Laman

Sabtu, 03 September 2016

TT1 A 1d Kesempurnaan Akal



KEDUDUKAN ORANG BERILMU
(Kesempurnaan Akal)
Q.S. Al Qashash ayat 14

 Disusun oleh:
Ika Setyaningsih         (2021113047)
Kelas : A

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR


 Alhamdulillahirobbil’alamiin
Segala puji bagi Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada umat manusia. Rasa syukur selalu kita panjatkan kepada Allah Swt yang telah memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Salah satunya yaitu nikmat yang diberikan kepada penulis sehingga penulis  mampu menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawat serta salam juga tidak lupa penulis  haturkan pada junjungan kita Nabi Agung Nabi Muhammad Saw beserta sahabat dan keluarganya. Kemudian ucapan terima kasih penulis kepada kedua orang tua, dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I, dan teman-teman semua yang telah banyak memberikan kontribusi sehingga tersusunlah makalah tafsir tarbawi I ini dengan judul “Kedudukan Orang Berilmu“ dengan sub pembahasan “Kesempurnaan Akal”.
Segala kekurangan hanya milik kita sebagai manusia. Dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Seperti halnya dalam penyusunan makalah ini. Begitu banyak kekurangan yang ada didalam makalah. Maka dari itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua. Aamiin........

                                                            Pekalongan, 1 September 2016
                                                                        Penulis


A.  PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang  zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya.
Namun Al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memahami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama’.
Salah satu pokok ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah tentang kedudukan orang berilmu. Dalam makalah ini akan  membahas mengenai kedudukan orang berilmu bab kesempurnaan akal yang terdapat pada Qur’an surat Al Qashash ayat 14.


B.  PEMBAHASAN
1.   Teori
tafs.png

2.   Tafsir
a.    Tafsir Al Qurthubi
Rabi’ah dan Malik berkata “Pendapat yang menyebutkan bermimpi dewasa, lebih kuat,” berdasarkan Firman-Nya, an nisaa ayat 6.pngyang artinya “Sampai mereka cukup umur untuk kawin.” Pernikahan bisa dilakukan apabila fungsi seksualnya sudah dewasa. Usia maksimal seseorang baru pertama kali masuk usia dewasa dengan bermimpi tadi adalah 34 tahun. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri.
wastawaa.png “Sempurna akalnya.” Ibnu Abbas RA berkata “Mencapai usia 40 tahun.” Al Hukm adalah hikmah sebelum Kenabian Muhammad SAW. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya, pemahaman dalam agama, dan telah dibahas didalam surah Al Baqarah dan surah lainnya. Al ‘Ilm adalah al Fahm, kepahaman, menurut As-Suddi.
Ada yang mengatakan bahwa maksudnya, kenabian. Mujahid berkata “Pemahaman”. Muhammad bin Ishak berkata, “Pengetahuan” seputar ilmu agamanya dan ilmu-ilmu kakek moyangnya. Musa AS mempunyai 9 murid dari bangsa Israil. Mereka juga menjadikan Musa AS sebagai pemimpin dan tempat mereka berkumpul. Itu terjadi sebelum beliau diangkat sebagai Nabi.
najzil.pngwaw.png “Dan “demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” . Sebagaimana kami memberi pahala nikmat kepada Ibu Musa AS manakala dia memasrahkan semua urusannya kepada Allah SWT, dengan membuang anaknya ke laut, dan dia sepenuhnya percaya kepada janji Allah SWT. Kemudian Kami kembalikan anaknya kepada ibunya sebagai hadiah, sedangkan ibunya dalam keadaan aman. Selanjutnya, Kami memberikan kepada Musa AS akal, hikmah dan kenabian. Demikianlah Kami memberi ganjaran baik kepada setiap orang yang berbuat baik. [1]
b.   Tafsir Jalalain
walamma.png (Dan setelah Musa cukup umur) telah mencapai umur tiga puluh tahun atau tiga puluh tiga tahun. wastawaa.png(dan sempurna akalnya) yaitu telah mencapai umur empat puluh tahun.  aataina.png(Kami berikan kepadanya hikmah) yakni kebijaksanaan. wailman.png (dan ilmu) yaitu pengetahuan tentang agama sebelum ia diutus menjadi Nabi. wakadzaalika.png(dan demikianlah) Kami memberikan balasan kepada Musa. najzil.pngnaj.png(Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) untuk diri mereka sendiri.[2]
c.    Tafsir Al Azhar
“Dan setelah Musa cukup umurnya dan dewasa, Kami berikan kepadanya Hukum dan Ilmu.” Telah dapat dikira-kirakan bahwa kurang lebih 30 tahun dia menjadi “Anak angkat” Fir’aun. Dari kecil dibesarkan dalam istana Fir’aun. Tetapi sejak kecil itu pula ibunya telah membiasakan membawanya pulang dari istana, bahkan dia diasuh, dibimbing dirumah ibunya sendiri dan disaat-saat yang perlu dibawa ke istana. Dengan demikian maka keluarga Imran yaitu nama ayah Musa telah pula mendapat keuntungan dari hubungan anaknya dengan istana. Abangnya Harun un telah mendapat pekerjaan yang layak diistana dan leluasa masuk istana. Keluarga Musa, sebagai keluarga Bani Israil golongan yang tertindas dan dipandang hina, karena Musa jadi “anak angkat” telah mendapat hak istimewa yang tidak didapat oleh keluarga Bani Israil yang lain. Keadaan ini pernah diuraikan oleh Musa dihadapan Fir’aun sendiri kemudiannya, sebagai yang tersebut pada ayat 22 dari Surat 26 asy Syu’ara.
Lantaran itu, meskipun dia dianggap sebagai “orang istana”, dia tidak terpisah dari kaumnya. Dia mengetahui apa yang dialami oleh kaumnya. Dia  selalu melihat perlakuan yang tidak adil yang dilakukan oleh kekuasaan Fir’aun “wa malai-hi” dan segala kaki tangannya terhadap kaumnya. Sebab itu maka pengalaman-pengalaman yang pahit, yang dilihat, yang didengar menambah pengetahuannya tentangg mana yang adil dan mana yang zalim. Kalau terasa dalam hatinya, bahwa kalau dia yang memegang hukum, tentu begitu mestinya. Dia pun melihat perbedaan yang mencolok mata tentang perlakuan kepada rakyat. Kalau yang bersalah itu kaum Quthbi, kaum Fir’aun sendiri, kesalahannya itu akan ditutup-tutup. Tetapi kalau Bani Israil yang bersalah, maka hukumnya sangat kejam, tidak sepadan dengan kesalahan atau pelanggaran yang diperbuatnya. Keadaan yang disaksikan tiap hari ini menambah matang pribadi Musa, menambah dia cerdik dan pandai. Allah telah memberinya anugerh Hukum dan Ilmu. Sebab dalam istana niscaya dia diajar sebagai anak-anak orang bangsawan dan dalam masyarakat diajar oleh pengalaman-pengalaman dan melihat kepincangan-kepincangan yang berlaku terhadap rakyat yang lemah “Dan demikianlah Kami mengganjari orang-orang yang berbuat baik.”
Pada ujung ayat ini dapat kita menggali suatu kenyataan. Yaitu bahwa disamping apa yang telah ditentukan oleh Allah bahwa Musa kelak kemudian hari akan dijadikan Nabi dan Rasul, dengan kehendak Tuhan juga telah ada orang-orang yang berbuat baik, yang telah berhasil usahanya sehingga Musa menjadi seorang yang mengerti hukum dan berilmu. Tentu saja yang berusaha berbuat baik ini adalah orang-orang yang mendidik dan mengasuhnya. Terutama ibu kandungnya,kedua istri Fir’aun yang budiman itu. Dipujikan disini bahwa usaha mereka yang baik itu berhasil.[3]

d.   Tafsir Al Maraghi
Dalam ayat-ayat terdahulu Allah menceritakan bahwa Dia telah melimpahkan nikmat-Nya kepada Musa diwaktu kecil, seperti menyelamatkannya dari kebiasaan setelah diletakkan didalam peti dan dilemparkan kesungai, serta menyelamatkan dari penyembelihan yang melanda anak-anak Bani Israil. Dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa Dia melimpahkan nikmat kepadanya ketika dewasa, seperti memberinya ilmu dan hikmah, kemudian mengutusnya sebagai rasul dan Nabi kepada Bani Israil dan bangsa Mesir. Selanjutnya Allah menceritakan bahwa Musa membunuh seorang bangsa Mesir yang berkelahi dengan orang Yahudi dengan tinju yang mengakibatkan kematiannya. Lalu Musa memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya tersebut, dan bertekad tidak menolong seorang yang sesat dan berdosa. Tetapi manakala melihat perkelahian lain antara orang Yahudi tersebut dengan orang Qibti yang lain, Musa terdorong untuk menolong kembali orang Yahudi tersebut, sehingga orang Mesir itu berkata, “Apakah kamu hendak mengadakan perdamaian dimuka bumi, ataukah hendak menjadi orang yang berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibatnya dan menjadi orang yang mengadakan kerusakan?”
Dalam ayat 14 ini dijelaskan setelah tubuh Musa kuat dan akalnya sempurna, maka Kami memberinya pemahaman agama dan pengetahuan tentang syari’at. Hal ini ditegaskan oleh Allah didalam Firman-Nya yang lain:
bener.png
“Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabi kalian).” (Q.S Al-Ahzab: 34)
Sebagaimana Kami telah memberikan balasan kepada Musa atas ketaatannya kepada Kami dan memberinya kebaikan atas kesabarannya terhadap perintah Kami, maka demikian pula Kami membalas setiap hamba yang berbuat kebajikan, mantaati perintah dan menjauhi larangan Kami.[4]

3.    Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
Akal sendiri berarti sebagai suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengetahui, membedakan baik dan buruknya sesuatu sehingga manusia mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupannya. Akal akan menuntun manusia kepada kebenaran. Akal ini pula lah yang menjadi pembeda manusia dengan binatang. Akal itu untuk mengendalikan dan meredam hasutan hawa nafsu dalam hati manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari kesempurnaan akal ini dapat diterapkan pada penggunaan etika. Dimana etika juga berkaitan dengan adanya akal, saat ingin menjalankan suatu hal pastilah akal menjadi pengendali langkah kita. Agar langkah yang kita ambil nantinya tidak meninggalkan dampak yang buruk untuk diri kita sendiri maupun orang lain.
Selain diterapkan pada penggunaan etika, akal juga dapat dikaitkan dengan akhlaq manusia. Dimana suatu akal yang sehat pasti akhlaq yang tercipta baik, namun apabila akal yang tidak sehat maka akhlaq yang tercipta akan buruk.
Aplikasi lain dari adanya akal adalah melaksanakan ibadah, dengan adanya akal ini manusia dapat beribadah kepada Rabb-Nya. Rasul memberi dorongan untuk menjadi muslim yang benar-benar memahami syari’at islam, dan itu tidak dapat dicapai kecuali kita memanfaatkan sebaik mungkin akalnya.
Manusia dianugerahi akal oleh Allah adalah untuk memikirkan segala yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Dengan berpikir maka mendorong manusia untuk menggunakan dan mengembangkan akal pikirannya, salah satunya adalah dengan menuntut ilmu. Seperti pada Firman Allah pada surat Az-Zumar ayat 9 yang artinya “katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.[5]

4.    Aspek tarbawi
a.       Hendaklah kita selalu berbuat baik karena kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan kebaikan pula.
b.      Hendaklah kita menggunakan dan mengembangkan akal pikiran kita untuk menuntut ilmu.
c.       Jadikan akal kita sebagai pengendali setiap sikap yang akan kita lakukan.


C.  PENUTUP
Simpulan
Akal merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dimana akal ini menjadi pembeda antara manusia dengan ciptaan Allah yang lainnya. Dengan adanya akal manusia ini akan terdorong untuk mencari ilmu karena ilmu dapat mengembangkan akal kita. Dan karena ilmu pulalah derajat manusia akan diangkat.
Dalam surat Al Qashash ayat 14 dijelaskan bahwa setelah cukup umur Musa maka akan sempurnalah akalnya sehingga saat Musa itu cukup umur diberilah ia pemahaman agama dan pengetahuan tentang syari’at.   


DAFTAR PUSTAKA

Al Qurthubi, Syaikh Imam . 2009. Terjemahan Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.

Azra, Azyumardi . 2000. Pendidikan Tradisi Dan Modernisasi Menuju Menelium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XX. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Jalaluddin Al-Mahalli, Imam. 2009. Terjemahan Tafsir Jalaluddin Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Mustafa Al-Maragi, Ahmad. 1986.  Tafsir Al-Maragi Juz XX. Semarang: PT.Karya Toha Putra.


Profil

DSC_1277.JPG

Nama          : Ika Setyaningsih
TTL            : Pekalongan, 12 Oktober 1995
Alamat       : Dukuh Sumur Bandung RT 01/01 Ds. Gejlig Kec Kajen
Pendidikan :
RA       : Raudlatul Athfal Muslimat Al Utsmani Gejlig Kajen lulus 2001,
SD        : SD Negeri Gejlig 02 lulus 2007
SMP     : SMP Negeri 02 Kajen lulus 2010
SMA    : SMA PGRI 2 Kajen lulus 2013
PT         : IAIN Pekalongan Insya Allah lulus 2017 Aamiin J



[1] Syaikh Imam Al Qurthubi, Terjemahan Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), hlm.658-659
[2] Imam Jalaluddin Al-Mahalli,Terjemahan Tafsir Jalaluddin Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009), hlm.386
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XX, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm. 61
[4] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi Juz XX, (Semarang: PT.Karya Toha Putra,1986), hlm.77-78
[5] Azyumardi Azra, Pendidikan Tradisi Dan Modernisasi Menuju Menelium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), hlm. 13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar