Laman

Jumat, 25 November 2016

tt1 C 12d “METODE DIALOGIS” (QS. ASH-SHAFFAT : 102)


METODE PENDIDIKAN KHUSUS 
“METODE DIALOGIS” 
(QS. ASH-SHAFFAT : 102)


Lamia Safitri    (2021115359)
Kelas C

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah atas segala kemudahan yang diberikan kepada penulis , sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang tepat. Tak lupa shalawat serta salam senantiasa tercurahkaan untuk baginda Nabi Muhammad SAW,yang kita nantikan syafaatnya di Yaumul Kiyamah.
Ucapan terimakasih pula penyusun sampaikan kepada :
1.      Ayah dan Ibu yang senantiasa memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis.
2.      Bapak Muhammad Ghufron, M.S.I, selaku dosen matakuliah Tafsir Tarbawi I, yang telah memberikan amanah untuk menyelesaikan tugas ini
3.      Teman-teman yang senantiasa memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari , bahwa  makalah  ini masih jauh dari kata sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan. Baik dari segi penyusunan dan pemilihan kata . Oleh karena itu, penulis mengharap saran dan kritik dari pembaca yang membangun ,sebagai bahan evaluasi agar dalam tahap penyusunan lebih baik lagi.
Semoga makalah tafsir tarbawi ini bermanfaat bagi masyarakat luas pada umumnya, dan bagi para mahasiswa khususnya.


Pekalongan, 26 November 2016
Penyusun
Lamia Safitri
2021115359







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Di dalam Al Qur’an ada ayat-ayat tentang pendidikan atau tarbiyah, baik secara tersirat maupun tersurat.Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran.Ada dua buaj konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, belajar (learning) dan pembelajaran(instruction).Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Metode mengajar dalam dunia pendidian perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi prubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya.
B.     Judul Makalah
Sesuai dengan yang sudah di tugaskan oleh Bapak dosen Muhammad Hufron, selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi 1.Memberikan Judul ‘Metode Pendidikan Khusus “Metode Dialogis”(QS. Ash-Shaffat: 102)’’ adapun kajian yang di bahas dalam makalah ini mengenai ‘’Metode Dialogis’’.
C.    Nash dan Terjemahan Qs. Ash- Shaffat ayat 102
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!"Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"

D.    Arti penting pengkajian materi
Dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 dapat dipahami meneladani kisah Nabi Ibrahim a.s. dalam melakukan interaksi pendidikan terhadap Nabi Ismail a.s. Nabi Ibrahim yang dijuluki “Khalilullah” (kekasih Allah) memberikan keteladanan yang luar biasa dalam melakukan pendidikan  terhadap  keluarga  dan  anak-anaknya.  Karena  dari  kisah-kisah beliau    dapat  kita  ambil  pelajarannya  sampai  sekarang.
Keberhasilan Nabi Ibrahim a.s  membina keluarga bahagia sejahtera ditunjukkan oleh banyak indikator, diantaranya adalah dialog atau interaksi antara bapak dan anak yang tidak pernah putus sepanjang hayat.Salah satu kisah teladan beliau dalam melakukan dialog atau interaksi pendidikan Islam terhadap Nabi Ismail adalah kisah penyembelihan qurban yang dinarasikan dalam kitab suci Al Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102 dari kisah itu tersirat beberapa nilai spiritual yang sangat luhur. Bukan saja mendasari kesejahteraan keluarga Nabi Ibrahim a.s tetapi juga menghembuskan angin segar bila sebuah pendidikan Islam itu dapat meneladani kisah beliau bersama Nabi Ismail a.s. Karena beliau  memiliki karakter pendidik yang sangat demokratis sehingga dapat  menciptakan anak didik yang sangat patuh, dan sikap patuh tersebut adalah salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan Islam.
Dalam  surat  Ash-Shaffat  ayat  102  Nabi Ibrahim telah  berhasil melakukan interaksi pendidikan Islam karena beliau telah meyakinkan Nabi Ismail untuk rela dijadikan qurban. Tentunya dalam mendidiknya tersebut beliau menggunakan metode dan bahasa yang tepat yang mudah difahami oleh si  anak.  Agar  anaknya  dapat  menerima  dengan  baik  dan  melaksanakan perintah Allah tanpa merasa terbebani.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori
1.      Pengertian Metode
Kata metode berasal dari bahasa latin methodos yang berarti jalan yang harus dilalui. Dalam kamusbahasa indonesia kontemporer disebutkan bahwa metode merupakan cara yang teratur dan ilmiah dalam mencapai maksud untuk memperoleh ilmu atau juga merupakan cara mendekati, mengamati, menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena dengan menggunakan landasan teori.[1]
2.      Pengertian Dialog
Kata dialog (dialogue) berasal  dari kata “di” artinya “dua”, lawan dari dialog adalah “monolog” (monologue) dari kata “mono” artinya “satu”. Dari sudut pandang ilmu komunikasi dialog merupakan komunikasi dua arah, dan monolog merupakan komunikasi satu arah.
Dialog dapat diartikan sebagai “percakapan” dan “cara berhubungan” antarpersonal. Dialog merupakan proses komunikasi kecil di mana para peserta dapat mengatakan atau mendengar sesuatu yang mereka belum pernah katakan dan dengar sebelumnya, dan dari situah bertumbuh perubahan sikap saling memberi dan menerima di antara mereka. Dialog merupakan salah satu pendekatan dalam komunikasi yang menekankan sikap dan perilaku, mendengarkan, belajar, dan menembangkan pemahaman bersama.[2]
3.      Pengertian metode dialogis
Metode dialogis adalah metode yang disajikan dalam bentuk dialog atau percakapan antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi yang bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah.[3]

B.     Penafsiran QS. Ash-Shaffat ayat 102
1.      Tafsir Al-Misbah
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala ia telah mencapai usia berusaha bersamanya, ia berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”Ia menjawab: “Hai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk para penyabar.”
Ayat sebelum ini menguraikan janji Allah kepada Nabi Ibrahim as.Tentang perolehan anak. Demkianlah hingga tiba saatnya anak tersebut lahir dan tumbuh berkembang, maka tatkala ia yakn sang anak itu telah mencapai usia yang menjadikan ia mampu berusaha bersamanya yakni bersama Nabi Ibrahim, ia yakni Nabi Ibrahim berkata sambil memanggil anaknya dengan panggilan mesra: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu dan engkau tentu tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu Ilahi. Jika demikian itu halnya, maka pikirkanlah apa pendapatmu tentang mimpi yang merupakan perintah Allah itu!”Ia yakni sang anak menjawab dengan penuh hormat: “Hai bapakku, laksanakanlah apa saja yang sedang dan akan diperintahkan kepadamu termasuk perintah menyembelihku; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk kelompok para penyabar.”
Nabi Ibrahim as.Menyampaikan mimpi itu kapada anaknya. Ini agaknya karena beliau memahami bahwa perintah tersebut tidak dnyatakan sebagai harus memaksakannya kepada sang anak. Yang perlu bahwa ia brkehendak melakukannya. Bila ternyata sang anak membangkang, maka itu adalah urusan ia dengan Allah. Ia ketika itu akan dinilai durhaka, tidak ubahnya dengan anak Nabi Nuh as. Yang membangkang nasihat orang tuanya.
Ayat diatas menggunakan bentuk kata kerja mudhari’ (masa kini dan datang) pada kata-kata (أري) ara/ saya melihat dan (أذبحك) adzbahuka/ saya menyembelihmu. Demikian juga kata (تؤمر) tu’mar/ diperintahkan. Ini untuk mengisyaratkan bahwa apa yang beliau lihat itu seakan-akan masih terlihat hingga saat penyampaiannya itu. Sedang penggunaan bentuk tersebut untuk kata menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa perintah Allah yang dikandung mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya segera dilaksanakan. Karena itu pula jawaban sang anak menggunakan kata kerja masa kini juga untuk mengisyaratkan bahwa ia siap, dan bahwa hendaknya sang ayah melaksanakan perintah Allah yang sedang maupun  yang akan diterimanya.
Ucapan sang anak: (افعل ما تؤمر) if’al ma tu’mar/ laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, bukan berkata: “sembelihlah aku”, mengisyaratkan sebab kepatuhannya, yakni karena hal tersebut adalah peritah Allah swt. Bagaimanapun bentuk, cara dan kandungan apa yang diperintahkan-Nya, maka ia sepenuhnya pasrah. Kalimat ini juga dapat merupakan obat pelipur lara bagi keduanya dalam menghadapi ujian berat itu.
Ucapan sang anak: (ستجدني إن شاءاللّه من الصّابرين) satajiduni insya Allah min ash-shabirin/ engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk para penyebar, dengan mengaitkan kesabarannya dengan kehendak Allah, sambil menyebut terlebih dahulu kehendak-Nya, menunjukkan betapa tinggi akhlak dan sopan santun sang anak kepada Allah awt. Tidak dapat diragukan bahwa jauh sebelum peristiwa ini pastilah sang ayah telah menanamkan dalam hati dan benak anaknya tentang keesaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang indah serta bagaimana seharusnya bersikap kepada-Nya. Sikap dan ucapan sang anak yang direkam oleh ayat ini adalah buah pendidikan tersebut.[4]
2.       Tafsir Al-Azhar
“Maka setelah sampai anak itu dapat berjalan bersamanya.” (pangkal ayat 102). Anak yang sudah dapat berjalan bersama ayahnya ialah di antara usia 10 dengan 15 tahun. Keadaan itu ditonjolkan dalam ayat ini, untuk menunjukkan batapa tertumpahnya kasih Ibrahim kepada anak itu.
Suatu waktu dibawalah Ismail oleh Ibrahim berjalan bersama-sama.Di tengah jalan, “berkatalah dia: “sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasannya aku menyembelih engkau. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu!”
Dengan kata-kata yang halus mendalam, si ayah berkata kepada si anak, yaitu ayah yang telah tua, berusia lebih dari 90 tahun, dan anak yang dihadapi adalah anak yang berpuluh tahun lamanya ditunggu-tunggu, dan sangat diharapkan. Dalam pertanyaan ini Tuhan telah membayangkan kepada ita bagaimana seorang manusia yang terjadi dari darah dan daging, sebab itu merasa juga sedih dan rawan, tetapi tidak sedikit juga ragu atau bimbang bahwa dia adalah Nabi!
Disuruhnya anaknya memikirkan mimpinya itu dan kemudian diharapnya anaknya menyatakan pendapat.
Tentu Ismail sejak dari mulai tumbuh akal telah mendengar, baik dari ibu nya sendiri Hajar, atau daru orang lain di sekelilingnya, khadam-khadam dan orang-orang yang mengelilingi ayahnya, sebab ayahnya pun seorang yang mampu, telah didengarnya jua siapa ayahnya. Tentu sudah didengarnya bagaimana ayah itu bersedia dibakar, malahan dengan tidak merasa ragu sedikit jua pun dimasukinya api yang sedang nyala itu, karena dia yakin bahwa pendirian yang dia pertahankan adalah benar. Demikian pula mata-mata rantai dari percoabaan hidup yang dihadapi oleh ayahnya, semuanya tentu sudah diketahuinya. Dan tentu sudah didengarnya juga bahwasanya mimpi ayahnya bukanlah semata-mata apa yang disebut rasian, yaitu khayalan kacau tak tentu ujung pangkal yang dialami orang sedang tidur. Oleh sebab itu tidaklah lama Ismail nmerenungkan dan tidaklah lama dia tertegun buat mengeluarkan pendapat.
“berkata dia: yaitu Ismail “Ya ayahku! Perbuatlah apa yang diperintahkan kepada engkau. Akan engkau dapati aku Insya Allah termasuk orang yang sabar.” (ujung ayat 102).
Alangkah mengharukan jawaban si anak. Benar-benar terkabul doa ayahnya memohon diberi keturunan yang terhitung orang yang shalih. Benar-benar tepat apa yang dikatakan Tuhan tentang dirinya, yaitu seorang anak yang sangat penyabar. Dia percaya bahwa mimpi ayahnya adalah wahyu dari Allah, bukan mimpi sebarang mimpi. Sebab itu dianjurkannya ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan. Bukanlah dia berkata agar ayahnya memperbuat apa yang bertemu dalam mimpi.[5]

3.      Tafsir Ibnu Katsir
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala anak itu telah sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”Maka anaknya itu menjawab, “Hai bapakku!Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, insya Allah, kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar.” (102)
Firman Allah Ta’ala, “Maka tatkala anak itu telah sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim,” yaitu menjadi besar dan dewasa serta dapat pergi bersama ayahnya dan sanggup melaksanakan pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Sesungguhnya Ibrahim memberitahukan kepada anaknya dengan cara seperti  itu agar lebih mudah dterima oleh anaknya dan dengan maksud menguji kesabaran, ketuguhan, dan keistiqamahan anaknya di kala masih kecil dalam menaaati Allah dan menaati ayahnya. Maka dia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, yakni laksanakanlah perintah Allah untuk menyembelihku itu, Insya Alllah, kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar,” Aku akan bersabar dan mengharapkan pahala-Nya dari sisi-Nya.
Kemudian Ismail, semoga shalawat dan rahmat Allah tercurah kepadanya, telah melakukan janjinya itu dengan benar, sebagaimana firman-Nya, “Dan ingatlah di dalam kitab itu tentang Ismail. Sesungguhnya dia adalah benar dalam janjinya.Dan dia adalah seorang rasul lagi seorang nabi.Memerintahkan keluarganya untuk menegakkan shalat.Dan dia di sisi Tuhannya direstui.”[6]
C.    Aplikasi dalam Kehidupan
1.      Mengarahkan anak kepada jalan yang di ridhoi Allah
2.      Mendidik melalui pembiasaan anak untuk melakukan kebaikan
3.      Memberikan motivasi kepada anak
4.      Mengajarkan pelajaran tauhid kepada anak
5.      Sabar dan ridho terhadap takdir Allah
6.      Mengajarkan kasih sayang dan menghormati
D.    Aspek Tarbawi
1.      Untuk mengetahui interaksi pendidikan islam yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
2.      Memberikan masukan kepada orang tua atau guru tentang bagaimana melakukan interaksi pendidikan terhadap anaknya sesuai dengan tuntunan di dalam Al-Qur’an
3.      Memberikan masukan kepada orang tua atau guru agar dapat mencontoh islam dalam mendidik anak
4.      Memberikan pengetahuan tentang keteladanan sosok seorang ayah dan seorang anak yang sangat beriman, taat, tawakkal dan taqwa kepada Allah dan sabar dalam menghadapi cobaan
5.      Cara dialog akan melatih berargumentasi, kesabaran dan ketangguhan sehingga akan ditemukan kesamaan persepsi tentang visi dan misi pendidikan
6.      Tercipta interaksi pendidikan yang harmonis

           



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode dialogis adalah metode yang disajikan dalam bentuk dialog atau percakapan antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi yang bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah.
Ayat al-qur’an yang berkaitan dengan metode pembelajaran dan mengajar dalam perspektif al-qur’an salah satunya terdapat pada surat ash-shaafat ayat 102. Di dalam surat ash-shaafat ayat 102 menerangkat metode dialogis dengan dialog antara nabi ibrahim dan nabi ismail.













Daftar Pustaka
Ar-rifa’i Muhammad Nasib. 2000. Taisiru Al-aliyul Qadir Li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir
Jilid 4. Jakarta:Gema Insani Press.
Hamka. 1994.Tafsir Al Azhar Juzu’ XXIII. Jakarta:Pustaka Panjimas.
(diakses pada tanggal 26 November 2016 pukul 09.00)
Liliweri Alo. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta:Kencana Prenada Media Grup.
M. Quraish Shihab. 2006. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan keserasian Al-qur’an. Jakarta:Lentera Hati.
Suprihatiningrum Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Jogjakarta:Ar-ruz Media











Profil


Nama: Lamia Safitri
Nim :2021115359                             
Alamat : Ds. Ambokembanggg 6 Kedungwuni pekalongan
Tanggal lahir: Pekalongan, 6 Mei 1996
Riwayat pendidikan :
-          MI Walisongo Ambokembang 01
-          SMP Islam Walisongo kedungwuni
-          MAN 02 Pekalongan
-          IAIN Pekalongan (masih semester 3)






[1]Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media,2013) hlm 154
[2]Alo Liliweri, Komunikasi Serba Ada serba Makna (Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2011) hlm 397
[4]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-qur’an (Jakarta:Lentera Hati,2002) hlm 63
[5]Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXIII (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1994) hlm 143-144
[6]M. Nasib Ar-Rifa’i, Taisiru Al-Aliyyul Qadir Li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 (Jakarta:Gema Insani Press,2000) hlm 39-40

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar