Laman

Sabtu, 03 September 2016

TT1 B 1a Kedudukan orang berilmu

KEDUDUKAN ORANG BERILMU
QS. ALI IMRAN 18

Oleh :
M.Fahrur Afif
(2021113074)
            
                  
Kelas : B
TARBIYAH PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI IAIN PEKALONGAN
2016




n martabat orang-orang berilmu. dari kebijaksanaan yang sempurna itu.h keadilan dan tidak ada sesuatupun n pengetahuan.  jiwa d
Kata pengantar

Terimakasih kepada dosen pengampu Tafsir Tarbawi I, Muhammad Hufron, MSI yang telah memberikan tugas makalah yang berjudul Mendiskripsikan Kedudukan Orang Berilmu, semoga dengan makalah ini teman-teman bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan mohon maaf, apabila dalam penulisan makalah terdapat kesalahan.
           
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Ilmu adalah Pengetahuan yang harus di miliki  oleh semua umat manusia karena Allah akan mengangkat derajatnya dan memuliakannya. Orang-orang yang berpengetahuan bertambah tinggi pengetahuannya itu, akan bertambah kagumlah dia memikirkan betapa Maha Besar dan Maha AgungNya kekuasaan Allah itu meliputi yang besar dan yang kecil.
Tentang surat  Ali Imran atau keluarga Imran, pendapat ahli-ahli tafsir sama, bawa dia diturunkan seluruhnya di Madinah. Yang harus menarik perhatian kita ialah dari ayat 1 sampai ayat 63 diturunkan berkenaan dengan datangnya perutusan kaum nasrani dari Najran, 60 orang banyaknya, diantaranya adalah 14 orang yang termasuk pemuka-pemuka dan pimpinan-pimpinan agama. Dalam surat Ali Imran dijelaskan mengenai orang-orang yang menyimpang, yakni mereka yang hanya mengakui hal-hal yang mutasyabih dalam Al-Qur’an, dengan tujuan melakukan fitna. Disamping itu disebutkan orang-orang yang ilmunya mantap, yakni mereka yang beriman kepada ayat-ayat muhkam dan mutasyabih. Kemudian mereka meyakini bahwa semua itu datang dari Allah.
            Surat Al-Imran disebutkan tentang kejadian Isa. Diserupakannya penciptaan Nabi adam dan Isa, karena penciptan Isa juga sama dengan penciptaan Adam, yang tidak berjalan sesuai sunatullah yang biasa berlaku.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat Ali Imran ayat 18
yÎgx© ª!$# ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd èps3Í´¯»n=yJø9$#ur (#qä9'ré&ur ÉOù=Ïèø9$# $JJͬ!$s% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd âƒÍyêø9$# ÞOŠÅ6yÛø9$# ÇÊÑÈ  
18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[1]
B. Tafsir Ayat
yÎgx© ª!$# ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd èps3Í´¯»n=yJø9$#ur (#qä9'ré&ur ÉOù=Ïèø9$# $JJͬ!$s% ÅÝó¡É)ø9$$Î/  
 Allah SWT menjelaskan tentang wahdaniyat Allah, dengan menegakkan bukti-bukti kejadian yang berada di cakrawala luas, dalam diri mereka, dan meenurunkan ayat-ayat tasyri’yang mencerminkan hal tersebut. Para malaikat memberitakan kepada para Rasul tentang hal ini, kemudian mereka menyaksikan dengan kesaksian yang diperkuat ilmu durariy. Ha ini menurut pada Nabi lebih kuat dari semua keyakinan. Orang-orang yang berilmu telah memberitakan tentang kesaksian ini, menjelaskan dan menyaksikannya dengan kesaksian 206 yang disertai saksi dan bukti. Sebab orang yang mengetahui sesuatu tidak mmebutuhkan hujjah lagi untuk mengakuinya.
            Makna Al-Qistu, artinya dengan keadilan dalam aqidah. Ketauhidan adalah pertengahan antara ingkar dan syirik terhadap Tuhan. Berlaku adil dalam hal ibadah,akhlak dan amal adalah adanaya keseimbangan antara kekuatan rohaniyah dan jasmaniyah. Sebagai perwujudannya adalah berlaku syukur dengan menjalankan salat dan beribadah lainnya guna meningkatkan rohani, membersihkan jiwa dan memperbolehkan dirinya hal-hal yang banyak dari kebaikan (rizki), untuk memelihara dan mengurus badan. Ia juga melarang bagi dirinya berlaku berlaku berlebih-lebihan dalam mencintai keduniaan.
Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd âƒÍyêø9$# ÞOŠÅ6yÛø9$#  

                        
Sifat perkasa mengisyaratkan pada kesempurnaan kekuasaan dan sifat bijaksanaan mengisyaratkan adanya kesempurnaan pengetahuan. Kekuasaan itu tidaklah sempurna kecuali jika menyendiri  dan bebas. Dan keadilan itu tidaklah sempurna kecuali jika meliputi semua kemaslahatan dan kondisi. Maka, yang bersifat seperti itu tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan terhadap apa yang telah ia tegakkan, yakni sunnah keadilan dan tidak ada sesuatu pun dari penciptaan yang bisa keluar dari kebijaksanaan yang sempurna itu.[2]
Setelah menegaskan bahwa Dia melaksanakan segala sesuatu di alam raya ini berdasar keadilan yang menyenangkan semua pihak, maka kesaksian terdahulu diulangi sekai lagi,Tiada Tuhan melainkan Dia. Hanya saja kalau yang terbantah, maka kai kedua ini adalah kesaksian faktual yang dilihat dalam kenyataan oleh Allah, para malaikat, dan orang-orang yang berpengetahuan. Itu terlaksana secara faktual, karena Dia yang maha perkasa sehingga tidak atupun yang dapat menghalangi atau membatalkan kehendak-Nya lagi maha bijaksana, sehingga segala sesuatu ditempatkan pada tempat yang wajar.
Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-Ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri, maka Tuhan pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya tiap-tiap oraang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Itulah pula sebabnya maka di dalam surat Fathir (surat 35 ayat 28) tersebut , bahwa yang bisa merasai takut kepada Allah itu hanyalah ulama, yaitu ahli-ahli ilmu pengetahuan.
Imam Ghazali di dalam kitab al-Ilmi dan dan di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah memahkotai karangannnya itu ketika memuji martabat ilmu bahwa ahli ilmu yang sejati telah diangkat Tuhan dengan ayat ini kepada martabat yang tinggi sekali, yaitu ke dekat Allah dan ke dekat malaikat.
Itulah kesan yang timbul kembali, meyakinkan kesan yang pertama tadi demi setelah memperhatikan pendirian Tuhan Allah dengan keadilan itu. Pada dua nama, Aziz dan Hakim, gagah dan bijaksana, terdapat lagi keadilan. Tuhan Allah itu gagah, perkasa, hukumNya keras, teguh dan penuh disiplin. Tetapi dalam kegagah-perkasaan itu, diimbangiNya lagi dengan sifatNya yang lain, yaitu bijaksana. Sehingga tidak pernah Allah berlaku sewenang-wenang karena kegagah-perkasaanNya dan tida pernah pula bersikap lema karena kebijaksanaanNya. Di antara gagah dan bijaksana itulah terletak keadilan.[3]
B.    Aplikasi dalam kehidupan
Ayat 18 surat Ali Imran ini mengingatkan kita bahwa orang yang berilmu akan menjadi adil karena mengetahui syariat yang diturunkanNya sehingga seimbang dunia dan akhirat, rohani dan jasmani. Semuanya bisa kita dapati dimana dengan teropong ilmu pengetahuan.
Orang-orang yang berilmu telah memberitakan tentang kesaksian menjelaskan dan menyaksikan dengan kesaksiannya yang disertai dalil dan bukti, sebab orang yang mengetahui sesuatu tidak membutuhkan hujjah lagi untuk mengakuinya.
C.    Aspek Tarbawi
1.     Akan diberi kedudukan yang mulia oleh Allah SWT dengan martabat yang tinggi sekali, yaitu ke dekat Allah dan ke dekat malaikat.
2.     Tidak akan tersesat dan selalu berada di jalan Allah.
3.     Semakin bertambah ilmu pengetahuan kita semakin kuat iman kita.
4.     Berlaku adil dalam hal ibadah, akhlak, dan amal.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Tuhan kepada Ulil-Ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri, maka Tuhan pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itupun diberikan oleh malaikat. Setelah itu kesaksian itupun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya tiap-tiap oraang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi ataupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.
.



DAFTAR  PUSTAKA
M. Shihab Quraish, 2002,  Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati)
Ahmad Mustofa Al- Maragi, 1993, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang)
Hamka, 2003,  Tafsir Al-Azhar juz 3, (Jakarta: Pustaka Panjimas)























            BIODATA

Nama                                              : M Fahrur Afif
Tempat Tanggal Lahir                :  Pekalongan 20 September 1995
Riwayat Pendidikan       : Tk Ma arif Proto, MIS proto,MTSs             Proto,MASs Proto,IAIN Pekalongan.






[1] M.Quraish Shihab, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 36
[2]  Ahmad Mustofa Al- Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: CV. Toha Putra Semarang, 1993), hlm.206-208
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar juz 3, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003), hlm. 178-180

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar