Laman

Rabu, 12 Oktober 2016

tt1 D 6b Sifat-Sifat Orang Mukmin Q.S Al-Fath ayat 29

Sifat-Sifat Orang Mukmin
Q.S Al-Fath ayat 29
Imam Nursyafiudin
(2021115143)
 Kelas D

JURUSAN TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan berlimpah nikmat berupa kesehatan jasmani maupun rohani kepada Kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sampai selesai. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi akhir zaman Muhammad SAW.
Kami menyadari tersusunnya makalah ini bukanlah semata-mata hasil jerih payah kami sendiri, melainkan berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu, Kami menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu Kami dalam penyusunan makalah ini.
Semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal dan menjadikan amal sholeh bagi semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin Ya Rabbal’alamin.






PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang
Tafsir surat Al Fath ayat 29 yang menjelaskan tentang pribadi Rasulullah Saw dan para sahabat beliau. Beliau adalah seorang manusia biasa, hanya saja beliau di beri wahyu oleh Allah Swt dan menjadi utusan-Nya. Beliau adalah Nabi penutup dan sekaligus Rasul yang terakhir. Beliau diangkat menjadi utusan Allah itu tidak untuk dipuji oleh sekalian umatnya, tidak untuk disanjung dan dijunjung tinggi sampai setinggi langit, serta tidak untuk di dewa-dewakan, atau senantiasa diperingati hari lahirnya oleh segenap pengikutnya, tetapi untuk diikuti kepeminpinannya dalam urusan beriman kepada Allah, untuk dituruti tuntunannya dalam hal cara beribadah kepada-Nya, serta untuk dicontoh akhlak dan budi pekertinya dalam cara bergaul dan bermasyarakat dengan manusia.
1.     Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dapat penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
1.     Apa penafsiran Q.S Al Fath ayat 29 itu?
2.     Bagaimana sifat-sifat orang mukmin menurut surat al-fath ayat 29?

Sifat-sifat orang mukmin(q.s al-fath:29)
2.ISI
1.Surat al-fath ayat 29
مُحَمَّدٌرَسُوْلُاللهِوَالَّذِيْنَمَعَهُأَشِدَّاءُعَلَىالْكُفَّارِرُحَمَاءُبَيْنَهُمْتَرَاهُمْرُكَّعًاسُجَّدًايَبْتَغُوْنَفَضْلاًمِنَاللهِوَرِضْوَاناًسِيْمَاهُمْفِيْوُجُوْهِهِمْمِنْأَثَرِالسُّجُوْدِذَلِكَمَثَلُهُمْفِيالتَّوْرَاةِوَمَثَلُهُمْفِيالْإِنْجِيْلِكَزَرْعِأَخْرَجَشَطْأَهُفَآزَرَهُفَاسْتَغْلِظَفَاسْتَوَىعَلَىسُوْقِهِيُعْجِبُالزُّرَّاعَلِيَغِيْظَبِهِمُالْكُفَّارِوَعَدَاللهُالَّذِيْنَءَامَنُواوَعَمَلَالصَّالِحَاتِمِنْهُمْمَغْفِرَةًوَأَجْرًاعَظِيْماً
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam lnjil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
2.         Tafsir Surat Al Fath ayat 29
Menurut al-Hâkim dan lain-lain dari al-Miswar bin Makhramah dan Marwân bin al-Hakam, surat al-Fath ini mulai dari awal hingga akhir diturunkan antara Makkah dan Madinah dalam konteks perjanjian damai Hudaibiyyah. Perjanjian ini kelak mengantarkan penaklukan kota Makkah dan tampilnya negara Islam sebagai adidaya baru di Jazirah Arab.
Agar dapat dipahami konteksnya, ayat ini harus dihubungkan dengan ayat sebelumnya, yang dalam istilah ‘Ulûm al-Qur’ân disebut Munâsabât bayn al-âyah,yaitu  ayat:
( هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا )                  Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa kebenaran dan agama yang haq untuk memenangkannya atas agama-agama yang ada seluruhnya. Cukuplah Allah sebagai saksinya. (QS al-Fath : 28).
Dari sinilah frasa Muhammad[un] Rasûlullâh (Muhammad Rasulullah) dapat  dipahami kedudukannya sebagai kalimat penjelas (jumlah mubayyinah) terhadap Rasul yang diutus oleh Allah dengan membawa hidayah dan agama yang haqq. Mengenai kata Muhammad[un] dalam ayat di atas, sebagian ulama tafsir mempunyai dua pandangan. Ada yang menyatakannya sebagai subyek (mubtada’), dengan kata  Rasûlullâh merupakan predikat (khabar), ada juga yang menyatakan, bahwa kata Muhammad[un] adalah subyek (mubtada’), Rasûlullâh adalah sifat subyek, sedangkan predikatnya adalah asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika kita memilih pendapat yang pertama,  konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah. Sebaliknya, jika pendapat kedua yang dipilih, konotasinya: Muhammad, Rasulullah.
Sementara itu, frasa walladzîna ma‘ah[u] (dan orang-orang yang bersamanya), dengan diawali huruf waw di depannya, ada yang menyatakan sebagai subyek kedua setelah subyek pertama, yaitu: Muhammad[un]; kemudian frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr—menurut pendapat ini—kedudukannya sebagai predikat kedua setelah predikat pertama, yakni kata Rasûlullâh. Namun, ada juga yang menyatakan, bahwa frasa walladzîna ma’ah[u] adalah ma‘thûf ‘alayh (frasa yang dihubungkan) dengan Muhammad[un] sehingga subyek dan predikatnya hanya satu, masing-masing adalah Muhammad[un] dan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika dipilih alternatif pertama, konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka. Jika pilihan kedua yang diambil, konotasinya: Muhammad, utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka.
Inilah hasil pembacaan terhadap struktur lafal yang berbeda dan implikasinya terhadap makna yang terdapat dalam ayat tersebut. Hanya saja, perbedaan tersebut tidak membawa implikasi yang serius terhadap makna ayat di atas secara keseluruhan. Di sisi lain, as-Suyûthi, menjelaskan bahwa dinyatakannya: asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang Kafir) dan ruhamâ’ baynahum(mencintai sesama mereka), menunjukkan keunikan sifat Rasulullah dan para sahabat, yang memadukan ketegasan dan kekerasan (terhadap orang kafir) dengan kasih-sayang (terhadap sesama Muslim). Seandainya hanya dinyatakan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang kafir), tentu akan menimbulkan persepsi, seakan-akan mereka adalah orang-orang yang kasar. Karena itu, dengan dinyatakan, ruhamâ’ baynahum (mencintai sesama mereka), kesan tersebut hilang. Struktur seperti ini, persis seperti yang digunakan oleh Allah dalam ayat lain:
( أَذِلَّةٌ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٌ عَلَى الْكَافِرِيْنَ )
Yang bersikap lemah-lembut kepada orang Mukmin dan yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. (QS al-Maidah: 54).
Lalu apa maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (sangat keras terhadap orang-orang Kafir) dan ruhamâ’ baynahum (sangat mencintai sesama mereka) dalam ayat tersebut? Apakah ini hanya sifat Rasul dan para sahabatnya yang ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah saja atau bersifat umum meliputi karakter seluruh para sahabat?
Kata asyiddâ’ adalah bentuk plural non-jender (jamak taktsîr) dari kata  syadîd   (orang yang keras). Kata ruhamâ’ juga merupakan jamak taktsîr dari kata rahîm(orang yang mengasihi). Kebanyakan ahli tafsir, seperti al-Qurthubi dan as-Syaukani, menjelaskan konotasi dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr tersebut dengan menggunakan penafsiran Ibn ‘Abbâs, pakar tafsir, murid Rasulullah saw., yang menyatakan: ghilâdh[un] ‘alayhim ka al-asad[i] ‘alâ farîsatih[i] (keras terhadap mereka, bak singa terhadap mangsa buruannya). Secara umum, as-Suyuthi, menjelaskan maksud frasa tersebut dan frasa berikutnya, bahwa mereka keras dan tegas terhadap siapa saja yang menyimpang dari agamanya, dan saling kasih-mengasihi di antara sesama mereka (Muslim). Inilah maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr ruhamâ’ baynahum. Sebagian ahli tafsir, menyebutkan bahwa sifat tersebut merupakan sifat sahabat yang terlibat dalam kasus Hudaibiyah. Namun, pandangan ini dibantah oleh as-Syaukani, berdasarkan kaidah:
اَلْعُمُوْمُ يَبْقَى بِعُمُوْمِهِ مَالَمْ يَرِدْ دَلِيْلُ التَّخْصِيْصِ
Keumuman itu tetap berlaku sesuai dengan keumumannya selama tidak ada dalil pengkhusus yang dinyatakan (untuk mengkhususkannya).
Dari sini, beliau berpendapat, bahwa yang lebih tepat adalah menginterpretasikan makna umum sesuai dengan keumumannya. Dengan demikian, sifat tersebut merupakan sifat seluruh sahabat Rasulullah Saw.
Mereka juga ruku’ dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda’u ‘ala al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya.
“… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat …” (QS. 24:2). Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia.
1.     Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat.
2.     Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.

Budi Luhur Rosululloh Terhadap Orang Muslim:
1. Beliau adalah seorang yang peramah, sopan santun dan tenang.
Beliau adalah seorang yang pengasih, penyayang kepada sesama, murah hati dan suka memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan, akibat kemurahan hari beliau, kerap kali beliau menanggung kesusahan orang yang sedang menderita susah dan mengalahkan kepentingan diri sendiri asalkan kesusahan orang lain dalam kebenaran.
Beliau adalah orang yang sabar, tahan uji dan berani menderita, beliau adalah orang yang tabah hati, tahan marah, dan tahan dendam jika kebetulan marah, tidak ada tanda-tandanya, melainkan kerut urat yang berdiri diantara bulu – bulu keningnya, memang beliau adalah seorang yang lapang dada, dapat mengendalikan dan menahan kemarahan hatinya.
2. Beliau adalah orang yang terkenal jujur, bisa di percaya.
Berliau jujur dalam perkatan dan jujur dalam perbuatan serta sangat jauh dari sifat pendusta atau pembohong karenanya sejak muda sudah terkenal dengan nama al amin ( yang di percaya )
3. Beliau suka menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda dan beliau orang yang berterima kasih, suka membalas jasa dan tahu membalas jasa.[6]

3.Aspek tarbawi
a.Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia.
b.Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat.
c.Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.































PENUTUP

Surat Al-Fath mempunyai arti kemenangan. Surat ini terdiri dari 29 ayat. Pada ayat terakhir menjelaskan tentang sifat yang harus dimiliki oleh orang mukmin. Dalam ayat 29 ini menjelaskan salah satu tujuan pendidikan yaitu sifat yang harus dimiliki oleh orang-orang mukmin. Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya bersikap keras atau tegas terhadap orang-orang kafir namun berkasih sayang terhadap sesamanya. Salah satu tanda orang mukmin yaitu terdapat pada wajah mereka dari bekas sujud. Tanda-tanda tersebut juga terdapat dalam kitab Taurat dan Injil. Penjelasan dari surat Al-Fath tentang sifat orang-orang mukmin.





































DAFTAR PUSTAKA

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1993. Tafsir Al-Maragi. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. 2000. Tafsir Ibnu Katsir jilid IV. Jakarta: Gema Insani Press.
Isawi, Muhammad Ahmad. 2009. Tafsir Ibnu Mas’ud. Jakarta: PUSTAKA AZZAM.
Katsir, Ibnu. 1985. Al-Qur’an dan Tarjamah. Jakarta: Jakarta Pelita.
Quthb, Sayyid, 2004. Fi Zhilalil- Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Terjemah Al-Qur’an secara Lafziyah Penuntun bagi yang Belajar Jilid IX (juz 25,26,27).Jakarta: ALHIKMAH.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar