Laman

Jumat, 25 November 2016

tt1 C 12a “Metode Kisah” QS. Al A’raf ayat 176-177



 METODE PENDIDIKAN KHUSUS
“Metode Kisah”
QS. Al A’raf ayat 176-177

 Inasil Khurroh (2021115288)
Kelas : PAI   C
 
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
PEKALONGAN
2016


 

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahan rahmat, hidayah dan inayah Nya sehingga penulisa dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammas SAW. Tak lupa pula penulisa mengucapkan terimakasi kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu mata kulaih Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas kepada penulis, orang tua yang senantiasa mendoakan serta rekan rekan yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah yang membahas tentang Metode Pendiidkan Khusus “Metode Kisah” ini masih banyak kekurangan sehingga penulis berharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kebaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya penulis.

Pekalongan, 25 November 2016


Inasil Khurroh










BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Hal ini menyebabkan adanya tuntutan kepada setiap guru untuk dpaat menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya mengajar. Dalam proses pembelajaran dan pengajaran terdapat elemen - elemen penting, salah satu nya adalah metode. Metode merupakan cara yang harus digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi dengan harapan mampu mencapai hasil yang baik dalam proses pembelajaran. Dan  dalam hal ini, metode yang dapat membantu peserta didik mencapai tujuan adalah metode kisah. Karena begitu penting nya metode kisah, maka penulis menguraikan makalah ini dengan judul metode pendidikan khusus (Metode Kisah).
B. Judul Makalah
Sesuai yang sudah ditugaskan oleh Bapak Muhammad Hufron, MSI selaku pengampu dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I memberikan judul “Metode Pedidikan Khusus”. Adapun kajian yang dibahas dalam makalah tersebut adalah mengenai “Metode Kisah”, sebagaimana tercantum dalam QS Al A’raf ayat 176-177.
C. Nash dan Terjemahan QS. Al A’raf ayat 176-177.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُوْنَ
(176). Dan jikalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya (adalah) seperti anjing, jika engkau halau dia, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) cerita - cerita itu agar mereka mau berfikir.
(177). Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan akan diri mereka sendirilah mereka menganiaya.

D. Arti Penting yang Dikaji.
QS Al A’raf ayat 176-177 ini penting dikaji karena Allah menceritakan kisah – kisah dalam proses pembelajaran, diantara kisah itu adalah bahwa Allah akan meninggikan derajat sesorang yang berilmu. Namun apabila orang tersebut sesat dalam dunia dan hanya mengikuti hawa nafsunya. Allah memberikan perumpamaan terhadap orang tersebut seperti seekor anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Maka orang – orang seperti itulah yang mendustakan agama dan menganiaya terhadap dirinya sendiri. Dan dengan mengkaji ayat ini mengajarkan kita untuk tidak berbuat demikian.









BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori
Pengertian dan Tujuan Kisah
Secara etimologi, kata قصص berarti mencari atau mengikuti jejak. Tetapi jika dikontekskan dengan AL Qur’an, kisah berarti pemberitaan Al Qur’an tentang hal ihwal ummat, nubuwwah (kenabian) dan peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, dan jika dikaitkan dengan informasi, kisah berarti berita yang berurutan. Al Qish-shah dalam Al Qur’an digunakan oleh Allah untuk menyampaikan keteladanan generasi terdahulu untuk diikuti generasi yang akan datang.
Kisah di dalam AL Qur’an jika dilihat dari variasi muatannya, baik sebagai informasi, maupun sebagai catatan sejarah atau peristiwa dapat diholongkan menjadi tiga, yaitu :
1. Kisah para Nabi yang menjelaskan bagaimana upaya mereka dalam menjalankan tugas sucinya.
2. Kisah ke-shalihan orang –orang yang belum diketahui status kenabian nya agar diteladani, dan kisah tokoh – tokoh durjana pada masa lalu agarr dijauhi dan tidak diikuti.
3. Kisah yang berhubungan dengan Rasul sebagai sunnah untuk diteladani.
Tujuan Pengajaran Lewat Kisah
Diantara metode yang digunakan oleh Al Qur’an untuk memberi pelajaran bagi manusai adalah dengan menguraikan peristiwa – peristiwa pada masa lalu dnegan bentuk kisah – kisah (al qashash).
1. Ketika Al Qur’an hendak menyampaikan pesan – pesan penting yang terdapat di dalam suatu kisah, Al Qur’an menggunakan kaidah diantaranya adalah dengan mengemukakan pernyataan tegas secara berjenjang, baik berisi penolakan maupun pengukuhan isi kisah.
2. Selain mendapatkan pelajaran dari kandungan kisah – kisah yang diceritakan, juga akan diketahui cara terbaik dalam  menyampaikan pelajaran melalui penguraian kisah,
3. Suatu kisah yang disampaikan dengan metode sebagaimana yang ditempuh Al Qur’an akan menimbulkan kesan mendalam bagi para pembaca dan pendengarnya.
B. Tafsir Qur’an Surat Al A’raf : 176 - 177
1. Tafsir Al Ahzar
“Dan jika Kami kehendaki, niscaya Kami angkatkanlah dia dengan (ayat-ayat) itu, akan tetapi dia melekat ke bumi dan memperturutkan hawa nafsunya” (pangkal ayat 176)
Artinya, jika Allah menghendaki, dia bisa naik, bisa terangkat ke atas martabat yang mulia, sebab ayat-ayat Allah yang telah diketahuinya itu bisa memberikan cahaya kepadanya, tapi bagaimanalah Allah hendak mengangkatnya, padahal ia sendiri lebih suka lekat ke bumi, sebab hawa nafsunya telah lebih menang atas jiwanya ? Artinya, jiwa itu sudah sangat rusak, maka ayat yang sepatah ini memberikan kita pedoman, bahwa pemberian yang utama dari Allah kepada tiap-tiap manusia ini adalah dasar baik, kita dilahirkan dalam fitrah, tetapi kita sendiri pun diwajibkan berikhtiyar sendiri melatih diri lebih baik, supaya naik martabat kita lebih tinggi. Kalau kita beranggapan bahwa nasib  buruk dan kehancuran yang menimpa diri kita adalah karena takdir Allah, maka faham kita tentang agama sudah tersesat.
“Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami angkat dia.” Demikian sabda Allah. Artinya, Allah tetap bersedia mengangkat manusia naik, asal dia sendiri  tidak ingin hendak lekat saja di bumi karena diikat kakinya oleh hawa nafsunya.
“Maka perumamaannya adalah seperti anjing, yang jika engkau halaukan dia, lidahnya dijulurkannya. Atau engkau biarkan dia, namun lidahnya juga dijulurkannya juga.” Alangkah hinanya perumpamaan yang diambil Allah dari pada orang yang menyilih baju ayat itu dan menukarnya dengan kufur. Laksana anjing, selalu kehausan saja, selalu lidahnya terulur karena tidak puas puas karena tamaknya. Walaupun dia sudah dihalaukan pergi, lidahnya masih terulur, karena masih haus, karena masih merasa belum kenyang, dan walaupun dibiarkan saja, lidahnya diulurkan nya juga.
“Demikianlah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah cerita cerita itu, supaya mereka berfikir.” (ujung ayat 176). Menurut penafsiran dari Ibnu  Jarir at Thabar, “Maka ceritakanlah olehmu wahai Rasul, cerita-cerita yang telah Aku kisahkan kepada engkau ini, tentang berita orang yang telah datang kepada mereka ayat Kami itu, dan berita tentang umat umat yang telah aku kabarkan kepada engkau dalam surat ini, dan berita berita lain yang menyerupai itu. Sampaikan juga betapa akibat siksaan Kami terhadap mereka, sebab mereka telah mendustakan Rasul rasul yang Kami utus. Dan hal seperti itu biasa saja kejadian pada kaum engkau, orang quraisy yang mendustakan engkau, dan yang sebelum engkau dari Yahudi Bani Israil supaya mereka fikirkan hal ini baik-baik, supaya mengambil i’tibar, lalu mereka kembali ke jalan yang benar, mereka taat pada kami. Jangan sampai hendaknya bersua pada diri mereka seumpama telah diderita oleh umat-umat yang terdahulu itu. Dan supaya didengar pula cerita-cerita ini oleh orang-orang Yahudi yang hidup di zamanmu, yang merekapun turunan Bani Israil yang terdahulu juga. Agar mengertilah mereka keadaan engkau yang sebenarnya, bahwa kenabian engkau adalah sah. Sebab segala berita yang Kami sampaikan kepada engkau ini belumlah mereka ketahui selengkapnya. Yang mengetahui serba sedikit hanyalah yang dapat membaca kitab-kitab diantara mereka. Engkau tahu semuanya itu, sedang engkau ummi, tak pandai menulis dan membaca, dan tidak pernah belajar kitab-kitab, dan tidak pernah berguru kepada orang orang yang dianggap pandai. Semuanya ini adalah hujjah, atau alasan yang tegas sekali sebagai pembuktian bahwa engkau memang Rasulullah. Karena engkau mulanya tidaklah mengetahuinya kecuali karena wahyu yang Kami datangkan dari langit”- Demikian kesimpulan penafsiran Ibnu Jarir tentang ujung ayat ini.
“Buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami itu, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat aniaya.” (ayat 177). Allah sendiri mengakui memang amat buruk perumpamaan itu; mereka dimisalkan dengan anjing yang selalu kehausan, selau megulurkan lidah, sebab selalu tidak puas. Perhatikanlah sejak ayat sebelumnya. Tadinya ayat Allah itu telah ada dalam dirinya, lalu dia muntahkan kembali, dia perturutkan pimpinan syaitan, lalu dia tersesat. Mau diangkat naik, dia tidak mau, dia tetap lekat ke bumi, sebab yang berkuasa atas dirinya tidak lagi iman, melainkan nafsu. Sedang batas kehendak nafsu itu tidak ada, kala tidak dibatasi dengan hidayat Allahlah yang mereka dustakan.
2. Tafsir Al Mishbah
Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa dan sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami meyucikan jiwanya dan meninggikan derajat dengannya, yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi dia mengekal, yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan penuh antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaan nya adalah seperti anjing yang selalu mejulurkan lidahnya. Jika engkau mneghalaunya ia mejulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkan nya, yakni tidak menghalaunya ia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang menudstakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka dan siapapun kisah-kisah itu agar mereka berpikir sehingga tidak melakukan apa yang dilakukan oleh yang dikecam ini. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yeng mendustakan ayat-ayat Kami karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya bahkan berbuat dzalim dan terhadap diri mereka sendirilah – bukan terhadap orang lain – mereka terus menerus berbuat zalim.
Kata  (يلهث)yalhats terambil dari kata (لهث), yaitu terengah-engah, karena sulit bernafas seperti yang baru berlari cepat. Penggalan ayat ini mengutarakan fenomena, yaitu bahwa anjing selalu menjulurkan lidah, saat dihalau ataupun dibiarkan. Kedua ayat diatas memberikan perumpamaan tentang siapapun yang sedemikian dalam pengetahuannya, sampai-sampai pengetahuan itu melekat pada dirinya, seperti melekatnya kulit pada daging. Namun ia menguliti dirinya sendiri, dengan melepaskan tuntutan pengetahuannya. Ia diibaratkan seekor anjing yang terengah-engah sambil menjulurkan lidahnya.
3. Tafsir Jalalain
176. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ (Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan dia) kepada derajat para ulama – بِهَا (dengan ayat ayat itu) seumpamanya Kami memberikan taufik / kekuatan kepadanya untuk mengamalkan ayat – ayat itu - وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ (tetapi dia cenderung) yaitu lebih menyukai - إِلَى الْأَرْضِ (kepada tahah) yakni harta benda dan duniawi - وَاتَّبَعَ هَوَاهُ (dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah) dalam doa yang dilakukannya, akhirnya Kami balik merendahkan derajatnya, - فَمَثَلُهُ (Maka perumpamaannya) ciri khasnya - كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ (seperti anjing jika kamu menghalaunya) mengusir dan menghardiknya – يَلْهَثْ (diulurkannya lidahnya) lidahnya menjulur اَوْ (atau) jika - تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ (kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga) sedangkan sifat seperti itu tidak terdapat pada hewan – hewan selain anjing. Kedua jumlah syatat menjadi Hal, ia mnejulurkan lidahnya dalam keadaan terhina dalam segala kondisi. Maksudnya penyerupaan ini ialah mengumpamakan dalam hal kerendahan dan kehinaan, dengan qarinah adanya Fa yang memberikan pengertian tertib dengan kalimah sebelumnya, yakni kecenderungan terhadap duniawi dan mengikuti hawa nafsu rendahnya, juga karena adanya qarinah / bukti firman Nya : ذَلِكَ (demikian itulah) perumpamaan itulah مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ (Perumpamaan orang – rang yang mndustakan ayat – ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah – kisah itu) kepada orang orang Yahudi - لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (agar mereka berpikir) agar mereka mau memikirkan nya hingga mereka mau beriman.
177.  سَاءَ(Amat buruklah) amat jeleklah - مَثَلًا الْقَوْمُ (perumpamaan suatu kaum) yaitu perumpamaan kaum itu - الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُوْنَ (yaitu ornag orang yang mendustakan ayat ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim) dengan mendustakan ayat – ayat itu.

4. Tafsir Al Maraghi
(وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا)
Kalau kami menghendaki agar orang itu Kami angkat denga ayat ayat Kami tersebut dan dengan mengamalkannya kepada derajat – derajat kesempurnaan dan pengetahuan, bisa saja itu kami lakukan. Yaitu Kami buat petunjuk itu menjadi wataknya benar – benar, dan Kami buat dia mesti mengamalkannya, baik dengan suka hati atau terpaksa. Karena bagi Kami itupun tidak sukar. Hanya saja itu bertentangan dengan sunnah Kami.
وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَىهُ))
Akan tetapi, orang itu cenderung dan lebih condong kepada dunia, dan seluruh perhatian dalam hidupnya diarahkan untuk menikmati kelezata – kelezatan jasmani, dan tidak dia arahkan kepada kehidupan rohani sama sekali, namun tak puas – puas juga. Akhirya, hilanglah perhatiannya sama sekali untuk memikirkan ayat – ayat Kami yang telah Kami berikan kepadanya.
Sudah menjadi sunnatullah pada manusia, bahwa Dia memberi ebebasan kepadanya untuk memilih sendiri amalnya yang dia punya kesiapan unutk melakukannya sesuai denga fitrahnya. Supaya balasan yang akan diberikan kepadanya sesuai dengan ap ayang dilakukan oleh tangannya, baik berupa amal baik atau amal buruk dan agar Allah menguji dia tentang perhiasan dan kenikmatan yang tepah Dia ciptakan diatas bumi . kemudian tiap orang dari mereka itu mengarah pada suatu tujuanyang diuskainya. Arah itu dia pilih sebagai suatu tujuan, sesuai denga bkata dan kecenderungan nalurinya. Dan juga menjadi sunnah ilahi bahwa kecendrungan manusia terhadap keinginan – keinginan nafsu dalam segala perbuatan tanpa peduli apa faedahnya, semua itu akan menyesatkan dari jalan yang mengantarkan dia kepada jalan sesat yang menjerumsukan kepada kehancuran.
فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ))
Sesungguhnya  orang ini, dengan sifat seperti ini, dia bagaikan anjing dalam kelakuannya yang terburuk dan paling hina. Karena dengan lebih condong dan cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya, maka ornag itu pun menjadi makhluk yang terburuk dan paling hina. Karena ia senantiasa ingin dan tak pernah berhenti, sibuk ingin mengumpulkan kekayaan duniawi dan kemewah mewahannya., dari yang sekecil kecilnya sampai sebesar besarnya. Bagaikan budak – budak nafsu dan para penyembah harta. Anda lihat seorang dari mereka seperti orang yang menjulurkan lidahnya karena kepayahan dan letih, sekalipun apa yang dia cari itu sebenarnya barang yang hina, yang tak perlu meletihkan dan memayahkan.
(ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ)
Contoh yang sangat ganjil itu adalah perumpamaan dari kaum yang ingkar terhadap ayat – ayat Kami dan angku untuk menerimanya, baik karena bodohnya terhadap ayat – ayat itu atau karena taklid kepada bapak bapak dannenek moyang mereka. Mereka menyangka kalau mereka beriman pada ayat –ayat itu, maka mereka akan kehilangan pamor dan jatuhlah derajat mereka. Bahkan tak bisa lagi memperoleh kelezatan – kelezatan yang dapat mereka nikmati seingga hal itu menjadi penghalang bagi mereka untuk memperhatikan ayat ayat tersebut dengan penuh pemikiran dan pembuktian.
 ( فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ)
Maka ceritakanlah hai Rasul yang mulia, isah kisah tentang orang yang menyerupai keadaannya dengan keadaan mereka yang mendustakan ayat – ayat yang terang yag kamu bawa. Dengan kisah – kisah itu diharapkan mereka mau memikirkannya, sehingga keadaan mereka yang buruk dan perumpamaan mereka yang jelek akan menyebabkan mau berlama lama memperhatikan dan berpikir dnegan pikiran yang jernih tentang keadaan diri mereka, dan mau memandang ayat ayat Allah dengan mata hatinya, bukan dengan mata nafsu dan sikapnya yang bermusuhan.
( سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُوْنَ)
Amat buruklah sifat orang orang yang mendustakan ayat – ayat Kami dan kepada diri mereka sendiri merek berbuat zalim. Dan betapa jelek perumpamaan mereka dalam berbagai perumpamaan. Karena mereka berpaling dari memikirkan ayat – ayat Kami dan hanya memandang padanya dengan pandangan bermusuhan dan kebencian. Dengan perbuatan mereka seperti itu, mereka sebenarnya malah menganiaya diri sendiri, karena mereka mengharamkan diri mereka untuk mengamalkan ayat – ayat tersebut dan menjadiaknnya sebagai jalan yang akan menyampaikan mereka kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

C. Aplikasi dalam Kehidupan
Aplikasi dalam kehidupan dari QS Al A’raf : 176 – 177 :
1. Mengamalkan ilmu di jalan Allah
2. Beriman dan bertaqwa kepada Allah
3. Berakhlak mulia
4. Selalu meneladani kesalehan tokoh – tokoh dalam AL qur’a
5. Selalu menjauhi sikap dan perbuatan tokoh – tokoh yang dzalim dalam Al Qur’an
6. Memahami kekuasaan Allah dimana Dia bisa berbuat apa saja ynag dikehendakinya
7. Sebagai guru harus mampu mendesain materi dan tujuan pembelajaran dalam bentuk cerita.

D. Aspek Tarbawi
1. Kisah dalam Al Qur’an menunjukkan betapa tingginya i’jaz Al Qur’an yang mampu menampilkan sesuatu dengan berbagai pola untuk menarik respon pendengarnya.
2. Allah memerintahkan agar menceritakan kisah dalam QS. Al-A’rof ayat 176-177.
3. Dalam dunia pendidikan, kisah merupakan salah satu media untuk menembus relung jiwa manusia dalam menyampaikan nilai tanpa menimbulkan rasa jenuh, kesal dan bosan sesuai dengan fitrahnya.
4. Dalam proses pembelajaran tersebut, peserta diidk disodori dengan berbagai sejarah dan cerita, dengan harapan dari sejarah dan cerita tersebut, mereka mampu membuat analog yang logis untuk kebaikan masa depannya.
5. Dalam perspektif teori pendidikan, cerita atu kisah merupakan bentuk menyampaika pesan penting terhadap anak didik tanpa harus menyertakan instruksi yang bermuatan keseriusan. Bahkan kisah dapat membangkitkan imajinasi anak didik.



BAB III
PENUTUP


Simpulan

kisah berarti pemberitaan Al Qur’an tentang hal ihwal ummat, nubuwwah (kenabian) dan peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, dan jika dikaitkan dengan informasi, kisah berarti berita yang berurutan. Al Qish-shah dalam Al Qur’an digunakan oleh Allah untuk menyampaikan keteladanan generasi terdahulu untuk diikuti generasi yang akan datang.
Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk menceritakan kisah itu kepada manusia dan menjelaskan dalam hal ini dapat mendorong orang-orang yang mendengarnya untuk berfikir dan mengambil pelajaran. Dan perintah ini datang secara tegas dalam sebuah ayat dari QS. Al-A’rof ayat 176-177.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahalliy, Imam Jalalud-din dan Imam Jalalud-din As-Suyuthi. 1990.  Terjemah                                      Tafsir Jalalain berikut Asbaabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. 1994. Tafsir Al-Maragi. Semarang: CV Toha Putra.
Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juzu’9. Jakarta: PT Pustaka Panjimas.
Munir, Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
Shihab, M.Quraish. 2005. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Yusuf, M.Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi. Jakarta: Amzah.


BIOGRAFI PENULIS



Nama : Inasil Khurroh
TTL : Pekalongan, 22 februari 1993
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Ds. Kertijayan Gang 6. Buaran Pekalongan
Status : Mahasiswa
Hubungan : Lajang
Hobby : nyanyi
Motto : berjuang dan bermanfaat
Pendidikan :
1. MIS Kertijayan (1999-2005)
2. MTsS SimbangKulon (2005-2008)
3. MAS SimbangKulon (2008-2011)
4. S1 Pendidikan Agama Islam di IAIN Pekalongan (2015-Sekarang)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar