Laman

Jumat, 26 Oktober 2012

sbm H8 : metode pembelajaran inkonvensional

sbm H8 : metode pembelajaran inkonvensional - word

sbm H8 : metode pembelajaran inkonvensional - ppt






MAKALAH
METODE  PEMBELAJARAN  INKONVENSIONAL
disusun guna  memenuhi tugas :
Mata Kuliah                   : Strategi Balajar Mengajar
Dosen Pengampu           : Muhammad Ghufron, M.SI
Disusun oleh :
TRISUPARNI                                                  202109365
NADIA MILATI                                              2021110332
FATWA ADINA                                              2021110333
WAFIYAH KOMARIYAH                            2021110335

KELAS H
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012

BAB 1
PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran ada beberapa macam metode yang digunakan guru dalam mengajar. Dimana metode dan mengajar adalah satu kesatuan  untuk meningkatkan mutu pengajaran yang baik. Metode tersebut harus digunakan dengan tepatdan sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan oleh siswa tersebut.Bagaimana pintar-pintarnya guru dalam memilah-milah metode yang tepat untuk suatu mata pelajaran tertentu.Sehingga tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik.
Metodepembelajaran pada dasarnya diklasifikasikan menjad dua, yaitu metode konvensional dan metode inkonvensional. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang metode inkonvensional.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian
Metode berasal dari bahasa Greek-Yunani, yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dari asal makna tersebut dapat di ambil pengertian, metode adalah jalan atau cara yang di tempuh seorang guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan pada anak didiknya sehungga dapat mencapai tujuan tertentu. Memahami pemaknaan metode tersebut maka dapat diambil pengertian tentang metode pengajaran sesuai dengan yang diungkapkan oleh thouifuri bahwa metode pengajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam menyamopaikan bahan ajar kepada siswa secara tepat dan cepat berdasarkan waktu yang telah ditentukan sehingga di peroleh hasil yang maksimal.
Sedangkan metode mengajar inkonvensional sendiri adalah suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

B.       Macam – macam metode pengajaran inkonvensional
Macam – macam pengajaran inkonvensional terdapat beberapa metode yang digunakan, yaitu:
1.         Metode Pengajaran Modul
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis , operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaanya untuk para guru.
Pada metode ini seorang guru perlu apersepsi dalam pendahuluan, perlu adanya tes awal sebagai persiapan belajar siswa, pelaksanaan pengajaran yang interaktif antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, sumber belajar, dan dilaksanakan tes akhir untuk mengetahui sejauh mana siswa menerima dan memahami pelajaran yang di sampaikan oleh guru.
2.         Metode Pengajaran Berprogram
Pengajaran berprogram adalah metode pengajaran yang memungkinkan siswa untuk memepelajari materi tertentu, terbagi atas bagian-bagian kecil yang dirangkaikan secara berurutan untuk mencapai tujuan tertentu pula.
3.         Metode Pengajaran Unit
Metode ini disebut juga metode proyek,yang memberi makna bahwa metode pengajaran unit adalah suatu sistem pengajaran yang berpusat pada suatu masalah dan di pecahkan secara keseluruhan sehingga mempunyai arti.Dalam metode ini guru perlu memperluas wawasan dalam menggunakan metode unit tersebut.[1]
4.         Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
CBSA merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, Student  Active Learning (SAL) yang secara harafiah dapat diartikan sebagai konsep pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif baik fisik, psikis, maupun emosinya dalam proses pembelajaran.
Kriteria CBSA, dapat dilihat pada berbagai dimensi pembelajaran, yaitu:
Ø  Dimensi siswa
Pembelajaran yang berkadar CBSA akan terlihat pada diri siswa akan adanya rasa keberanian untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan dan kemauannya. Dalam dimensi siswa ini nanti pada akhirnya akan tumbuh dan berkembang kemampuan kreatuvitas siswa.
Ø  Dimensi Guru
Peran guru dalam pembelajaran siswa aktif antara lain, sebagai fasilitator, sebagai pembimbing, selain itu juga pada dimensi ini guru harus lebih terbuka terhadap perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi.
Ø  Dimensi Program Pembelajaran
Program pembelajaran yang banyak melibatkan siswa akan nampak dalam komponen-kpmponen pembelajarannya.[2]
5.         Metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
KBK adalah konsep kurikulumyang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performance tertentu (kompetensi), sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.
Ada 3 landasan seacara teoritis kurikulum berbasis kompetensi
Pertama :         adanya pergeseran pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual.
Kedua :           pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan (learning for mastery).
Ketiga :         Pendefinisian terhadap bakat.
6.         Metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)          
KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakn oleh masing-masing satuan pendidikan, terdiri dari guru, kepala sekolah, komite sekolah dan dewan pendidikan.
Metode ini direalasasikan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah atau daerah, karakteristik peserta didik.
Adapun tujuan KTSP  adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat, meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentangf kualitas pendidikan yang akan di capai.[3]

C.  Macam-macam Metode Inkonvensional
1. Kartu Sortir (Card Sort)
Metode[4] kartu sortir[5] merupakan kegiatan kolaborasi yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek atau mengulangi informasi.Gerakkan fisik yang diutamakan dapat membantu untuk memberikan energy kepada kelas yang telah letih.[6]
Pengertian metode card sort menurut A fatah yasin yaitu suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan konsep dan fakta melalui klasifikasi materi yang akan dibahas dalam pembelajaran.[7]
Disimpulkan bahwa metode sort card adalah suatu bentuk kartu kecil yang dibuat dari kertas dan berisi materi yang berfungsi sebagai metode pembelajran belajr-mengajar guna meningkatkan motivasi siswa. Disamping itu metode sort card ini juga merupakan strategi yang digunakan untuk mengaktifkan kegiatan belajar siswa
Ø  Kelebihan metode sort card
a.       Guru mudah menguasai kelas
b.      Mudah dilaksanakan
c.       Mudah mengorganosir kelas
d.      Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang banyak
e.       Mudah menyiapkan
f.       Guru mudah menerangkan dengan baik[8]
Ø  Kelemahan metode sort card
Adanya kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian murid, terutama apabila terjadi jawaban-jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya padahal bukan sasaran (tujuan) yang didinginkan dalam arti terjadi penyimpangan dari pokok persoalan semula.
Ø  Langkah-langkah dalam pelaksanaan metode kartu sotir sebagai berikut :
a.       Berilah masing-masing peserta kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori, sebagai contoh seperti gejala dan kata dari penyakit yang berbeda-beda, kata benda, kata kerja, kata keterangan depan, karakteristik dari masing-masing logam dll.
b.      Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama (anda bisa mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau biar peserta didik mencarinya)
c.       Biarkan pesera didik dengan kartu kategori yang sama menyajikan sendiri kepada orang yang lain.
d.      Selain masing-masing kategori dipreentasikan, buatlah beberapa unit mengajar yang anda rasa penting.
2. Metode Tim Quiz (Team Quiz)
Metode ini dapat meningkatkan tanggung jawab peserta didik untuk apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkandan tidak menakutkan.[9]Menurut Hisyam Zaini, metode Team Quiz merupakan salah satu metode pembelajaran bagi siswa yang membangkitkan semangat dan pola pikir kritis. Secara defenisi metode team quiz yaitu suatu metode yang bermaksud melempar jawaban dari kelompok satu ke kelompok lain.
Sedangkan menurut Nurhayati, “Team quiz merupakan metode pembelajaran aktif yang dikembangkan oleh Mel Silberman, yang mana dalam tipe team quiz ini siswa dibagi menjadi tiga tim. Setiap siswa dalam tim bertanggung jawab untuk menyiapkan kuis jawaban singkat, dan tim yang lain menggunakan waktunya untuk memeriksa catatan”.
Jadi dapat disimpulkan, Tipe Team Quiz adalah model pembelajaran aktif (active learning)[10] yang mana siswa dibagi kedalam tiga kelompok besar dan dan semua anggota bersama-sama mempelajari materi tersebut, mendiskusikan materi, saling memberi arahan, saling memberikan pertanyaan dan jawaban, setelah materi selesai diadakan suatu pertandingan akademis.
Ø  Kelebihan dan kelemahan metode team quiz
a.      Kelebihan
         Dapat meningkatkan keseriusan
         Dapat menghilangkan kebosanan dalam lingkungan belajar
         Mengajak siswa untuk terlibat penuh
         Meningkatkan proses belajar
         Membangun kreatifitas diri
         Meraih makna belajar melalui pengalaman
         Memfokuskan siswa sebagai subjek belajar
         Menambah semangat dan minat belajar siswa
b.      Kelemahan
      Memerlukan kendali yang ketat dalam mengkondisikan kelas saat keributan terjadi
      Hanya siswa tertentu yang dianggap pintar dalam kelompok tersebut, yakni yang bisa menjawab soal Quiz. Karena permainan yang dituntut cepat dan memberikan kesempatan diskusi yang singkat.
      Waktu yang diberikan sangat terbatas jika quiz dilaksanakan oleh seluruh tim dalam satu pertemuan.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, diperlukan modifikasi dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran dimana untuk penyajian kuis dilakukan per tim dalam tiap pertemuan, pembuatan soal dilakukan di rumah sehingga memungkinkan siswa berdiskusi di luar kelas. Agar tidak didominasi oleh siswa pintar, maka setiap siswa diwajibkan mencari jawaban kuis dan guru mencatat nama setiap siswa yang menjawab dengan alasan penambahan nilai sehingga seluruh siswa dapat termotivasi untuk ikut menjawab.

Ø  Langkah-langkah pelaksanaan metode ini yaitu sebagai berikut :
a.       Pilihlah topic yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.
b.      Bagilah peserta didik menjadi tiga team.
c.       Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi, batasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.
d.      Minta team A menyiapkan quiz yang berjawaban singkat. Quiz ini tidak memakan waktu lebih dari lima menit untuk persiapan. Team B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau lagi catatan mereka.
e.       Team A menguji anggota team B. jika team B tidak bisa menjawab team C diberi kesempatan untuk menjawabnya.
f.       Team A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota team C dan ulangi prosesnya.
g.      Ketika quiz selesai, lanjutka dengan bagian ke kedua pelajaran anda, dan tunjuklah team Bsebagai pemimpin quiz.
h.      Setelah team B menyelesaika  ujian tersebut, lanjutkan dengan bagian ketiga dan tentukan tean C sebagai oemimpin quiz.
3. Poin Kaunterpoin (Point-Counterpoint)
Kegiatan ini merupakan kegiatan sebuah teknik hebat untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu kompleks.Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan namun kurang formal dan berjalan lebih cepat.
Langkah-langkah pelaksanaan metode ini,
a.       Pilihlah sebuah masalah yang mempunyaidua sisi atau lebih
b.      Bagilah kelas ke dalam kelompok-kelompok menurut jumlah posisi yang telah anda tetapkan, dan mintalah tiap kelompok mengungkapkan argumennya untuk mendukung. Doronglah mereka bekerja dengan partner tempat duduk atau kelompok-kelompok inti yang kecil.
c.       Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama denagn jarak antara sub-sub kelompok itu.
d.      Jelaskan bahwa peserta didik bisa memulai perdebatan. Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan sebuah argument yang sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secara cepat maju mundur atau diantara kelompok-kelompok itu.
e.       Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu-isu sebagaimana anda melihatnya. Berikam reaksi dan reaksi lanjutan.
4. Metode Jigso (Jigsaw Learning)[11]
Jigsaw learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group-to-group exchange) dengan suatu perdebatan penting.Setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Ini adalah alternative menarik , ketika ada materi yang dipelajari dapat disingkat atau dipotong dan disaat tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum yang lain-lain. Setiap peserta didik mempelajari suatu yang dikombinasikan dengan materi yang telah diajari oleh peserta didik lain, buatlah sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian atau keahlian.
Ø  Kelebihan dan kelemahan metode jigsaw
Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif Jigsaw berdasarkan uraian di atas adalah sebagai berikut :
Kelebihan pembelajaran kooperatif Jigsaw :
1). Memacu siswa untuk lebih aktif, kreatif serta bertanggungjawab terhadap proses belajarnya.
2). Mendorong siswa untuk berfikir kritis
3). Memberi kesempatan setiap siswa untuk menerapkan ide yang dimiliki untuk menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam kelompok tersebut.
4). Diskusi tidak didominasi oleh siswa tertentu saja tetapi semua siswa dituntut untuk menjadi aktif dalam diskusi tersebut.
Disamping kelebihan dari pembelajaran kooperatif Jigsaw ada juga kekurangannya yaitu:
1). Kegiatan belajar-mengajar membutuhkan lebih banyak waktu dibanding metode yang lain
2).  Bagi guru metode ini memerlukan kemampuan lebih karena setiap kelompok  membutuhkan penanganan yang berbeda

Langkah-lanhkah pelaksanaannnya :[12]
a.       Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menhjadi bagian-bagian. Sebuah bagian dapat disingkat seperti sebuah kalimat atau beberapa halaman, contohnya sebuah berita memeiliki banyak maksud, bagian-bagian ilmu pengetahuan eksperimental, sebuah teks yang memiliki bagian berbeda.
b.      Hitunglah jumlah bagian dan jumlah oeserta didik. Dengan satu cara yang pantas, bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda. Contoh: bayangkan semua kelas terdiri dari 12 orang peserta, anggaplah anda dapat menbagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian anda dapat membentuk kwartet, berikan tugas setiap kelompok bagian 1,2,3. Mintalah kwartet atau “kelompok belajar” membaca, mendiskusikan dan memepelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.
c.       Setelah selesai, bentuklah kelompok “jigsaw learning”. Setiap kelompok ada seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas. Seperti dalam contoh, setiap anggota masing-masing kwartet menghitung 1,2,3 dan 4. Kemidian bentuklah kelompok peserta didik “jigsaw learning” dengan jumlah sama. Hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 3 mempelajari bagian 1, seoarang untuk bagian 2 dan seorang lagi bagian .
5. Peta Pikiran (mind Maps)[13]
Pemetaan pikiran adalah cara kreatif unk peserta didiksecara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran atau merencanakan penelitian baru. Dengan memerintahkan poserta didik membuat peta pikiran memudahkan mereka untuk mengidentifikasi secara jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari dan apa yang sedang mereka rencanakan.[14]
Busan (1993) dalam Djohan (2008) mengemukakan, bahwa  A Mind Map® is powerful graphic technique which provides a universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skills – word, image, number, logic, rhythm, colour and spatial awareness – in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it give you a freedom to roam the infinite expanses of your brain. Dari pengertian tersebut, Johan (2008) menyimpulkan bahwa Peta Pikiran merupakan suatu teknik grafik yang sangat ampuh dan menjadi kunci yang universal untuk membuka potensi dari seluruh otak, karena menggunakan seluruh keterampilan yang terdapat pada bagian neo-korteks dari otak atau yang lebih dikenal sebagai otak kiri dan otak kanan. 
 Menurut Yovan (2008), keutamaan  metode pencatatan menggunakan Mind Mapping, antara lain: 
  1. tema utama terdefenisi secara sangat jelas karena dinyatakan di tengah.
  2. level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.
  3. hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.
  4. lebih mudah dipahami dan diingat.
  5. informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur Mind Mapping, sehingga mempermudah proses pengingatan.
  6. masing-masing Mind Mapping sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan.
  7. mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.
Sedangkan kelemahan metode ini adalah jika suasana tidak mendukung akan mengakibatkan hasil yang deperoleh menjadi buruk . Karena  Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi proses dan hasil belajar, sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar. 
Langlah-langkah pelaksanaannya:[15]
a.       Pilih topic untuk pemetaan pikiran. Beberapa kemungkinan mencakup :konsep atau kecakapan yang baru saja kamu ajarkan, penelitian yang harus direncanakan oleh siswa.
b.      Kontruksikan bagi kelas peta pikiran yang sederhana yang menggunkan warna, khayalan atau symbol
c.       Berikan kertas, pen dan sumber-sunber yang lainyang kamu pikir akan membantu peserta didik membuat peta pikiran yang berwarna dan grafis. Berikanlah peserta didik tugas yang memetakan puikiran. Tunjukkan bahwa meraka mulai peta mereka dengan membuat pusat majalah bergambar yang menggambarka topic atau ide utama. Kemudian berilah mereka semangat untuk membagi-bagi seluruhnya ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil dan menggambarkan komponen-komponen ini sekitar batas luar peta (dengan menggunkan warna dan grafis ). Doronglah mereka untuk menghadirkan setiap ide secara tergambar, dengan menggunakan sedikit mungkin kata-kata. Dengan mengikuti ini, mereka dapat mengelaborasikan letupan secara detail ke dalam piiran mereka.
d.      Berikanlah waktu yang banyak bagi peserta didik untuk mengembangkan peta puikiran mereka. Doronglah mereka untuk melihat karta orang alia  untuk menstimulasi ide-ide.
e.       Perintahkan peserta didik untuk saling membagi peta pikirannya. Lakukan diskusi tentang nilai cara kreatif untuk menggambarkan ide-ide. 




















BAB III
PENUTUP

            Metode mengajar inkonvensional adalah suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
     Adapun Macam – macam metode pengajaran inkonvensional adalah sebagai berikut :
·         Metode pengajaran modul
·         Metode pengajaran berpogram
·         Metode pengajaran unit
·         Metode pengajaran CBSA (cara belajar siswa aktif)
·         Metode pengajaran KBK (kurikulum berbasis kompetensi)
·         Metode pengajaran KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan)
Dan adapun Macam – macam metode  inkonvensional adalah sebagai berikut :
·      Kartu sortir (card sort)
·      Point Kuanterpoin
·      Jigsaw Larning
·      Tean Quiz
·      Peta Pikiran (Mip Maps)








DAFTAR PUSTAKA

Mustakim Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Press.
Sugandi Achmad. 2006. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT UNNES Press.

Fauziyah lilis. 2008. strategi pembelajaran aktif (active learning). malang:buku pemebekalan PKLL.
Yasin A Fatah Yasin. 2008. dimensi-dimendi pendidikan islam. malang:UIN Malang Press.














                   














[1] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran(Pekalongan: STAIN Press, 2009), hal. 134-135.
[2] Achmad Sugandi, Teori Pembelajaran, (Semarang: UPT UNNES Press, 2006), hal. 119-120.
[3] Zaenal Mustakim, Op.Cit., hal. 136-137.
[4]Istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini berasal dari dua suku kata: “metha” berarti melalui atau melewati, dan “hodos”yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab metode disebut “Thariqat”, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, “metode” adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, sehingga dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.
Metode (Method), harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosuder sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa dugunakan untuk menyelidiki fenomena kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen dan sebagainya
[5]Card Sort bisa disebut sortir kartu yaitu pemilahan kartu. Metode  ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang obyek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh dan bosan.
[6]Zainal mustakim, strategi dan metode pembelajaran, (pekalongan:stain press, 2011) hlm.137
[7]A Fatah Yasin, dimensi-dimendi pendidikan islam,(malang:UIN Malang Press, 2008) hlm.185
[8]Lilis Fauziyah, strategi pembelajaran aktif (active learning), (malang:buku pemebekalan PKLL, 2008), hlm. 68
[9]Ibid, 138
[10]Pembelajaran aktif (active learning) adalah belajar yang meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran (Silberman, 2007: 1). Pembelajaran aktif (active learning) merupakan salah satu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam melakukan sesuatu dan berfikir tentang apa yang mereka lakukan (Suyatno, 2009: 107).
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa, disini siswa dituntut untuk mengunakan otak dalam berfikir sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Active learning  mulai digunakan dalam dunia pendidikan diawali oleh seorang filosofi Cina yang bernama Confucius yang menyatakan: 
 “ Apa yang saya dengar, saya lupa”
 “Apa yang saya lihat, saya ingat”
 “Apa yang saya lakukan saya paham”
   (Silbermen, 2007: 1)
Tiga peryataan diatas menjadi dasar dari munculnya belajar aktif, kemudian menurut Silbermen (2007: 2) belajar aktif itu memuat hal-hal berikut :
            “Apa yang saya dengar, saya lupa”
            “Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit”
“Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan dengan beberapa teman, saya mulai paham”
“Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya  memperoleh pengetahuan dan keterampilan”
“Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya”
Pernyataan di atas menyatakan dalam pembelajaran aktif siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru tetapi siswa melihat, mendengar, bertanya dengan guru atau teman, berdiskusi dengan teman, melakukan, dan mengajarkan pada siswa lainnya sehingga mereka menguasai materi pembelajaran. Di dalam pembelajaran aktif siswa mendapatkan tantangan-tantangan yang mengharuskan kerja keras karena harus lebih aktif dan mandiri untuk mengugkapakn, menjelaskan, dan bertanya tentang materi pelajaran yang diajarkan.

[11]Metode  jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.
[12]Op, cit, hlm.140
[13]Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind Mapping) merupakan cara belajar yang menggunakan konsep pembelajaran komprehensif Total-Mind Learning (TML). Pada konteks TML, pembelajaran mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap saat dan di setiap tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar merupakan proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan hidup
[14]Ibid, hlm.142
[15]Log.cit, hlm.142

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar