.
Dalam hal ini pemikiran Ibnu Rusyd atau Averrous (1120-1198 M) sangat berpengaruh di dunia Eropa. Pemikiran ini berhasil melepaskan belenggu pemikiran taklid, dan mengkritik semua bentuk pemikiran yang tidak rasional. Di antara ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam yang banyak dipelajari oleh ilmuwan Barat adalah ilmu kedokteran, ilmu sejarah, ilmu sosiologi, dan ilmu-ilmu lainnya.
Di samping ilmu-ilmu tersebut, terdapat ilmu-ilmu lain yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Di antaranya ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (mineralogi), meteorologi, dan sebagainya.
Di awal periode modern, kondisi dunia Islam secara politis berada di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M dunia Islam mulai bangkit melepaskan negerinya dari imperialisme Barat.
Pada abad 20 M ini merupakan periode kebangkitan kembali Islam, setelah mengalami kemunduran pada periode pertengahan. Pada periode ini mulai bermunculan pemikiran modernisasi dalam Islam. Gerakan modernisasi tersebut paling tidak muncul karena dua hal berikut. Pertama, timbulnya kesadaran di kalangan ulama bahwa banyak ajaran “asing” yang masuk dan diterima sebagai ajaran Islam. Ajaran-ajaran itu bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sebenarnya, seperti bid’ah, khufarat, dan takhayul. Ajaran-ajaran inilah, menurut mereka, yang membawa Islam menjadi mundur. Oleh karena itu, mereka bangkit untuk membersihkan Islam dari ajaran atau paham seperti itu. Gerakan ini dikenal sebagai gerakan reformasi. Kedua, pada periode ini Barat mendominasi dunia di bidang politik dan peradaban. Persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Oleh karena itu, mereka berusaha bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power.[1]

B.     Kebangkitan Eropa
Bangsa-bangsa Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat pada awal kebangkitannya. Di hadapan mereka masih terdapat kekuatan-kekuatan angkatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus jalan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka.[2]
Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah Christopher Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Gama menemukan jalan ke Timur melalui Cape Town (1498 M), benua Amerika dan kepulauan  Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak terkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan karena tidak lagi tergantung kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam.
Dalam bidang perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tidak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya. Kemajuan bangsa Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa semakin memantapkan kemajuan mereka. teknologi perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari ke seluruh dunia tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan dan pesaing-pesaing mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri taklukan dan jajahan.[3]

C.    Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam
Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya. Motivasi mereka datang ke negara-negara Islam adalah motivasi ekonomi, politik, dan agama.
Pada saat yang sama, dunia Islam sedang terus dilanda kemunduran dan kelemahan dalam berbagai bidang, sehingga negara-negara Islam tidak mampu bersaing dengan bangsa Barat yang didukung oleh kekuatan politik militer yang tangguh. Saat itulah dunia Islam berada dalam kekuasaan kaum imperialisme Barat.
Setelah bangsa-bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat bangsa Barat yang menjajah dunia Islam yang melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaries atau zending. Penjajahan bangsa Barat yang dipelopori oleh bangsa Spanyol dan Portugis mempunyai tujuan yang hampir sama, yaitu di samping mencari daerah penanaman modal asingnya, mereka juga berusaha untuk menyebarkan agama Kristen di wilayah jajahannya. Walaupun usahanya tidak segencar yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis yang bersemboyan: Gold yaitu semangat untuk mencari keuntungan besar (emas), Glory yaitu semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan, dan Gospel yaitu semangat menyebarkan agama Kristen di masyarakat yang terjajah.
Oleh karena itu, kedua bangsa Barat itu terus gencar melakukan penjajahan terhadap negara-negara Islam dan berusaha menguasainya, sehingga dengan mudah mereka dapat menyebarkan  agama Kristen. Kondisi seperti ini didukung oleh semangat balas dendam yang disebut reqonquesta, yaitu semangat balas dendam bangsa-bangsa Barat terhadap Islam yang dulu pernah menjajah mereka.[4]
Dengan demikian, motivasi bangsa-bangsa Barat dalam menjajah negara-negara Islam selain motivasi ekonomi dan politik, juga terdapat motivasi agama. Masyarakar Islam yang berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa Barat ditekan, sehingga banyak di antara umat Islam yang melarikan diri atau bertahan dengan melakukan perlawanan terhadap kekuatan penjajah Barat tersebut. Gerak langkah umat Islam di awas sedemikian rupa,sehingga umat Islam tidak dapat mengembangkan peradabannya atau paling tidak mempertahankan peradaban Islam yang masih ada. Hampir semua sistem Barat diterapkan di dunia Islam, termasuk peradabannya. Masyarakat Islam diubah budayanya agar berperilaku dan berperadaban Barat. Dengan demikian, pola hidup dan pemikiran umat Islam mengarah kepada kehendak  bangsa Barat yang menjajahnya.
Dengan demikian dapat dikatakan, pada saat kelemahan umat Islam seluruh benua Asia-Afrika jatuh ke tangan penjajah bangsa-bangsa Barat. Namun, meskipun berada dalam tekanan dan penjajahan, umat Islam terus melakukan perlawanan dan berusaha membebaskan tanah air dan agama mereka dari tekanan penjajah bangsa-bangsa Barat tersebut.
Selain itu, kedatangan bangsa-bangsa Barat ke negeri-negeri atau wilayah Islam, terutama negara-negara yang subur dan kaya hasil rempah-rempahnya seperti Indonesia dan Malaka serta Hindia, bukan semata-mata untuk mencari keuntungan serta mengeruk kekayaan hasil buminya tetapi juga bertujuan menguasai seluruh seluruh sistem yang ada baik sistem ekonomi, politik, budaya, pendidikan, agama dan lain-lain.
Kekejaman mereka dalam bidang ekonomi terlihat dari upaya mereka untuk melakukan monopoli perdagangan, yakni dengan merebut bandar-bandar pelabuhan besar yang sebelumnya menjadi daerah perdagangan umat Islam dari Arab, Persia, India, dan Cina.
Dalam bidang kemasyarakatan, penjajah sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsawan denagan rakyat kecil.kaum bangsawan dibujuk agar mau menuruti kehendak penjajahdengan mendapatkan posisi jabatan tertentu dan keuntungan dari penjajah. Rakyat kecil selalu diawasi agar mereka tidak memberontak.mereka harus tuduk dan patuh pada penguasa yang menjajahnya.[5]

D.    Kemunduran Kerajaan Usmani dan Ekspansi Barat ke Negeri-negeri Islam
Kemajuan-kemajuan Eropa dalam teknologi militer dan industri perang membuat Kerajaan Usmani menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Usmani masih membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang berada di Eropa Timur.[6]
Sejak kekalahan dalam pertempuran Wina itu, Kerajaan Usmani juga menyadari akan kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama Prancis, untuk mempelajari suasana kemajuan di sana dari dekat. Celebi Mehmed diutus ke Paris tahun 1720M dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng pertahanan, dan institusi-institusi lainnya. Ia kemudian memberi laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern, dan kemajuan lembaga-lembaga sosial lainnya. Laporan-laporan itu mendorong Sultan Ahmad III (1703-1730 M) untuk memulai pembaharuan di kerajaannya. Pada masa kekuasaannya didatangkan ahli-ahli militer dari Eropa untuk tujuan pembaharuan militer dalam Kerajaan Usmani. Pada tahun 1729 M, datang lagi Comte de Bonneval, juga dari Prancis, untuk memberi latihan penggunaan meriam modern. Ia dibantu oleh Macarthy dari Irlandia, Ramsay dari Skotlandia, dan Mornai dari Prancis. Pada tahun 1734 M, untuk pertama kalinya Sekolah Teknik Militer dibuka. Usaha pembaruan ini tidak terbatas dalam bidang militer. Dalam bidang-bidang yang lain pembaruan juga dilaksanakan, seperti pembukaan percetakan di Istanbul tahun 1727 M, untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan. Demikian juga, gerakan penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Turki.[7]
            Meskipun demikian, usaha-usaha pembaharuan itu bukan saja gagal menahan kemunduran Kerajaan Turki Usmani yang terus mengalami kemerosotan, tetapi juga tidak membawa hasil yang diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan raja-raja Usmani karena wewenangnya sudah jauh menurun. Di samping itu, keuangan negara yang terus mengalami kebangkrutan sehingga tidak mampu menunjang usaha pembaruan. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan itu adalah karena ulama dan tentara Yenissari yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana politik Kerajaan Usmani serta menolak usaha pembaharuan itu.
            Ketika Perana Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan. Akibatnya, kekuasaan Kerajaan Turki Usmani semakin ambruk. Partai Persatuan dan Kemajuan memberontak kepada Sultan dan dapat menghapuskan kekhalifahan Usmani, kemudian membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. Dengan demikian, kesatuan politik dalam negeri Kerajaan Usmani sejak bergeloranya gerakan pembaruan justru tidak stabil, terutama karena para Sultan tidak mampu mengakomodasi pemikiran yang berkembang di kalangan pemimpin bangsanya.
            Di pihak lain, satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki Usmani, melepaskan diri dari Konstantinopel. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani itu, yang tak kalah pentingnya adalah timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaannya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. Bangsa Kurdi di pegunungan dan Arab di padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Turki Usmani.
            Demikianlah, keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M, sementara Eropa sudah jauh meninggalkannya. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu jatuh ke tangan Barat. Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam.
            Ketika terjadi Perang Dunia I (1915), Turki Usmani nerada di pihak yang kalah. Sampai tahun1919 M, Turki diserbu tentara Sekutu. Sejak itu, kebesaran Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian, kekhalifahannya dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas, baik di Asia maupun Afrika diambil alih oleh Negara-negara Eropa yang menang perang. Perang Dunia itu merupakan babak akhir proses penaklukan Barat terhadap negeri-negeri Islam. Sejak itu, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan Islam yang betul-betul merdeka.
Penetrasi Barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Prancis, yang memang sedang bersaing. Inggriz terlebih dulu menanamkan penagaruhnya di India. Prancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh karena itu, pintu gerbang ke India, yaitu Mesir, harus berada di bawah kekuasaannya. Untuk maksud tersebut, Mesir dapat ditaklukkan Prancis tahun 1798 M.
Alasan lain Prancis menaklukkan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya. Mesir, di samping itu mudah dicapai dari Prancis juga dapat menjadi sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syiria, Hijaz, begitu pula ke Timur jauh. Di balik itu, Napoleon Bonaparte sendiri, sebagai Panglima Ekspedisi Prancis mempunyai keinginan untuk mengikuti jejak Alexander the Great dari Macedonia, yang jauh di masa lalu pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India akan tetapi, kondisi politik Prancis menghendaki Napoleon meninggalkan Mesir tahun 1799 M. Di Mesir, Jendral Kleber menggantikan kedudukan Napoleon. Dalam suatu pertempuran lain antara Inggris dan Prancis Jendral Kleber kalah. Jendral Kleber dan Ekspedisinya meninggalkan Mesir 31 Agustus 1801 M, dan di Mesir terjadi kekosongan kekuasaan.
Kekosongan itu dimanfaatkan oleh seorang perwira Turki, Muhammad Ali (1769-1849 M) yang didukung oleh rakyat berhasil mengambil kekuasaan dan mendirikan dinastinya. Dimulai oleh Muhammad Ali, Mesir sempat menegakkan kedaulatan dan melakukan beberapa pembaruan, tetapi pada tahun 1882 M, Negeri ini ditaklukkan oleh Inggris.
Faktor utama yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke negeri-negeri muslim adalah ekonomi dan politik. Kemajuan Eropa dalam bidang industri menyebabkannya membutuhkan bahan-bahan baku, di samping rempah-rempah. Mereka juga membutuhkan neger-negeri tempat mereka dapat memasarkan hasil industri mereka itu. Untuk menunjang perekonomian tersebut, kekuatan politik diperlukan sekali. Akan tetapi, persoalan agama seringkali terlibat dalam proses politik penjajahan Barat atas negeri-negeri Islam ini. Trauma perang Salib agaknya masih membekas pada sebagian orang Barat, terutama Portugis dan Spanyol, karena dua negara ini untuk jangka waktu berabad-abad berada di bawah kekuasaan Islam.[8]

E.     Gerakan Kebangkitan di Dunia Islam
Gerakan modernisasi dunia Islam yang dilakukan para pembaru muslim, memiliki semangat juang besar dalam membangkitkan semangat umat Islam untuk bangkit kembali menguasai sains dan teknologi, di samping melakukan gerakan pemurnian ajaran Islam yang merupakan inti dari gerakan tersebut. Gerakan pembaruan yang dilakukan para tokoh tersebut bergema di seluruh penjuru dunia Islam. Oleh karena itu, banyak di antara negara-negara muslim mengikuti gerakan pembaruan tersebut, sehingga lahirlah suatu tatanan baru dalam dunia Islam, yaitu kebangkitan dunia Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, politi, pendidikan, dan kebangkitan melawan imperialisme Barat.
·         Kebangkitan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Politik
Menyadari kekalahan dan kelemahan dalam berbagai aspek kehidupan dari bangsa-bangsa Barat, umat Islam mulai bangkit kembali untuk mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan. Bangsa yang pertama kali merasakan ketertinggalan itu adalah Turki Usmani dan Mesir.
Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banyak belajar dari Eropa. Di Turki para sultan mengirim duta-dutanya ke Eropa untuk mengetahui kemajuan yang dicapai bangsa Barat. Dari informasi pembaruan dalam bidang politik dan militer. Karena di situlah letak kemajuan dan kemenangan Barat atas dunia Islam.
Gerakan pembaruan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memang tidak dapat dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan-Islamisme (Persatuan Islam sedunia) yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal Jamaluddin Al-Afghani (1839-1897 M).
Gerakan Pan-Islamisme yang bergelora itu mendorong sultan Kerajaan Turki Usmani, Abdul Hamid II (1876-1909 M), untuk mengundang Jamaluddin Al-Afghani ke Istambul, ibu kota Turki Usmani. Gagasan ini dengan cepat mendapat sambutan hangat di negeri-negeri Islam. Akan tetapi, semangat demokrasi Al-Afghani tersebut menjadi dua bagian kekuasaan sultan, sehingga Al-Afghani tidak diizinkan berbuat banyak di Istambul. Setelah itu, gagasan Pan-Islamisme dengan cepat redup, terutama setelah Turki Usmani bersama sekutunya, Jerman, kalah dalam Perang Dunia I, dan kekhalifahan dihapuskan oleh Mustafa Kamal Attaturk, tokoh yang justru mendukung gagasan nasionalisme, rasa kesetiaan kepada negara kebangsaan.
Gagasan nasionalisme yang berasal dari Barat itu masuk ke negeri-negeri muslim melalui persentuhan umat Islam dengan Barat, yang menjajah mereka dan dipercepat oleh banyaknya pelajar muslim yang menuntut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga pendidikan “Barat” yang didirikan di negeri mereka. gagasan kebangsaan ini padamulanya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Islam karena dipandang tidak sejalan denagan semangat ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, gerakan ini berkembang cepat setelah gagasan Pan-Islamisme redup.
Di Mesir, Muhammad Ali Pasha (1765-1849 M) tampil untuk memajukan ilmu pengetahuan dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan penerjemah, sehingga pada masanya Mesir menjadi negara maju. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh At-Tahtawi (1801-1873 M). Berkat usahanya, banyak diterjemahkan buku-buku Barat tentang berbagai ilmu pengetahuan modern, dan dikarang pula buku-buku baru serta menerbitkan berbagai surat kabar dan majalah.
Ide-ide pembaruan Islam yang dilakukan para pembaru tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga pembaru dalam bidang-bidang sosial politik, sehingga melahirkan kebangkitan kembali dunia Islam dalam bidang politik, yang dimulai dengan tumbuhnya kesadaran bahwa sistem politik Islam ketika itu sudah menyimpang dari sumber-sumber ajaran Islam. Seperti masalah khalifah yang sebetulnya adalah milik umat Islam, telah berubah menjadi milik suatu golongan tertentu sehingga yang berkuasa hanya orang-orang tertentu yang menguasai negara.
Ancaman yang datang menghadang umat Islam, baik yang datang dari faktor internal maupun eksternal, merupakan suatu bahaya yang mengancam kesatuan umat Islam. Terjadinya persaingan kekuasaan antara umat Islam di Mesir, Arab, dan Turki, menjadi sebab terpecahnya ukhuwah Islamiyah. Di samping itu, penjajahan yang dilakukan bangsa Barat juga menjadi faktor penyebab rusaknya hubungan persaudaraan Islam, yang seringkali menimbulkan peperangan di antara umat Islam.
Untuk mengatasi persoalan itu, umat Islam dan negara-negara Islam seperti Mesir dan Turki yang berusaha memperkuat angkatan militernya, di samping pembaruan di bidang-bidang lainnya. Gerakan politik yang paling menonjol dilakukan oleh Jamaludin Al-Afghani (1839-1897 M) yang melahirkan Pan Islamisme di dunia Islam. Untuk mencapai idenya ini Jamaludin mendirikan Partai Nasional (Al-Hizbul Wathan) di Mesir, memperjuangkan pendidikan universal, menyelenggarakan kebebasan pers, dan sebagainya.
Jamaludin Al-Afghani menghendaki pemerintahan Republik yang di dalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat, dan kewajiban kepala negara untuk tunduk kepada undang-undang dasar.
Selain Jamaludin Al-Afghani, tokoh lain yang dikenal sebagai tokoh modernisasi Islam dari Mesir adalah Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905 M). Ketika di Al-Azhar, Abduh bertemu dengan Jamaludin Al-Afghani yang datang ke Mesir, Abduh sangat terkesan dengan pemikiran-pemikiran pembaruan Al-Afghani. Dan iapun melakukan gerakan modernisasi Islam bersama Al-Afghani.
Akibat perlawanannya terhadap penguasa, Abduh dan Jamaludin diasingkan ke Paris, Prancis selama satu tahun. Di Paris mereka menerbitkan majalah Al-Urwatul Wustqa, yang berisi ide-ide modernisasi Islam untuk meraih kembali kebangkitan Islam dan melawan penjajahan Barat.
Di India, sebagaimana halnya di Tuki dan Mesir, gagasan Pan-Islamisme yang dikenal dengan gerakan khilafat juga mendapat pengikut. Sayyid Amir Ali (1848-1928 M) adalah salah seorang pelopornya. Namun, gerakan ini segera pudar setelah usaha menghidupkan kembali khilafah yang dihapuskan Mustafa Kamal Attarurk di Turki tidak mungkin lagi.
Gagasan-gagasan nasionalisme dan gerakan-gerakan untuk membebaskan diri dari kekuasaan imperialisme Barat yang kafir juga bangkit di negeri-negeri Islam lainnya. Oleh karena itu, dalam kurun waktu yang hampir bersamaan satu demi satu negara-negara Islam akhirnya dapat melepaskan diri dari imperialisme Barat. Gerakan modernisme Islam untuk meraih kebangkitan dunia Islam telah berpengaruh sedemikian kuat keseluruh wilayah dunia Islam, sehingga membangkitkan kekuatan baru untuk melepaskan diri dari kekuasaan imperialisme Barat.
·         Gerakan Kebangkitan Menentang Imperialisme Barat
Muncunya gerakan pembaruan dalam Islam, merupakan wujud dari bentuk kesadaran umat Islam dari ketertinggalan dan keterbelakangan mereka. banyaknya persoalan yang dihadapi umat Islam, baik persoalan intern seperti adanya penyimpangan ajaran Islam dari ajaran sebenarnya, persaingan antarpenguasa muslim, dan sebagainya; serta persoalan ekstern umat yang ditimbulkan dari tekanan penjajahan bangsa-bangsa Barat, yang menuntut segera diatasi dan dipecahkan masalahnya.
Umat Islam menyadari bahwa untuk mengatasi kekuatan bangsa-bangsa Barat tidaklah mudah, tanpa melakukan konsolidasi keyakinan umat serta menghimpun semangat juang umat Islam. Tanpa hal tersebut perlawanan terhadap penjajah tidak akan berhasil.
Gerakan Pan Islamisme yang dilakukan Jamaludin Al-Afghani merupakan cikal bakal dari gerakan kesatuan untuk menentang penjajah. Karena pada tahun 1838 M gerakan ini telah membangkitkan semangat baru umat Islam dengan tujuan memajukan umat dengan jalan mempergunakan aliran pemikiran modern dengan bentuk persatuan seluruh umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam, seperti zaman para khalifah.
Dalam menghadapi bangsa Barat, gerakan persatuan umat Islam tersebut menggelora ke seluruh penjuru dunia Islam. Bahkan ke dalam wilayah Islam yang sedang berada dalam cengkeraman penjajah bangsa Barat seperti Indonesia dan Malaysia pada saat itu.
Proses penyebaran informasi mengenai adanya gerakan perlawanan terhadap para penjajah Barat oleh umat Islam, dilakukan melalui sarana ibadah haji sangat efektif sebagai sarana informasi  gerakan ini. Sehingga umat Islam dari seluruh dunia bangkit kesadaran mereka setelah menyaksikan sendiri gerakan persatuan umat Islam yang mereka lihat di Mekah. Sepulang dari haji, mereka mendirikan organisasi atau perkumpulan untuk menentang penjajah asing di wilayah masing-masing.
Gerakan penentangan terhadap penjajah ini juga dilandasi oleh ide-ide nasionalisme, yaitu suatu kesadaran kebangsaan atas haknya sebagai pemilik sah tanah air yang tidak boleh diganggu oleh bangsa manapun. Di samping itu berkembang pula ide patriotisme, yakni kepahlawanan dan kepeloporan untuk bangkit sebagai pahlawan di dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan bangsa asing.
Pengaruh dari gerakan mementang terhadap imperialisme Barat ini sangat berhasil di kalangan dunia Islam. Di mana-mana menggelorakan sikap patriotisme-nasionalisme di berbagai wilayah dunia Islam untuk mengusir penjajahan.[9]

F.     Kemerdekaan Negara-negara Islam dari Imperialisme
Gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka juga bebas dari pengaruh politik Barat. Di samping itu, perjuangan mereka juga didukung oleh seluruh umat Islam di berbagai wilayah setempat yang menjadikan “kekuatan” yang dahsyat sehingga mereka dapat melepaskan diri dari belenggu imperialisme.
Perjuangan mereka biasanya terwujud dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti 1) gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun perjuangan bersenjata, dan 2) gerakan pendidikan dan propaganda dalam rangka mempersiapkan masyarakat menyambut dan mengisi kemerdekaan itu.
Negara berpenduduk mayoritas muslim yang pertama kali berhasil memproklamasikan kemedekaannya adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu.
Negara Islam kedua yang merdeka dari penjajahan adalah Pakistan, yaitu pada tanggal 15 Agustus 1947, ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India kepada dua dewan konstitusi, satu untuk India dan satu untuk Pakistan.
Di Timur Tengah, Mesir secara resmi memperoleh kemedekaan tahun 1922 dari Inggris, tetapi dalam pemerintahan raja Faruk pengaruh Inggris sangat besar. Baru pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser yang menggulingkan Raja Faruk 23 Juli 1952, Mesir menganggap dirinya benar-benar merdeka.
Di Asia Tenggara, Malaysia, yang waktu itu termasuk Singapura, mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1957, dan Brunai Darussalam tahun 1984 M. Demikianlah, satu persatu negeri-negeri Islam memerdekakan diri dari penjajahan. Bahkan beberapa diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada tahun-tahun terakhir, seperti negara-negara Islam yang dulunya bersatu dalam Uni Soviet.
Demikianlah beberapa kondisi negara-negara Islam diberbagai wilayah dalam berjuang melepaskan diri dari imperialisme Barat. Perjuangan mereka untuk melepaskan diri dari penjajahan akhirnya membuhkan hasil, dan mereka memperoleh kembali kemerdekaannya setelah melalui perjuangan yang gigih dan tidak mengenal lelah. [10]

















BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang dicapai bangsa-bangsa Barat memiliki korelasi yang sangat erat dengan perkembangan peradaban dunia Islam, baik ketika Islam mencapai puncak kemajuan di Eropa maupun kemajuan yang dicapai dunia Islam di Baghdad. Orang Eropa dapat memperoleh kekayaan yang tidak terhingga untuk menghidupkan negerinya. Maka tidak lama setelah itu Eropa mulai mengalami kebangkitan dan kemajuaan.
Kelemahan dan kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan menjajahnya. Penjajahan Bangsa Barat yang dipelopori oleh bangsa Spanyol dan Portugis memiliki tujuan yang hampir sama, yaitu di samping mencari daerah penanaman modal asingnya mereka juga berusaha untuk menyebarkan agama Kristen di wilayah jajahannya dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel. Langkah umat Islam dikuasai oleh bangsa Barat sehingga umat Islam tidak dapat mengembangkan peradabannya. Selain itu masyarakat juga umat Islam diubah budayanya agar berperilaku dan berperadaban Barat.

B.     SARAN
Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu, apabila dalam makalah ini didapati kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya. Akhirnya, semoga makalah yang sederhana ini menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat untuk membantu kegiatan menulis makalah yang baik dan benar bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Syukur, Fatah. 2012. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.
Nakoesteen, Mehdi. 1996. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat. Surabaya: Risalah Gusti.
Ali, K. 2003. Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani (Tarikh Pramodern). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Abdurrahman, Dudung. 2003. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern.Yogyakarta: IAN Sunan Kalijaga.
Sunanto,Musyrifah. 2003. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Kencana.
Lapidus,Ira M. 2000. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT Grafindo Persada.











PROFIL PENULIS
Nama               : Nur Lailatus Syarifah
NIM                : 2021114100
Alamat                        : Tegalrejo
                           Jln. KH. Masyhuri No.10 Rt.02 Rw. 06
 

Nama               : Ani Nur Aini
NIM                : 2021114189
Alamat                        :  Jl.ulin lima No.21 Rt.04 Rw.01
   Kalisalak Batang
 

Nama               : Kismanto
NIM                : 2021114295
Alamat            : Kajen


[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2015), hlm. 347.
[2] Fatah syukur, Sejarah Peradaban Islam (semarang: PT Pustaka Rizki Putra,2012) hlm 254.
[3] Ibid., hlm 347-349.
[4] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam : dari masa klasik hingga modern (Yogyakarta IAIN Sunan Kalijaga, 2003), hlm 215.
[5] Ibid., hlm 349-354.
[6] Badri Yatim , Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hlm. 178.
[7] K. Ali, Sejarah Islam dari Awal hingga runtuhnya dinasti usmani (jakarta: pt raja grafindo persada,2003), hlm. 543.
[8] Badri Yatim, Op.cit., hlm 181-183
[9] Samsul munir,Op.cit., hlm. 359-367.
[10] Ibid., hlm.367-369.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar