Laman

Kamis, 01 Maret 2012

Kelas G, M. Nurkhasanuddin, 3 : LEMBAGA PENDIDIKAN (Rumah Sebagai Madrasah)


MAKALAH
LEMBAGA PENDIDIKAN
(Rumah Sebagai Madrasah)

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I





STAIN logo polos
 







Oleh:
Muhammad Nurhasanudin
202109004
Kelas G


JURUSAN TARBIYAH PRODI PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
PENDAHULUAN
Pertama kali penyebaran pendidikan islam adalah  salah satunya lewat rumah, rumah pada zaman dahulu juga digunakan sebagai pendidikan keluarga, dimana dapat kita pahami rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung untuk keluarga akan tetapi juga sebagai wadah untuk kita membina, mendidik, dan mengayomi seluruh anggota keluarga, maka dari itu fungsi rumah tidak hanya sebagai fungsi tempat berlindung tetapi juga sebagai pendidikan dalam keluarga, disinilah perlu adanya peranan anggota keluarga untuk menghidupkan rumah sebagai salah satu pendidikan bagi keluarga-keluarganya.
Dalam makalah ini, pemakalah coba menjelaskan rumah sebagai madrasah, yang merupakan salah satu penunjang aspek pendidikan dalam membina baterah keluarga. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian…


























PEMBAHASAN
A.  Teks Hadits
(حَدَثَنَا) اَبُوْعَبْدِ اللِه الْاَصْبَهَانِيْ ثَنَاالحَسَنْ بِنْ الجَهَمْ ثَنَا الحُسَيْن بِنْ الفَرَج ثَنَا مُحَمَّدْ بِنْ عُمَرْ حَدَ ثَنِىْ عُثْمَانْ بِنْ هِنْدٌ بِنْ عَبْدِ الله بِنْ عُثْمَانْ بِنْ الأَرْقَمْ بِنْ اَبِىْ الأَرْقَمْ اَلْمَخْزُوْمِىْ قَلَى اَخبرنى اَبِى عِنْ يَحْيَى بِنْ عُثْمَانْ بِنْ الأرْقَمْ حَدَثَنِى جدى عُثْمَانْ بِنْ الأَرْقٌم اِنَهُ كَانَ يَقُوْلُ اَنَا اِبْنُ سَبْعِ الإِسْلَامُ أَسْلَمَ أَبِيْ سَا بِعْ سَبْعَةٍ وَكَا نَتْ دَارُه عَلَى الصَّفَا وَ هِيَ الدَّارُ الَّتِى كَانَ النَبِي صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَاَ لِهِ وَسَلَّمَ يَكُوْنُ فَيْهَا فِي الإسْلَامِ وَفِيْهَا دَعَا النَّا سَ إِلَى اْلإِ سْلَامِ

(رواه الحاكم فى المستدرك,  باب ذ كر الأر قم بن أبي الأرقم المخزومي رضي الله عنه)[1]

B.  Terjemahan Hadits
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Ashbahani ia memuji Hasan bin jahm, memuji Husain bin faraj, memuji Muhammad bin umar, telah menceritakan kepadaku Ustman bin hindun bin Abdillah bin ustman bin Abi Arqam Al makhzumi ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku ayahku dari yahya bin ustman bin Arqam telah bercerita kepadaku kakekku ustman bin arqam bahwasanya Ia berkata saya putra ketujuh Islam, dimana ayahku orang yang ketujuh masuk islam, saat itu rumahnya berada diatas bukit shofa. Yaitu rumah dimana Nabi S.A.W berada disana saat islam muncul, dan beliau mengajak (dakwah) kepada manusia untuk memeluk agama islam, maka disana (rumah Abi Arqam) banyak orang-orang yang masuk agama islam.



C.  Mufrodhad
Saya putra  ketujuh dari orang islam
أنَإِ بْنُ سَبِعْ الإِ سْلَامِ         
Orang yang ketujuh
سَابِعْ سَبْعَةٍ
Di atas bukit shofa
عَلَى الصَّفَا
Yaitu rumah
وَهِيَ الدَّارُ
Pernah tinggal disana
يَكُوْ نُ فَيْهَ
Di waktu lahirnya islam
فِي الإِ سْلَامِ
Dan disana (rumah arqom)
وَفِيْهَا
Beliau mengajak orang-orang
 دَعَا  النَّاسِ
Pada (masuk) islam
إِلَى اْلإِ سْلَامِ

D.  Biografi Rowi
Nama imam al-hakim adalah Abu Abdillah Al-hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Na’im bin Al-hakam Adh-dhabbi Ath-Athahmani An-Nasaiburi Al-Hafidz yang terkenal dengan sebutan Ibnu Bayyi’. Dia lahir pada hari Senin, tanggal 3 bulan Rabiul Awal tahun 321 HIjriyah.  Dan julukannya Abu Abdillah sedangkan gelar kehormatannya adalah AL-Hakim dan ia sering memakai dengan nama Ibnu Bayyi. Abu Abdillah Al-hakim menuntut ilmu di mulai semenjak masih kecil melalui berkat bimbingan dan arahan ayah serta paman dari ibunya. Adapun pertama kali dia mendengarkan hadits tahun 330 Hijriyah ketika baru berumur tuju tahun. Dia mendapatkan hadits secara imla’ dari Abu Hatim Ibnu Hibban pada tahun 334 Hijriyah.[2]

E.  Keterangan Hadits
Pada malam senin disana Rosulullah S.A.W  berdo’a  ya Allah muliakanlah agama islam dengan cintanya kedua laki-laki kepadamu, umar bin khatob atau amir bin hisyam. Kemudian pagi harinya umar bin khatob masuk islam (menyatakan islam) di rumah arqom. Orang-orangpun keluar dari umah arqom mereka bertakbir dan thowaf di baitullah. Maka muncullah sebutan rumah arqom “rumah islam” dan arqompun menyedekahkan rumahnya itu. Anaknya kemudian membacakan naskah dari shodaqoh rumah Arqom. Dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ini adalah keputusan arqom di dalam seperempat rumahnya selain shofa sesungguhnya ia telah menyedekahkan tempat tinggalnya dari tanah haram untuk di ikuti dan tidak diwariskan. Hisyam bin Ash menyaksikannya dan tuan hisyam bin Ash berkata rumah ini selamanya menjadi sedekah selagi di dalamnya (rumah) terdapat anaknya. Orang-orangpun menempatinya berlalu lalang disana dan mengambil apa yang ada disana sampai pada zaman Abi ja’far. Muhammad umar berkata : ayahku telah mengabarkan padaku dari yahya bin umar sesungguhnya putra ustman bin arqom berkata : sesungguhnya saya tidak tahu waktu yang menjatuhkan Abi ja’far bahwasanya ia melakukan sa’i diantara shofa dan marwah di waktu hajinya dan kami berada di luar rumah kemudian ia lewat di bawah kami, jika ia menghendaki aku memegangnya pasti aku memegangnya karena ia melihat kepada kami. Dari waktu ia turun lembah hingga naik ke bukit shafa. Ketika Muhammad bin abdillah bin hasan keluar dari madinah ada Abdullah bin ustman bin arqom dari sebagian orang yang jual-beli dan tidak keluar bersamanya. Maka abu ja’far menuliskan surat perintah kepada pelayannya (pegawainya) di madinah agar memenjarakan Abdullah bin ustman. Kemudian ia mengutus seseorang laki-laki dari penduduk khufah ia bernama syihab bin abdirab bersama dengan itu ia menulis kepada pelayannya di madinah agar melakukan apa yang telah di perintahkan oleh abu ja’far. Kemudian Abdullah bin ustman masuk kedalam penjara sedang ia sudah sangat tua kira-kira umur 40 tahun sungguh ia telah bosan berada di kurungan / penjara besi. Syihab berkata : apakah engkau berkenan dan mau menjual rumah arqom kepada ku, karena sesungguhnya amirul mukminin menginginkanya dan berusaha agar engkau mau menjual rumah itu. Jika kamu mau maka kamu akan diampuni. Ustman bin arqom berkata : sesungguhnya rumah itu sudah di sedekahkan tetapi rumah itu adalah hak ku. Di rumah itu terdapat hak masyarakat. Saudara-saudara ku dan selain mereka. Hisyam berkata : jika dirimu mau memberikan hak mu kepada kami dan kamu di bebaskan maka aku akan bersaksi dan menuliskan jual-beli dengan menyerahkan uang sebesar 17 ribu dinar. Rumah itupun menjadi milik Abu ja’far bin musa, Abu arqom wafat ketika umur 55 tahun di madinah[3]
.
F.     Aspek Tarbawi
Dari pemaparan makalah diatas terdapat beberapa aspek tarbawi yang dapat kita petik antara lain:
1)      Yaitu rumah selain untuk tempat tingal, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
2)      Kegiatan belajar tidak hanya di lakukan di lembaga formal, melainkan bisa di informal (rumah)
3)      Rumah adalah lembaga pendidikan yang paling utama bagi anak, sebelum ia mengenyam ke pendidikan yang lebih tinggi / jauh.















PENUTUP

Kesimpulan
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama, tempat peserta didik pertama kali menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga yang lain. Keluargalah yang meletakkan dasar-dasar kepribadian anak karena pada masa ini, anak lebih peka terhadap pengaruh pendidik (orang tuanya).
Lembaga pendidikan pertama dalam Islam adalah keluarga atau rumah tangga. Dalam sejarah tercatat bahwa rumah tangga yang dijadikan basis dan markas pendidikan Islam adalah rumah Arqam bin Abi Arqam. Rumah sebagai lembaga pendidikan dalam Islam sudah diisyaratkan oleh Alquran, seperti yang terkandung dalam Q.S. As-Syura, 26: 214 yang terjemahannya “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.

DAFTAR PUSTAKA

Syamsudin,  Abi Abdillah Muhammad ibn Ahmad. 1978.  Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain fiy al-Hadist, juz 3.  Hadramaut: Darul Fikr




[1] Syamsudin Abi Abdillah Muhammad ibn Ahmad, Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain fiy al-Hadist, juz 3(Hadramaut: Darul Fikr, 1978 M/1398 H), hlm. 502.
[3]  Syamsudin Abi Abdillah Muhammad ibn Ahmad, op. cit., hlm. 502-504.

9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. M. NURUL AMIN
    KLS H 2021110383
    Maksud dari rumah sebagai madrasah, menurut pemakalah itu rumah yang bagaimana..??tolong jelaskan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi jawaban dari M.nurul amin:
      bahwa yg di maksud dari rumah sbgai madrasah yaitu rumah yg di mana di dalamnya terdapat kegiatan belajar-mengajar. sebagai contoh seorang ayah yang mengajarkan anaknya membaca al-quran tiap ba'da magrib. Atau seorang kakak mengajari adiknya ttg bab ibadah maupun muamalah dlm kesehariannya d rumah...

      Hapus
  3. M.Lendra (2021110299) G
    bagaimanakah sikap yang harus diterapkan terhadap anak yang mengalami broken home, sehingga ia menjadi brutal dan tersangkut masalah pergaulan bebas. apakah orang tuany berdosa karena melalaikn tugas bimbingan terhdp anaknya?
    berikan tanggapan anda !!!!!!!

    BalasHapus
  4. tarmujiyanto
    2021110317
    kls G
    menurut anda baik mana pembelajaran di ruamh atau di madrasah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjawab pertanyaan dari kang tarmujianto:
      Menurut saya semua pembelajaran baik di rumah, maupun di madrasah semuanya baik..,asalkan pembelajaran itu bermanfaat untuk kita. karena tanpa kita sadari banyak pelajaran yang kita peroleh di rumah, apalagi d madrasah..
      Jadi intinya, baik di rumah maupun d madrasah Semuanya baik.

      Hapus
  5. aenun najib:232107256

    sehubungan rumah sebagai madrasak,maka rumah merupakan lingkungan dan sarana pendidikan.menurut pemakalah lebih berpengaruh mana antara rumah.masyarakat dan sekolah...jelaskan alasanya?

    BalasHapus