Laman

Sabtu, 24 Maret 2012

A6-32. Duwi Kurniawati


MAKALAH
HADITS TARBAWI II
TENTANG ALAM RAYA

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : M. Ghufron Dimyati, M. S. I



Oleh :
DUWI KURNIAWATI
2021110029
Kelas A



TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012



BAB I
PENDAHULUAN


Salah satu ciri khas manusia, yang membedakannya dari makhluk lain adalah berpikir. Dengan berpikir manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan dan kebaikan. Dengan berpikir pula manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan. Oleh karena itu, dalam hadits ini Rasulullah saw. Memerintahkan kita untuk melakukan tafakur yang akan mengantarkan kita kepada kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan dan ketundukan kepada Allah Taala, yaitu dengan tafakur mengenai makhluk ciptaan Allah.
Sebaliknya, beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan menjangkaunya, juga bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan. Sebagaimana yang dialami para filosof dan kaum rasionalis yang memaksakan diri berpikir tentang Dzat Allah. Sehingga mereka terjerumus dalam kesesatan di bidang aqidah dan keyakinan. Dalam makalah ini akan membahas mengenai hadits tentang diperintahkannya untuk berpikir ataupun mengamati  tentang ciptaan Allah swt di jagad raya alam semesta ini, akan tetapi tidak boleh memikirkan tentang dzat Allah swt.

















BAB II
PEMBAHASAN

“Perintah Untuk Mengamati Alam Raya”

A.  Hadits
عَنْ اَ بِيْ ذَ رٍّ رَضِيَ ا للهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : )تَفَكَّرُوا فِى خَلْقِ اللهِ, وَلاَ تَفَكَّرُوا فِى اللهِ فَتُهْلِكُوا(
(رواه ابو الشيح في العظمة, باب الامربا تفكرفي ايات الله عزوجل) [1]

B.  Terjemah
“Dari Abi Dzarr r.a berkata: rasulullah SAW bersabda: ( Berfikirlah kamu semua tentang ciptaan Allah SWT, dan janganlah kamu berfikir tentang dzatNya Allah SWT maka akan rusak kamu sekalian)”
Diriwayatkan oleh Abu Syaikh

C.  Mufradat (kata-kata penting)
تَفَكَّرُوا         : Berfikirlah
خَلْقِ            : ciptaan
لاَ تَفَكَّرُوا     : janganlah berfikir
 تُهْلِكُوا        : binasa

D.  Biografi Rawi
Nama yang masyhur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari. Nama lengkapnya Jundub bin Junadah  bin Qais bin ‘Amru bin Malil bin Sho’ir bin Haraam bin Afan,[2] dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah. Abu Dzar berasal dari suku Ghifar (dikenal sebagai penyamun pada masa sebelum datangnya Islam). Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Ia memeluk Islam dengan sukarela, ia salah satu sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya. Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah saw.

E.  Keterangan Hadits
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh menerangkan bahwa Rasulullah saw. Memerintahkan kita untuk melakukan tafakur yang akan mengantarkan kita kepada kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan dan ketundukan kepada Allah Taala, yaitu dengan tafakur mengenai makhluk ciptaan Allah. Ciptaan Allah swt dapat memberikan petunjuk kepada hamba-Nya sedangkan asalnya hadits ini adalah umum tidak terperinci, seperti langit, bintang dan perubahan langit dan perputaranya dalam terbit dan terbenamnya, dan bumi terdapat sesuatu didalamnya ada gunung, sungai, laut, hewan dan tumbuhan, mendung dan hujan dan petir dan halilintar dan yang serupa dg itu, menunjukan atas keagungan dan kebesaran Allah.[3] Sebaliknya, beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan menjangkaunya, juga bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan. Sebagaimana yang dialami para filosof dan kaum rasionalis yang memaksakan diri berpikir tentang Dzat Allah. Sehingga mereka terjerumus dalam kesesatan di bidang aqidah dan keyakinan.[4] Sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir. Sebab apabila seorang hamba itu berpikir, maka dia berpikir dengan apa yang tergambar oleh akalnya dan apa yang terbetik dalam benaknya dari hal-hal yang terlihat, terdengar, dan diketahui. Sedangkan Allah Azza wajalla berada di atas itu semua.
Tidak layak bagi seorang pun untuk memikirkan dzat Allah Azza wajalla, sebab tatkala ia menggambarkan sesuatu tentang Allah Azza wajalla maka Allah Azza wajalla berbeda dengan apa yang ia gambarkan dan cukup bagi kita berpikir tentang makhluk-makhluk-Nya, dan tentang kekuasaan-Nya yang luar biasa. Dzat Allah tidak akan bisa terjangkau oleh akal pikiran dan tidak akan bisa dikira-kirakan. Berfikir tentang Dzat Allah akan menggiring pelakunya kepada keragu-raguan tentang Allah. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah, pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang lahir dari pemikiran sesat.
Akan tetapi di perintahkan supaya mengamati ataupun berpikir tentang segala sesuatu yang telah di ciptakan Allah swt. Memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala yang dapat disaksikan dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang dapat disimak tidaklah dibatasi dengan keadaan atau waktu-waktu tertentu seperti yang dibuat-buat oleh kaum sufi atau ahli kalam, dengan menggunakan istilah renungan pemikiran dan lainnya.

F.   Aspek Tarbawi
Ø FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN TAFAKUR)
1.    Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi.
2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah.
3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat.
4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan.
Ø NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH TAFAKUR)
1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.
2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.
3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.
4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.
5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.
6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.
7. Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bisa memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.
Ø KENAPA KITA DILARANG TAFAKKUR MENGENAI DZAT ALLAH SWT.?
1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.
2.  Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.

















BAB III
PENUTUP

Allah swt telah menganjurkan dalam Kitab-Nya agar berfikir dan bertadabbur. Anjuran ini ada dua macam: Pertama, anjuran mentadabburi ayat-ayat Al Qur'an dan ayat-ayat-Nya yang dapat disimak. Agar seorang hamba dapat memahami maksud Allah ta'ala dan dapat meyakini kehebatan Al Qur'an sebagai Kalamullah dan mukjizat yang tidak ada kebathilan di dalamnya, dari depan maupun dari belakang. Kedua, anjuran memikirkan keagungan ciptaan Allah, kerajaan dan kekuasaan-Nya, serta ayat-ayat yang dapat disaksikan, agar seorang hamba dapat merasakan keagungan al-Khaliq, dapat mengakui kebenaran Al Qur'an.
Memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah swt yang dapat disaksikan dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang dapat disimak tidaklah dibatasi dengan keadaan atau waktu-waktu tertentu seperti yang dibuat-buat oleh kaum sufi atau ahli kalam, dengan menggunakan istilah renungan pemikiran dan lainnya. Dzat Allah tidak akan bisa terjangkau oleh akal pikiran dan tidak akan bisa dikira-kirakan.
Berfikir tentang Dzat Allah swt akan menggiring pelakunya kepada keragu-raguan tentang Allah swt. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah swt, pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang lahir dari pemikiran sesat. Oleh sebab itulah melalui lisan Rasul-Nya, Allah Yang Maha Bijaksana melarang berfikir tentang Dzat-Nya Yang Maha Suci.








DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Tahdzib at-Tahdzib Juz X.
AL-Manawi.  Faidhul Qadir Juz III Syarah Jami’ As-Shoghir. 1424 H.
Nursyam, Fakhruddin. Sarah Lengkap Arba’in Tarbawiyah.
Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi . Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah. Maktabah Al Ghuroba.
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali Daar Ibnu 'Affan. Ringkasan ENSIKLOPEDIA LARANGAN Jilid 1. Pustaka Imam Asy Syafi'i Mausuu'ah al-Manaahiyyiys Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah. 1419 H


[1] AL-Manawi,  Faidhul Qadir Juz III, 1424H, hlm. 338
[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib Juz X, hlm. 1010
[3]  AL-Manawi,  Loc. cit
[4] Fakhruddin Nursyam, Sarah Lengkap Arba’in Tarbawiyah, Hal. 134

9 komentar:

  1. Nama : Irma Hardika saputri
    NIM : 2021110010
    Kelas: A

    Bagaimana agar kita senantiasa istiqomah bertafakkur kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah, sedangkan terkadang umat muslim mau dekat dengan Allah jika ada maunya saja ataupun saat mendapat musibah ??

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. melihat realita yang ada,banyak bencana alam menimpa manusia yang sebenarnya itu berhubungan dengan sifat manusia yang lebih senang merusak dari pada menjaga ciptaan Allah di alam semesta.
    Bagaimana argument anda tentang realitas tersebut,yang sampai sekarang masih banyak manusia yang belum sadar akan teguran Allah lewat bencana pada manusia akan ketidak peduliannya dengan alam?

    BalasHapus
  4. muhammad arif ismanto
    2021110005
    akhir-akhir ini banyak info ( orang yang memprediksi)yang mengatakan bahwa hari kiamat akan datang di tahun 2012, bagaimana anda menggapi fenomena tersebut?bahwa kalau mengenai hal-hal tersebut kan yang mengetahui hanya Allah SWT?

    BalasHapus
  5. Risqiani Sakinah
    2021110044

    Dialam semesta ini bayak terdapat keajaiban Tuhan,seprti pohon membentuk lafadz Allah,binatang yg dibadanya bertuliskan lafadz Allah dan masih banyak yang lainya.bagaimana tanggapan orang nonmuslim mengenai hal itu?
    terima kasih.

    BalasHapus
  6. Bagaimana menurut anda tentang penciptaan alam semesta menurut ilmuan dengan alqur'an,, adakah titik temu antara keduanya??

    Nama : Nurul Maulidah
    NIM : 2021110039

    BalasHapus
  7. assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    ubay 2021110012

    1.apakah alam raya termasuk media pendidikan yang paling baik. mengapa?

    2.saya ingin tanya apa maksud dari "kesalehan alam"

    3.Sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir termasuk didalamnya orang filsafat dan rasinalis
    pertanyaannya.........................
    a. contohkan bentuk kesesatan yang berdampak pada kebinasaan tersebut?
    b.mengapa terjadi kesesatan dan kebinasaan tersebut?
    c.apa pelajaran yang dapat kita ambil mengenai tragedi (kesesatan dan kebinasaan) tersebut

    BalasHapus
  8. Bagaimana cara kita agar senantiasa selalu bertafakkur tentang keagungan dan kebesaran Allah SWT. tentang alam raya ini, karena walaupun kita sering mendengar hal itu, kadang kita sebagai manusia kurang memperhatikan ayat-ayat atau tanda kebesaran yang datang kepada kita?dan bagaimana mempotensikan akal kita dalam berfikir tentang kebesaran Allah SWT. melalui alam semesta ini dengan sebaik-baiknya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Erlin novi F
    2021110016
    A

    Bagiamana caranya menjaga alam raya ini agar tetap lestari dan tidak disalah gunakan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab?

    BalasHapus