Laman

Senin, 26 September 2011

ilmu akhlak (1) kelas F


MAKALAH
PENGERTIAN RUANG LINGKUP DAN URGENSI ETIKA (ILMU AKHLAK) SERTA POSISI ETIKA
(ILMU AKHLAK) SEBAGAI BAGIAN DARI FILSAFAT
Makalah ini disusun  guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron M.Si


Disusun oleh :
1.        Edward Muslim           2021 111 236
2.        Ana Miftahul Janah     2021 111 237
3.        Laila Zulfa                   2021 111 238
4.        Hani Ammaria             2021 111 279


Sekolah tinggi AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011
PENDAHULUAN
            Etika dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Apabila etika dalam kehidupan sehari – hari baik, maka dapat mengangkat status derajat yang lebih tinggi untuk dirinys. Bila etikanya rusak, maka rendahlah derajatnya melebihi hewan.
            Kemuliaan seseorang itu terletak pada akhlak maupun etikanya. Bila kehidupannya baik maka kehidupannya akan tentram, aman, dan nyaman. Seseorang yang berakhlak mulia dia akan bersungguh – sungguh dalam melaksanakan kewajibannya baik kepada Tuhannya maupun kepada sesama.
            Berakhlak buruk akan menjadi sorotan masyarakt sekelilingnya, melanggar norma – norma dan memiliki sifat tercela. Maka demikian seperti mencerminkan sifat jaman jahiliah yang sampai sekarang belum sepenuhnya menghilang. Disini penulis akan mengulas sedikit mengenai etika dan juga manfaatnya.













PEMBAHASAN

Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos, yang dalam bentuk tunggalnya mempunyai banyak arti : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah : adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles (384-322 SM) sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat moral.1
Dalam kamus besar bahasa Indonesia dikatakan bahwa etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).2 Etika juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral).3
Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari – hari ada sedikit perbedaan. Moral dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan Etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai – nilai yang ada.4

B.       Etika sebagai cabang filsafat
Etika merupakan cabang dari filsafat. Etika mencari kebenaran dan sebagai filsafat ia mencari keterangan (benar) yang sedalam – dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi Etika, ia mencari ukuran baik-buruknya bagi tingkah-laku manusia. Etika hendak mencari tindakan manusia manakah yang baik.5
Ada beberapa poin penting yang membahas etika sebagai cabang filsafat, yaitu :
1.      Moralitas: Ciri Khas Manusia
Banyak perbuatan manusia berkaitan dengan baik atau buruk, tapi tidak semua. Ada juga perbuatan yang netral dari segi etis. Dengan kata lain, moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal.
Tapi bukan saja moralitas merupakan suatu dimensi nyata dalam hidup setiap manusia, baik pada tahap perorangan maupun pada tahap sosial, kita harus mengatakan juga bahwa moralitas hanya terdapat pada makhluk lain. Makhluk yang paling dekat dengan manusia tentunya binatang. Karena itu dalam filsafat dimasa lampau acap kali diusahakan untuk menentukan kekhususan manusia dengan membandingkannya dengan binatang. Banyak filsuf berpendapat bahwa manusia adalah binatang-plus: binatang dengan ditambah suatu perbedaan khas.
Manusia adalah binatang-plus karena mempunyai kesadaran moral. Moralitas merupakan suatu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk di bawah tingkat manusiawi. Binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan.
2.      Etika: Ilmu tentang Moralitas
Etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Suatu cara lain untuk merumuskan hal yang sama adalah bahwa etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral. Tetapi ada pelbagai cara untuk mempelajari moralitas atau pelbagai pendekatan ilmiah tentang tingkah laku moral. Disini dibagi atas tiga pendekatan yang dalam konteks ini sering diberikan, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.
a.       Etika Deskriptif
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Misalnya, adat kebiasaan, anggapan – anggapan tentang baik dan buruk, tindakan – tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu - individu tertentu, dalam kebudayaan – kebudayaan atau subkultur – subkulturyang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya. Karena etika deskriptif hanya melukiskan, ia tidak memberi penilaian.
b.      Etika Normatif
Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral. Di sini ahli bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia
Hal yang sama bisa dirumuskan juga dengan mengatakan bahwa etika normatif itu tidak deskriptif melainkan preskriptif (memerintahkan), tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Untuk itu ia mengadakan argumentasi – argumentasi. Jadi, ia mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk dan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk dan mengapa suatu anggapan moral dapat dianggap benar atau salah.
Secara singkat dapat dikatakan, etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek.
Etika normatif dapat dibagi lebih lanjut dalam etika umum dan etika khusus.
1)    Etika umum memandang tema – tema umum.
2)   Etika khusus berusaha menerapkan prinsip – prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.

c.       Metaetika
Awalan meta (dari bahasa Yunani) mempunyai arti “melebihi”, “melampaui”. Istialh ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan – ucapan kita dibidang moralitas. Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang kita pergunakan di bidang moral. dapat dikatakn juga bahwa metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.
Setelah mempelajari tiga cara untuk mempraktekkan etika ini, bisa disimpulkan bahwa dalam studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filosofis dan pendekatan filosofis. Pendekatan non-filosofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filosofisbisa sebagai etika normatif dan bisa juga sebagai metaetika atau etika analitis.
Dari suatu sudut pandang lain etika dapat dibagikan juga kedalam pendekatan normatif dan pendekatan non-normatif. Dalam pendekatan normatif si peneliti mengambil suatu posisi atau standpoint moral: hal itu terjadi dalam etika normatif (bisa etika umum dan bisa juga etika khusus). Dalam pendekatan non-normatif si peneliti tinggal netral terhadap setiap posisi moral: hal itu terjadi dalam etika deskriptif dan metaetika.

3.      Hakikat Etika Filosofis
Etika adalah refleksi ilmiah tentang tingkah llaku manusia dari sudut norma-norma atau dari sudut baik dan buruk. Segi normatif itu merupakan sudut pandang yang khas bagi etika, dibandingkan dengan ilmu – ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia.
Etika termasuk filsafat dan malah dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. Dalam konteks filsafat Yunani kuno, etika sudah terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Etika adalah ilmu, kita katakan tadi, tapi sebagai filsafat ia tidak merupakan suatu ilmu empiris. Sedangkan yang biasanya dimaksudkan dengan ilmu adalah justru ilmu empiris, artinya ilmu yang didasarkan pada fakta dan dalam pembicaraanya tidak pernah meninggalkan fakta. Ilmu-ilmu itu bersifat empiris, karena seluruhnya berlangsung dalam rangka empiri (pengalaman inderawi), yaitu apa yang dapat dilihat,didengar, dicium, dan sebagainya. Ilmu empiris berasal dari observasi terhadap fakta-fakta dan jika ia berhasil merumuskan hukum-hukum itu harus diuji lagi dengan berbalik kepada fakta-fakta.
Semua cabang etika membahas “yang harus dilakukan”. Karena itu etika tidak jarang disebut juga “filsafat praktis”. “Praktis”, karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia.
C.       Peranan Etika dalam dunia Modern
Setiap masyarakat mengenal nilai – nilai dan norma – norma etis. Dalam masyarakat yang homogen dan agak tertutup masyarakt tradisional, katakanlah nilai – nilai dan norma – norma itu praktis tidak pernah dipersoalkan. Dalam keadaan seperti itu secara otomatis orang menerima nilai dan norna yang berlaku.6
Setiap sesuatu hal pasti memiliki tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang dikehendaki, baik individu maupun kelompok. Tujuan etika (akhlak) ialah melakukan sesuatu tindakn atau tidak melakukannya. Ilmu akhlak akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini dapat dillihat antara lain sebagai berikut:
1.      Pada dasarnya etika (ilmu akhlak) bersumber pada Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang baik dan buruknya tingkah laku seseorang.
2.      Pokok pembahasan akhlak adalah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilai yang baik dan buruk
3.      Etika (akhlak) terbagi menjadi dua yaitu:
Ø  Etika (akhlak) yang baik ialah akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits.
Ø  Etika (akhlak) yang tidak baik ialah akhlak yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an.
Oleh sebab itu sebagai manusia haruslah berakhlak baik sesuai Al-Qur’an dan hadits karena akhlak seseorang tercermin pada kepribadiannya. Baik buruknya seseorang dapat dilihat dari akhlaknya.7






KESIMPULAN
        Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Etika juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral). Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari – hari ada sedikit perbedaan. Moral dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan Etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai – nilai yang ada.
Etika merupakan cabang dari filsafat. Etika mencari kebenaran dan sebagai filsafat ia mencari keterangan (benar) yang sedalam – dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi Etika, ia mencari ukuran baik-buruknya bagi tingkah-laku manusia. Etika hendak mencari tindakan manusia manakah yang baik.
Pada dasarnya etika (ilmu akhlak) bersumber pada Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang baik dan buruknya tingkah laku seseorang. Tujuan etika (akhlak) ialah melakukan sesuatu tindakn atau tidak melakukannya.
Rasulullah Saw. Bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai sesuatuyang luhur dan membenci sesuatu yang hina.”
Abi Thayib berkata :
“Cita-cita akan tercapai sejauh orang-orang akan bercita-cita. Kemuliaan akan tercapai sejauh seseorang berbuat mulia.”







DAFTAR PUSTAKA

-          Bertens, K. 1999. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka.
-          Abdullah, M. Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalm Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
-          Zubair, Achmad Charris. 1995. Kuliah Etika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
-          De Vos, H. 1987. Pengantar Etika. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
-          Supriadi. 2008. Etika dan Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar