Laman

Minggu, 04 Desember 2011

sbm (2) Kelas B


MAKALAH
GURU: ANTARA PENGAJAR, PENDIDIK, DAN PEMBELAJAR
Disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.Si.
Kelas B
Disusun Oleh:
Dian Meilarsih       202109072
Istiqomah                202109082
Robiatul Adawiyah  202109096
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN 2011

PENDAHULUAN
Dunia pendidikan adalah dunia guru, rumah rehabiltitasi peserta didik. Dengan sengaja guru berupaya mengerahkan tenaga agar peserta didik dapat keluar dari tali kebodohan.
Dimana guru tidak hanya sebagai pengajar, namun guru juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dalam menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai materi pembelajaran, menguasai kelas dan mengendalikan perilaku anak didik, menjadi teladan, membangun kebersamaan, menghidupkan suasana belajar, selain itu guru  harus dapat membuat suasana ruangan yang menyenangkan,serta nyaman dengan demikian proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik. Dalam makalah ini, kami akan menguraikan beberapa materi mengenai persamaan dan perbedaan istilah mengajar, mendidik, dan pembelajar, makna dan hakikat guru, tugas dan fungsi guru, gaya-gaya mengajar guru, serta prinsip- prinsip mengajar.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.





Guru: Antara Pengajar, Pendidik, dan Pembelajar
A.       Persamaan dan Perbedaan Istilah Mengajar, Mendidik, dan Pembelajar
Jika dilihat dari segi asal katanya, mengajar adalah memberi pelajaran, semisal pelajaran matematika, memberi pelajaran bahasa, memberi pelajaran geografi, agar siswa yang diajar itu mengetahui dan paham tentang bahan yang diajarkan tadi. Sedang mendidik adalah memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Menurut umum, mengajar diartikan sebagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa/anak didik. Jadi mengajar lebih cenderung kepada transfer of knowledge.
 Mendidik  dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu mendidik dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak anak didik. Dibandingkan dengan pengertian mengajar, maka pengertian mendidik lebih mendasar. Mendidik tidak sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values. Berkait dengan soal pembentukan kepribadian anak didik, maka mendidik juga harus merupakan usaha untuk memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses internalisasi nilai-nilai pada dirinya, sehingga akan lahir suatu sikap yang baik.[1]
Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator (pembelajar) semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan oang dewasa (andragogi), khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat top-down ke hubungan kemitraan. Dalam hubungannya yang bersifat top down, guru seringkali diposisikan sebagai atasan yang cenderung bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan pawang. Sementara siswa lebih diposisikan sebagai bawahan yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki guru. Berbeda dengan hubungan top-down, hubungan kemitraan antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana  belajar yang demokratis dan menyenangkan.[2]
Peran guru sebagai fasilitator, merubah paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku.
Perbedaan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru adalah sebagai berikut :
Pembelajaran berpusat pada guru
Pembelajaran berpusat pada siswa
Ø Guru sebagai pengajar
Ø Penyampaian materi pelajaran dominan melalui ceramah
Ø Guru menentukan apa yang akan diajarkan dan bagaimana siswa mendapatkan informasi yang mereka pelajari
Ø Guru sebagai fasilitator dan bukan penceramah
Ø Fokus pembelajaran  pada siswa bukan Guru
Ø Siswa aktif belajar
Ø Pembelajaran bersifat interaktif
Perbedaan kegiatan siswa dan Guru pada strategi mengajar berpusat pata siswa :
Kegiatan guru pada strategi mengajar yang berpusat pada Guru
Kegiatan siswa pada strategi mengajar yang berpusat pada siswa
·      Membacakan
·      Menjelaskan
·      Memberikan intruksi
·      Memberikan Informasi
·      Berceramah
·      Pengaruh tugas – tugas
·      Membimbing dalam Tanya jawab
·      Bermain peran
·      Menulis dengan kata – kata sendiri
·      Belajar kelompok
·      Memecahkan masalah
·      Diskusi
·      Mempraktikan ketrampilan
·      Melakukan kegiatan penyidikan

B.       Makna dan Hakikat Guru
1.        Makna Guru
Makna guru (pendidik) sebagaimana dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003, Bab I, Pasal 1, ayat 6 adalah tenaga kependidikanyang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi juga bisa di masjid, di surau / mushola, di rumah, dan sebagainya.
Makna guru atau pendidik pada prinsipnya tidak hanya mereka yang mempunyai kualifikasi keguruan secara formal diperoleh dari bangku sekolah/perguruan tinggi, melainkan yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam matra kognitif, afektif dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil dalam melaksanakan aktivitas secara afektif dan efisien, serta tepat guna.[3]
Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan kawan-kawan  dalam buku Zaenal Mustakim, M.Ag. tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti di bawah ini:
1.    Takwa kepada Allah SWT
2.    Berilmu
3.    Sehat jasmani
4.    Berkelakuan baik
Tugas guru sangat banyak, baik yang terikat dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Tugas di luar kedinasan dapat dikatakan sebagai tugas pengabdian yang tidak terbatasi oleh ruang lingkup waktu dan tempat, tugas ini meliputi profesi, kemanusiaan dan kemasyarakatan.
2.        Hakikat Guru
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua 1991, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005 Pasal 2, guru dikatakan sebagai tenaga profesional yang mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dam sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.[4]
Hakikat guru tidak hanya menjadi seorang diri, akan tetapi menyatu dalam semua keragaman. Artinya, guru harus pandai menyatukan keragaman peserta didiknya dari tingkat kemampuan tingkat intelektual, keragaman dalam bercakap, keragaman kepribadian hingga keragaman kecenderungan yang di dasari oleh bakat mereka.
Hakikat guru tersebut menuntut adanya kepribadian secara personal dan sosial. Kepribadiannya yang dimaksud adalah guru mempunyai karakter khusus yang menojol dan berbeda dengan apa yang dimiliki orang lain dalam hal kebaikan . Hakikat personal mengarah pada model perilaku yang dapat dijadikan teladan dan hakikat sosial menuju pada mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hakikat guru adalah:
a.    Orang yang memiliki minat, tidak pernah lelah dan bosan mencari atau menambah ilmu dan menyampaikannya pada orang lain (siswa) kapan saja.
b.    Orang yang berrbakat, mempunyai kelebihan dan hasilnya sesuai dengan harapan.
c.    Orang yang bertanggung jawab, mampu merubah pengetahuan, sikap, kepribadian, dan ketrampilan peserta didiknya lebih baik.
d.   Orang yang mempunyai panggilan jiwa, mau berkorban demi kemajuan peserta didiknya.
e.    Orang yang mempunyai idealisme, mau mendengarkan keluh kesah peserta didiknya dan mampu memberikan solusinya.[5]
C.       Tugas dan Fungsi Guru
1.        Tugas Guru
Menurut Roestiyah N. K. dalam buku Zaenal Mustakim, M.Ag., guru dalam mendidik peserta didik bertugas untuk:
a.    Menyerahkan kebudayaan peserta didik bberupa kepandain, kecakapan dan pengalaman-pengalaman.
b.    Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila.
c.    Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai Undang-undang Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. II Tahun 1983
d.   Sebagai perantara dalam belajar
e.    Sebagai pembimbing, untuk membawa peserta didik ke arah kedewasaan, pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut sekehendaknya.
f.     Guru adalah sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
g.    Sebagai penegak disiplin.
h.    Guru adalah sebagai administrator dan manajer.
i.      Pekerjaan guru sebagai suatu profesi.
j.      Guru sebagai perencana kurikulum.
k.    Guru sebagai pemimpin (guidance worker).
l.      Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.
2.        Fungsi guru
Guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian. Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiagnosa kebutuhan para siswa sebagai subjek belajar, merumuskan tujuan kegiatan proses pembelajaran, dan menetapkan strategi pengajaran yang ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan. Sebagai pengimplementasi rencana pengajaran yang telah disusun, guru hendaknya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada dan berusaha “memoles” setiap situasi yang muncul menjadi situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Pada saat melaksanakan kegiatan evaluasi, guru harus dapat menetapkan prosedur dan teknik evaluasi yang tepat. Jika tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada kegiatan perencanaan belum tercapai, maka ia harus meninjau kembali serta rencana implementasinya dengan maksud untuk melakukan perbaikan.[6]
Selain fungsi di atas, guru juga berfungsi sebagai berikut:
a.         Guru sebagai pendidik.
b.         Guru sebagai pengajar.
c.         Guru sebagai pembimbing.
d.        Guru sebagai pelatih.
e.         Guru sebagai penasehat.
f.          Guru sebagai pembaharu (Innovator).
g.         Guru sebagai model dan teladan.
h.         Guru sebagai pribadi.
i.           Guru sebagai peneliti.
j.           Guru sebagai pendorong kreativitas.
k.         Guru sebagai pembangkit pandangan.
l.           Guru sebagai pekerjaan rutin.
m.       Guru sebagai pemindah kemah.
n.         Guru sebagai emansipator.
o.         Guru sebagai evaluator.
p.         Guru sebagai pengawet.
q.         Guru sebagai pembawa cerita.
r.          Guru sebagai aktor.
s.          Guru sebagai kulminator.[7]
D.       Gaya-gaya Mengajar Guru
1.        Makna Gaya Mengajar
a.    Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah gaya tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
b.    Menurut Abdul Qadir Munsyi, gaya mengajar adalah gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas.
c.    Menurut Zahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa.
Gaya mengajar adalah bentuk penampilan guru saat mengajar, baik yang bersifat kurikuler maupun psikologis. Gaya mengajar yang bersifat kurikuler adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran tertentu. Sedangkan gaya mengajar yang bersifat psikologis adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan motivasi siswa, pengelolaan kelas dan evaluasi hasil belajar.[8]
2.        Macam-macam Gaya Mengajar
Dari karakteristik masing-masing guru, terdapat macam-macam gaya mengajar, yaitu:
a.    Gaya Mengajar Klasik.
b.    Gaya mengajar teknologis.
c.    Gaya mengajar personalisasi.
d.   Gaya mengajar interaksional.[9]
3.        Pendekatan Gaya Mengajar
Dalam gaya mengajar pendekatan mempunyai peran penting untuk mencapai tujuan. Artinya  gaya mengajar tidak akan efektif dan efisien apabila tidak melakukan pendekatan pada saat menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik.
Secara umum terdapat bermacam-macam pendekatan:
a.    Pendekatan Filosofis
Pada pendekatan ini, gaya mengajar guru hendaknya didasarkan pada nilai-nilai kebenaranya itu memandang siswa sebagai makhluk rasional yang mampu berpikir dan perlu dikembangkan.
b.    Pendekatan Induksi
Pendekatan gaya mengajar dalam penganalisaan secara ilmiah, yaitu berasal dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum atau kaidah yang bersifat umum. 
c.    Pendekatan Deduksi
Pendekatan gaya mengajar dalam bentuk analisa ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus.
d.   Pendekatan Sosio Kultural
Pendekatan gaya mengajar yang berpandangan bahwa siswa adalah makhluk bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga dipandang sebagai homo socium dan homo sapiens dalam kehidupan bermasyarakat dan berkebudayaan.
e.    Pendekatan Fungsional
Pendekatan gaya mengajar guru dengan penekanan pada pemanfaatan materi ajar bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
f.     Pendekatan Emosional
Pendekatan gaya mengajar untuk menyentuh perasaan yang mengharukan dengan tujuan menggugah perasaan dan emosi siswa agar mampu mengetahui memahami, dan menerapkan materi pelajaran yang diperolehnya.[10]
Secara teknis, pendekatan gaya mengajar dapat dilakukan sebagai berikut:
v  Pendekatan kelompok
·      Entry behavior
·      Student activity learning
v  Pendekatan individual
·      Mastery learning (belajar tuntas)
·      Personalizer system of instruction (PSI)
E.        Prinsip-prinsip Mengajar
1.        Prinsip aktivitas
Prinsip aktivitas-aktivitas didasarkan pada pandangan psikologis bahwa segala sesuatu (pengetahuan) harus diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman sendiri.



2.        Prinsip motivasi
Walker (1967) dalam buku Zaenal Mustakim, M.Ag.[11] mengatakan “perubahan-perubahan yang di pelajari memberi hasil yang baik bilamana orang mempunyai motivasi untuk melakukannya.”
3.        Prinsip individualitas
Individu sebagai manusia merupakan orang-orang yang memiliki pribadi/ jiwa sendiri. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lainya.
4.        Prinsip lingkungan
Pembawaan yang potensial dari individu itu tidak spesifik melainkan bersifat umum dapat berkembang menjadi bermacam-macam kenyataan hasil interaksi dengan lingkungannya. Pembawaan menentukan batas-batas kemungkinan yang dapat dicapai oleh individu tetapi lingkungan menentukan menjadi individu dalam kenyataan.
5.        Prinsip konsentrasi
Secara psikologis, jika memusatkan perhatian pada sesuatu maka segala stimulus lainnya yang tidak diperlukan tidak masuk dalam alam sadarnya. Akibatnya dalam keadaan ini adalah pengamatan menjadi perhatiannya kemudian menjadi sangat cermat dan berjalan dengan baik.
6.        Prinsip kebebasan
Pengertian kebebasan menurut Rosella Linskie dalam buku Zaenal Mustakim, M.Ag.[12] mengandung tiga dimensi, yaitu: self directedness, self dicipline, dan self control.
7.        Prinsip peragaan
Peragaan meliputi semua pekerjaan pancaindra bertujuan untuk mencapai pemberian pemahaman sesuatu hal secara lebih tepat dengan menggunakan alat-alat indra.
8.        Prinsip kerja sama dan persaingan
Jean D. Grambs dalam buku Zaenal Mustakim, M.Ag.[13] berpendapat bahwa pengajaran di sekolah yang demokratis, kerja sama maupun persaingan sama pentingnya, hanya persaingan yang dimaksud bukan bertujuan untuk memperoleh hadiah/kenaikan pangkat tetapi untuk mencapai hasil yang lebih tinggi atau memecahkan masalah yang dihadapi kelompok.
9.        Prinsip apersepsi
Appersepsi adalah suatu penafsiran buah pikiran yaitu menyatupadukan dan mengasimilasi sesuatu pengamatan dan pengalaman yang telah dimiliki.
10.    Prinsip korelasi
Korelasi (salingberkaitan) pengajaran dengan masalah-masalah keseharian individu atau dengan bidang lain akan menjadikan sesuatu yang baru dan berguna bagi peserta didik  serta melatih upaya pemecahannya dengan berdasar pada skill atau pengetahuan dari mata pelajaran yang lain.
11.    Prinsip efisiensi dan efektivitas
Pengajaran yang baik adalah proses pengajaran dengan waktu yang cukup serta dapat membuahkan hasil (pencapaian tujuan instruksional) secara tepat, cermat, dan optimal.
12.    Prinsip globalitas
Menurut prinsip globalitas (integralitas) bahwa keseluruhan adalah menjadi titik awal pengajaran. Peserta didik selalu mengamati keseluruhan terlebih dahulu  baru kemudian bagian-bagiannya.
13.    Permainan dan hiburan
Kelas pengajaran yang penuh konsentrasi menjadikan peserta didik kelelahan, bosan, butuh refreshing dan rekreasi. Sehingga peserta didik diijinkan bermain, bersukaria, berbicara bebas, brgerak-gerak untuk mengendorkan syaraf- syaraf yang kencang dan menghindarkan kebosanan asalkan memiliki kelancaran aktivitas pengajaran.[14]


PENUTUP
KESIMPULAN
Mengajar diartikan sebagai usaha guru untuk menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa/anak didik. Jadi mengajar lebih cenderung kepada transfer of knowledge. Mendidik  dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Mendidik tidak sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values.
Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat top-down ke hubungan kemitraan. Peran guru sebagai fasilitator, merubah paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (learner centered).
Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Hakikat guru tidak hanya menjadi seorang diri, akan tetapi menyatu dalam semua keragaman. Artinya, guru harus pandai menyatukan keragaman peserta didiknya dari tingkat kemampuan tingkat intelektual, keragaman dalam bercakap, keragaman kepribadian hingga keragaman kecenderungan yang di dasari oleh bakat mereka.




DAFTAR PUSTAKA
Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi & Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.


[3] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 5
[5] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 12
[7] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 12
[8] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 30-31
[9] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 32-34
[10] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 35-38
[11]  Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 39-40
[12]  Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 42
[13]   Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 42
[14] Zaenal Mustakim. Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm 38-44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar