Laman

Selasa, 20 September 2016

TT1 D 3d KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR SECARA GLOBAL SURAT AL-ALAQ 1-5

KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR  SECARA GLOBAL
SURAT AL-ALAQ 1-5
Dyah Herlina (2021115028)
Kelas D

JURUSAN TARBIYAH/PAI
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tafsir surat al-Alaq ayat 1-5 tentang ”Kewajiban belajar dan Mengajar secara gobal” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi IAIN  Pekalongan yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
      Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai berpaling dari orang bodoh. saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
       Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.





Pekalongan, 20  September 2016




Dyah Herlina
2021115028
BAB 1
A.    LATAR BELAKANG
 Seorang ibu berpesan bijak kepada anak kesayangannya yang cacat fisik, “Anakku, engkau tidak berada di majelis suatu kaum melainka engkau menjadi bahan ejekan dan tertawaan mereka, oleh karena itu, carilah ilmu, karena ilmu mengangkatmu”. Pesan sang ibu tidak meleset, karena di kemudian hari si anak yang tida lain adalah Muhammad bin Abdurrahman al-Auqosh menjadi hakim di mekkah selama dua puluh tahun. Sang ibu tidak salah ucap karena memang begitulah kenyataanya. Ilmu memang membuat orang menjadi mulia. Ilmu itu menjaga pemiliknya, demikianlah kata Ali Bin Abu Thalib. Islam adalah agama satu-satunya yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Perhatian ini di buktikan melalui turunya wahyu pertama Qs. Al-Alaq 1-5. Sebagian musafirin menyatkan bahwa ayat tersebut sebagai proklamasi dan motivasi terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita harus memberikan skala prioritas yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
B.    Kewajiban belajar dan perintah mengajar secara” Global”:
AL-‘ALAQ 1-5
C.    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)  [العلق/1-5]
TERJEMAH:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
D.     Arti Penting:
Tema ini sangat penting untuk di bahas di dunia pendidikan, terutama kita sebagai calon pendidik dapat menambah wawasan tentang tafsir ayat-ayat yang berdimensi pendidikan. Selain itu dapat mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam sistem pendidikan terkhusus dalam belajar dan mengajar.





























Bab II

A.    TEORI:
Dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 terdapat makna penting manusia dalam menjadi peran khalifah di muka bumi ini, terutama kaitanya dengan perintah belajar dan mengajar, bagaimana pendapat para mufasir dan pakar pendidik mengenai hal ini? Berikut ulasanya:
Beberapa tokoh ahli mengemukakan definisi mengenai manusia dan peranya dalam pendidikan, diantaranya Sakip Mahmud yang mengatakan bahwa penyebutan kata “Manusia yang pertama merupakan suatu ketetapan kalau manusialah yang dituju oleh Al-Qur’an, manusialah yang diberi keterangan, petunjuk, ketetapan-ketetapan hukum melalui kitabyang ditrunkan pada manusia”.[1] Berbeda dengan Ahmad Nurwadjah yang mengemukakan pendapat bahwa “Muhammad berperan sebagai seorang peserta didik, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kotemplasi dan semangat yang cukup tinggi, peserta didik harus mempuyai semangat mencari ilmu yang cukup tinggi dan mengawalinya dengan upaya mensucikan jiwa, sehingga muncul dalam dirinyasikap tawadhu’ yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran”.[2] Sedangkan menurut M. Quraish Syihab, “Manusia merupakan objek dan subjek pendidikan, yaitu kata Iqra dimaksudkan agar Nabi lebih banyak membaca, menelaah, memperhatikan alam raya serta membaca kitab yang tertulis dan tidak tertulis dalam dalam rangka mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat”. Sedangkan pengertian dari belajar adalah “berubah”.[3]
 Dalam hal ini yang dimaksudkan belajar adalah usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, pisko-fisik untuk menuju keperkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.[4] Dalam Al-Qur’an surat al-mujadalah ayat 11 mengatakan bahwasanya “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beeriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat”.[5] Abu Hurairah meriwayatkan bahwa rosulullah SAW bersabda,” Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke surga”(HR Muslim, At-Tirmidzi, ahmad al-baihaqi), dalam hadist ini rosulullah SAW menggunakan pendekatan fungsional. Beliau memberikan motivasi belajar kepada sahabat (umat) nya dengan mengemukakan manfaat, keuntungan dan kemudahan yang akan didapat oleh setiap orang yang berusaha mengikuti proses belajar. Maka tempulah jalan atau ikutilah proses dengan ikhlas karena Allah. [6]
Makna mengajar adalah usaha dimana usaha ini dapat mendukung siswa dalam proses belajar. Pendidik adalah fokus utama dalam pembelajaran di spengasih, tawadu’, toleran dan bijaksana dalam menyampaikan ilmu pengetahuan.

B.    TAFSIR AYAT:
C.     اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

 Penjelasan:
Beraneka ragam pendapat ahli tefsir tentang objek bacaan yang dimaksud, ada yang berpendapat wahyu (al-Qur’an) sehingga perintah itu dalam arti : “bacalah wahyu-wahyu (al-Qur’an)” ketika dia turun nanti. Ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah ismi robbika sambil menilai huruf ba’ yang menyertai kata kata ismi adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Tapi jika demikian mengapa Nabi S.A.W.menjawab “ saya tidak dapat membaca “ seandainya yang dimaksud perintah berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu beliau senantiasa melakukannya.
Muhammad Abduh memahami peritah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklif) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amar takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara actual pada diri pribadi Nabi Muhammad S.A.W. pendapat ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah ini pun Nabi S.A.W. masih tetap dinamai oleh al-Qur’an sebagai seorang Ummy (tidak pandai membaca dan menulis), di sisi lain jawaban Nabi S.A.W. kepada malaikat jibril ketika itu, tidak mendukung pemahaman itu.
Huruf ( ب ) pada kata (بِاسْمِ ) ada juga yang memahaminya sebagai pernyertaan atau mulabasah, seingga dengan demikian ayat tersebut berarti “bacalah disertai dengan nama Tuhanmu”.
Sementara ulama memahami kalimat bismi rabbika bukan dalam pengertian harfiahnya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak masa jahiliah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu yang mereka agungkan. Itu memberi kesan yang baik atau katakanlah “berkat” terhadap epkerjaan tersebut juga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tadi dilakukan semata-mata karena “dia” yang namanya disebutkan tadi. Dahulu, misalnya sebelum turunnya al-Qur’an, kaum musyrikin sering berkata “bismi al-lata” dengan maksud bahwa apa yang mereka lakukan tidak kecuali demi tuhan berhala al-lata, dan bahwa mereka mengharapkan anugrah dan berkah” dari berhala tersebut.[7]
Mengaitkan pekerjaan membaca dengan nam Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah, dan hal ini akan mengahsilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan (baca Q.S. al-Furqon 25).
Menurut Syaikh al-Maroghi, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ adalah jadilah kamu orang yang bisa membaca dengan kekuasaan Allah Tuhan penciptamu dan menginginkan kamu bisa membaca walaupun sebelumnya tidak, yang sesungguhnya saat itu Nabi S.A.W. tidak bisa baca tulis, dan telah datang perintah Ketuhanan bahwa Nabi S.A.W. hendaknya bisa membaca walaupun tidak bisa menulis dan akan diturunkan kepadanya al-Quran yang akan dia baca walaupun dia tidak menulisnya. Ringkasnya adalah Allah yang telah menjadikan alam semesta mampu menjadikan Nabi S.A.W. bisa membaca walaupun tidak didahului dengan belajar.[8]

(2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
 Penjelasan
Kata insan menggambarkan manusia dengan berbagai keragaman sifatnya, kata ini berbeda dengan kata basyar yang juga diterjemahkan dengan manusia, tetapi maknanya lebih banyak mengacu kepada manusia dengan segi fisik serta nalurinya yang tidak berbeda antara seseorang manusia dengan mansia lain.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya.
Salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk menghantar manusia menghayati pentunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya. Ayat ke 2 surat iqro’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.
Kata ‘alaq dalam kamus bahasa arab digunakan dalam arti segumpal darah, juga dalam arti cacing yang terdapat di dalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut di kerongkonganya. Banyak ulama masa lampau memahami ayat di atas dalam pengertian pertama. Tetapi ada juga yang memahaminya dalam sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Ini karena para pakar embriolog menyatakan bahwa setelah terjadinya pertemuan antara seperma dan indung telur ia berproses dan membelah menjadi dua, kemudian empat, kemudian delapan demikian seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat bertempat serta masuk ke dinding rahim.[9]
(3) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
 Penjelasan
Dalam al-Qur’an ditemukan kata karim terulang sebanyak 27 kali. Tidak kurang dari 13 subjek yang disifati dengan kata tersebut, yang tentu saja berbeda-beda maknanya dan karena itu pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat terpuji yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Ucapan yang karim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah dipahami cara menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembicara. Sedang rizki yang karim adalah yang memuaskan, bermanfaat serta halal.
Allah menyandang sifat karim menurut imam al-Ghozali sifat ini menunjuk kepadanya yang mengandung makna antara lain bahwa : Dia yang bila berjanji menepati janjinya, bila memberi melampoi batas memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang dimohonkan kepada selain-Nya. Dia yang bila atau kecil hati, menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapapun yang menuju yang berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
Ibn al-Arabi menyebut 16 makna dari sifat Allah ini antara lain : yang disebut oleh al-Ghozali di atas, dan juga “ Dia yang bergembira dengan diterima anugrahnya, serta yang memberi sambil memuji yang diberinya, Dia yang memberi siapa yang mendurhakainya, bahkan memberi sebelum diminta dan lain-lain.
Kata al-Karim yang menyifati Allah dalam al-Qur’an kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata Robb bahkan demikian juga kata akrom sebagaimana terbaca di atas. Penyifatan kata Robb dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugrah kemurahannya dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan, Pemeliharaan dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai makhluk, kita dapat menjangkau betapa besar karom Allah S.W.T. karena keterbatasan kita dihadapannya. Namun demikian sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut : “ bacalah wahai Muhammad, tuhanmu akan menganugrahkan dengan sifat kemurahannya pengetahuan tentang apa yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaannya sama, niscaya tuhanmu kan memberikan pandangan serta pengertian baru yang tadinya belum engkau belum peroleh pada bacaan yang sama dalam objek tersebut.” “Bacalah dan ulangi bacaan, tuhanmu kan memberi manfaat kepadamu, manfaat yang tidak terhingga karena dia akrom, memiliki segala macam kesempurnaan.”[10]
(4) لَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
(5) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Penjelasan
Kata qolam disini dapat berarti hasil dan penggunaan alam tersebut, yakni tulisan, ini karena bahasa, sering kali menggunkan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika seseorang berkata “ saya hawatir hujan” maka yang dimasud dengan kata hujan adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.
Makna di atas dikuatkan oleh firan Allah dalam surat al-Qolam (68):1, yakni firmannya “ Nuun, demi qolam dan apa yang mereka tulis”. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal surat al-Qolam turun setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya ke dual kata qolam tersebut berkaitan erat, bahwan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikain. Qolam atau pena adalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian.[11]
Pada ke dua ayat di atas terdapat apa yang dinamai ikhtiba’ yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan, karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat 4 kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat 5 kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah disyaratkan ma’na itu dengan sebutkan pena. Dengan demikian kedua ayat di atas dapat berarti “ Dia(Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui sebelumya). Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya. Kalimat “ yang telah diketahui sebelumnya disisipkan karena isyarat pada susunan kedua yaitu yang belum atau tidak diketahui sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena ada kata “ dengan pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “ telah diketahui sebelumnya adalah khozanah pengetahuan sebelumnya dalam bentuk tulisan.

D.    Aplikasi Dalam Kehidupan:
1.     Membiasakan diri untuk membaca sedini mungkin apapun jenis bacaanya sebisa mungkin dapat memberikan wawasan pengetahuan.
2.     Lebih mensyukuri atas segala nikmat dari Allah SWT berupa alam semesta ini yang menjadikan kita dapat menggunakan akal kita untuk lebih mengenal siapa tuhan kita yaitu Allah SWT.
3.     Belajar dari kenampakan alam yang telah di sediakan Allah kepada umat manusia serta mengajarkan ilmu yang telah dimiliki kepada lainya.
4.     Menyampaikan ilmu pengetahuan kepada sesama umat manusia secara transparan tanpa menyembuyikan ilmu yang dibutuhkan orang lain.
E.     Aspek Tarbawi:
1.      Dalam ayat pertama tersirat makna tentang wajibnya membaca bagi manusia, baik membaca ayat-ayat Allah SWT yang tertulis maupun tidak tertulis berupa alam jagad raya beserta hukum kaulitasnya.
2.     Allah yang menjadikan manusia berkemampuan membaca dan memberikan ilmu yang manusia tidak mengetahui sesuatu apapun sebelumnya.  Hal ini memberikan informasi kepada masyarakat ilmiah tentang sumber ilmu pengetahuan.
3.      Perintah belajar dan mengajar melalui perantara Qalam Allah yaitu alam semesta ini.
4.      Pendidik hendaknya mengamalkan ilmunya dan menggunakan cara-cara yang halus sesuai tuntunan Rosulullah SAW.
5.     Sumber ilmu pengetahuan apapun disiplinya adalah Allah. Dia yang mengajar manusia dan mengihilhaminya.[12]







Kesimpulan:
Dalam lingkup global 5 ayat yang telah lewat menujukan keutamaan membaca, menulis dan ilmu.
Sungguh jika tidak ada Qalam, maka anda tidak akan bisa memahami berbagai ilmu pengetahuan, tidak akan bisa menghitung jumlah pasukan tentara, semua agama akan hilang, manusia tidak akan mengetahui kadar pengetahuan manusia terdahulu dari segi keilmuanya, pekerjaanya dan bidang-bidangnya. Dan ketika semua keadaan orang yang terdahulu sudah di bukukan yang mana sifatnya baik atau buruk niscaya ilmu mereka menjadi pelita yang memberikan petunjuk bagi periode berikutnya dan menjadi tolak ukur untuk kemajuan bagi kaum berikutnya dan kemajuan bagi segala bidang. Dalam ayat ini pula kita di sadarkan, bahwasanya sebagai manusia kita harus ingat bahwa Allah telah menjadikan kita hidup bisa berfikir yang dulunya tidak bisa hidup dan tidak bisa berfikir, tidak berbentuk maka dari itu jangan menjadi lalai mengenai hal ini.












DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish,2002, Tafsir al-Mishbah Vol.XV, Jakarta: Lentera Hati
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, 1993, Tafsir Al-Maraghi juz XXX, terjemahan oleh Bahrun Abu Bakar, Semarang: Toha Putra
Sakip Mahmud, 2005, Mutiara Juz Amma, Bandung: Mizan Anggota IKAPI
Ahmad Nurwadjah, 2007, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, Bandung: Marja
Sardiman, 2008, Interaksi Dan Motivasi Belajar Dan Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Suryani, 2012, Hadis Tarbawi, Jogya: Teras
Bukhori Umar, 2012,  Hadis Tarbawi, Jakarta: Amizah










PROFIL PRIBADI :

NAMA: Dyah Herlina
Posisi Dalam Keluarga: Anak pertama dan terakhir ( Tunggal)
Tempat Tanggal Lahir: Pekalongan 10 Januari 1997
Alamat: Ds. Bondansari rt 11, rw 04, Wiradesa , Kab. Pekalongan.
Riwayat  Pendidikan: 
1.     Tk RA Muslimat NU Bondansari Wiradesa ( Lulus tahun 2003)
2.     SDN 03 Bondansari Wiradesa (Lulus tahun 2009)
3.     SMPN 1 Wiradesa (lulus tahun 2012)
4.     SMA 1 Wiradesa (Lulus tahun 2015)
5.     IAIN PEKALONGAN, 2015 sampai sekarang
NB: Ibu adalah orang yang sangat berharga bagi saya, sejak kecil hingga saat ini beliau menghidupi saya seorang diri, dialah pejuang yang nyata bagi  saya saat ini dan seterusnya...





[1] Sakip Mahmud, Mutiara jus Amma,(Bandung: Mizan anggota IKAPI,2005),hlm 337
[2] Ahmad Nurwadjah,Tafsir ayat-ayat Pendidikan,(Bandung:Marja,2007),hlm 201
[3] M.Quraish Syihab,Tafsir al-Mishbah,(Jakarta:Lentera Hati,2002),volume 15 hlm 397
[4] Sardiman.a.m.Interaksi Dan Motivasi Belajar Dan Mengajar,(Jakarta:Raja Grafindo Persada,2008),hlm 20
[5] Suryani,Hadis Tarbawi,(Jogya:Teras 2012),hlm 43
[6] Bukhori Umar,Hadist Tarbawi,(jakarta:Amizah 2012),hlm 13
[7] M.Quraish Syihab,Loc.cit.,hlm 393-394
[8] Ahmad Musthafa Al-Maraghi,Tafsir Al-Maraghi,(Semarang:Pt Karya Thaha Semarang,1993),hlm 346
[9] M.Quraish Syihab.,Opcit.,hlm 397
[10] M.Quraish Syihab.,Opcit.,hlm 400
[11] Ahmad Al-Maraghi,Opcit,.hlm 347
[12] M.Quraish Syihab, Tafsir Al-Lubab,(Tanggerang: Lentera Hati,2012),hlm 689

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar