Laman

Rabu, 12 Oktober 2016

tt1 D 6c “AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR” (QS AL-HAJJ: 41)

TUJUAN PENDIDIKAN “KHUSUS”
AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR” (QS AL-HAJJ: 41)

Alfiana Izzati  (2021115144)
 Kelas D

JURUSAN TARBIYAH / PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr Wb
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia dan ridho-Nya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar, sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Tafsir Tarbawi I.
Terwujudnya makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Atas segala dorongan dan do’a dari keluarga tercinta terutama kedua orang tua dalam memotivasi dan penyemangat, penulis ucapkan syukur Alhamdulillah yang tidak terhingga.
Dengan terselesainya makalah yang berjudul: “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”, dengan tulus ikhlas penulis menyampaikan banyak terima kasih atas segala bantuan dari berbagai pihak, khususnya kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu Tafsir Tarbawi I dan teman-temanku semuanya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna, sehingga penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran serta koreksi dari pembaca, demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pekalongan, 9 Oktober 2016
Penulis

Alfiana Izzati
(2021115144)

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam Islam kita diajarkan agar selalu melakukan amal ma’ruf nahi munkar, yakni mengajak pada kebaikan dan mencegah pada yang munkar. Salah satu alasan kita diajarkan agar selalu melakukan amal ma’ruf nahi munkar yakni menjalankan amar ma’ruf nahi munkar merupakan bentuk sikap tolong menolong agar dalam kehidupan tercipta suatu kondisi yang tenteram, aman, dan nyaman. Di samping itu menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar juga merupakan gambaran kalau kita bukanlah orang yang egois yang hanya memikirkan diri sendiri dan orang yang masa bodoh dengan orang lain.
B.      Nash dan Arti
الَّذِيْنَ إنْ مَّكَّنَّهُمْ فِى الْأَرْضِ أقَامُوْاالصَّلَوةَ وَءَاتَوُاالزَّكَوةَ وَأمَرُوابِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْاعَنِ الْمُنْكَرِ 3 وَلِلهِ عَقِبَةُ الْأُ مُوْرِ ÇÍÊÈ   
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS Al-Hajj:41)
C.      Arti Penting untuk Dikaji
Ayat ini penting dikaji karena amar ma’ruf nahi munkar merupakan perbuatan yang diperintahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Amar ma’ruf nahi munkar juga termasuk perbuatan solidaritas antar sesama manusia. Kita juga harus menyadari bahwa kita hidup didunia ini tidak sendirian, kita memerlukan bantuan dari orang lain untuk diingatkan dan untuk mengingatkan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori
         Amar Ma’ruf dan nahi mungkar berasal dari kata bahasa arab (amr/al amru) merupakan mashdar atau kata dasar dari fi’il atau kata kerja (amara) yang artinya memerintah atau menyuruh. Jadi (amr/al amru) artinya perintah. (ma’ruf) artinya yang baik atau kebaikan/kebajikan. Sedangkan (al munkar) yaitu perkara yang keji.
         Memerintahkan untuk suatu kebajikan dan melarang terhadap suatu kemungkaran adalah perintah agama, karena itu ia wajib melaksanakan oleh setiap umat manusia.
         Orang-orang yang taqwa kepada Allah akan selalu mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang terhadap yang mungkar, mereka itu akan mendapat limpahan rahmat dari Allah, karena mereka adalah sebaik-baik umat manusia.
         Di dalam menyampaikan kebenaran manusia dituntut untuk memulainya dari diri sendiri untuk melakukannya dan baru kemudian mengajak kepada orang terdekat,kaum ketabat, tetangga untuk melakukan dari amal kebijakan sebagaimana dia telah melakukannya.[1]
         Amar ma’ruf nahi mungkar dirasa sangat penting bagi umat karena berbagai sebab dan faktor diantarnya:
a.       Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan penyebab kebaikan ummat dan termasuk karakteristik yang Allah karuniakan kepada kita. Allah SWT berfirman  “ Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” (Ali Imran :190)
Adapun masyarakat jahiliyah yang kafir, bibit penyakitnya adalah amar mungkar nahi ma’ruf (menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari yang maruf). Masyarakat sekarang rela dengan kekafiran dan kesesatan, sebab masyarakat sekarang ini memerangi kebaikan dan mendukung perbuatan yang hina dengan kedok kebebasan pribadi.
Adapun kaum Muslimin yang memperolrh predikat kebaikan secara khusus dari Allah, mereka yang saling menyuruh kepada kebaikan dan mencegah keburukan dan tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
b.       Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari rasa solidaritas yang Allah tegakkan diantara orang-orang mukmin. Dimana orang-orang mukmin itu saling menjamin dan saling melengkapi diantara sesama mereka.
c.       Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan jaminan bagi suatu lingkungan dari bahaya polusi pemikiran dan akhlak.
Masyarakat yang didalamnya nampak  kemungkaran baik pemikiran maupun akhlak. Mengahadapi kekuatan yang besar serta batasannya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Oleh karena itu dikatakan: Sesungguhnya kemungkaran bisa tersembunyi tidak berbahaya kecuali bagi pelakunya dan apabila dilakukan secara terang-terangan akan berbahaya bagi pelakunya dan masyarakat umum.
Oleh karena itu pelaku kemungkaran bila berada didalam masyarakat yang tidak terkena  polusi dia akan menyembunyikan kemungkarannya karena dia mengetahui bahwa dia hidup ditengah-tengah lingkungan yang baik. Akan tetapi bila pelaku kemungkaran hidup ditengah-tengah masyarakat yang sudahtercemar polusi dia akan melakukan kemungkarannya secara terang-terangan, karena dia merasa bahwa yang dilakukan hal yang wajar.[2]

B.      Tafsir QS. Al-Hajj ayat 41
1.     Tafsir Al- Mishbah
           Ayat ayat yang lalu menjanjikan pertolongan dan bantuan Allah kepada mereka yang dianiaya dan terusir dari kampung halaman mereka. Ayat ini menjelaskan lebih jauh sifat sifat mereka, bila mereka memperoleh kemenangan dan telah berhasil membangun masyarakat. Ayat diatas menyatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang jika Kami anugerahkan kepada kemenangan dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yakni Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka merdeka dan berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu melaksanakan sholat secara sempurna rukun, syarat dan sunah sunahnya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadar waktu, sasaran dan cara penyaluran yang ditetapkan Allah.[3]
2.     Tafsir Ibnu Katsir
           Ayat ini masih bersambung dengan ayat sebelumnya, bahwa Allah menjanjikan akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya, yaitu orang-orang yang apabila dimenangkan atau musuh-musuhnya dan diteguhkan kedudukannya sebagai penguasa atau pemimpin , bertambah tekun dan rajin melaksanakan perintah-perintah Allah, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh orang berbuat makruf dan melarang orang berbuat mungkar. Dan kepada Allah lah kembali segala sesuatu dan daripada-Nya-lah akan diterima pembalasan atas segala amal dan perbuatan.[4]




3.     Tafsir al-Qurthubi
           Jadilah empat (golongan) sahabat Rasulullah SAW, sebagai اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنَّهُمْ فِى اْلاَرْضِ    “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,” di mana tidak ada seorang pun di muka selain mereka.
           Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud adalah orang-orang Muhajirin, Anshar, dan orang–orang yang mengikuti (Beliau) dengan baik.
           Qatadah berkata, “Mereka adalah para sahabat Muhammad.”
           Ikrimah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang menunaikan shalat lima waktu.”
           Al-Hasan dan Abu Al-Aliyah berkata, “Mereka adalah umat ini, yang jika Allah memberikan kemenangan kepada mereka, maka mereka mendirikan shalat.”
           Ibnu Abu najih berkata, “Maksudnya adalah para penguasa.”
           Adh-Dhahhak berkata, “Itu (keempat perkara tersebut) merupakan syarat yang telah Allah tetapkan kepada siapa saja yang akan diberikan kerajaan.”
           Pendapat ini merupakan pendapat yang baik.
           Sahl bin Abdullah berkata, “Memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar adalah kewajiban penguasa dan para ulama yang mendatanginya. Manusia tidak wajib memerintahkan  penguasa (agar memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar) Sebab itu merupakan kewajiban dan keharusan dirinya. Manusia juga tidak wajib mewajibkan ulama agar menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, sebab dalil-dalil telah mewajibkan mereka melakukan hal itu.[5]


C.      Aplikasi dalam kehidupan
1.     Mengajak pada kebaikan dan melarang pada keburukan
2.     Istiqomah dalam beribadah (shalat)
3.     Menunaikan kewajiban membayar zakat
4.     Senantiasa berserah diri kepada Allah SWT (tawakal)

D.      Aspek Tarbawi
1.     Kita sebagai umat Islam seharusnya melakukan amal ma’ruf nahi munkar.
2.     Kita sebagai manusia ciptaan Allah, maka seharusnya kita beriman kepada Allah dan patuh atas segala perintah-Nya.
3.     Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu karakteristik yang diridhoi oleh Allah.
4.     Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari rasa solidaritas antar sesama manusia.











BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah disampaikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Amar Ma’ruf dan nahi mungkar berasal dari kata bahasa arab (amr/al amru) merupakan mashdar atau kata dasar dari fi’il atau kata kerja (amara) yang artinya memerintah atau menyuruh. Jadi (amr/al amru) artinya perintah. (ma’ruf) artinya yang baik atau kebaikan/kebajikan. Sedangkan (al munkar) yaitu perkara yang keji. Orang-orang yang taqwa kepada Allah akan selalu mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang terhadap yang mungkar, mereka itu akan mendapat limpahan rahmat dari Allah, karena mereka adalah sebaik-baik umat manusia.
Amar ma’ruf nahi mungkar dirasa sangat penting bagi umat karena berbagai sebab dan faktor diantarnya:
a.      Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan penyebab kebaikan ummat dan termasuk karakteristik yang Allah karuniakan kepada kita.
b.      Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan bagian dari rasa solidaritas yang Allah tegakkan diantara orang-orang mukmin.
c.      Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan jaminan bagi suatu lingkungan dari bahaya polusi pemikiran dan akhlak.





DAFTAR PUSTAKA
Bahreisy, Salim dan Said Bahreisy. 1990. Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Juwariyah, 2010, Hadis Tarbawi, Yogyakarta: Teras.
Imam, Al-Qurthubi. 2008. Tafsir Al-Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Rakhmad dan Abdul Rosyid. 1993.  Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Shihab, M.Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentara Hati.






















PROFIL PRIBADI
Nama                          : Alfiana Izzati
Tempat, tanggal lahir :  Pekalongan, 30 November 1996
Alamat                                    :  Karanganyar Tirto Pekalongan
Riwayat Pendidikan   :  MI Karanganyar 01
                                    Mts S Nu Karanganyar
                                    SMK Ma’arif Tirto





[1] Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010) hlm 57-60
[2] Rakhmad dan Abdul Rosyid, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1993) hlm 23-26
[3]  M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentara Hati, 2002), hlm 71-73
[4] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), hlm.375-376.
[5] Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm.181-182

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar