zzz

Sabtu, 03 Maret 2012

Kelas H, Krisna Ayu Diana, 4: Intuisi hati



MAKALAH
Intuisi hati
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata kuliah                                   : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu                          : Muhammad Hufron, M.S.I
stain-Pekalongan
Disusun oleh:
Krisna ayu diana
2021110348
Kelas H

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2012

BAB I
PENDAHULUAN
Suatu ilmu pengetahuan memiliki sumber-sumber yang bisa diteliti, ditelaah, ataupun dicari oleh setiap orang. Hal ini dilakukan untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan guna menjadi manusia yang seutuhnya. Sumber-sumber ilmu pengetahuan tersebut banyak macamnya. Dari mulai persepsi indera (sense), melalui proses akal sehat, dari informasi yang benar (Al-qur’an dan As-sunnah), sampai pada intuisi hati.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai intuisi hati sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam perspektif hadist. Intuisi hati merupakan kekuatan batin yang dapat mengidentifikasi apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk tanpa terlebih dahulu melihat akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Intuisi hati adalah karunia dari Allah SWT yang suci dan tersembunyi. Dengan intuisi hati yang dimiliki oleh seseorang, seseorang itu bisa mengetahui atau memahami suatu ilmu pengetahuan secara langsung. Seseorang bisa mengetahui apakah perbuatan itu halal atau haram untuk dilakukan.
Akan tetapi, tidak semua hal atau perbuatan memiliki status halal atau haram. Pada kenyataannya, ada suatu perbuatan yang tidak berstatus halal maupun haram yang biasa dikenal dengan sebutan “syubhat” (meragukan). Makalah ini akan membahas mengenai hal tersebut terkait dengan intuisi hati yang dimiliki oleh setiap orang.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadist
عن النعمان بن بشير يقول سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول :"الحلال بين والحرام بين وبينهما مشبهات لايعلمها كثير من الناس فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات  كراع يرعى حول الحمى يوشك ان يواقعه ألا وان لكل ملك حمى ألا إن حمى الله في ارضه محارمه ألا وان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب"     
 (رواه البخاري في الصحيح , كتاب الايمان , باب فضل من استبرأ لدبنه)[1]                                                                                     
B.     Terjemahan hadist
Dari Nu’man bin basyir bertanya: “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Apa yang halal itu sudah jelas dan apa yang haram itu pun sudah jelas. Antara keduanya yakni antara halal dan haram itu sudah ada beberapa hal yang disyubhatkan, yakni samar-samar atau dengan kata lain tidak jelas perkara halal atau haramnya. Hal-hal yang disyubhatkan ini tidak diketahui oleh sebagian besar umat manusia. Maka barang siapa menjaga diri yakni takut melakukan hal-hal yang disyubhatkan itu, ia telah melepaskan diri atau tidak melakukan apa-apa yang menjadi larangan atau yang tidak patut untuk agama dan keperwiraannya. Sedang orang yang sudah terjatuh dalam hal-hal yang disyubhatkan, ia adalah bagaikan penggembala disekitar tanah yang terlarang, ia hampir saja menjerumuskan diri di dalamnya. Ingatlah bahwasannya setiap raja itu mempunyai larangan. Ingatlah pula bahwa bahwasannya larangan Allah di atas bumi-Nya ini adalah apa-apa yang diharamkan oleh-Nya. Juga ingatlah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh terdapat sekerat daging, jikalau benda ini bagus maka bagus pulalah seluruh tubuh dan jikalau benda ini buruk, maka buruk pulalah seluruh tubuh. Ingatlah, benda itu adalah hati”.[2]


C.    Mufrodat
اَلْحَلاَلُ     : Halal
اَلْحَرَامُ     : Haram
بَيَنٌ         : Jelas
بَيْنَهُمَا      : Diantara keduanya
مُشَبَّهَاتٌ   : Syubhat
لاَيَعْلَمُهَا    : Tidak mengetahui
كَثِيْرٌ        : Banyak
مِنَ النَّاسِ  : Dari manusia
اسْتَبْرَأَ      :  Menjaga
لِدِيْنِهِ        : Untuk agamanya
عِرْضِهِ      : Keperwiraanya
وَقَعَ          : Terjatuh
كَرَاعٍ         : Penggembala
يَرْعَى        : Menggembalakan
اَلْحِمَى       : Larangan
يُوْشِكُ       : Tentang
يُوَاقِعَهُ       : Menjeremuskan dirinya
اَلْجَسَدِ       : Tubuh
مُضْغَةً       : Daging
صَلَحَ         : Baik
فَسَدَ          : Buruk
اَلْقَلْبُ         : Hati[3]

D.   Biografi perawi
Nu’man bin basyir nama lengkapnya adalah Nu’man bin basyir bin Sa’id bin Tsa’labah bin Julas bin Zaid bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’ab bin al-Khazraj. Ayahnya bernama Basyir bin Sa’id bin Tsa’labah bin Julas bin Zaid bin Malik. Sedangkan ibunya bernama Amrah bintu Rawahah bin Tsa’labah bin Imri’il qais bin ‘Amr bin Imri’il qais bin Malik Al-Aghar.
Nu’man bin basyir banyak meriwayatkan hadist dari pamannya yaitu Abdullah bin rawahah, kemudian dari Umar dan dari Aisyah. Ia memiliki banyak murid di antaranya yaitu Habib bin salim, Urwah bin zabir, Abu salim Al-azwad, Hamid bin abdurrahman bin ‘auf, serta anaknya sendiri yaitu Muhammad[4].

E.     Keterangan hadist
Hadist di atas menerangkan secara garis besar bahwa segala sesuatu tidak bisa lepas dari salah satu dari tiga keadaan. Pertama, sesuatu yang jelas kehalalannya dan diketahui oleh setiap orang. Kedua, sesuatu yang jelas keharamannya dan hal itu juga diketahui oleh setiap orang. Dan yang ketiga adalah perkara-perkara yang samar, tidak diketahui oleh orang banyak mengenai status hukumnya. Kesamaran seperti inilah yang dimaksud dengan syubhat pada hadist tersebut di atas.
Perkara syubhat itu bersifat relatif, yakni samar bagi sebagian orang namun bisa saja tidak demikian bagi orang lain. Pada hadist tersebut terdapat keterangan dan pengarahan yang jelas bagi kita untuk menjauhi perkara-perkara yang syubhat. Karena pada dasarnya perkara-perkara yang syubhat itu jelas meragukan. Masih belum jelas apakah statusnya halal atau haram. Dengan menjauhi perkara yang syubhat berarti kita telah berusaha untuk menjaga diri kita dari perkara yang dikhawatirkan haram (meragukan).
Penjelasan mengenai kata “sekerat daging” pada hadist di atas adalah hati. Setiap orang pasti memiliki hati di mana hati itu bisa digunakan untuk mengetahui apakah hal itu halal atau haram untuk dilakukan. Apabila hati seseorang itu dalam keadaan baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, buruknya keadaan hati seseorang menyebabkan buruk pula keadaan tubuh seseorang.[5]

F.     Kandungan aspek tarbawi
Dari hadist di atas aspek tarbawi yang terkandung adalah sebagai berikut:
1.      Selain menggunakan akal pikiran, kita juga hendaknya menggunakan hati kita untuk mengetahui segala sesuatu yang harus dilakukan atau ditinggalkan.
2.      Kita harus menjauhi hal-hal yang mengandung unsur syubhat, seperti sabda Nabi Muhammad Saw pada hadist di atas, bahwa bagi siapa saja yang menjauhi hal syubhat berarti telah menjaga diri dari hal yang meragukan.
3.      Kita tidak harus memaksakan pendapat yang kita miliki kepada orang lain mengenai kesyubhatan suatu perkara, karena pada dasarnya sifat syubhat itu relatif.
4.      Pada dasarnya halal atau haram itu sudah jelas dalam Al-qur’an dan As-sunnah, hanya saja tingkat kejelasannya berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk memahami hal tersebut kita harus memiliki modal ilmu yang cukup.
5.      Kita harus mengetahui hukum-hukum serta aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT, agar kita tidak kebingungan dan tentu saja agar kita bisa bertindak sesuai dengan aturan Allah SWT.



















BAB III
PENUTUP

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah SWT dan Rasulullah saw, kita hendaknya mematuhi segala yang telah menjadi aturan serta larangan-Nya. Mengenai hal yang masih menjadi syubhat (keraguan), hal tersebut masih menjadi pertentangan dikalangan ulama, ada yang berpendapat bahwa sesuatu hal itu halal, namun tidak demikian bagi orang lain.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw pada hadist di atas, hendaknya kita menjauhi segala hal yang mengandung unsur syubhat (keraguan) tersebut. Karena seseorang yang menjauhi hal yang syubhat menurut dirinya, berarti ia telah berusaha menjaga diri serta agamanya dari hal yang meragukan, dalam artian dikhawatirkan mengandung keharaman.
Apapun kemungkinan makna dari hal yang syubhat, kita telah diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk meninggalkan hal yang syubhat tersebut hingga kita benar-benar meyakini bahwa hal tersebut telah mempunyai status hukum yang jelas. Dan Allah-lah satu-satunya Dzat yang maha pemberi taufiq.


















DAFTAR PUSTAKA

Asqolani, Abi Fadholi. 1958. Fathul Bari’ Syarah Bukhari. Juz I. Kitabul iman
Az- zabidy, Imam. 2001. Ringkasan shahih bukhari. Bandung: Mizan
Asqolani, Ahmad bin Ali bin Hajar. TT. Tahdzib At-tahdzib. Juz VIII
http://majalahsakinah.com/2011/09/antara-halal-haram-ada-syubhat
Shahih bukhari


[1]Abi fadholil asqolani, Fathul bari’ syarah bukhari, (Kitabul iman, bab fadholi manistabro’a lidinihi, Juz 1, 1958), hal. 134
[2] Imam Az-zabidy, Ringkasan shahih bukhari, (Bandung: Mizan, 2001), hal. 26

[4] Ahmad bin ali bin hajar bin asqolani,  tahdzib At-tahdzib,  juz VIII, hal. 515

23 komentar:

  1. NAMA :Karimatul Khasanah
    NIM :2021110361
    KELAS:H
    Bagaimana caranya agar hati agar tetap dalam keadaan baik, supaya bisa bisa mengetahui mana yang sudah jelas dan mana yang masih syubhat?

    BalasHapus
  2. nama:mei andriyanti
    Nim: 2021110384
    bagaimana menyatukan antara pemikiran,dan hati agar kita dapat melakukan perbuatan dengan baik?

    BalasHapus
  3. nama:mei andriyanti
    Nim: 2021110384
    bagaimana menyatukan antara pemikiran,dan hati agar kita dapat melakukan perbuatan dengan baik?

    BalasHapus
  4. 2021110375
    "Hati yang seperti apakah yang bisa untuk menjadi pedoman dalm memutuskan hukum pada sesuatu hal??
    FAJARWATI Y.R

    BalasHapus
  5. nama : irfaqiyah
    nim : 2021110354

    lebih utama mana pengetahuan yang datang dari intuisi hati dan pengetahuan yang di dapat dari pemikiran akal? sebutkan keutamaan masing-masing sumber ilmu pengetahuan tersebut?

    BalasHapus
  6. khoirul amri
    2021110359

    bagaimana cara membenahi hati yang sudah terlanjur kotor oleh hal-hal yang bersifat negatif?

    BalasHapus
  7. muhajir azhary
    2021110340

    sebenarnya intuasi hati itu apa..??
    tolong jelaskan sesingkat singkatnya...

    BalasHapus
  8. nama : Wahyu Retti Rena Yusyansari
    Kelas :H
    nim :2021110352

    1. apakah intuisi hati itu sama dengan firasat? Jika menurut pemakalah berbeda, tolong jelaskan perbedaannya!

    2. intuisi hati digunakan dalam hal apa saja?

    3. Apakah intuisi hati itu datang setiap saat?

    BalasHapus
  9. Nama :Wafiudin.K
    NIM :202110336
    Apakah penyakit hati (iri, dengki,dll.) dapat mempengaruhi ketajaman intuisi atau suara hati seseorang? karena yang saya tahu intuisis hati itu datang dari Allah.

    BalasHapus
  10. adin refqi larenurifta
    2021110359

    faktor-faktor apa saja yang mampu mempertajam kekuatan intuisi seseorang?

    BalasHapus
  11. Menjawab pertanyaan dari Karimatul Khasanah, bagaimana agar hati tetap dalam keadaan baik, menurut saya yaitu dengan terue berusaha mengingat Allah. kita terus beribadah kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Insya Allah hati kita akan senantiasa bersih, suci, baik, dan tidak ternoda. Amin

    BalasHapus
  12. Melanjutkan jawaban untuk pertanyaan dari Karimatul Khasanah, inilah inti dari makalah saya, bahwa untuk mengetahui mana yang halal dan haram serta mana yang masih syubhat itu dengan bertanya kepada hati kita. Dalam tanda kutip bahwa hati yang bisa ditanyai tentang segala sesuatunya adalah hati yang bersih.

    BalasHapus
  13. Menjawab pertanyaan dari Muhajir Azhari, yang dimaksud dengan intuisi hati adalah kekuatan batin yang dapat mengidentifikasi apakah perbuatan itu buruk atau baik tanpa terlebih dahulu memikirkan akibat dari perbuatan tersebut.

    BalasHapus
  14. Menjawab pertanyaan dari Khoirul Amri, bagaimana cara membersihkan hati yang sudah terlanjur kotor? menurut saya cara membersihkan hati yang sudah terlanjur kotor adalah dengan cara terus melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Tentu saja kebaikan yang ada itu adalah apa saja yang dihalalkan oleh Allah, dan sebaliknya. Dalam melakukan kebaikan itupun harus dengan niat untuk mendapatkan pahala dan ridho dari Allah SWT.

    BalasHapus
  15. Menjawab pertanyaan dari Adin refqi Larenurifta yaitu apa saja faktor-faktor yang dapat mempertajam intuisi seseorang, menurut saya, untuk mempertajam intuisi kita itu bisa dilakukan dengan sering-sering bertanya kepada hati kita mengenai segala sesuatunya yang membutuhkan jawaban. Hal ini bisa berbentuk perbuatan atau mengenai sesuatu apapun itu. Bila kita sering memberi pertanyaan kepada hati kita maka hati kita akan lebih tajam lagi untuk berintuisi.

    BalasHapus
  16. Menjawab pertanyaan dari Mei Andriyanti, menurut saya intuisi hati adalah pengetahuan secara langsung dari hati atau bisa saja disebut sebagai bisikan hati. Pada intuisi hati tidak melihat apakah perbuatan itu berakibat baik atau buruk. Berbeda dengan pemikiran, kalau pemikiran itu sudah bisa tahu apa saja seluk beluk dari perbuatan itu. Ketika kita akan melakukan perbuatan baik, maka hati kita akan berpendapat bahwa perbuatan itu adalah baik. Tapi, ketika kita akan melakukan perbuatan buruk maka hati berperan sebagai pengontrol atau pengendali. Jadi, hati akan selalu membisikkan hal-hal yang benar dan baik.

    BalasHapus
  17. Menjawab pertanyaan dari Fajarwati YR, hati seperti apakah yang bisa menjadi pedoman dalam memutuskan hukum pada suatu hal? menurut saya, hati yang bisa dijadikan pedoman untuk memutuskan hukum pada suatu hal adalah hati yang bersih, baik, dan suci.

    BalasHapus
  18. Menjawab pertanyaan dari Wafi'udin K. mengenai pertanyaan apakah hati yang sakit itu bisa mempengaruhi ketajaman hati seseorang? Menurut saya, kalau hati kita sudah kotor maka dia tidak bisa menunjukkan kepada kita mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Memang benar, intuisi hati itu adalah karunia Allah yang tersembunyi, untuk itu selalu jagalah hati agar tetap bisa menjadi pengontrol dari setiap perbuatan yang kita lakukan.

    BalasHapus
  19. Menjawab pertanyaan dari Wahyu Reti Rena Y. mengenai apakah sama antara intuisi dengan firasat? Menurut saya, firasat itu lebih kepada isyarat, petunjuk, atau pertanda. Sedangkan intuisi lebih bersifat naluri atau biasa disebut insting. kemudian intuisi hati itu digunakan dalam hal apa saja? Menurut saya, intuisi hati digunakan untuk mengetahui hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang mana yang baik atau buruk. Untuk pertanyaan apakah intuisi hati itu datang setiap saat? intuisi hati itu bisa datang setiap saat, sekali sehari, sekali seminggu, atau kapan saja selama kita dalam keadaan sadar, bisa saja intuisi hati itu datang secara terus menerus.

    BalasHapus
  20. mei berkomentar
    anda mengatakan bahwa setiap hati akan membisiki segala sesuatu yang baik.bagai mana dengan seorang yang sering kali berbuat ke jahatan,apakah dalam hatinya tetap berkata yang baik dan benar??

    BalasHapus
  21. Menjawab pertanyaan dari Irfaqiyah, menurut saya intuisi hati itu hanya dapat mengetahui pengetahuan yang benar, bukan ilmu pengetahuan secara umum. Kalau pemikiran akal itu dapat mengetahui pengetahuan secara umum. Pemikiran atau akal, itu dapat saja berpikir secara salah atau menghasilkan pengetahuan yang salah, berbeda halnya dengan intuisi hati, selama hati itu dalam keadaan yang baik dan bersih, maka insya Allah hati akan ,memberikan atau menghasilkan pengetahuan yang benar.

    BalasHapus
  22. Nama : SOKHIYAH
    Nim : 2021110379

    Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah yang dianugrahi akal dan hati, dalam praktik keseharian kita, ketika kita sedang dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan, kita sering merasakan gejolak pro kontra di dalam batin. lalu bagaimana kita membedakan antara kehendak akal dengan kehendak hati? manakah yang harus kita yakini?

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus