zzz

Kamis, 18 Oktober 2012

PA A6 : Peran Agama sebagai Psikoterapi

PA A6 : Peran Agama sebagai Psikoterapi - word

PA A6 : Peran Agama sebagai Psikoterapi - ppt





                     MAKALAH
AGAMA DAN PSIKOTERAPI
                             Mata Kuliah                   : Psikologi Agama
                             Dosen Pengampu : M. Ghufron Dimyati, MSI










Di susun oleh :
Kelompok Enam
Kelas PBA.A

1.      Ika Widiyastuti                                    2022111014
2.      Khulasoh                                 2022111016
3.      Uswatun Khasanah                  2022111028
4.      Muhammad Aziz                     2022111037





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PEKALONGAN
TAHUN AKADEMIK
2012-2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Upaya mendekatkan antara psikologi dengan agama, telah dilakukan oleh para filosof dan psikolog. Berkaitan dengan perspektif ini, ajaran islam memiliki hubungan yang erat dan mendalam dengan ilmu jiwa dalam soal pendidikan akhlak dan pembinaan mental.
            Tujuan keduanya adalah untuk mencapai kesejahteraan jiwa dan ketinggian akhlak. Secara luas pendidikan akhlak an pembinaan mental dalam psikologi agama bertujuan mendidik, dan mengajar manusia, membersihkan dan menyucikan jiwanya serta membina kehidupan mental spiritualnya. Oleh karena itu, dalam psikologi agama, banyak ajaran islam yang dijadikan petunjuk dan ketentuan yang berhubungan dengan pendidikan yang berhubungan dengan jiwa seseorang.
            Psikoterapi ajaran islam juga memberikan bimbingan dalam proses pendidikan melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang senantiasa mengganggu eksistensi kepribadian yang selalu cenderung untuk taat dan patuh kepada Tuhannya. Untuk melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif tersebut, psikologi agama memiliki andil yang cukup besar dan berperan serta dalam memeberikan solusi dalam mengatasi setiap permasalahan yang berkaitan dengan jiwa.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan agama ?
2.      Apa yang dimaksud dengan psikoterpi ?
3.      Bagaimana hubungan agama dengan psikoterapi?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Agama
Secara umum, agama (bahasa Indonesia) dapat disejajarkan dengan religion (bahasa Inggris), dan al-din (bahasa Arab). Menurut W.J.S. Poerwadarminto, agama adalah segenap kepercayaan (kepada Tuhan, Dewa, dan sebagainya) serta dengan kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.
“Agama (umum), manusia mengakui dalam agama adanya Yang Suci (The Sacred) ; manusia itu insaf, bahwa ada satu kekuasaan yang memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap sebagai asal atau Khaliq segala yang ada. Tentang kekuasaan ini bermacam-macam bayangan yang terdapat dalam manusia, demikian pula cara membayangkannya.[1]
Menurut para ahli ilmu jiwa, agama dipahami sebagai berikut:
1.      Frazer : mendefinisikan agama sebagi upaya mencari keridhoan atau kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.
2.      James Martineue: agama adalah kepercayaan kepada yang hidup abadi, dimana diakui baha dengan pikiran dan kemauan Tuhan, alam ini diatur dan kelakuan manusia diperbuat.
3.      Mattegart : agama adalah suatu keadaan jiwa, atau lebih tepat keadaan emosi yang berdasarkan kepercayaan akan keserasian diri kita dengan alam semesta.
4.      Prof. Dr. Zakiah Daradjat : agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari manusia.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hakekat dari makna terdalam agama itu adalah “ketundukan” atau “ikatan” (a binding), seperti asal kata agama itu sendiri: religere, maksudnya “ketundukan / keterikatan pada Yang Absolut.”.
Agama berarti kehidupan “dunia-dalam” seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan peribadatan dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Agama merasuki atau mengenai manusia sebagai keseluruhan, sebagai totalitas dengan seutuhnya dan dengan cara yang sedalam-dalamnya. Manusia dengan segala aspek dan fungsi kejiwaan dikenai oleh agama. Kalau agama dianalisis ke dalam aspek-aspeknya dan dihubungkan dengan fungsi kejiwaan manusia, maka akan lebih jelas lagi bahwa agama mengenai manusia sebagai keseluruhan.[2]
a.       Kehidupan atau pengalaman dunia-dalam seseorang tentang ke-Tuhanan berhubungan erat dengan fungsi finalis (motivasi dan emosi atau efektif dan konatif)
b.      Keimanan berhubungan erat dengan fungsi kognitif.
c.       Peribadatan berhubungan erat dengan sikap dan fungsi motorik sebagai pelaksanaan dan realisasi kehidupan dunia-dalam seseorang.

B.     Pengertian Psikoterapi
Istilah Psikoterapi (Psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiartri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan, kerja sosial, pendidikan dan ilmu agama. Secara harfiah Psikoterapi berasal dari kata psycho = jiwa, dan therapy = penyembuhan. Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.[3]
Yang dimaksud dengan psikoterapi adalah pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya pengobatan alam psikis melalui metode psikologi. Dari pengertian tersebut dapat diambil suatu pemahaman bahwa psikoterapi dipandang sebagai upaya kuratif dalam pengobatan orang yang sakit jiwa.[4]
Psikoterapi kadang-kadang diidentikkan dengan psikoanalisis, yaitu suatu cara untuk menganalisis jiwa seseorang dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Psikoterapi juga diartikan dengan penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyesuaian diri.
Menurut Lewis R. Wolberg. M.D. (1977) dalam buku The Technique of Psichotherapy menjelaskan bahwa psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan profesional dengan pasien, yang bertujuan: (1) menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada, (2) memperantarai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak, dan (3) meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.

C.     Agama sebagai Psikoterapi[5]
Jiwa Manusia Membutuhkan Agama. Pada dasarnya bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang berbeda, yaitu tubuh yang bersifat materi dan jiwa yang bersifat immateri (al-nafs). Yang menjadi hakekat manusia adalah al-nafs yang mempunnyai dua daya, yaitu daya berpikir yang disebut rasio (akal) yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat di dada.
Cara pengembangan dua daya ini telah diatur oleh Islam sedemikian rupa. Daya pikir atau akal yang berpusat di kepala, dipertajam oleh ayat kaunniyat, ayat tentang kosmos yang mengandung perintah agar manusia meneliti, merenung, berpikir, menganalisis dan menyimpulkan demi lahirnya gagasan-gagasan inovatif. Sementara daya rasa yang berpusat di dada dipertajam melalui ibadat shalat, puasa, zakat, dan haji.
Tanpa agama, jiwa manusia tidak mungkin dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, agama dan percaya pada Tuhan adalah kebutuhan pokok manusia, yang akan menolong orang dalam memenuhi kekosongan jiwanya.
Fungsi Agama dalam Kehidupan. Setidaknya ada empat fungsi agama dalam kehidupan, yaitu: (a) Agama memberi bimbingan dan petunjuk dalam hiduup. (b) Agama adalah penolong dalam kesukaran. (c) Agama menentramkan batin. (d) Agama mengendalikan moral.
Langkah-langkah Terapi Religius. Ada beberapa cara untuk mencegah munculnya penyakit kejiwaan dan sekaligus menyembuhkannya, melalui konsep-konsep dalam Islam. Adapun upaya tersebut, adalah: Pertama, menciptakan kehidupan yang islami dan religius. Kedua, Mengintensifkan kualitas ibadah. Sembahyang, do’a dan permohonan ampun kepada Allah akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi orang yang melakukannya. Ketiga, meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir. Keempat, melaksanakan rukun Islam, rukun Iman dan berbuat ikhsan. Kelima, menjauhi sifat-sifat tercela (akhlak mazmumah). Keenam, mengembangkan sifat-sifat terpuji (akhlak mahmudah).
Diharapkan dengan langkah-langkah tersebut dapat mewujudkan kondisi jiwa yang benar-benar baik dan sehat.

D.    Metodologi Psikoterapi Islam[6]
1.      Metode Ilmiah (Method of Science)
Metode Ilmiah adalah sebuah netode yang selalu dan sering diaplikasikan dalam dunia pengetahuan pada umumnya. Dalam membuktikan hipotesa-hipotesa, maka diperlukan motode-metode seperti interview, eksperimen, observasi, tes dan survey di lapangan.
2.      Metode Keyakinan (Method of Tenacity)
Metode keyakinan adalah metode berdasarkan suatu keyakinan yang kuat yang dimiliki oleh seseorang peneliti. Keyakinan itu dapat diraih melalui:
a.       Ilmul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu secara teoritis.
b.      ‘Ainul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara.
c.       Haqqul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui, pengamatan dan penghayatan pengalaman (empiris).
d.      Kamalul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang sempurna dan lengkap, karena ia dibangun di atas keyakinan berdasarkan hasil pengamatan dan penghayatan teoritis (ilmul yaqin), aplikatif (‘ainul yaqin), dan empirik (haqqul yaqin).
3.      Metode Otoritas (method of authority)
Yaitu suatu metode dengan menggunakan otoritas yang dimiliki oleh seorang peneliti/psikoterapi, yaitu berdasarkan keahlian, kewibwaan dan pengaruh positif. Apabila seorang psikoterapis memiliki otoritas yang tinggi, maka sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan terhadap suatu penyakit atau gangguan yang sedang diderita oleh seseorang. Dan apabila seseorang tidak memiliki otoritas untuk melakukan suatu tindakan dengan baik dan benar, maka justru akan mendatangkan bahaya bagi orang lain bahkan dirinya sendiri.
4.      Metode Intuisi atau Ilham (method of intuition)
Metode Intuisi yaitu metode yang berdasarkan ilham yangg bersifat wahyu yang datangnya dari Allah Ta’ala. Metode ini sering dilakukan oleh para sufi dan orang-orang yang dekat dengan Allah dan mereka memiliki pandangan batin yang tajam, serta tersingkapnya alam kegaiban.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara diri manusia dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. Misi ajaran islam di bidang akhlak dan kejiwaan, mempunyai relavansi yang erat dengan kesehatan jiwa dengan memasukkan ajaran agama, ketaqwaan kepada Tuhan, dalam kesehatan mental, berarti ada titik singgung antara hal-hal tersebut.
Aspek agama masuk dalam psokologi ini karena agama merupakan salaah satu kebutuhan psikis dan rohani manusia yang perlu dipenuhi oleh setiap manusia yang merindukan ketentraman di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.


DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Shalih, Imam Musbikhin. 2005. Agama sebagai Terapi. Jogjakarta:

Pustaka Pelaja

Abdul Aziz Ahyani. 1995. Psikologi Agama. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Moh. Sholeh. 2005. Agama Sebagai Terapi. yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hamdani Bakran Adz-Dzaky. 2004. Konseling dan Psikoterapi Islam. Jogjakarta:

Fajar Pustaka Baru


[1] Muhammad Shalih & Imam Musbikhin, Agama sebagai Terapi, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.19
[2] Abdul Aziz Ahyani, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), hlm.165
[3] Ibid, hlm.156
[4] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 183
[5] Moh. Sholeh,  Agama Sebagai Terapi, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 41
[6] Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, (Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2004), hlm.254

2 komentar: