Laman

Selasa, 29 Maret 2016

TT H 6 A “Niat Baik-Baik Dapatkan Doa dan Ampunan”



TAFSIR TARBAWI
Adab Masuk Rumah
“Niat Baik-Baik Dapatkan Doa dan Ampunan”
(Q.S Nuh Ayat : 28)
 

Muhamad Sidiq Al – Amin 
(2021114157)
Kelas : H

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016





KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam semoga rahmat dan kesejahteraan senantiasa di limpahkan oleh Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para keluarga dan sahabatnya. Dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya ke hadirat Allah SWT atas karunia dan nikmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Adab Masuk Rumah“ “Niat-Niat Baik Dapatkan Doa dan Ampunan “ ini yang sekarang ada di hadapan para pembaca yang budiman.
Penulis telah berupaya menyajikan laporan ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu,apabila terdapat kesalahan dan kekurangan,baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya.
Semoga makalah yang sederhana ini menambah khasanah keilmuan dan dengan ini saya mempersembahkan dengan penuh rasa terima kasih,  semoga allah SWT memberkahi sehingga dapat memberikan manfaat. Amin ya robbal ‘alamin.





Pekalongan, 18 Maret 2016

 Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelajaran akhlak adalah salah satu hal yang harus diterapkan secara fundamental terutama bagi dunia pendidikan. Salah satu cerminan akhlak tersebut bisa kita contoh dari kisah nabi Nuh AS. Kisah mengenai Nabi Nuh yang sudah berdakwah kurang lebih lima abad tetapi beliau hanya mendapatkan sebagian penduduk yang menerima dakwah beliau. Banyak orang yang menentang ajaran dakwah Nabi Nuh tetapi beliau selalu bersabar dalam menghadapinya, orang-orang yang menentang dakwah beliau adalah orang yang zalim bahkan mereka menganggap Nabi Nuh itu gila, di tuduh telah dirasuki oleh syetan dan lain-lain. Karena mereka tidak mau menerima dakwah Nabi Nuh akhirnya beliau berdoa dan memohon ampun kepada Allah, menyerahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa.
Pada perkembangan zaman yang semakin pesat dan maju, akhlak manusia pun di yakini semakin merosot bagi orang-orang yang menikmati perkembangan itu maka dari itu peran orang tua disini sangat penting dalam mendidik anaknya agar si anak dapat menjadi pribadi yang sholeh seperti yang di alami Nabi Nuh ketika menghadapi orang-orang yang menentang dakwah beliau tetapi Nabi Nuh dalam berdakwah juga dengan menggunakan cara yang baik seperti akhlak beliau dalam berdakwah dan selalu berdoa kepada Allah dalam meyelesaikan permasalahannya. Tanpa di dampingi dengan akhlak yang telah di ajarkan para Rasul dan Nabi kita. Hal ini terbukti dengan fakta-fakta yang sering kita dengar melalui televisi, radio, internet, koran, buku, majalah dan lain-lain bahwasanya banyak tindak kejahatan yang terjadi di sekirat kita, mulai dari pencurian sampai kepada pemerkosaan. Banyak dari manusia, khususnya umat muslim di seluruh dunia yang melupakan ajaran rasul dan nabi. Padahal bila kita telaah ilmu dari masing-masing mereka, tentulah banyak sekali pelajaran hikmah yang bisa kita ambil.
Inti Hadis :                 
 1. Q.S Nuh Ayat : 28
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَ تَزِدِ الظَالِمِيْنَ إِلاَ تَبَارًا (٢۸)
Artinya :
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapaku, orang yang masuk ke dalam rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Apa definisi judul tentang niat-niat baik dapatkan doa dan ampunan ?
2. Apa saja hadis atau ayat yang mendukung ?
3. Bagaimana teori pengembangan Q.S Nuh ayat : 28 ?
4. Bagaimana aplikasi dalam kehidupan Q.S Nuh ayat : 28 ?
5. Apa saja nilai-nilai tarbawi Q.S Nuh ayat : 28 ?

C. Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang di bahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D. Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi : BAB I, Bagian pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah ; BAB II adalah pembahasan, ; BAB III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Q.S  Nuh Ayat : 28
(Niat-niat baik dapatkan doa dan ampunan)
1. Definisi Judul
Sesudah Allah menyebutkan laporan dan pengaduan Nuh kepada-Nya, Allah menambahkan penenggelaman dan azab yang menjadi balasan mereka dan mereka pun tidak mendapat orang yang dapat mencegah keduanya itu dari mereka. Kemudian Allah memberitahukan tentang doa Nuh terhadap kaumnya dan memberi alasan terhadap doa ini, bahwa mereka telah menyesatkan manusia dan jika mereka berketurunan maka mereka tidak akan melahirkan kecuali orang-orang yang kafir dan durhaka. Kemudian Nuh berdoa untuk dirinya, untuk kedua orang tuanya, dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan yang masuk kedalam kapalnya agar mereka diberi ampunan. Sedang dia mendoakan kaumnya agar celaka dan binasa.[1]
Setelah Nabi Nuh berdoa agar para  pendurhaka dibinasakan Allah demi keselamatan generasi berikut. Lalu kini beliau berdoa untuk orang-orang yang taat dan karena konteksnya adalah permohonan ampun, beliau memulai dengan diri beliau sendiri guna menunjukan bahwa diri beliau pun tidak dapat luput dari kekurangan. Beliau berdoa menyatakan : Tuhanku! Ampunilah aku, dan kedua orangtuaku atau kedua anaku yang beriman, serta orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan mukmin karena tiada tamu yang masuk ke rumah kecuali membawa rezeki dan yang keluar membawa pengampunan bagi tuan rumah. Dan ampuni juga orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan dan janganlah Engkau tambahkan buat mereka kecuali kebahagiaan, dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim yang telah mendarah daging kezalimannya selain kebinasaan.[2]
B  Hadis atau Ayat  Pendukung
1. Q.S  Hud Ayat : 36
وَاُوْحِيَ إِلَى نُوْحٍ اَنَهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلاَ مَنْ قَدْ آمَنَ فَلأَ تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ  (٣٦)
Artinya:
Dan di wahyukan kapada Nuh, “ Ketahuilah tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang-orang yang benar beriman (saja). Karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.”
2. Penjelasan Ayat :
Tegasnya tidak akan ada tambahan lagi maka itulah yang dimohonkan oleh Nuh kepada Tuhan agar kaumnya yang tidak akan diharap beriman lagi itu supaya dimusnahkan saja. Karena kalau mereka diberi juga kesempatan penyakitnya akan mereka pindahkan pula kepada hamba Allah yang lain-lain, dan kalau mereka beranak, maka kepada anak-anak itu pun akan mereka pusakakan pula kepercayaan mereka yang kafir itu.
Kedua ialah dari pengalaman sendiri dalam kehidupan yang begitu lama dia sendiri pun sudah tahu dan sudah mengalami bahwa orang-orang semacam ini tiada diharap akan sembuh lagi. Obatnya hanya satu yaitu binasakan mereka agar jangan jadi teladan yang buruk bagi yang lain.
Tentang Nabi Nuh berdoa agar dirinya diberi ampun oleh Tuhan bukanlah lantaran beliau pernah melakukan dosa besar. Nabi-nabi yang begitu dekat dirinya kepada Allah, tidaklah pantas mabuk dengan kebesarannya. Nabi-nabi dan Rasul-rasul selalu tawadhu, merendahkan diri kepada Tuhan apabila suatu usaha telah berhasil seorang Nabi atau Rasul meminta ampun kepada Tuhan. Ibrahim memohon ampun untuk dirinya dan untuk ayah-bundanya sampai dihari kiamat kelak ( Surat 14, Ibrahim ayat 41), Nabi Musa memohon ampun untuk dirinya dan untuk saudaranya Nabi Harun, padahal si Samiri yang bersalah mengajak orang menyembah berhala anak sapi. Nabi Suliman didalam memohon agar diberi suatu kerajaan besar yang tidak akan tercapai oleh orang lain sesudahnya, terlebih dahulu meminta ampun. Malahan Nabi kita Muhammad SAW memohon ampun kepada Allah sampai 70 kali sehari. Orang yang berjiwa kotor ialah orang yang enggan meminta ampun.
Tentang beliau mendoakan dan mengutamakan orang yang masuk kedalam rumah beliau dalam keadaan beriman ada juga yang selisih tafsiran. Karena ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “ rumahku” ialah mesjidku. Ada yang mengatakan maksud rumahku ialah bahtera yang belayar dengan perahuku. Hal itu tidak berlawanan karena yang akan masuk kedalam bahteranya niscayalah orang-orang yang telah biasa juga datang kerumahnya menyatakan iman. Kalau tidak, tidaklah mereka akan beliau bawa masuk bahtera. Adapun doa beliau untuk seluruh orang yang berimn, laki-laki dan perempuan memang meratalah itu buat seluruh orang yang beriman kepada Tuhan di setiap masa, baik yang sebelum beliau atau yang sesudahnya kelak.
Kemudian itu setelah beliau di penutup doanya memohon agar kaum yang zalim tidak mau menerima kebenaran itu agar diturunkan kebinasaan saja, tambah lama tambah binasa. Timbul pula pertanyaan orang. “ Bagaimana dengan anak-anak kecil dibawah umur? ”
Karena tentu banyak anak kecil yang turut binasa turut tenggelam. Bagaiman dengan anak yang belum dewasa itu? Belum mukallaf ?
Ada ahli tafsir membuat jalan keluar dengan mengatakan bahwa sejak 40 tahun sebelum tautan dan air bah besar itu, perempuan-perempuan telah dimandulkan sehingga tidak ada yang beranak lagi. Sehingga seketika ditenggelamkan tidak seorang pun terdapat anak kecil. Tetapi tafsir ini berlawanan dengan sebuah hadis riwayat Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Ibnu Abas, demikian bunyinya :[3]
لَوْرَحِمَ اللهُ مِنْ قَوْمِ نُوْحِ اَحَدًا لَرَحِمَ امْرَاَةً لَمَارَاَتِ الْمَاءَ حَمَلَتْ وَلَدَهَا ثُمَ صَعِدَتِ الْجَبَلَ. فَلَمَا بَلَغَهَا الْمَاءُ صَعِدَتْ بِهِ مَنْكِبَهَا. فَلَمَا بَلَخَ اْلمَاءُ مَنْكِبَهَا وَضَعَتْ وَلَدَهَاعَلَى رَأسِهَا فَلَمَا بَلَخَ اْلمَاءُ رَأْسَهَا رَفَعَتْ وَلَدَهَا بِيَدِهَا. فَلَوْرَحِمَ اللهُ مِنْهُمْ أحَدًا لَرَحِمَ هَدِهِ اْلْمَرَأَةَ   (رواه    ابي هاتم عن ابي عباس. حديث غريب ورحال ثقا ت)
Artinya:
“ Kalau ada kaum Nuh itu yang dikasihini Allah niscaya diksihaninyalah seorang perempuan yang seketika dilihatnya air telah naik segera digendongnya anaknya, lalu dia naik ke bukit. Setelah air sampai ke bukit dinaikannya anaknya  ke atas pundaknya. Setelah air sampai kepundaknya, dijunjungnya anaknya ke atas kepalanya. Setelah air sampai ke kepalanya, diangkatnya anaknya tinggi-tinggi. Kalau Tuhan hendak kasihan, niscaya diselamatkanNya perempuan itu.“     
Namun perempuan itu tidak juga selamat. Maka yang lebih tepat adalah  penafsiran dari al Hasan al-Bishri. Beliau mengatakan : “ Tuhan lebih tahu bahwa anak-anak tidaklah bersalah, mereka turut binasa tetapi untuk mereka tidaklah ada azab dan siksaan.” [4]
C. Teori Pengembangan
1. Q.S Nuh Ayat : 28
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَ تَزِدِ الظَالِمِيْنَ إِلاَ تَبَارًا (٢۸)
Artinya :
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapaku, orang yang masuk ke dalam rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”
2. Penjelasan Ayat :
Di akhir pertarungan dakwah yang melelahkan melawan para pendurhaka penduduk Armenia, Nabi Nuh sadar sesadar-sadarnya bahwa sebagai nabi dan rasul beliau hanyalah seorang pemberi ingat. Seorang utusan yang hanya bertugas menyampaikan seruan dan ajakan yang beliau terima dari Allah, agar manusia kembali ke jalan yang benar. Para nabi dan rasul tidak punya wewenang untuk memaksa manusia agar meninggalkan kedurhakaan dan penyembahan terhadap berhala.
Disamping itu, Nabi Nuh juga memohon kepada Allah agar penduduk Armenia yang mendurhaka dan para pemuka masyarakatnya yang berbuat kezaliman itu diberi kebinasaan sesuai dengan kedurhakaan yang mereka perbuat , dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. Tidak lebih dan tidak kurang kebinasaan yang setimpal dengan kedurhakaan dan kezaliman yang mereka lakukan.
Nabi Nuh diutus oleh Allah kepada penduduk Armenia yang kembali menyembah berhala setelah ditinggalkan oleh Nabi Idris as. Beliau berdakwah selama lebih kurang lima abad. Selama berdakwah lima abad itu hanya 80 orang penduduk Armenia yang menerima dakwah beliau, beragam tantangan dakwah ditemui oleh Nabi Nuh. Mulai dari tuduhan untuk menaikan pamor dirinya, dituduh telah dirasuki oleh setan, dikatakan mengidap penyakit gila. Kondisi tersebut diadukan oleh Nabi Nuh kepada Allah dengan menggambarkan penolakan kaumnya lebih rinci. Yakni mereka menutup telinga dengan memasukan anak jari mereka ke dalam lobangnya dan juga menutup bajunya kemuka sebagai tanda mereka tidak suka dan menolak dakwah Nabi Nuh. Mereka serta merta dengan lantang mengingkari seruan Nabi Nuh tersebut sembari menyombongkan diri sehingga seruan kebenaran berlalu begitu saja.
Nabi Nuh tidak pernah berputus asa. Beliau susun berbagai argumen dengan cara membangkitkan motivasi psikologis. Yakni bahwa Allah itu maha pengampun dan Dia akan menurunkan hujan yang lebat, akan menganugerahkan kepada mereka harta yang berlimpah, keturunan yang banyak sehingga setiap keluarga dapat berbangga. Di samping itu Allah juga akan membuat kebun-kebun mereka berkembang dengan subur dan mendatangkan hasil yang berlipat ganda. 
Di samping motivasi psiilogis, Nabi Nuh mengemas dakwah beliau dengan berbagai argumentasi kauniyah melalui pendekatan microcosmos (penciptaan manusia) dan macrocosmos (penciptaan alam semesta). Semua ajakan, motivasi, dan argumen Nabi Nuh tidak mereka dengarkan. Kedurhakaan penduduk Armenia semakin menjadi-jadi ajaran Nabi Nuh tentang Allah Yang Maha Esa dan tidak ada serikat bagi-Nya mereka dustakan dan mereka tolak mentah-mentah. Karena mereka sudah membuat kesalahan dan kedurhakaan mereka dijatuhkan sanksi oleh Allah. Sebuah bencana banjir datang, lalu menenggelamkan penduduk Armenia yang durhaka. Bukan hanya sekedar mendapat sanksi di dunia tetapi juga kelak di akhirat mereka disiksa dengan azab yakni dimasukan kedalam neraka.
Ya Allah Ya Ghaffar, Engkau Tuhan Maha Pengampun segala dosa dan pengabul segala pinta. Izinkan kami kali ini mempergunakan doa Nabi Nuh yang beliau panjatkan kepadaMu. Kami mohon ampun kepada-Mu Ya Allah, atas dosa-dosa yang pernah kami perbuat, dosa-dosa kedua orang tua kami, dosa-dosa dari orang-orang yang mengikuti keyakinan kami, dan dosa-dosa dan semua orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan  dipermukaan bumi ini.[5]
D. Aplikasi Dalam Kehidupan
Allah sudah menegaskan didalam kitab sucinya bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Siapa yang mau beriman silahkan beriman dan siapa yang mu tidak beriman silahkan tidak beriman. Allah hanya memperingatkan manusia dengan peringatan yang lemah lembut, bila manusia memiih jalan yang benar dan lurus pasti akan memenuhi keselamatan. Sebaliknya bila menempuh jalan yang sesat dan menyesatkan maka akan mengalami bencana.
Oleh sebab itu diujung pertarungan ini Nabi Nuh memohon kepada Allah agar dia, orangtuanya, orang-orang yang mengikuti masuk ke dalam bahtera dan seluruh kaum beriman diampuni oleh Allah. Ya Tuhnku! Ampunilah Aku ibu bapaku, orang-orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Ungkapan ini adalah isyarat dari kerendahan hati seorang nabi dan rasul di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Yang dihadapi adalah Allah, Allah lah yang menugaskan Nabi Nuh untuk menjalankan dakwah tersebut, dan Allah pula yang menentukan keberhasilan dakwah beliau tersebut. Itu sebabnya Nabi Nuh menyerahkan kembali semua kepada Allah dengan berdoa.
Walaupun para Nabi dan Rasul itu dikatakan maksum, terpelihara dari dosa namun mereka tetap memohon ampun kepada Allah. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Nuh memohon ampun kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Bukan hanya untuk diri sendiri beliau bermohon, tetapi juga untuk orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan, terhadap orang-orang mukmin yang mengikuti dakwahnya dan juga orang-orang mukmin seluruhnya.[6]
E. Aspek Tarbawi
Dari penjelasan ayat di atas  mengenai Nabi Nuh yang kurang lebih lima abad beliau berdakwah. Hanya sebagian saja orang yang ikut berdakwah bersama beliau perjuangan yang sangat keras yang dilakukan Nabi Nuh dalam menghadapi orang-orang yang menentang ajakan dakwah beliau, maka nilai tarbawi yang bisa kita ambil sebagai berikut :
1.    Orangtua berpengaruh sangat besar dalam pembentukan kepribadian anak-anaknya/generasi muda. Ini dibuktikan oleh Nabi Nuh berdasar pengalaman beliau hidup ditengah kaumnya sekian lama (sekitar seribu tahun). Ini sejalan juga dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa :  Setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian), lalu kedua orangtuanyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya.
2.    Mendoakan orang beriman yang masuk kedalam rumah merupakan anjuran agama apalagi kehadiran mereka dilukiskan sebagai: “ datang membawa rezeki dan keluar membawa pengampunan dosa tuan rumah.”
3.    Harta dan anak dapat menjadikan seseorang bertambah rugi diakhirat, bila mereka menggunakan harta itu dalam aneka kedurhakaan. Anak-anak pun demikian mereka yang tidak di didik dengan baik oleh orangtuanya, bahkan diberi contoh yang buruk akan tumbuh berkembang dalam kedurhakaan yang menjadikan orangtua memikul juga dosa yang dilakukan anak-anaknya disamping beban yang mereka pikul sendiri.
4.    Doa Nabi Nuh diatas beliau panjatkan setelah Allah menyampaikan kepadanya tentang tertutupnya hati orang-orang zalim untuk menerima hidayah bahkan tidak seorangpun yang akan beriman. Itu sebabnya beliau menyifati mereka dengan zhalimin, yakni orang-orang yang telah mendarah daging kezaliman dalam kepribadiannya.
5.    Dari doa Nabi Nuh dapat di pahami bahwa perlunya memberi perhatian kepada seluruh anggota masyarakat. Bahkan hendaknya memperhatikan jauh kedepan melampaui batas generasinya.[7]














BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesudah Allah menyebutkan laporan dan pengaduan Nuh kepada-Nya, Allah menambahkan penenggelaman dan azab yang menjadi balasan mereka dan mereka pun tidak mendapat orang yang dapat mencegah keduanya itu dari mereka. Kemudian Allah memberitahukan tentang doa Nuh terhadap kaumnya dan memberi alasan terhadap doa ini, bahwa mereka telah menyesatkan manusia dan jika mereka berketurunan maka mereka tidak akan melahirkan kecuali orang-orang yang kafir dan durhaka. Kemudian Nuh berdoa untuk dirinya, untuk kedua orang tuanya, dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan yang masuk kedalam kapalnya agar mereka diberi ampunan. Sedang dia mendoakan kaumnya agar celaka dan binasa.
Karena mereka sudah membuat kesalahan dan kedurhakaan mereka dijatuhkan sanksi oleh Allah. Sebuah bencana banjir datang, lalu menenggelamkan penduduk Armenia yang durhaka. Bukan hanya sekedar mendapat sanksi di dunia tetapi juga kelak di akhirat mereka disiksa dengan azab yakni dimasukan kedalam neraka.
B. Saran
Makalah ini saya buat dengan semaksimal mungkin sesuai kemampuan saya. Semoga makalah ini biza bermanfaat bagi para pembaca, menambah wawasan, menambah pengetahuan. Terimakasih dan selamat membaca.






DAFTAR  PUSTAKA
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah- pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an.  Ciputat : Lentera Hati, 2009.
Hamka. Tafsir Al-Azhar Jakarta : Pustaka Panjimas.1987.
Yusuf, Yunan. Tafsir Khuluqun’ Azim- budi pekerti agung. Tanggerang : Lentera Hati, 2013.
Mustafa, Ahmad. Tafsir Al-Maragi Semarang : PT. Karya Toha Putra Semarang, 1989.
Shihab, M. Quraish. Al-Lubab-makna, tujuan dan pelajaran dari surah-surah Al-Qur’an. Tanggerang : Lentera Hati, 2012.



     










PROFIL PENULIS
                       
Nama                                 :     Muhamad Sidiq Al - Amin
Tempat, Tanggal Lahir      :     Pemalang,17 Maret 1995
NIM                                   :     2021114157
Alamat                               :     Jln. Lombok No : 37  RT : 02  RW : 06  Dusun :       Danayasa/ Kaligelang Kecamatan : Taman     Kabupaten : Pemalang
Asal Sekolah                      :     SD 02 Kaligelang
                                                 MTs N Pemalang
                                                 MAN Pemalang
Hobi                                   :     Olahraga
Materi Hadis :
Q.S Nuh Ayat : 28
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَ تَزِدِ الظَالِمِيْنَ إِلاَ تَبَارًا (٢۸)
Artinya :
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapaku, orang yang masuk ke dalam rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”







[1] Ahmad Mustofa, Tafsir Al-Maragi, (Semarang : PT. Karya Toba Putra Semarang, 1989), hlm. 155.
[2] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah-pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, ( Ciputat : Lentera Hati, 2009), hlm. 361.
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar, ( Jakarta : Pustaka Panjimas, 1987), hlm. 147.
[4] Ibid., hlm. 147-148.
[5] Yunan Yusuf, Tafsir Khuluqun A’zhim ( Ciputat : Lentera Hati, 2013), hlm. 354.
[6] Ibid., hlm. 351.
[7] Quraish Shihab, Al-Lubab-makna, tujuan dan pelajaran dari surah-surah Al-Qur’an     (Tanggerang : Lentera Hati, 2012), hlm. 409.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar