Laman

Sabtu, 17 September 2016

TT1 B 3c PAKET ULUL ALBAB


PAKET ULUL ALBAB
QS. Ali Imran: 190-191
 Dimas Wijaya Adi S
(2021115033)
Kelas B

TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Paket Ulul Albab” ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.SI selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini serta membantu memberikan motivasi dan masukan dalam penyusunan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini, mungkin masih banyak kekurangannya. Oleh sebab itu, penyusun berharap adanya kritik dan saran demi kesempurnaan. Semoga makalah ini bermanfaat. Aamiin.


Pekalongan, 18  September 2016

Penyusun                                


Dimas wijaya adi saputro                   
 (2021115033)                        

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
QS Al-imron yang terdiri dari 200 ayat ini adalah termasuk dalam golongan surah Madaniyah. Dinamakan 'Āli `Imrān karena memuat kisah keluarga `Imrān yang didalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isā as persamaan kejadian dengan Nabi Adām as, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri `Imrān, ibu dari Nabi ‘Isā as.
QS. Al Baqarah dan QS. Al-imron ini dinamakan Az Zahrawāni (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyikapkan hal–hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isā as, kedatangan Nabi Muhammad SAW dan sebagainya.
Pokok pembahasan dalam QS. 'Āli `Imrān ini memuat tentang dalil–dalil yang berkaitan dengan keimanan, hukum–hukum, kisah–kisah, dan yang lain sebagainya. Namun catatan terpenting dalam QS. 'Āli `Imrān ini tentang bahwa Islām adalah satu–satunya agama yang diridhai oleh Allāh SWT, sebagaimana firman–Nya
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ ...
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allāh hanyalah Islam...”[1]
QS. 'Āli `Imrān mengandung dalil–dalil dan alasan–alasan untuk membantah kaum Nashrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isā., menerangkan peperangan Badar dan Uhud, agar kemenangan di peperangan Badar dan kekalahan di perang Uhud yang dialami kaum Muslimin itu, dapat dijadikan pembelajaran.
Dalam QS. 'Āli `Imrān banyak terdapat ayat–ayat yang menyeru kepada manusia untuk merenungi, memperhatikan dan memikirkan penciptaan Allāh SWT baik yang berada di langit, bumi maupun diantara keduanya. Diantara ayat–ayat yang menerangkan tentang hal tersebut yaitu ayat 190–191.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda–tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang–orang yang mengingat Allāh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia–sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka”.”
Salah satu cara untuk mengenal, mendekat, dan selalu bersama dengan Allāh SWT adalah dengan membaca, memikirkan, merenungkan, memahami terhadap ayat–ayat yang terkandung didalam Al Qur’ān dan juga melalui berbagai fenomena–fenomena yang dapat dirasakan secara nyata, dengan begitu kita lebih dapat menyakinkan diri kita, berpasrah, bersandar kepada Allāh SWT, Rabbul 'Ālamīn.
Oleh karena ini, penulis mencoba untuk memaparkan tafsir yang berkaitan dengan QS Al-imron 190-191 dan pengaplikasian dalam kehidupan serta aspek tarbawi dalam ayat tersebut. Karena begitu pentingnya nilai–nilai yang terkandung dalam ayat itu, guna menjadikan kita sebagai orang yang menggunakan akal kita untuk memikirkan, merenungi, mengingatkan betapa besarnya ciptaan Allāh SWT (melalui alam semesta) sebagai salah cara untuk mendekatkan diri kepada Allāh SWT agar menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa dalam keadaan apapun itu, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau keadaan berbaring.
Penulis juga menyadari dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dalam penulisan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan makalah yang akan datang.

B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Apa terjemahan QS Al-imron 190-191 ?
2.    Bagaimana para mufassir mentafsirkan QS Al-imron 190-191 ?
3.    Bagaimana pengaplikasian QS Al-imron 190-191 dalam kehidupan?
4.    Apa yang dapat kita pelajari dari QS Al-imron 190-191 ?

C.  TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan uraian diatas, penulis merumuskan tujuan penulisan makalah ini dengan tujuan antara lain :
1.    Mengetahui pembahasan yang terdapat QS Al-imron 190-191
2.    Mengetahui tafsir QS Al-imron 190-191
3.    Mengetahui nilai pendidikan yang terkandung dalam QS Al-imron 190-191
4.    Menerapkan aspek muhasabah diri menjalani kehidupan

BAB II
PEMBAHASAN

A.    TERJEMAHAN QS AL-IMRON 190-191

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda–tanda bagi orang–orang yang berakal. (Yaitu) orang–orang yang mengingat Allāh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia–sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka”.”

1.    Makna Mufrodat
إِنَّ فِي خَلْقِ
السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَاخْتِلَافِ
Sesungguhnya dalam penciptaan
Langit dan bumi
Dan silih berganti
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
لَآيَاتٍ
لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ
Malam dan siang
Terdapat
tanda–tanda
Bagi orang–orang yang berakal
اَلَّذِيْنَ
يَذْكُرُوْنَ اللهَ
قِيَامًا وَقُعُودًا
Orang–orang yang
Mengingat Allāh
Berdiri dan duduk
وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ
وَيَتَفَكَّرُوْنَ
فِي خَلْقِ
Dan atas pembaringan mereka
Dan mereka memikirkan
Dalam penciptaan
السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
رَبَّنَا
مَا خَلَقْتَ
Langit dan bumi
Tuhan kami
Tidaklah Engkau
هَذَا بَاطِلًا
سُبْحَانَكَ
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ini sia–sia
Maha Suci Engkau
Periharalah kami dari siksa Neraka

2.    Asbābun Nuzūl
Ath–Thabrāni dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās ra, dia berkata, “Orang–orang Quraisy mendatangi orang–orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, ‘Apa tanda–tanda yang dibawa Musa kepada kalian?’ Orang–orang Yahudi itu menjawab, ‘Tongkat dan tangan yang putih bagi orang–orang yang melihatnya.’ Lalu orang–orang Quraisy itu mendatangi orang–orang Nashrani, lalu bertanya kepada mereka, ‘Apa tanda–tanda yang diperlihatkan Isa?’ Mereka menjawab, ‘Isa dulu menyembuhkan orang buta, orang yang sakit kusta dan menghidupkan orang mati.’ Lalu mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW kemudian mereka berkata kepada beliau, ‘Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit Şafā dan Marwah menjadi emas untuk kami’. Lalu beliau berdoa, maka turunlah firman Allāh SWT : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam siang terdapat tanda–tanda (kebesaran Allāh) bagi orang–orang berakal”.”[2]



B.     TAFSIR AYAT BERDASARKAN KITAB TAFSIR

1.    TAFSIR AL MARAGHI
             Imam thabrani dan ibnu abu hatim meriwayatkan sebuah hadits dari ibnu abbas, bahwa orang-orang quraisy pernah datang kepada orang yahudi, lalu mereka bertanya, “ mukjizat-mukjizat apakah yang dimiliki oleh nabi musa sewaktu datang kepadamu?” orang-orang yahudi menjawab, “tongkat dan tangannya yang tampak putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya”.
             Kemudian, mereka mendatangi orang-orang nasrani dan bertanya kepada mereka, “bagaimana (mukjizat) nabi isa itu?” jawab mereka, “ia dapat menyembuhkan orang buta,menyembuhkan orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang mati.”
             Selanjutnya orang-orang quraisy itu mendatangi nabi SAW seraya bertanya, “doakanlah kepada tuhanmu untuk kami, agar dai mengubah bukit shafa menjadi emas.” Nabi SAW pun berdoa kepada allah swt, kemudian turunlah ayat, inna fi khalqi ‘s-samawati, dan seteusnya. Karenanya, hendaklah kalian memikirkan kejadian tersebut.
             إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahaan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya, juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam dan penaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna, dan sebagainya, merupakan tanda dan bukti yang menunjukan keesaan allah, kesempurnaan pengetahuan, dan kekuasaan-Nya.
       اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ
       Ulul albab adalah orang-orang yang mau menggunakan pikirannya,mengambil faedah darinya, mengambil hidayah darinya, menggambarkan keagunggan Allah, dan mau mengingat hikmah akal dan keutamaannya, disamping keagungan karunia-Nya dalam segala sikap dan perbuatan mereka, sehingga mereka bisa berdiri, duduk, berjalan, berbaring, dan sebagainya.
وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
Mereka mau memikirkan tentang kejadian langit dan bumi beserta rahasia-rahasia dan manfaat-manfaat yang terkandung didalamnya yang menunjukan pada ilmu yag sempurna, hikmah yang tinggi dan kemampuan yang utuh.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Orang-orang yang berdzikir lagi berpikir mengatakan,”ya tuhan kami, tidak sekali-kali engkau menciptakan alam yang ada diatas dan yang dibumi yang kami saksikan tanpa arti, dan engkau tidak menciptakan semua dengan sia-sia.mahasuci engkau,wahai tuhan kami, dari segala yang tidak berarti dan sia-sia, bahkan semua ciptaan-Mu itu adalah hak, yang mengandung hikmah-hikmah yang agung dan maslahat-maslahat yang besar”.”berilah kami taufik dengan pertolongan-Mu untuk bisa melakukan amal shaleh melalui pemahaman kami tentang bukti-bukti sehingga hal itu bisa menjadi pemelihara kami dari siksaan neraka.
Kesimpulannya,bahwa seorang mukmin yang mau menggunakan akal pikirannya, selalu menghadap kepada Allah dengan pujian doa dan ibtihal semacam ini, sesudah ia melihat, bukt-bukti yang menunjukan  kepada keindahan hikmah. Ia pun luas pengetahuannya tentang detail-detail alam semesta yang menghubungkan antara manusia dengan tuhan.­­­[3]


2.      TAFSIR AL AHZAR
Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam, terdapat beberapa tanda bagi oang-orang yang berakal”. (ayat 190)
            Berkata Imam Ar Razi dalam tafsirnya: “ketahuilah olehmu, bahwa yang dimaksud dalam kitab yang mulia ini ialah menjemput hati dan  ruh sesudah bising membicarakan soal makhluk-makhluk yang dijadikan, supaya mulai tenggelam memperhatikan ma’rifat terhadap Al-Haq (Tuhan). Karena sejak tadi sudah banyak pembicaraan tentang hukum-hukum dan menjawab beberapa keraguan yang dibawakan oleh orang yang tidak mau percaya, sekarang kembali membicarakan penerang hati, dengan menyebutkan soal-soal tauhid, keteguhan, kebesaran dan kemuliaan Allah. Maka mulailah disebutkan ayat ini”demikian ar-Razi.
            Langit dan bumi dijadikan oleh kholik, dengan tersusun terjangkau, dengan sangat tertib. Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat tampak hidup semua, bergerak menurut aturan. Silih berganti perjalanan malam dengan siang, yang betapa besar pengaruhnya atas hidup kita ini dan hidup segala yang bernyawa.kadang-kadang musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.semua ini menjadi ayat-ayat, menjadi tanda-tanda bagi orang yang berpikir, bahwa tidaklah semuanya ini terjadi sendirinya. Sempurna buatannya tandanya menjadikannya indah. Mulia belaka, tanda yang melindunginya mulia adanya.
            Mengapa kita berkesimpulan sampai demikian karena kita manusia, kita berpikir. Ulul al-bab mempunyai intisari, mempunyai pikiran.mempunyai biji akal yang bisa ditanam akan tumbuh.
            Orang yang berpikiran itu:(yaitu)orang-orang yang mengingat allah sewaktu berdiri,duduk atau berbaring.”(pangkal ayat 191).
            Dan disebutkan puladisebutkan pula,bahwasanya zikir itu hendaklah bertali( hubungan) di antara sebutan dengan ingatan. Kita sebut nama Allah dengan mulut karena dia telah terlebih dahulu teringat dalam hati. Maka teringatlah dia sewaktu berdiri, duduk termenung atau tidur berbaring.
Sesudah penglihatan atas kejadian langit dan bumi, atau pergantian siang dan malam, langsungkan ingatan kepada yang menciptakannya, karena jelaslah dengan sebab ilmu pengetahuan bahwa semuanya itu tidaklah ada yang terjadi dengan sia-sia atau secara kebetulan. Ingat atau zikir  kepada allah itu, sekali lagi bertali dengan memikirkan.[4]

3.      TAFSIR IBNU KATSIR

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali ‘Imraan: 190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (QS. Ali ‘Imraan: 191). Ya Rabb kami,
             إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
 (“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.”)
Artinya, yaitu pada ketinggian dan keluasan langit dan juga pada kerendahan bumi serta kepadatannya. Dan juga tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau oleh indera manusia pada keduanya (langit dan bumi), baik yang berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, dan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna dan aneka ragam makanan dan bebauan,
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَار
 (“Dan silih bergantinya malam dan siang.”)
Yakni, silih ber-gantinya, susul menyusulnya, panjang dan pendeknya. Terkadang ada malam yang lebih panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing menjadi seimbang. Setelah itu, salah satunya mengambil masa dari yang lainnya sehingga yang terjadi pendek menjadi lebih panjang, dan yang diambil menjadi pendek yang sebelumnya panjang. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui.
Oleh karena itu Allah berfirman:
 لَآيَاتٍ لِّأُوْلِي الْأَلْبَابِ
(“Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Uulul Albaab].”)
Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.
Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)



Kemudian Allah menyifatkan tentang Uulul Albaab, firman-Nya
       اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ
 (“[Yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”)
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil berbaring.”
Maksudnya, mereka tidak putus-putus berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati maupun dengan lisan mereka.
وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
 (“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Maksudnya, mereka memahami apa yang terdapat pada keduanya (langit dan bumi) dari kandungan hikmah yang menunjukkan keagungan “al-Khaliq” (Allah), ke-kuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, juga rahmat-Nya.
Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap sesuatu yang aku lihat, merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam “Kitab at-Tawakkul wal I’tibar.”
Al-Hasan al-Bashri berkata: “Berfikir sejenak lebih baik dari bangun shalat malam.”
Al-Fudhail mengatakan bahwa al-Hasan berkata, “Berfikir adalah cermin yang menunjukkan kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.”
Dan di sisi lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman: (“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Yang mana mereka berkata,
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ
 (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”)
Artinya, Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga). Kemudian mereka menyucikan Allah dari perbuatan sia-sia dan penciptaan yang bathil seraya berkata, subhaanaka (“Mahasuci Engkau.”) Yakni dari menciptakan sesuatu yang sia-sia.
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(“Maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”)
 Maksudnya, wahai Rabb yang menciptakan makhluk ini dengan sungguh-sungguh dan adil. Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzab-Mu yang sangat pedih.
Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dari Kuraib, bahwa Ibnu ‘Abbas memberitahukan kepadanya, ia pernah menginap di rumah Maimunah isteri Nabi, sekaligus bibinya (Ibnu ‘Abbas) sendiri, ia berkata, lalu aku membaringkan diri di bagian pinggir tempat tidur, sedangkan Rasulullah saw. dan keluarganya membaringkan diri di bagian tengahnya. Maka beliau pun tidur. Dan pada pertengahan malam, tak lama sebelum atau sesudah pertengahan malam, Rasulullah bangun dari tidurnya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan tangan beliau. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-‘Imran. Selanjutnya beliau menuju ke tempat air yang tergantung didinding dan beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat.[5]

C.  APLIKASI QS AL-IMRON 190-191 DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Berdasarkan dari penjelasan-penjelasandari beberapa tafsir diatas maka dapat diambil pelajaran untuk dapat diterapkan dalam kehidupan.yakni hendaknya kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi kita akal untuk berpikir tentang keesaan dan keagungan tuhan serta supaya kita dapat mengetahui cara beribadah kepada Allah SWT.
       Tafsir ayat ini juga menyuruh kita untuk selalu mengingat akan kebesaran sang pencipta, yang maha agung, yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya untuk tempat tinggal kita dan pemandangan yang indah yang mengingatkan kita akan kebesaran Allah yang maha esa.

D.  ASPEK TARBAWI

Dari penjelasan-penjelasan diatas maka dapat diambil hikmah pendidikan yang terkandung didalamnya, yaitu antara lain :
1.    Alam Semesta adalah Objek Tafakkur
Al Qur’ān mengajak untuk berpikir dengan beragam bentuk redaksi tentang segala hal, kecuali tentang zat Allāh SWT karena mencurahkan akal untuk memikirkan zat–Nya adalah pemborosan energi akal, mengingat pengetahuan tentang zat Allāh SWT tidak mungkin dicapai oleh akal manusia.
Maka, hendaklah kaum ulul–albab mencurahkan segenap potensi mereka untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh keteraturan dan ketelitian penciptaannya, sehingga Allāh SWT akan menunjukkan kepada mereka suatu kesimpulan bahwa penciptaan keduanya adalah untuk suatu hikmah, bukan untuk kesia–siaan.[6]
2.    Ajakan untuk ber–tadzakkur
3.    Belajar melalui alam
4.    Selalu bersyukur kepada allah atas kenikmatan yang telah diberikan
5.    Menggunakan akal dan pikiran untuk hal-hal yang positif


BAB III
PENUTUP


A.  KESIMPULAN

Kesimpulan dari tafsir ayat diatas bahwa seorang mukmin hendaknya bisa selalu mengingat allah swt yang telah menciptakan alam dan seisinya juga yang telah memberi akal untuk berpikir akan keindahan kuasa sang pencipta, dahsyatnya kebesaran sang ilahi, tuhan seluruh alam. Allah memberikan akal untuk berpikir cara menghaturkan/menyampaikan rasa syukur kita kepada allah swt seperti dengan melakukan sholat,berdoa, beramal, membantu orang lain dan lain sebagainya yang termasuk kedalam ibadah. Selain itu seorang mukmin juga harus mempunyai sifat ulul albab yaitu orang yang bisa menggunakan akal dan pikiranya untuk selalu mengingat allah swt, mengambi hikmah dari suatu peristiwa baik atau buruk supaya bisa bersyukur kepada sang ilahi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’ānul Karīm
As Sunnah
Karim Amrullah, Abdul Malik. 2004.Tafsir Al Azhar.Jakarta:Pustaka Panjimas
Mustofa Al Maraghi,Ahmad. 1986.Tafsir Al Maraghi.Semarang:Toha Putra Semarang
Nata, Abuddin. 2009. Tafsir Ayat–Ayat Pendidikan (Tafsir Al–Ayat Al–Tarbawiy). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Qardhawi, Yusuf. 1996. Al Qur’ān berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan (Al–‘Aqlu wal–‘Ilmu fil Qur’ānil–Karīm). Cet I. Diterjemahkan oleh Tim Abdul Hayyie. Jakarta: Gema Insani Press


https://alquranmulia.wordpress.com/2015/03/19/tafsir-ibnu-katsir-surah-ali-imraan-ayat-190-194/
CURICULUM VITAE












A.  Biodata Pribadi
Nama Lengkap                  :    Dimas wijaya adi saputro
Tempat, Tanggal Lahir      :    Pemalang,04 agustus 1996
Jenis Kelamin                    :    Laki – Laki
Agama                               :    Islām
Kebangsaan                       :    Indonesia
Status                                 :    Belum Menikah
Alamat                               :    Jl. Citarum no 51 kebondalem ,pemalang
No Hp                                :    082324070586
Email                                 :    dimasw121@gmail.com

B.  Riwayat Pendidikan
SD/MI                               :    SD N O4 Mulyoharjo                            2002-2008
SMP/MTs                          :    SMP N 08 Pemalang                              2009-2011
SMA/SMK/MA                 :    MAN Pemalang                                     2012-2014
PERGURUAN TINGGI  :    STAIN/IAIN Pekalongan             2015 – sekarang



[1]     QS. 'Āli `Imrān [003] : 019
[2]     Jalaluddin As–Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat Al Qur’ān, penj., Tim Abdul Hayyie, Cet. I (Jakarta: Gema Insani, 2008), hlm. 148–149
[3] Ahmad mustofa al maraghi,Tafsir Al Maraghi,(semarang:toha putra semarang,1986) hlm.289-293
[4] Abdul malik karim amrullah,Tafsir Al Azhar,(Jakarta:Pustaka Panjimas,2004) hlm.246-250
[6]     Yusuf Qardhawi, Al Qur’ān berbicara dengan Akal dan Ilmu Pengetahuan (Al–‘Aqlu wal–‘Ilmu fil–Qur’ānil–Karīm, Tim Abdul Hayyie, Cet. I (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 42–43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar