Laman

zzz

new post

Kamis, 29 Maret 2012

F7-40 Bella Amelia


M A K A L A H 
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA

Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah              : Hadits Tarbawi I
Dosen Pengampu     : Ghufron Dimyati, M.S.I


Copy of Stain





Disusun oleh:

BELLA  AMELIA
202 111 0267




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN

Hubungan manusia dan Sang Pencipta terlihat dari adanya ketiga pilar agama yaitu adanya keimanan yang kuat dan mendalam dan seorang makhluk terhadap Tuhannya, adanya jiwa keislaman yaitu perbuatan-perbuatan yang direalisasikan sebagai konsekuensi dari keimanan seseorang tersebut dan yang direalisasikan sebagai konsekuensi dari keimanan seseorang tersebut dan yang ketiga adalah berusaha selalu berbuat ihsan (mengerjakan sesuatu dengan baik dan ikhlas dalam beribadah).
Jika ketiga pilar agama itu akan diulas secara mendalam tentang apa itu iman, Islam dan ihsan.
Selamat membaca .....





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hadits
حَدَّثَناَ مُسَدَّدٌ قَاَل: حدثنا أِسْمَاعِيْلَ بْنِ اِبْرَاهِيْمَ, اَخْبَرَنَا أَبُوْحَيَّانَ التَّيْمِيُّ, عَنْ أَبِيْ زُرْعَةَ, عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ, فَأَتَاهُ جِبْرِيْلَ فَقَالَ: مَااْلاِيْمَانُ ؟ قَالَ: (اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ) قَالَ: مَا اْلاِسْلاَمُ؟ قَالَ: (اْلاِسْلاَمُ: اَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلاَتُشْرِكَ بِهِ, وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ, وَتُؤَدّّيّ الزَّكَاةَ اْلمَفْرُوْضَةَ, وَتَصَوَّمَ رَمَضَانَ) قَالَ: مَا اْلإِحْسَانًُ؟ قَالَ: ( اَنْتَعْبُدَ اللهِ كَأَنَّكَ تَرَاهُ, فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ) قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: (مَااْلمَسْؤُوْلَ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ, وَسَأُخْبِرُكَ) عَنْ اَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَةِ اْلأَمَةَ رَبَّهَا. وَإِذَاتَطَاوَلَ رُكَاةُ اْلإِبِلِ الْبُهْمِ فِى الْبُنْيَانِ, فِى خَمْسٍ, لاَ يَعْلَمُهْنَ اِلاَّاللهُ), ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((إِنَّااللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ)) الايَةَ.ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقاَلَ: (رُدُّوْهُ) فَلَمْ يَرَوْاشَيْئًا. فَقَالَ: (هذَاجِبْرِيْلَ, جَاءَيَعْلَمَ النَّاسَ دِيْنَهُمْ)
B.     Terjemah
Dari Abu Hurairah, katanya: Pada suatu hari Nabi s.a.w tampak keluar di muka orang banyak, kemudian didatangi oleh Jibril a.s lalu Jibril a.s berkata: “Apakah iman itu?’, Nabi s.a.w menjawab: “Iman itu ialah anda wajib beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, bertemu dengan Allah pada hari kiamat dan dengan demikian wajib beriman pula akan adanya hari akhir itu, juga beriman kepada para rasul-Nya dan beriman pula dengan adanya ba’ats yang hidup sesudah mati pada hari kiamat lalu diadakan perhitungan amal dan akhirnya ada yang masuk surga dan ada yang masuk neraka.
Jibril a.s berkata pula: “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab: “Islam ialah anda wajib menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukan yakni menyamakan sesuatu dengan-Nya, juga mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan serta berpuasa dalam bulan Ramadhan”.
Jibril bertanya lagi: “Apakah Ihsan itu?”. Beliau s.a.w menjawab: “Ihsan artinya berbuat kebaikan itu ialah hendaknya anda menyembah Allah seolah-olah anda dapat melihat-Nya, tetapi jika anda tidak dapat berbuat seolah-olah melihat-Nya, maka anda wajib meyakinkan bahwasanya Allah itu selalu melihat perbuatan anda”.
Jibril bertanya sekali lagi: “Kapankah saat tibanya hari kiamat?” beliau bersabda: “Orang yang ditanya mengenai itu yakni Nabi s.a.w tidaklah lebih tau dari pada yang bertanya yakni Jibril a.s tetapi aku akan memberitahukan kepada anda mengenai tanda-tandanya, yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita telah melahirkan anak, maka anaknya menjadi merdeka dan hamba sahaya itupun merdeka pula setelah suaminya yang juga menjadi tujuannya itu meninggal dunia, juga apabila para penggembala unta yang tidak pandai cakap-cakap saja bermegah-megah di dalam gedung besar.
Dalam lima perkara ini, tiada seorangpun yang dapat mengetahui kapan waktu tibanya, melainkan Allah  sendiri, kemudian Nabi s.a.w membacakan ayat yang artinya: “Sesungguhnya bagi Allah itu adalah pengetahuan saat tibanya hari kiamat”, sampai habisnya ayat.
Jibril kemudian berpaling maksudnya kembali. Beliau s.a.w bersabda: “Cobalah panggil kembali orang itu!” tetapi para sahabat sudah tidak melihat sesuatu apapun yakni orang itu kelihatan dan bekas terumpahnyapun tidak ada. Beliau s.a.w lalu bersabda: “orang itu jadi sebenarnya adalah malaikat jibril. Ia datang untuk memberi pelajaran kepada seluruh umat manusia perihal agama mereka”.[1]


C.    Mufrodat
Mengimani
تُؤْمِنَ
Akan menjumpainya
بِلِقَائِهِ
Mengibadati
تَعْبُدَ
Melihatnya
َرَاهُ
Tanda-tanda
اَشْرَاطَ

D.    Biografi Rowi
Nama lengkap Abu Hurairah adalah Abd. Al Rahman Ibn Shakhr al Dausi al-Yaman. Sebelum Islam namanya adalah Abd. Syams, dan setelah Islam, dinamai Rosul saw dengan Kuniyah-Nya, yaitu Abu Hurairah. Gelar Abu Hurairah tersebut berawal dari pengalamannya, yaitu bahwa suatu hari ia menemukan seekor kucing. Kemudian dibawalah anak kucing tersebut dengan cara memasukkannya ke dalam lengan bajunya. Oleh karena itu, dia digelari dengan Abu Hurairah yang artinya ayah kucing.
Abu Hurairah senatiasa bersama Rosul saw. Meskipun hidup berdampingan hanya selama tiga tahun, masa yang singkat tersebut ternyata telah dapat diperguakannya untuk menyerap dan menimba berbagai ilmu pengetahuan dan Rosul saw. Sehingga ia dapat meriwayatkan hadits lebih banyak diriwayatkan sahabat lainnya. Menurut IbN Al Jauzi, ada sejumlah 5374 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang terdapat di dalam Musnad Ibn Hanbal.[2]


E.     Keterangan Hadits
Hadits ini menerangkan tentang Iman, Islam, Ihsan, serta percaya kepada takdir Allah SWT dan tanda-tanda orang yang tidak percaya terhadap takdir. Serta menerangkan pula tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat, serta lima rahasia yang tidak boleh diketahui oleh umat manusia dan hanya Allah SWT sajalah yang mengetahuinya.[3]
Disini dijelaskan bahwa malaikat Jibril, mendatangi rosul dan para sahabat seorang laki-laki, padahal tujuan sebenarnya yaitu menerangkan tentang dasar-dasar agamayang dikemasnya dalam rupan bertanyaan, diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu “apakah iman itu? Atau apakah hal-hal yang dipautkan dengan iman itu? Kemudian Nabi menerangkan, bahwa perkara-perkara yang dipautkan dengan iman itu ada lima perkara, yaitu:
-     Mengimani adanya Allah, serta mengimani sifat-sifat yang wajib bagi-Nya.
-     Mengimani adanya Malaikat Allah, yaitu bahwa malaikat itu ada.
-     Mengimani bahwa kita akan menjumpai dan melihat Allah di akhirat nanti.
-     Mengimani rosul-rosul Allah, yakni membenarkan bahwa rosul adalah orang yang benar pada segala apa yang mereka kabarkan.
-     Mengimani kitab-kitab Allah. Bahwa itu adalah kalam Allah.
-     Mengimani bahwa semua makhluk akan dibangkitkan dari kubur.
-     Mengimani adanya timbangan surga dan neraka.
Kemudian orang tersebut bertanya lagi tentang Islam dan Ihsan, Nabipun menjawab:
Islam adalah menyembah Allah sendiri-Nya tanpa mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan sholat dengan sempurna, mengeluarkan zakat yang diwajibkan, serta berpuasa di bulan Ramadhan.
Ihsan yaitu keikhlasan, dimana seseorang yang mengerjakan suatu ibadah harus berperasaan bahwa ia sedang berdiri dihadapan Allah dan memandangnya. Jika belum dapat berperasaan. Demikian, maka hendaklah ia berperasaan bahwasanya Allah melihat apa yang tersirat dalam hati dan melihat apa yang ia kerjakan dengan anggota tubuh seseorang tersebut.
Setelah itu orang inipun bertanya lagi tentang masa terjadinya kebangkitan dari kubur?
Nabi pun menjawab: Nabi hanya akan mengabarkan tentang tanda-tandanya diantaranya yaitu:
·         Banyak anak-anak yang dilahirkan oleh para gurdik hingga menjadikan si gurdik itu menjadi ibu dari anak-anak orang-orang ternama.
·         Budak-budak wanita melahirkan orang-orang yang menjadi raja, padahal si Ibu dari orang-orang rendah.
·         Rusaknya keadaan masyarakat, karena banyak terjadi penjualan umul walad.
·         Banyak terjadi kedurhakaan dari anak kepada ibunya, sehingga ada anak yang menggauli ibunya seperti seorang tuan yang menggauli budaknya.
·         Banyak orang-orang yang rendah menjadi tinggi
Nabi menerangkan bahwasanya yang mengetahui kapan terjadinya kiamat hanyalah Allah maka siapa saja yang mengaku mengetahuinyatanpa bersandar kepada penerangan. Rosul adalah orang dusta.
Kemudian orang itupun pergi, setelah orang itu hilang lenyap nabi menerangkan kepada para sahabat bahwa yang datang itu adalah Jibril, yang datang untuk menerangkan kepada para manusia tentang dasar-dasar agama mereka.[4]
Dari pengertian-pengertian tentang Iman, Islam dan Ihsan tersebut dapat disimpulkan sebagai mana berikut:
Iman : Keyakinan
Islam : Kepasrahan
Ihsan : Perbuatan yang baik atau penghayatan akidah dan ibadah.[5]

F.     Aspek Tarbawi
Dalam hadits ini diterangkan mengenai hubungan manusia terhadap pencipta-Nya, diantaranya yaitu berkaitan dengan keimanan Islam dan Ihsan.
Pengertian iman sendiri mencakup 6 rukun iman. Semakin mendalami pengertian iman maka akan semakin kuatlah iman seseorang tersebut melalui pengertian iman ini diharapkan seseorang dapat tunduk jiwanya kepada kebenaran sebagaimana terkumpul dalam tiga perkara dibawah ini:
a.       Membenarkan dengan hati
b.      Mengakui dengan lidah
c.       Mengerjakan apa yang dibenarkan dan yang diakui itu dengan anggota.[6]
Hubungan selanjutnya yaitu melalui hubungan keislaman, seperti yang telah dijelaskan hubunga tersebut mencakup 5 rukun Islam. Manusia diharapkan melaksanakan rukun-rukun tersebut sebagai bukti keimanan seseorang tersebut.
Dan hubungan yang terakhir antara manusia dengan penciptanya yaitu melalui perilaku yang baik (ihsan) sellau ikhlas dalam beribadah dimana yang selalu dilakukan hanyalah semata-mata untuk Allah. Hal ini diwujudkan dalam perilaku kita ketika beribadah yaitu selalu percaya bahwa kita sedang melihat Allah  secara langsung apabila tidak bisa demikian, maka kita yakin bahwa Allah lah yang sedang melihat kita, hal semacam ini menyebabkan kita terdorong untuk terus menerus membaguskan dan mengikhlaskan ibadah kita itu.








PENUTUP

Tujuan diciptakannya manusia dan jin. Hanyalah untuk menyembah Allah SWT. Lantas mengapa kita harus menyembah Allah? Tentu saja karena Allah yang menciptakan kita. Dengan menyembahnya, maka Allah akan ridho kepada kita.
Untuk menggapai ridhonya itu, agama, Islam menyediakan perangkat dengan tiga pilar penting yang tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Tiga pilar itu adalah iman, islam dan ihsan.
Ketiganya harus kita jadikan sebagai suatu prinsip hidup. Prinsip hidup semacam inilah yang kemudian dinamai prinsip hidup orang muraqabah.
Prinsip hidup orang muraqabah akan terlihat dalam 6 hal, yaitu:
1.      Tuhan serba hadir dihadapannya.
2.      Merasa malaikat selalu merekam amal perbuatannya.
3.      Al-Qur’an sebagai pedomannya.
4.      Rosul sebagai teladannya.
5.      Masa depan yang membahagiakan sebagai tujuannya.
6.      Keteraturan dalam segala hal.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien ....



DAFTAR PUSTAKA


Al Bukhori, Al-Imam. 1981. Shahih Bukhary.  Surabaya: Toko Kitab Al-Asriyah.

Ash-Shiddieqy, Hasbi. 2002. Mutiara Hadits, Jakarta: Bulan Bintang.

Mahalli, Ahmad Mudjab. 2004.  Hadits-hadits muttafaqun ‘alaih bagian ibadat. Jakarta: Prenada Media.

Sahrani, Sohari. 2010. Ulumul Hadits, Bogor: Ghalia Indonesia.

Syukur, Amin. 2009. Dari Hati ke Hati. Semarang: LEMBKOTA.





[1] Al-Imam Al Bukhary, Shahih Bukhary, (Surabaya: Toko Kitab Al-Asriyah, 1981), hal.  54.
[2] Drs. Sohari Sahrani, Ulumul Hadits, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hal. 215-218.
[3] KH. Ahmad Mundjab Mahalli, Hadits-haditsMuttafaq ‘alaih bagian ibadat, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 29.
[4] Prof. Dr. T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, Mutiara Hadit, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), hal. 49-55.
[5] Prof. Dr. HM. Amin Syukur, Dari Hati ke Hati, (Semarang: LEMBKOTA, 2009), hal. 30.
[6] Op.,cit, hal 49.

30 komentar:

  1. dadang irwanto
    2021110256

    bagaimana korelasi antara iman, islam dan ihsan dalam kaitannya manusia dan penciptanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas dadang,,,
      berdasarkan buku yang saya baca (mutiara hadits jilid I, hal. 47-52) dapat saya simpulkan bahwa korelasi antara ketiganya adalah...emmm...seperti ini mz dadang...kita lihat dulu pada pengertian dari masing-masing kata-kata tersebut.
      iman secara bahasa artinya membenarkan yaitu meyakini dengan sepenuh hati serta tunduk terhadap segala sesuatu yang telah ditetapkan (perbuatan hati)
      islam: tunduk dan menurut yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan amalan-amalan anggota. sedangkan ihsan yaitu keikhlasan.
      dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiganya mempunyai keterkaitan, dimana ketika seseorang itu beriman maka secara otomatis iapun akan berlaku islam, yaitu merealisasikan keimanannya dalam kehidupan. dengan memiliki kedua pondasi tersebut selanjutnya seseorang itu amat sangat mudah untuk berlaku ihsan, yaitu selalu berbuat ikhlas dalam setiap perbuatan dan peribadatannya. jika ketiga pilar ini selalu dilaksanakan dengan baik maka akan eratlah hubungan makhluk tersebut dengan penciptanya.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. MURSALIN AHMAD (277)

    menyambung pertanyaan dari AA' dadang, trus bagaimana cara kita agar ketiga pilar tersebut (iman,islam,ihsan) agar senantiasa terdapat dalam pribadi kita dan merasuk di hati kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waw....... senengane nyambung2 Qi....
      eummmmmm gini mas salin, berangkat dari bukunya Chairunnas Rajab yang berjudul obat hati, dapat saya simpulkan bahwa ketiga pilarv tersebut agar senantiasa terdapat di dalam pribadi kita yaitu pertama-tama kita harus menata terlebih dahulu supaya terus berada dalam keimanan. cara untuk memperkuatnya dapat kita tempuh dengan hal kecil yaitu dengan memperhatikan ciptaan-ciptaan Allah dan seseorang tersebut harus mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah.
      dengan iman yang kuat seseorang akam merasakan adanya pengawasan dari Allah, sehingga senantiasa akan menghindari perbuatan dosa.
      dengan dua dimensi tadi (iman dan islam), iapun akan selalu menghiasi dirinya dengan amal shaleh. seorang yang menghiasi dirinya dengan akhlakul karimah akan berlomba-lomba dalam beribadah dan berspiritual yang tinggi menuju kecintaan kepada Tuhannya.

      Hapus
  4. tumben ohm dadang numero uno biasanya Alexandro Ahmad Mursalino,hahaha....
    i'm just kidding...
    pertanyaan mas dadang bagus tuhh....
    coba meramekan pertanyaan nihh..
    dari yang saya baca tentang makalah yang anda usung
    apa tanggapan saudara bella mengenai pengertian hadist di atas tentang "juga apabila para penggembala unta yang tidak pandai cakap-cakap saja bermegah-megah di dalam gedung besar." pada kehidupan sekarang dan mungkin yang akan datang ?berpengaruh pada kehidupan yang relegiuskah,,, ato sebaliknya( menjauhi kehidupan relegius)
    dan bagaimana yang harus kita lakukan?


    tq very muaaaachhhhhh.... ya ^_^

    beni siswanto
    2021110249
    kelas f

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungguh miris & memprihatinkan apabila bangsa ini dipimpin oleh orang yg tidak cakap( bekerja bukan pada keahliannya ), akan menjadi apa bangsa ini???
      Hal semacam ini sangatlah berdampak negatif pada kehidupan bangsa, karena notabene pemimpin adalah orang pertama yg akan membawa arah perubahan.
      hal ini jg sangat berpengaruh terhadap kehidupan religius, karena dalam agama sendiri ada ketentuan2 yg harus diperhatikan oleh seorang pemimpin yg salah satunya adalah kecakapannya dalam memimpin. Namun ketika realitanya seperti itu, agama akan dipertanyakan status hukumnya, kenapa hal itu bisa terjadi????
      Yang harus kita lakukan adalah tidak membudayakan penyimpangan tsb.
      Itulah salah satu dari datangnya hari akhir.

      Hapus
  5. assalamualaikum sahabat fillah... :

    mau tanya katanya semakin kita memamahami makna iman islam dan ihsan kita akan semakin kuat imannya. Tapi jujur saya sendiri malah seakan goyah ketika saya mendalami makna iman, lebih-lebih ketika saya belajar tentang rukun iman. Dulu waktu kecil saya menerima saja pelajaran itu, tapi sekarang, walaupun saya menerima dan sangat percaya namun kalo terlalu mendalaminya saya benar-benar belum bisa. Bagaimana saran pemakalah?

    BalasHapus
  6. Nisfu Laila
    202 111 0272

    mengenai keimanan ya,,, di sini hati saya jadi tergerak buat bertanya.
    menrut mbak bella,,bagaimana si tanggapan mbakk..mengenai tingkat keimanan antara orang yang baru masuk islam(mu'allaf) dengan orang yang memang status agama islamnya itu diperoleh sejak lahir( keturunan). Yang pernah saya dengar itu kog malah katanya memungkinkan tingkat keimanan orang yang baru msuk islam itu lbih tinggi atau kuat dibanding dengan orang yang memang sejak lahir sebagai muslim.
    saya jadi bingung...mohon sdikit pencerahan ya...hhe.
    mksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi permasalahan dalam pertanyaan saudari nicphu.... ehem gini ya mbak...
      Hal semacam itu sebenarnya tergantung kpd diri setiap individu masing2. jika seseorang itu beriman & mengerti tentang hakikat dari iman, insya ALLAH semakin kuat iman seseorang tsb. Karena setau saya keimanan juga ada tingkatan2nya. Nah... berdasarkan sumber yg saya dapatkan, ( http:id. shvoong.com/ social-sciences/economic/tingkat keimanan )menyatakan bahwa; tingkat keimanan seseorang itu dibagi menjadi 4 tingkatan :
      1. Beriman atas dasar katanya
      2. Atas dasar yakin
      3. Atas dasar Ainul yakin
      4. Haqqul yakin, yaitu puncak dari segala iman.
      Melalui pemahaman dari tingkatan2 iman tsb, apabila orang itu telah sampai kepada tingkatan puncak, maka tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang baru masuk islam dapat lebih beriman . KENAPA??? karena secara logika, kemungkinan besar ia telah mencapai tingkatan yakin, sedangkan ( biasanya ) orang yg dari lahir masuk islam, ia tahu beriman atas dasar KATANYA. Jadi tingkat keimanannya bisa maju/mundur tergantungf sering tidaknya ia bertanya,/bermusyawarah, mengikuti pengajian atau yg lainnya. Namun sekali lagi itu semua kembali kepada diri masing2 individu tsb terhadap pemahaman imannya.

      Hapus
  7. nur aini
    2021110263
    F

    bagaimana menurut anda jika seorang muslim tidak memiliki salah satu atau salah dua dari iman, islam dan ihsan tersebut? apakah yang akan terjadi? hakekat dari iman, islam dan ihsan itu apa si?thanx...^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apabila seseorang tidak memiliki salah satu pilar tersebut maka seseorang tersebut akan mengalami kepincangan dalam hidupnya karena pada hakikatnya krtiganya adalah satu kesatuan dalam artian jika salah ssatu hilang maka seseorang tersebut tidak akan mampu mencapai dengan baik salah satu dari ketiga pilar tersebut. sebagai contoh, orang yang tak kuat imannya pasti ia tidak akan total menjalankan ibadahnya, begitu pula keikhlasan dalam beribadahpun akan sulit tercapai.
      hakekat dari iman, islam dan ihsan itu sendiri adalah sebagai langkah kita dalam mengabdikan dan mendekatkan diri kepada Allah. melalui tiga cara tersebut, diharapkan kita akan senantiasa dekat kepadaNya.

      Hapus
  8. NIM:2021110246
    KLS:F

    gimana caranya meningkatkan iman,islam dan ihsan pada diri sehingga dapat membentengi dlm setiap tindakan yang kita lakukan.ckup sekian & mksiih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara meningkatkan Iman, Islam & ihsan, mungkin singkat saja yaitu dg cara memahami secara benar hakikat dari ke3nya, dan mengaplikasikannya dlm kehidupan . Melalui pemahaman yg begitu mendalam dan benar, secara otomatis keImanan, Islan dan Ihsan akan semakin kuat dan terpatri dengan baik.

      Hapus
  9. eni marfuah
    2021110238

    jika kita lihat dimasa sekarang,tidak sedikit orang yang beramal/beribadah itu benar2 karena Allah, melainkan hanyalah mengharapkan imbalan ataupun ingin dipuji.
    teruz bagaimanakah caranya supay akita bisa beribadah itu bener2 karena allah, dan tidak berharap sesuatu kecuali ridhonya Allah SWT...............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keikhlasan dalam beribadah dapat tercapai dengan cara menyadari bahwa kita ini hanyalah seorang HAMBA yg berkewajiban untuk beribadah, menyembah serta mengabdikan segala jiwa dan raga hanya kepada dan untuk ALLAH. Kemudian pd sumber yg lain ( Mutiara Hadits Jilid 1 hlm.52 ) dijelaskan bahwa keikhlasan dalam beribadah akan muncul ketika kita merasa seolah2 sedang memandang ALLAH dg mata kepala kita yg mana menyebabkan kita terus menerus membaguskan ibadah kita itu. Jika belum dapat berperasaan drmikian, hendaknya kita yakin bahwasanya ALLAH lah yg sedang melihat kita.
      melalui kesadaran2 diatas, insya ALLAH keikhlasan dalam beribadah akan bisa tercapai.

      Hapus
  10. Nur Khasanah
    2021110244
    F
    Bagaimana jika manusia tidak memiliki ketiga pilar agama??????

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak sanah.... pertanyaan njenengan 11_12 ya... sama pertanyaane mbak eni..HEEE
      coba tak jwab ezzz...
      Gini mbak, apabila seseorang tidak memiliki salah satu saja, maka akan mengalami kebuntuan, kepincangan dan tidak memiliki petunjuk dalam hidup. Karena pengertian dari Agama sendiri adalah gabungan dari ke3 pilar tsb.
      Sebisa mungkin, kita berusaha untuk menjadi muslim yg baik, yaitu dg selalu menciptakan ke3nya dalam kehidupan nyata. Karena ada anggapan bahwa iman itu akan rusak menurut kerusakan amal, begitu pula sebaliknya apabila suatu amal dirusak, maka rusaklah suatu Iman. Jadi ke3nya merupakan satu kesatuan yg harus dimiliki agar kita tetap dalam petunjuk dan jalan yg benar. ( kesimpulan dari Mutiara Hadits jilid 1, hlm.74 )

      Hapus
  11. DWI KARTIKA SARI
    2021110251
    F
    Kenapa kebanyakan manusia ketika senang jauh kepada Allah, dan terkena musibah barulah ingat kepada Allah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuuuuuuuhhhh.... semoga itu bukan menjadi kebiasaan mbak Tika ya.... HEEE ;-)v

      Menurut pemahaman dari referensi yg saya baca dapat saya simpulkan, bahwa perilaku semacam itu terjadi semata-mata karena kendornya tingkat keImanan seseorang, lain halnya dg seseorang yg kuat Imannya, senang susah tetap berada dalam keimanan dan tetap dekat dg ALLAH>
      Ketika senang, pastilah ia ingin mendekat sbg rasa syukur atas nikmat2 yg ALLAH karuniakan kepadanya, susahpun sama, selalu berusaha mendekat dg tujuan untuk mendapatkan pertolomgan dari ALLAH.

      Hapus
  12. ARUM ARIFAH
    2021110271
    F
    Bagaimana membentengi diri untuk selalu takut berbuat dosa yang sekecil apapun untuk lebih dekat kepada Allah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk membentenginya yaitu dengan menciptakan ketakwaan kepada ALLAH SWT, yaitu takut kepada ALLAH dimana ia selalu takut untuk tidak mengerjakan perintah2 ALLAH dan takut pula untuk mengerjakan larangan2 ALLAH.Dan ketakutan tsb akan tercipta ketika kita benar2 memahami hakikat dari Iman, Islam, Ihsan. Melalui pemahaman dari ke3 pilar ini, manusia secara otomatis akan tunduk dan bertakwa kepada ALLAH, sehingga ia akan semakin dekat denganNya.

      Hapus
  13. m syamsul hadi/ 2021110261/ F

    bagaimana caranya agar kita bisa memperoleh iman,islam dan ihsan dengan sempurna?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas hadi.... untuk memperoleh ke3nya secara sempurna langkah awal adalah dengan memupuk diri dengan keimanan terlebih dahulu yaitu dengan cara mengenal ALLAH, selalu mengembalikan segala yg terjadi dalam hidupnya kepada ALLAH. Apabila usaha telah ditempuh, berusaha dan berdo'a dalam sholat ( perbuatan Islam ), namun hasilnya nihil, maka ia memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Seseorang yg hidup dalam ketauhitan yg srmpurna merasakan cobaan dan ujian dalam hidup sebagai takdir dan kuasa Tuhannya.

      Kekuatan iman dan ketauhidan yg dimiliki individu membuatnya terbebas dari kehidupan yg putus asa. Sehingga ia pun mempunyai jiwa besar untuk ikhlas dalam menghadapi ujian dari Tuhannya tsb.

      Hapus
  14. Diah safitri
    2021110260

    mbk bella mohon dijelaskan lg tentang ketiga pilar agama tsb diatas n kolerasiny dg hadits yang ada pda mkalah anda..

    BalasHapus
  15. HABLUM MINALLAH, mungkin itu point dari makalah jenengan mba bella.....
    dalam hubungan pada Allah yang terpenting adalah iman.ihsan barulah bisa dikatakan islam seperti itu.... jika itu di bawa pada proses pendidikan, kapan penanaman yang tepat menurut anda, sertakan alasan juga. terima kasih...
    ^__^

    BalasHapus
  16. muafinah
    2021110264
    mengenai iman, islam ,dan ihsan , menurut anda manakah yang lebih dlu ada pd seseorang, jelaskan alasannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengenai ke3nya menurut saya yang lebih dulu ada pada seseorang yaitu keimanan, Karena kita tau sendiri bahwa keimanan adalah kunci segala perilaku. Jika seseorang beriman pastinya akan semakin tebal perilaku islam dan ikhsannya.
      Begitu mbak maturnuwunnnnnn....

      Hapus
  17. Hartini
    2021110237

    Apakah kesinambungan antara hadist tarbawi dengan makalah anda ??

    BalasHapus
  18. ANNISA ROSIANA(202109243)

    yang nama ny keimanan seseorang itu mengalami pasang surut, kadang kita tekun sekali beribadah. tpi kadang juga ada rasa malas.
    disini bagaiman menurut pemakalah ketika menghadapi ketika keimanan kita lemah????agar konsisten

    BalasHapus