Laman

Sabtu, 24 Maret 2012

A6-33.34. Vitta Permatasari



                                                                   MAKALAH
ASTRONOMI
Disusun untuk memenuhi tugas
Dosen Pengampu        : Muhammad Hufron M.S.I
  Mata kuliah                 : Hadits Tarbawi 1I


 




Disusun oleh:
Kelas A
                                                                   Disusun oleh :
VITTA PERMATASARI
2021110030
KELAS A

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN PEKALONGAN)

BAB I
PENDAHULUAN
                   Astronomi adalah ciptaan Allah yang merupakan bagian dari alam raya. Dengan alam raya kita dapat memperhatikan fenomena yang terbentang didepan mata, banyak kegiatan umat  islam yang dilakukan dengan berdasarkan pergerakan benda langit. Seperti jadwal sholat, waktu lebaran ( penetapan tanggal 1 syawal), penentuan awal puasa, menghitung presisi panjangnya tahun syamsiah, menghitung gerhana bulan, mengukur tinggi matahari dll. Itu semua dilakukan berdasarkan pergerakan benda langit atau astronomi.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadits pertama
عن بن اوفى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ان خيار عباد الله الدين يرعون الشمس والقمر والنجوم والاظلة لذكرالله عزوجل.
(رواه البيهقي في السنن الكبرى, باب مراعاة ادلة المو اقيت)
B.     Terjemah
Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang baik adalah orang-orang yang memperhatikan matahari, bulan-bulan, bintang-bintang dan kegelapan untuk mengingat Allah.

C.    Mufrodat (kata-kata penting)    
Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang baik                                    ان خيار عباد الله
Memperhatika n                                                                                              يرعون
Matahari                                                                                                          الشمس  
Bulan-bulan                                                                                                        القمر
Bintang-bintang                                                                                              النجوم
kegelapan                                                                                                        الاظلة
Dengan mengingat Allah                                                                                لذكرالله

D.    Biografi Rowi
Abdullah bin Auf, nama aslinya adalah Al-Qamah bin Khalid bin Harits al Salami adalah termasuk sahabat yang menyaksikan perjanjian hudaibiyah, beliau masih hidup ketika nabi wafat. Beliau wafat di Kuffah dari golongan sahabat. Hadits-hadits beliau terdapat dalam Khuttubus sittah.[1]

E.     Keterangan Hadits
Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang terrpillih adalah yang mau menjaga (perjalanan) matahari, bulan, bintang-bintang dan kegelapan. Dalam arti mereka selalu mengintai masuknya waktu sholat dengan adanya benda-benda tersebut yang digunakan untuk mengingat kepada allah berupa adzan dan kemudian mendirikan sholat,serta  untuk mengalokasikan waktu untuk membaca aurad atau wiridan pada waktu yang disukai.

F.     Hadits kedua

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : " تَعلَّمُوا مِنْ أَسْمَائِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ ، ثُمَّ انْتَهُوا ، أَوْ تَعَلَّمُوا مِنَ الْعَرَبِيَّةِ مَا تَعْرِفُونَ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ ، ثُمَّ انْتَهُوا ، وَتَعَلَّمُوا مِنَ النُّجُومِ مَا تَهْتَدُونَ بِهِ فِي ظُلُمَاتِ   الْبِرِّ وَالْبَحْرِ ، ثُمَّ انْتَهُوا " .( رواه البيهقي في شعب الايمان فصل في فضل العلم وشرف مقداره)

G.    Terjemahan
Abu Hurairah, Rasulullah saw, ia berkata: "Belajar dari nama Anda apa yang Anda berdoa itu hubungan Anda, dan kemudian selesai, atau belajar dari Arab  apa yang Anda tahu dengan kitab Allah, maka selesai, dan belajar dari bintang-bintang untuk dibimbing dalam kegelapan darat dan laut , maka selesai dengan " )Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam orang-orang beriman dalam keutamaan pemisahan ilmu pengetahuan dan kehormatan(
H.    Mufrodat (kata-kata penting)
Belajar                                                                                                             تَعلَّمُوا   
Nama anda                                                                                                      أَسْمَائِكُمْ             
Bintang-bintang                                                                                              النُّجُومِ              
Kegelapan                                                                                                       ظُلُمَاتِ
Darat                                                                                                               الْبِرِّ
Laut                                                                                                                 الْبَحْرِ

I.       Biografi Rowi
Abu Hurairah ad Dausi adalah sahabat yang agung, dia sahabat yang terpercaya. Banyak perbedaan pendapat dalam masalah namanya. Ada yang berpendapat Abdurrahman bin Sakhr ada yang menyebut Ibnu Ghonam, ada yang Ibnu Amr, ada yang Ibnu Mall, ada yang Ibnu Shohim, ada yang Amir bin Syamsin, ada yang Yazid  bin Asrofah, ada yang Abdu Nahim, ada yang Abdu Syamsin dan ada yang Said bin Hasist. Abu Hurairah memeluk isalam padaa tahun 7 H, meninggal di Aqiq pada tahun 57 H pada usia 78 tahun. Dan nama yang disepakati adalah Abdurrahman bin Sakhr. Abu Hurairah masuk islam pada usia 60 tahun dan selalu menyertai Rasulullah, sepenuhnya ia telah  meriwayatkan 5374 hadits.[2]        

J.      Keterangan Hadits
Sesungguhnya kita disuruh untuk belajar melihat alam raya ini seperti halnya Astronomi karena astroni memiliki tempat tersendiri dalam dunia islam sebab, banyak kegiatan ibadah kaum muslim dilakukan berdasarkan pergerakan benda langit. Seperti penentuan awal puasa (1 ramadhan) dan lebaran (1 syawal) kapan wukuf di Arafah, penentuan jadwal sholat, dll. Ilmu ini memang penting dalam dunia islam.[3]

K.    Aspek Tarbawi
1.      Sebagai sebuah anjuran agar manusia bisa mempelajari tentang alam raya, mulai dari matahari, bagaimana matahari bisa bergerak mulai dari muncul hingga terbenamnya di ufuk barat.
2.      Agar kita mempelajari alam raya ini. Bahwa Alam raya adalah salah satu penentu dari banyak kegiatan ibadah kaum muslimin.
3.      Kita diperitahkan untuk mengingat Allah melalui alam raya sebagai bentuk kekuasaa





BAB III
PENUTUP
            Dengan memperhatikan fenomena alam raya yang terbentang didepan mata, manusia diperintahkan untuk mengingat Allah. Adanya pergantian siang dan malam membuktikan kekuasaan Allah yang meliputi dunia seisinya. Sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk selalu bersyukur atas segala limpahan rahmat Allah yang telah member anugerah kepada manusia  menyaksikan fenomena alam yang telah diciptakan oleh Allah.  

















DAFTAR PUSTAKA
As Qalani, Ibnu Hajar.1995. Tahdzibut Tahdzib. Mesir : Darul fikr
www.Islam-dan-astronomi.com, posted on februari 7, 2008.
Al-Asqolani, Syihabudin Ahmad bin Ali Hajr. 1955. Taqribut  Tahdzib. Mesir : Darul Fikr.



[1] Ibnu Hajar  as Qalani, Tahdzibut  Tahdzib, (mesirt: Darull Fikr, 1413 H / 1995 M) Juz 1 hal.230
[2] Syihabudin Ahmad bin Ali Hajr Al-Asqolani, Taqribu Tahdzib, (Mesir: Darul Fikr), jilid II, 1955, hal. 774-775.
[3] www.Islam-dan-astronomi.com, posted on februari 7, 2008.

13 komentar:

  1. Nama : Irma Hardika Saputri
    NIM : 2021110010
    Kelas: A

    Pada makalah disebutkan bahwa dianjurkan bagi manusia untuk mempelajari astronomi dimana astronomi sendiri digunakan dalam islam sebagai salah satu penentu waktu shalat atau masuknya bulan ramadhan atau hari raya.
    Pertanyaan saya :
    1. apakah menurut pemakalah hal ini diwajibkan bagi seluruh manusia untuk mempelajarinya, sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya shalat, bulan ramadhan dan hari raya ditentukan oleh pemerintah pusat melalui musyawarah para ahli ilmu falaq ???
    2. Mengapa masih sering terjadi perbedaan penentuan para ahli ilmu falaq tentang masuknya ramadhan ??
    Syukroon

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasi atas pertanyaannya
      1.menurut saya bukan wajib tp disarankan kita tahu tentang hal itu sebagai ilmu bagi kita walaupun hal tersebut sudah ditentukan oleh pemerintah.

      2.Menurut saya selama ini, perbedaan masuknya ramadhan yang terjadi pada ORMAS-ORMAS Besar di Indonesia disebabkan perbedaan metode. Perbedaan metode berakar dari pemahaman hadist Rasulullah SAW. tentang penentuan masuknya ramadhan tersebut.
      Metode 1
      a. Metode Hisab (Ormas Muhammadiyah) ==> Memahami pengertian liru’yaatil hilal bukan hanya sebagai melihat dengan mata terbuka bukan suatu keharusan, melainkan dengan apa saja, termasuk dengan Ilmu pengetahuan, dalam hal ini Ilmu Falak, dengan cara menghitung (hisab). Metode ini berpegang pada kebenaran penglihatan pengetahuan terhadap kejadian alam semesta semisal ; datangnya peristiwa kommet, hujan meteor serta gerhana bulan, maupun mathari yang bisa diprediksi jauh-jauh hari, bahkan beberapa tahun sebelumnya secara akurat.
      b. Metode Ru’yah (Ormas NU, Al Washliyah) ==> Memahami pengertian liru’yaatil hilal secara tekstual, artinya melihat hilal sebagai suatu keharusan. Metode ini menempatkan hisab sebagai landasan waktu untuk melihat secara langsung dengan mata terbuka ataupun teleskop terhadap dilingkatran bulan baru. Metode ini diambil berdasarkan Hujjah/ dalil pijakan bahwa hisab tak selamanya tepat/akurat, sehingga harus digenapkan dengan pengamatan langsung. Sebagai tambahan, metode ini menentukan perhitungan 4 derajat minimal untuk menentukan masuknya bulan baru.
      c. Metode Hisab-Ru’yah (Ormas PERSIS) ==> Memahami pengertian liru’yaatil hilal secara tekstual, artinya melihat hilal sebagai suatu keharusan. Metode ini menempatkan hisab sebagai landasan waktu untuk melihat secara langsung dengan mata terbuka ataupun teleskop terhadap dilingkatran bulan baru. Metode ini juga diambil berdasarkan Hujjah/ dalil pijakan bahwa hisab tak selamanya tepat/ akurat, sehingga harus digenapkan dengan pengamatan langsung
      “sesuai dengan sunnah” yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sebagai tambahan, metode ini menentukan perhitungan 2 derajat minimal untuk menentukan masuknya bulan baru.
      Begitulah kira-kira perbedaan metode itu, apabila kita kritisi secara sederhana. Persoalan yang mendasar pada ummat saat ini adalah kesadaran untuk memilih keputusan itu berdasarkan ilmu, artinya semua peribadatan kita kepada ALLAH diusahakan jangan sampai “raddun” (tertolak), karena taklid.
      Ittho’ah/ ketaatan terhadap jam’iyah/ jama’aah juga merupakan suatu landasan yang dipertimbangkan dalam memilih putusan-putusan peribadatan.
      Akhirnya pilihan apapun bergantung pada keterbatasan kita memahami relevansi ayat kauniyah/ dalil akli (hadirnya bulan dan pehitungan) dengan ayat kauliyah (hadist Rasulullah SAW), Insya Allah akan menentramkan kita semua dalam memilih masuknya ramadhan Wallaahu ‘alam

      wassalam....

      Hapus
  2. Assalammu'alikum ...
    ukhti vita,bagaimana argument anda tentang perbedaan penentuan jatuhnya tanggal 1 syawal, yang hal ini menimbulkan pro kontra antar sesama umat muslim?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikum salam ukhti ipnatis,,
      menurut saya adanya pro dan kontra adalah suatau rahmat dan itu sudah menjadi hal yang umum dikalangan kita karena kaum kita terbagi menjadi beberapaa golongan yang masing-masing mengandlkan pemikiran secara rasional(akal) maupun doktrin/dokumen ( penentuan keyakinan)
      seperti kita ketahui bahwasanya untuk perhitungan hari raya adaa yang memakai hilal(hitungan hari 30 hari) dan ruyat (berdasarkan terbitnya bulan) dan kita sebagai pengikut boleh mengikuti salah satu baik berdasarkan hilal maupun ruyat tadi sesuai dengan keyakinan kita.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. widyawati
    202 111 0041
    A

    Bagaimana cara memberikan pendidikan ilmu astronomi pada anak usia dini....???

    BalasHapus
  5. muhammad arif ismanto
    2021110005
    bagaimana anda menanggapi tentang ramalan manusia dengan melihat gugusan bintang seperti taurus, libra, gemini dll. yang sudah marak di bicarakan di radio, dan orang pun kdang menanti-nanti ramalan tersebut dan apakah mungkin setiap orng itu nasibnya akan sama sesuai dengan bintang yang ia miliki. dan bolehkah itu di percayai dan di sebarluaskan.mohon jelaskan?

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Bagaimana anda menyikapi mengenai pendidikan astronomi yang sekarang lebih berkiblat pada barat dibandingkan pada pendidikan Islam???

    Nama : Nurul Maulidah
    NIM : 2021110039

    BalasHapus
  8. Subariroh (2021110009)

    Bagaimana hukumnya mempelajari ilmu astronomi bagi umat islam?

    BalasHapus
  9. Bagaimana menurut anda jika ilmu perbintangn digunakan untuk meramal nasib seseorang?disebutkan bahwa ilmu perbintangan juga dipersepsikan sebagai ilmu nujum(ilmu ramalan)?mohon penjelasannya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  10. dwi hafila
    2021111367
    A

    apakah orang-orang Islam di zaman dulu & sekarang turut menyumbangsihkan penemuan & pelajaran tentang astronomi ? dan apa bentuk karyanya ?

    BalasHapus
  11. ikrimah
    2021110045
    A

    apa bentuk pengaplikasian ilmu astronomi dengan kehidupan sehari-hari ???

    BalasHapus