new post

zzz

Jumat, 27 April 2012

G10-60 Naelul Izah


Tanggungjawab Sosial

Disusun guna Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah               : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu       : Muhammad hufron, M.S.I
 









Disusun Oleh:
 Kelas G
Naelul Izah                      2021110324


JURUSAN TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
STAIN PEKALONGAN
TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN
Makalah ini akan membahas tanggungjawab sosial. Sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat adalah perkara yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan ini. Tentu dengan segala konsekwensi yang terdapat di dalamnya. Adanya berbagai problem dalam kehidupan bermaysrakat bukan merupakan alasan bagi seseorang untuk menghindar, lalu menarik diri untuk bergaul di tengah masyrakatnya. Hidup ini bagaikan mengarungi samudera bersama-sama dalam perahu besar, kita memiliki andil dalam menjaga keselamatan bersama. Kebebasan individu hendaknya terbingkai dengan kemaslahatan umum.



















A.    HADITS
عَنِالنُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  :﴿ مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا﴾ (رواه البخارى في الصحيح، كتاب الشركة،باب هل يقرع في القسمة والستهام فيه)
B.     TERJEMAH
Artinya:
Diriwayatkan fari Al-Nu’man bin Basyir r.a.: Nabi saw pernah bersabda, “Pengibaratan orang yang menaati perintah dan larangan Allah dengan orang yang mengingkarinya adalah seperti orang-orang yang melakukan pengundian untuk memperoleh tempat duduk di dalam perahu, sebagian dari mereka duduk di bagian bawah. Pada saat orang-orang yang duduk di bawah membutuhkan air, mereka harus naik ke atas mengambil air (dan menyusahkan orang lain). Maka mereka berkata, “Sudahlah, kita lubangi saja bagian kapal yang kita tempati ini (dan mengambil air dari sini) agar tidak menyusahkan orang-orang yang berada di atas kita”. Maka seandainya mereka yang berada dia atas membiarkan mereka (yang berada di bawah) melaksanakan niatnya, niscaya mereka semua akan tenggelam dan jika mereka (yang di atas) mencegah mereka (yang di bawah), niscaya mereka semua akan selamat.”[1]
C.    MUFRODAT
مَثَلُ الْقَائِمِ             PENGIBARATAN
حُدُودِ اللَّهِ             HUKUM ALLAH
سَفِينَةٍ                 PERAHU
هَلَكُوا                 TENGGELAM




D.    BIOGRAFI PERAWI
An-Nu’man bin Basyir bin Ka’ab Al Khazraji Al Anshari, lahir 14 bulan setelah hijriah. Dia adalah orang anshar pertama yang lahir setelah Nabi hijrah ke Madinah. Bapaknya adalah seorang shahabiyah r.a. nabi meninggal ketika dia berumur 8 tahun yang saat itu sedang tinggal di Syam. Muawiyah mengangkatnya sebagai pemimpin Hims. Dan ditetapkan kepemimpinannya oleh Yazid bin Muawiyah. An-Nu’man adalah orang yang pemurah dan ahli syair. Dia dibunuh disebelah kampung di Hims karena dia menyerukan untuk membaiat Abdullah bin A-Zubair pada tahun 56 H. Al-Bukhori meriwayatkan hadits darinya sebanyak 6 hadits dan haditsnya yang termaktub dalam kitab-kitab hadits sebanyak 114 hadits.[2]

E.     KETERANGAN HADITS
Sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat adalah perkara yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan ini. Tentu dengan segala konsekwensi yang terdapat di dalamnya. Adanya berbagai problem dalam kehidupan bermasyarakat bukan merupakan alasan bagi seseorang untuk menghindar, lalu menarik diri untuk bergaul di tengah masyarakatnya. Selain hal tersebut dapat dikatagorikan sebagai tindakan yang mengabaikan kebutuhan fitrah manusia, sifat tersebut juga boleh dikatakan sebagai bentuk lari dari tanggung jawab. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup membaur di tengah msyarakatnya dan sabar menghadapi berbagai konseksenwensi yang harus ditanggungnya.
Rasulullalh saw bersabda:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ، أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
Seorang mu’min yang bergaul di tengah masyarakatnya dan sabar terhadap gangguan mereka, lebih baik dari mu’min yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Bihaqi. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 939)
 Hadits di atas memberikan pelajaran yang sangat berarti kepada kita sebagai bekal untuk memahami posisi dan apa yang seharusnya kita sikapi terhadap persoalan kemasyarakatan. Di antaranya;
1.      Hidup ini bagaikan mengarungi samudera bersama-sama dalam perahu besar
Maka setiap kita memiliki andil dalam menjaga keselamatan bersama. Kebebasan individu hendaknya terbingkai dengan kemaslahatan umum.

2.       Kebaikan dan Keburukan selalu ada di tengah masyarakat
Mengenai kebaikan, saking kuatnya Allah hendak menegaskan perkara ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa jika di suatu kaum tidak ada yang berbuat dosa, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang berbuat dosa. Agar tampak salah satu keagungan Allah Ta’ala sebagai Maha Pengampun. Sedangkan keburukan, jika hal tersebut ada pada orang lain, dia adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dengan mengajaknya pada jalan kebaikan. Adapun jika dia ada pada diri kita, itu adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat dan mohon ampunan kepada Allah. Betapa Allah Ta’ala sangat senang dengan hamba-Nya yang suka mengajak kebaikan dan bertaubat kepada-Nya.

3.      Pentingnya membangun komunikasi yang sehat
Para penumpang yang berada di geladak kapal tentu tidak hrus mengambil keputusan seperti itu, kalau mereka mampu mengkomunikasi-kannya dengan penumpang yang berada di atas. Begitu pula halnya jika penumpang yang di atas tanggap dan komunikiatif dengan kebutuhan dan keinginan penumpang yang di bawah.
Banyak sekali permasalahan yang muncul akibat tersumbatnya komunikasi. Mulai dari kesalahpahaman hingga pertikaian.
4.      Pelanggaran kecil dapat memicu bencana besar. Bencana besar selalu diawali dengan pelanggaran kecil
Segala sesuatu biasanya bermula dari perkara kecil atau yang kita anggap kecil. Termasuk dalam masalah pelanggaran. Pelanggaran kecil jika kita biarkan terus menerus akan membesar. Hal ini Rasulullah saw tamsilkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, bagaikan orang yang mengumpulkan sebatang demi sebatang kayu bakar yang lama kelamaan dapat menjadi tungku api.

5.      Solusi instan tidak akan menyelesaikan masalah
Para penumpang kapal yang di bawah berpikir sederhana, jika mereka lobangi kapal, maka problem kekurangan air akan segera teratasi. Di sini sangat tampak betapa mencari silusi instan bagi sebuah problem tidak akan menyelesaikan masalah.

6.      Pentingnya menjadi unsur perbaikan di tengah masyarakat
Rasulullah saw mengisyaratkan dalam hadits di atas, apabila tindakan penumpang di bawah yang ingin melobangi kapal tidak dicegah, maka bencana akan menimpa semua penumpang, sedangkan jika dicegah, maka semuanya akan selamat.
Siapapun kita, semuanya dituntut untuk memiliki andil dalam menjaga kehidupan bermasyarakat yang kondusif bagi nilai-nilai kebaikan. Salah satunya adalah dengan berperan menebar kebaikan dan pencegah kemunkaran.
F.     ASPEK TARBAWI
Islam telah banyak membekali kita dengan seperangkat ajaran tentang bagaimana kita menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat. Hadits ini mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara kehidupan sosial dan pribadi. Meskipun adanya problem dalam kehidupan bermasyarakat bukan merupakan alasan bagi seseorang untuk menghindar, lalu menarik diri untuk bergaul di tengah masyrakatnya.

















BAB III
PENUTUP
          Sebagai manusia, kita diciptakan sebagai makhluk sosial yang diharuskan saling berkomunikasi dengan sesama manusia. Islam telah membekali kita dengan seperangkat ajaran tentang bagaimana kita menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat. Tak hanya masalah pribadi yang dikedepankan, namun sebagai makhluk soaial kita juga harus mengutamakan kehidupan bermasyarakat.  Kita juga dituntut untuk memiliki andil dalam menjaga kehidupan bermasyarakat yang kondusif bagi nilai-nilai kebaikan. Salah satunya adalah dengan berperan menebar kebaikan dan pencegah kemunkaran.

















DAFTAR PUSTAKA
Imam Al Zabidi, Ringkasan Sahahih Al Bukhori, halaman. 454
Musthofa Dieb Al Bugha, Syeikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi’, halaman. 474














[1] Imam Al Zabidi, Ringkasan Sahahih Al Bukhori (Mizan: Bandung, 1997) hlm. 454
[2] Musthofa Dieb Al Bugha, Syeikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi’ (Al Kautsar: Jakarta, 2002) hlm. 474

34 komentar:

  1. M. Lendra 2021110299 G
    Bagaimanakah cara untuk mengatasi kesenjangan sosial dalam masyarakat masa kini, sehingga mengakibatkan minimnya sikap toleransi antar Suku dan Umat Beragama.
    Berikan tanggapan anda.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk mengatasi kesenjangan sosial baiknya dalam kehidupan bermasyarakat golongan menengah keatas maupun golongan menengah ke bawah saling menghargai satu sama lain. Kemudian menumbuhkan sifat toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga akan menciptakan kehidupan yang rukun. Dalam menjalani hal tesebut sangat dibutuhkan suatu kesadaran dari dalam diri masing-masing masyarakat bahwa hakekatnya manusia itu diciptakan untuk hidup saling berdampingan dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Tidak peduli status yang melekat pada dirinya.

      Hapus
  2. 2021110312
    Menurut komandan, sikap kita hidup dimasyarakat yang baik itu seperti apa? Tolong jelaskan dengan analisa anda!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. menurut saya, sikap kita hidup di masyarakat yang baik itu adalah kita tidak menghindar dari lingkungan sekitar, meskipun kita merasa tidak nyaman dengan sikap mereka atau kita mempunyai masalah yang membuat kita tak ingin bergaul.
      saling menghargai dan menghormati satu sama lain, tidak membuat onar dalam masyarakat, jika ada yang bebuat salah, kita yang tau harus mengingatkan, saling membantu antar tetanggga.
      dan bersikap baik kepada tetangga2.

      Hapus
  3. M Teguh Bangun Setio
    2021110289

    Menurut pemakalah bolehkah kita memisahkan diri dari pergaulan dalam masyarakat saat kita merasa pergaulan tersebut dapat membawa kita kearah yang tidak baik,,,???

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya,lebih baik kita tidak memisahkan diri dari pergaulan tersebut, karena hal seperti itu harusnya tidak dijadikan alasan bagi kita untuk menarik diri dari masyarakat, jika kita merasa bahwa pergaulan yang ada di sekitar kita itu buruk, maka kita harus bisa menjadi unsur positif bagi kehidupan bermasyarakat. sebagai makhluk sosial, kita mempunyai andil dalam menjaga keselamatan bersama.

      Hapus
  4. khoirul furqon
    2021110327

    1. maksud dari hadis di atas apa??
    2. maksud dari tanggung jawab sosial sendiri apa maksudnya??bagaimana kita merealisasikannya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. ajaran Islam telah banyak membekali kita dengan seperangkat ajaran tentang bagaimana kita menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat. hadits di atas mengajarkan sedikit tentang bagaimana membaur di tengah-tengah masyarakat.
      tanggungjawab sosial sendiri yang saya pahami adalah ketika kita hidup di masyarakat, berarti kita harus membaur dengan masyarakat sekitar,kita tidak boleh hidup secara individual,namun kita dituntut untuk lebih saling mendekatkan diri. mungkin dengan cara saling tolong menolong antar tetangga, mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. jangan sampai ada saling salah sangka, jalinlah perasaan saling mnyayangi satu sama lain, saling memahami.

      Hapus
  5. 2021110291
    Hormaaat grak...
    Menurut komandan, apakah adanya stratifikasi sosial dimasyarakat mempengaruhi keharmonisan dalam hubungan sosial?
    Tegaaap grak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. laporan se' ra,....
      biasanya stratifikasi sosial mempengaruhi keharmonisan dalam hubungan sosial,karena pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise dapat membuat iri masyarakat lainnya yang tidak merasakan hal yang sama. sebagian masyarakat mendapat hak khusus, namun sebagian lagi tidak mendpat haknya secara adil, otomatis masyarakat yang tidak menerima haknya secara adil akan merasa tidak suka dengan masyarakat yang mendapat hak khusus, akhirnya keharmonisan antar masyarakat hilang sedikit demi sedikit dengan rasa iri tersebut.

      Hapus
  6. Atina Mauila Safitri
    2021110284

    Bagaimana cara kita menyeimbangkan kehidupan sosial dengan pribadi?
    Dan bagaimana peran pemakalah terhadap keadaan sosial masyarakat di sekitar tempat tinggal pemakalah?

    BalasHapus
  7. Faidatul Aula
    G
    2021110316

    bagaimanakah sikap yang dianjurkan Rasulullah SAW kepada umatnya dalam menyikapi stratifikasi sosial yang ada di masyarakat..?

    BalasHapus
  8. Moh.Zuhrufi Sani
    2021110322
    G

    Bagaimana cara menempatkan diri ketika di tengah-tengah masyarakat terdapat suatu konflik, dan apa hakikat dari tanggungjawab itu sendiri sebelum kita bertanggungjawab sosial kepada masyarakat? terimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika kita mampu untuk menyelesaikan konflik tersebut, maka selesaikanlah. Siapapun kita, semuanya dituntut untuk memiliki andil dalam menjaga kehidupan bermasyarakat yang kondusif bagi nilai-nilai kebaikan. Salah satunya adalah dengan berperan menebar kebaikan dan pencegah kemunkaran.إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
      “Sesungguhnya ada orang yang menjadi kunci pembuka bagi kebaikan dan kunci penutup bagi keburukan. Namun ada juga yang menjuadi kunci pembuka bagi keburukan dan kunci penutup bagi kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada di tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada di tangannya”.

      Hapus
  9. 202109004
    Apa hukumannya bagi orang yg tidak melaksanakan tanggung jawabnya di masyarakat…??

    BalasHapus
    Balasan
    1. hukuman yang diterima orang tersebut biasanya dia akan dikucilkan oleh masyarakat dan dia akan dianggap bukan bagian dari masyarakat tersebut.

      Hapus
  10. 2021110317
    tarmujiyanto (ka yan)

    apa yang seharusnya kita sikapi terhadap persoalan kemasyarakatan?

    jelaskan dan di analisa menurut pemakalah? ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hendaknya kita suka mengkomunikasikan apa yang menjadi keinginan, perasaan, keyakinan dan sikap-sikap kita. Sebaliknya kita juga harus dapat menyerap keinginan, perasaan, keyakinan dan sikap-sikap pihak lain. Dari sana kita harapkan ada kesepahaman dan langkah bersama dalam menyikapi beberapa persoalan di tengah masyarakat.

      Hapus
  11. Lia fitriana 2021110290 G

    menurut anda, bagaimana kita menanggapi orang yg tidak suka pd kita, pdhl kita tidak pnh berbuat salah pd mereka? beri kmntar anda!(dalam kasus ini org tsb iri krn kita "lebih" dr mrk).

    BalasHapus
    Balasan
    1. harusnya jika memang kita merasa tidak mempunyai masalah dengan mereka, alangkah baiknya kita tetap menjalin komunikasi dengan mereka, mungkin dengan komunikasi orang yang tidak suka pada kita sedikit demi sedikit akan menghilangkan rasa tidak suka tersebut. di sisni meurut saya komunikasi sangat diutamakan karena dengan komunikasi keslahpahaman tidak akan terjadi. komunikasi sendiri tidak hanya dilakukan dengan lisan saja, namun juga dengan fisik, misalnya sikap kita terhadap tetangga dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan komunikasi lisan dengan tutur kata yang sopan.
      Rasulullah dalam menjalin hubungan baik terhadap masyarakat sekitar, beliau menggunakan hati beliau yang selalu diliputi belas dan kasih sayang. Terutama kepada sesama mukmin.

      Hapus
  12. Riskiyah (202110304)

    Bagaimana cara membangun komunikasi yang sehat dan baik sedangkan kedua orang tersebut sedang ada konflik,sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah untuk bisa akur kembali...????
    Makasich.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk mengatasi konflik yang seperti itu, mungkin seharusnya ada orang ketiga yang dapat mengakurkan kembali kedua orang tersebut. orang ketiga tersebut melakukan mediasi untuk mendamaikan mereka.

      Hapus
  13. laelatul murodah
    2021110287
    G

    kenapa hidup bermasyarakat dikategorikan sbg kebutuhan fitrah manusia.....?jelaskan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena manusia merupakan makhluk sosial, di mana mereka tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

      Hapus
  14. Nailiyatul Maqsudah
    2021110292
    G
    bagaimana seharusnya sikap kita terhadap tetangga??

    BalasHapus
    Balasan
    1. sikap kita terhadap tetangga seharusnya saling menghargai dan menghormati. antara orang yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, dan yang lebih tua juga harus menyayangi yang lebih muda. saling menghargai antara si miskin dan si kaya, agar tidak terjadi kesenjangan sosial. dan sebagai makhluk yang hidup bermasyarakat kita harus menjalankan komunikasi yang sehat dan benar agar kesalahpahaman tidak terjadi. kita harus memperhatikan psikologi lawan bicara kita ketika akan menjalin komunikasi, seperti sabda rasul “Khâtibun-nâsa ‘ala qadri ‘uqûlihim” (Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya).
      karena daya serap dan kemampuan otak seseorang berbeda-beda.

      Hapus
  15. Jumaroh
    2021110295
    G
    bagaimana seharusnya sikap kita, apabila kita hidup ditengah-tengah masyarakat yang mayoritas dari mereka beragama non muslim....
    maturnuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada baiknya kita tetap harus menjalin dan memperkokoh tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. masing-masing pihak menghargai pihak lain. Mengembangkan sikap toleransi beragama, bahwa setiap penganut agama boleh menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan. Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan.Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah menghormati agama lain. namun Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain dan jangan sampai kita mengikuti kebiasaan mereka yang berada di luar keyakinan kita. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita.

      Hapus
  16. Anna irhamna
    2021110303
    Bagaimana sih cara agar kita bisa hidup bersosialisasi dengan rukun?jelaskan,,,,,,,,,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk menjalin kerukunan kita harus bisasaling bersimpati, dan selalu mengharap kebaikan bagi orang lain. Selain itu. berempati, mampu menyelami perasaan dan turut merasakan kesedihan maupun kesusahan orang lain.
      saling menghargai dan menghormati satu sama lain, komunikasi tidak tersumbat, karena biasanya jika komunikasi tidak berjalan dengan lancar, maka yang terjadi akan ada kesalahpahaman hingga menimbulkan pertikaian.

      Hapus
  17. Rif'atul Zami Izzati
    202109002
    Kelas G

    Jaman sekarang orang-orang terlalu menggampangkan suatu masalah tanpa berfikir bagaimana akibat yang akan ditimbulkan. Bagaimana cara menumbuhkan kembali kesadaran tanggungjawab tiap individu untuk kepentingan bersama sehingga mampu menjadi ummat yang saling "menyelamatkan" ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti yang telah dijelaskan dalam hadits, hidup ini bagaikan mengarungi samudera bersama-sama dalam perahu, setiap manusia mempunyai andil di dalamnya. mampukah kita mengemudikan perahu tersebut dengan baik dan benar sehingga bisa saling mnyelamatkan.
      begitu juga kita yang hidup di lingkungan masyarakat, ada kebaikan dan juga keburukan, keburukan jika ada pada seseorang, itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dengan mengajak pada jalan yang benar. untuk menumbuhkan sikap bertanggungjawab, kita harus saling menasehati dan mengingatkan jika salah seorang dari kita melakukan kesalahan yang mengarah pada dosa, karena nabi Muhammad berpesan "hendaknya kalian menjauhi dosa-dosa sepele".

      Hapus
  18. wido murni 2021110302

    Bagaimana menurut makalah kalau di desa anda atau dilingkuan sekitar anda tidak ada kegiatan sosial atau semacam'y apa yang akan anda lakukan..?

    BalasHapus