Laman

Jumat, 28 Oktober 2016

tt1 A 8d “Khidir Guru Nabi Musa” Q.S Al Kahfi ayat 66

 SUBYEK “MAJAZI” PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
( Khidir Guru Nabi Musa )
Q.S. Al-Kahfi : 66

Farid Rahman Hakim  (202 111 5208)
 Kelas A

JURUSAN TARBIYAH
 PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2016
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.     latar belakang
Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak lain adalah untuk menyembah Kepada-Nya sekaligus sebagai khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu, manusia diciptakan lebih sempurna daripada makhluk lainnya dengan dibekali akal, pikiran, dan hati.
Tugasnya sebagai khalifah adalah melestarikan dan memanfaatkan segala apa yang ada di muka bumi ini untuk kemakmuran umat manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Islam menuntut ilmu itu sangat diwajibkan kepada pemeluknya.
               Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari adanya pendidikan. Pendidikan itu tidak akan terjadi apabila tidak ada komponen-komponen yang sangat berkaitan dengan pendidikan tersebut, di antaranya adalah pendidik (subyek pendidikan), anak didik (obyek pendidikan), materi pendidikan, media pendidikan, dan lain sebagainya. Namun, yang akan saya bahas dalam makalah ini adalah tentang subyek pendidikan yang diilhami dari cerita Nabi Musa as dengan al-Khidir.
B.Judul
Subyek majasi pendidikan dalam islam”khidir Guru Nabi Musa”
C.Nash
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya : bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?













BAB II
PEMBAHASAN
A.Teori
Secara khusus ayat 66 sampai ayat 70 tidak ada sebab turunnya, tetapi hanya berupa riwayat yang didalamnya terdapat kisah pertemuan Nabi Musa as. dengan Bani Israil sebelum Allah swt. mempertemukan Nabi Musa as. Dengan Nabi Khidir as.
Sebuah riwayat sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili (1991: 317 – 318) dalam kitabnya al-tafsiir al- Munir fil ‘aqidah wa syari’ah wal manhaj diterima dari Ubay bin Ka’ab ra. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa pada suatu hari Nabi Musa as. berkhutbah dihadapan kaum Bani Israil. seusai menyampaikan khutbahnya, datanglah seorang laki-laki bertanya: “Siapakah diantara manusia ini yang paling berilmu ?”. Jawab Musa “Aku”. Lalu Musa ditegur oleh Allah karena tidak memulangkan jawaban kepada Allah, sebab hanya Allah yang Maha berilmu. Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa bahwa ada orang yang lebih pandai dari dia, yaitu seorang laki-laki yang kini berada dikawasan pertemuan dua laut. Mendengar wahyu tersebut, tergeraklah hati Musa a.s. untuk menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh Allah, bahwa dia adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as. yaitu Nabi Khidir as. Nabi Musa bertanya kepada Allah: “Ya Rabbi bagaimanakah cara agar saya dapat menjumpai orang tersebut ?”. Allah menjawab dengan firmannya: “bawalah seekor ikan dan taruhlah pada sebuah kantong sebagai suatu benda. Bila ikan itu hilang maka engkau akan menjumpainya disana”. Setelah mendengar keterangan tersebut, Nabi Musa segera menemui seorang pemuda untuk dijadikan teman dalam perjalanan tersebut dan menyuruhnya agar menyediakan seekor ikan sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah swt. kepadanya.
Menurut riwayat diatas maka dari sinilah dimulainya perjalanan Nabi Musa as. untuk menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh Allah swt., bahwa dia adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as. yaitu Nabi Khidir as.[1]
B.Tafsir
1.Tafsir jalaluddin
            قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
(Musa berkata kepada khidir “bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”)yakni ilmu yang dapat membimbingku,dan menurut suatu qiraat dibaca rasyadan.Nabi Musa meminta hal tersebut kepada khidir karena menambah ilmu adalah suatu hal yang dianjurkan[2]

2.Tafsir Al-misbah
            Dalam pertemuan kedua tokoh itu musa berkata kepadanya,yakni kepada hamba Allah yang memperoleh lmu khusus itu,”bolehkah aku mengikutimu secara bersungguh-sungguh supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa, yakni ilmu-ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu untuk menjadi petunjuk bagiku menuju kebenaran? Dia menjawab,”sesungguhnya engkau hai Musa sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.yakni peristiwa-peristiwa yang engkau akan alami bersamaku,akan membuatmu tidak sabar. Dan yakni padahal bagaimana engkau akan sabar atas sesuatu,yang engkau belum jangkau secara menyeluruh hakikat beritanya ?”engkau tidak memiliki pengetahuan batiniah yang cukup tentang apa yang akan engkau lihat dan alamin bersamaku itu.[3]
Kata (أَتَّبِعُكَ )attabi’uka asalnya adalah (اتبعك) atba’uka dari kata ()tabi’a ,yakni mengikuti. Penambahan huruf (...)ta’ pada kata attabi’uka mengandung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti itu. Memang demikianlah seharusnya seorang pelajar,harus bertekad untuk bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian ,bahkan tenaganya, terhadap apa yang akan dipelajarinya.
Ucapan Nabi Musa a.s ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk dapat diajar tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan,”bolehkah aku mengikutimu”?selanjutnya beliau menamai pengajaran yang diharapkannya itu sebagai ikutan,yakni beliau menjadikan diri beliau sebagai pengikut dan pelajar. Beliau juga menggarisbawahi kegunaan pengajaran itu untuk dirinya secara pribadi, yakni untuk menjadi petunjuk baginya. Disisi lain beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hamba yang saleh itu sehingga Nabi Musa a.s hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadanya.dalam konteks itu,Nabi Musa a.s tidak menyatakan “apa yang engkau ketahui wahai hamba Allah “,karena beliau sepenuhnya sadar bahwa ilmu pastilah bersumber dari satu sumber, yakni dari Allah yang Maha mengetahui memang Nabi Musa a.s dalam ucapannya itu tidak menyebut nama Allah sebagai sumber pengajaran, karena hal tersebut telah merupakan aksioma bagi manusia beriman. Disisi lain, disini kita menemukan hamba yang saleh itu juga penuh dengan tata krama. Beliau tidak langsung menolak permintaan Nabi Musa a.s, tetapi menyampaikan penilaiannya bahwa Nabi agung itu tidak akan bersabar mengikutinya sambil menyampaikan alasan yang sungguh logis dan tidak menyinggung perasaan tentang sebab ketidaksabaran itu. [4]
3.Tafsir al-qurtubhi
Firman Allah “ musa berkata kepada khidir ,bolehkah aku mengikutimu?”.” Ini adalah pertanyaan /permintaan yang lembut dan halus namun mengandung arti yang sangat dalam lagi dalam beretika luhur.maknanya : apakah engkau rela dan tidak keberatan. Ungkapan ini sebagaimana redaksi yang terdapat didalam hadits :
هل تستطيع انتريني كيف كان رسول الله عليه وسلم يتوضا ؟     
“apa engkau bisa menunjukkan kepadaku bagaimana Rasulullah berwudhu ?” dan menurut sebagian penakwilan,demikian juga makna firman Allah
هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ
“sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami ?”(Q.S.Al-maidah :112) sebagaiman yang telah dipaparkan dadalam surat Al-maidah 
            Ayat  ini menunjukkan bahwa murid mengikuti guru walaupun tingkatnya terpaut jauh,dan dalam kasus belajarnya Musa kepada khidir tidak ada hal yang menunjukkan bahwa khidir lebih mulia dari pada Musa,karena adakalanya orang yang lebih mulia tidak mengetahui hal yang diketahui oleh orang yang tidak lebih mulia, sebab kemuliaan itu adalah bagi yang dimuliakan Allah.karena itu walaupun khidir seorang wali,namun Musa lebih mulia dari padanya karena musa seorang Nabi,sebab Nabi lebih Mulia dari pada wali dan kalaupun khidir seorang nabi,maka musa musa tetap lebih mulia daripadanya karena kerasulannya.wallahu a’lam.
            Kata رشدا  “yang benar “adalah maf’ul (objek) kedua dari kata kerja alaamani (mengajari aku) :قالberkata “ maksutnya khidir,”sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku “yakni,sesungguhnya kamu,wahai Musa,tidak akan sanggup bersabar melihat apa yang (aku perbuat) berdasarkan ilmuku.karena realitas-realitas yang merupakan ilmumu itu tidak mencakupnya. Bagaimana kamu bisa bersabar terhadap kesalahan yang kamu lihat sementara kamu tidak mengetahui segi hikmah didalamnya dan tidak pula cara yang tepat.itulah maknanya firmannya “dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu,yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”sebab para nabi tidak membenarkan kemungkaran,dan mereka tidak boleh membenarkannya.maksutnya,kamu tidak akan tahan untuk berdiam diri berdasarkan kebiasaan dan hukummu.[5]
C.Aspek dalam kehidupan
            Dalam kehidupan sehari-hari hal yang bisa diambil dari kisah khidir sebagai guru Nabi Musa a.s adalah bahwa dalam berguru mencari ilmu hendaknya bersikap ramah terhadap guru dan sifat rasa hormat dan ketaatan kepada guru,karena sebagai mana yang kita ketahui guru lah yang telah berjasa besar karena beliaulah yang telah memberikan banyak ilmu kepada muridnya.Dan dalam keduanya tidak boleh memiliki sifat kesombongan atas ilmu yang dimiliki karena jangan sampai ilmu yang tinggi bisa membuat kita menjadi sombong,
D.Aspek tarbawi
1.     seorang guru hendaknya ramah dan menghormati kepada seorang guru.
2.     jangan selalu berniat berburuk sangka terlebih dahulu terhadap apa yang disampaikan oleh guru.
3.     Jangan selalu merasa dirinya yang mulia,karena yang berhak memiliki kemuliaan yang agung hanyalah Allah SWT.
4.     Bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu






















Bab III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dapat kita ketahui banyak sekali hikmah yang kita dapat pelajari dari cerita khidir sebagai guru Nabi Musa a.s,dimana Nabi Musa sebagai murid khidir untuk belajar kepada gurunya,dengan ketaatan dan keramahan Nabi Musa bersungguh-sungguh dalam belajar,begitupun sebaliknya khidir sebagai guru tidak merasa sedikitpun mempunyai sifat yang sombong karena kedudukan sebagai guru Nabi Musa.
Demikian pemaparan tentang tafsir surat Al-kahfi : 66 semoga bisa ambil hikmah dan pelajaran untuk kehidupan yang akan datang.





















DAFTAR PUSTAKA

Al-qurtubi,imam.2008.tafsir al-qurtubhi.jakarta:pustaka azam
Jalaluddin al-mahali,imam.2010.tafsir jalalain jilid II.bandung:sinar baru algensindo
Shihab,quraisy.2005.tafsir al-misbah.jakarta :lentera hati
























BIOGRAFI PENULIS
NAMA :Farid Rahman Hakim.tempat tanggal lahir saya pekalongan,14 maret 1998. Saya anak dari nomor empat dari lima bersaudara. Alamat JL.K.H.Hasyim Asyari setono kota pekalongan.pendidikan saya SDI Islam Setono 01, kemudian SMP Muhammadiyah pekalongan dan SMK Muhammadiyah pekalongan sampai sekarang sedang berproses di perguruan tinggi IAIN Pekalongan mengambil S1 prodi PAI /TARBIYAH.













[2] Imam jalaluddin al-mahalli,tafsir jalalain jilid II(Bandung : sinar baru algensindo,2010)
[3] Quraishshihab,Tafsir Al Misbah,(jakarta : lentera Hati,2005),hlm.97
[4] Ibid.hlm.98
[5]Syaikh imam al qurtubi, Tafsir Al-qurtubhi(jakarta :pustaka azzam:2008)hlm.46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar